... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

News

Senjata Buatan Amerika Tersebar Luas di Wilayah Konflik, Parlemen Eropa Cemas

Foto: Toko senjata Amerika Serikat.

KIBLAT.NET, Washington – Jualan senjata merupakan bisnis besar bagi Amerika Serikat. Departemen Luar Negeri memastikan AS telah mencapai kesepakatan transaksi senilai US$ 75,9 miliar (sekitar Rp 1.062 triliun) selama tahun fiskal 2017. Ini adalah rekor baru sejak Badan Kerjasama Pertahanan dan Keamanan (DSCA) secara kontinyu mulai ikut menghitung nilai transaksi.

Presiden Donald Trump termasuk orang yang sangat percaya bahwa menjual senjata, pesawat, rudal, sistem pertahanan udara, dan teknologi militer buatan Amerika ke para pembeli di luar negeri akan meningkatkan pertumbuhan tenaga kerja industri pertahanan dalam negeri Amerika, sekaligus meningkatkan pengaruh kebijakan luar negeri AS di negara-negara pembeli senjata buatan Amerika. The Cato Institute menilai Washington telah mengirim dan menjual senjata, peralatan, dan layanan pelatihan yang diperlukan ke 167 negara selama periode antara tahun 2002 hingga 2016.

Meskipun demikian, apa yang dilihat Trump sebagai bisnis yang menggiurkan, oleh banyak negara Eropa dianggap berkontribusi memperburuk situasi keamanan di daerah-daerah konflik. Pekan ketiga bulan November lalu, Parlemen Eropa menyetujui sebuah resolusi tidak mengikat berisi kecaman terhadap AS karena negara itu dianggap secara sistematis melanggar sejumlah kesepakatan terkait pengguna hilir atau end-user distribusi senjata, dan membuat dunia menjadi sebuah tempat yang semakin berbahaya.

Di saat yang sama, UE juga mengkritik sejumlah negara Eropa sendiri seperti Bulgaria dan Romania yang berusaha menghindari prosedur ekspor senjata. Namun secara umum, blok Brussel menempatkan AS sebagai pihak yang paling bertanggung jawab dalam masalah perdagangan senjata ini. Sebagai tindak lanjut, parlemen UE menyerukan embargo sepihak transfer pertahanan ke AS.

Ini merupakan kritik tajam dari sekutu-sekutu Amerika di Eropa, namun bisa dipahami mengingat sejumlah besar peralatan militer buatan Amerika sudah jatuh ke tangan organisasi-organisasi jihadis yang notabene musuh mereka di medan pertempuran Iraq dan Suriah. ISIS dicurigai sebagai pihak yang paling banyak mendapatkan keuntungan atas longgarnya kebijakan ekspor senjata AS yang apabila dicermati bukan berdasarkan pertimbangan strategis, tetapi lebih untuk meraih kepentingan jangka pendek.

BACA JUGA  Perjanjian Dagang, Alasan Trump Tak Sanksi Berat Cina terkait Muslim Uighur

Orang sulit melupakan pemandangan fenomenal pejuang-pejuang ISIS dan jihadis lainnya yang berkostum serba hitam dan berjenggot panjang melakukan konvoi kolosal dengan mengendarai kendaraan lapis baja humvee buatan AS. Atau, gambar-gambar foto para pejuang jihadis di Iraq dan Suriah yang sedang berpose di depan kendaraan lapis baja pengangkut personal (APC) buatan Amerika yang berhasil mereka rampas sebagai ghanimah.

Kelompok Daulah al-Baghdadi berhasil mendapatkan senjata-senjata AS dengan jumlah sangat besar. Hal itu memaksa Washington membom untuk menghancurkan senjata-senjata buatannya sendiri untuk mengurangi resiko destruktif. Mantan Perdana Menteri Haidar al-Abadi memperkirakan pemerintah Iraq kehilangan 2.300 unit kendaraan Jeep Armor jenis Humvee dari gudang penyimpanan dalam sebuah serangan kilat ISIS ke Mosul tahun 2014 silam. Demikian juga ketika pasukan Iraq mundur meninggalkan Ramadi tahun 2015, kelompok ISIS mengambil alih markas dan gudang-gudang senjata militer Iraq.

Juru bicara Pentagon mengklaim saat itu seratus unit kendaraan berat dan sekitar setengah lusin tank jatuh ke tangan ISIS. Kelompok loyalis al-Baghdadi ini bahkan berhasil mengubah humvee buatan Amerika itu menjadi bom mobil yang sulit dideteksi. ISIS pun menjadi musuh yang tidak seimbang bagi pasukan Iraq yang sedang mengalami demoralisasi masif akibat kepemimpinan yang lemah dan kelelahan.

Di Suriah, nasib senjata-senjata Amerika pun tak jauh beda. Berbagai senjata dan peralatan militer yang seharusnya diperuntukkan bagi faksi-faksi oposisi “moderat” pada akhirnya jatuh ke tangan kelompok-kelompok yang dikategorikan sebagai kelompok inti teroris (baca: jihadis). Sebuah laporan tahun 2017 yang dikeluarkan oleh Riset Persenjataan di daerah Konflik (Conflict Armament Research) menemukan banyak kasus senjata-senjata yang dibeli Amerika dari Balkan telah dicuri, dijual, dan diselundupkan ke banyak kelompok-kelompok radikal.

Senjata-senjata anti-tank produksi Eropa dijual ke Amerika, setelah itu dikirim ke faksi-faksi oposisi Suriah, termasuk ISIS. Masih menurut laporan yang sama, suplai senjata dan peralatan perang ke Suriah berasal dari luar negeri, terutama AS dan Arab Saudi yang secara tidak langsung membuat kelompok-kelompok oposisi termasuk ISIS bisa mengakses dan memiliki senjata dan amunisi anti-armor dalam jumlah yang sangat substansial. Di antara senjata-senjata itu termasuk jenis peluru kendali anti-tank, dan berbagai jenis roket lengkap dengan hulu ledak yang didesain untuk menembus sistem pelindung reaktif-armor.

BACA JUGA  Perjanjian Dagang, Alasan Trump Tak Sanksi Berat Cina terkait Muslim Uighur

Eropa sebenarnya masih menyimpan masalah tersendiri terkait distribusi dan perdagangan senjata. Negara-negara Balkan seperti Bulgaria, Kroasia, dan Montenegro yang sebelumnya pernah menjual senjata ringan dan amunisi bekas era-Soviet ke Arab Saudi, Yordania, dan Turki diduga mengalihkan senjata-senjata sejenis ke Suriah dan Yaman. Dalam banyak kasus, senjata-senjata itu jatuh ke tangan kelompok-kelompok Islamis-Jihadis.

Berbagai peristiwa yang terjadi hari ini sudah cukup meyakinkan bagi Parlemen UE untuk prihatin terhadap industri senjata-senjata spesifik tertentu yang semakin meningkat. Polanya, senjata-senjata yang awal mulanya dikirim ke proksi negara-negara asing akhirnya jatuh ke tangan kelompok-kelompok rival yang berseberangan dan berbalik digunakan untuk melawan negara-negara pengirim senjata tersebut.

Fenomena ini menjadi isu besar dan dikonfirmasi secara luas oleh para penyelidik PBB dan para peneliti lainnya soal senjata dari kalangan LSM. Kesepakatan “end-user” yang terkait dengan hilir atau pengguna akhir dalam sebuah siklus distribusi senjata, mensyaratkan pembeli adanya ijin dari pihak penjual (supplier) sebelum dijual kembali ke pihak ketiga. Klausul inilah yang sudah berulang kali terjadi pelanggaran dan hampir tidak ada konskuensi apapun.

Tetapi para politisi UE nampaknya harus menyelesaikan pekerjaan rumah mereka sendiri sebelum menunjuk hidung Washington. Pada saat Uni Eropa ingin memberi peringatan dan mengajari Washington tentang resiko moral menjual alat-alat pertahanan, faktanya negara-negara anggota Uni Eropa juga layak dituding bersalah atas tersebarnya sejumlah besar senjata ringan di wilayah-wilayah konflik di dunia Arab dan di pasar senjata seluruh dunia.

Sumber: National Interest
Redaktur: Yasin Muslim


Jika tulisan ini bermanfaat bagi Anda dan banyak orang, dukung kami membantu terus menginformasikan berita dan tulisan terbaik untuk Anda. Kiblat.net adalah media Islam independen non-partisan yang dikelola mandiri. Anda dapat memberikan donasi terbaik supaya kami dapat terus bekerja di bidang dakwah media.

Donasi Sekarang

Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

One comment on “Senjata Buatan Amerika Tersebar Luas di Wilayah Konflik, Parlemen Eropa Cemas”

  1. Senjata hanya alat dengan kemampuan tertentu dan terbatas.
    Yang utama adalah kemampuan menggunakannya, (sumber daya manusianya) kalah dalam perang itu tak mutlak karena banyak dan ampuhnya persenjataan tetapi jauh lebih besar dipengaruhi strategi menggunakan senjata itu sendiri dan mutlak disebabkan kemampuan manusianya menggabungkan semua proksi,
    1.jumlah personil.
    2.kondisi alam.
    3.Situasi Medan.
    4.Keadan prajurit.
    5.kemampuan dan kelengkapan persenjataan.
    6.Waktu dan saat yg tepat dalam menggunakan masing-masing perangkat persenjataan.
    7dll.

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Indonesia

Giliran Masyarakat Bali Gelar Aksi Protes Penindasan Uighur

Setelah dilakukan secara serentak pada Jumat lalu, kini giliran warga Bali yang tergabung dalam Aliansi Bela Uighur menggelar aksi protes pada Ahad (23/12/2018) di depan gedung Konjen RRC, Denpasar.

Senin, 24/12/2018 00:38 0

Indonesia

Sekjen DSKS: Produk China yang Bisa Ditinggalkan, Maka Tinggalkanlah!

Kalau ada produk-produk China yang bisa kita tinggalkan, tidak menggunakan, maka itu adalah bagian kita untuk membantu saudara kita yang ada di sana," ungkap Sekjen Dewan Syariah Kota Surakarta (DSKS), Ustadz Tengku Azhar.

Ahad, 23/12/2018 19:15 0

Opini

Kasih Sayang Luput, Anak Punk Korban Sekularisasi Akut

Punk juga bisa berarti ideologi hidup yang mencakup aspek sosial dan politik. Punk adalah gerakan anak muda yang diawali oleh anak-anak kelas pekerja.

Ahad, 23/12/2018 18:35 0

Indonesia

Kesaksian Seorang Dokter Indonesia Selama Tinggal di Xinjiang

“Jadi memang keadaannya menyedihkan, tidak boleh bikin pasport, di dalam rumahnya tidak boleh bikin kamar mandi, tidak boleh ada WC,” tukasnya.

Ahad, 23/12/2018 17:59 0

Indonesia

Update Korban Tsunami Selat Sunda: 222 orang meninggal, 843 luka-luka dan 28 hilang

Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Sutopo Purwo Nugroho mengungkapkan bahwa jumlah korban tsunami Selat Sunda Bertambah.

Ahad, 23/12/2018 17:44 0

Rohah

Ummu Rabiah, Potret Ibu Peduli Pendidikan Anak

Seluruh penduduk Madinah tahu bahwa Ummu Rabiah sangat loyal ketika membayar guru-guru putranya.

Ahad, 23/12/2018 15:32 0

Indonesia

BNPB: Peristiwa di Selat Sunda Kombinasi Tsunami dan Gelombang Pasang

Sutopo menjelaskan, tsunami bukan dipicu oleh gempabumi, karena tidak terdeteksi adanya aktivitas tektonik.

Ahad, 23/12/2018 10:38 0

Indonesia

Update Dampak Tsunami Selat Sunda: 43 Meninggal Dunia, 584 Orang Luka-luka dan 2 Orang Hilang

Update Dampak Tsunami Selat Sunda: 43 Meninggal Dunia, 584 Orang Luka-luka dan 2 Orang Hilang

Ahad, 23/12/2018 09:56 0

Siyasah

Turkistan Timur, Negeri Islam yang Dibunuh dalam Diam

Pemerintahan komunis Cina telah membunuh lebih dari enam puluh juta muslim Uighur sejak menduduki wilayah Turkistan. Jumlah ini sepuluh kali lipat dari para syuhada Bosnia Herzegovina, Iraq, Afghanistan, Chechnya dan Palestina.

Sabtu, 22/12/2018 22:18 1

Indonesia

Masyarakat Poso Demo Menolak Diskriminasi Muslim Uighur

Masyarakat Kota Poso dan sekitarnya turun ke jalan menuntut dan mengecam pemerintah China yang telah melakukan pembantaian dan penganiyaan terhadap muslim Uighur.

Sabtu, 22/12/2018 13:45 0

Close