... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

Suara Pembaca

Kasih Sayang Luput, Anak Punk Korban Sekularisasi Akut

Foto: Punk

Penulis: Nindira Aryudhani, S.Pi, M.Si (Koordinator LENTERA, Relawan Opini dan Media)

 

KIBLAT.NET – Punk, awalnya merupakan subkultur yang lahir di London, Inggris. Di samping itu, punk juga dapat diartikan sebagai salah satu jenis/genre musik yang lahir pada awal tahun 1970-an. Namun, punk juga bisa berarti ideologi hidup yang mencakup aspek sosial dan politik. Punk adalah gerakan anak muda yang diawali oleh anak-anak kelas pekerja.

Gerakan ini cukup populer juga di Amerika yang saat itu sedang mengalami masalah ekonomi dan keuangan akibat kemerosotan moral para tokoh politik yang memicu tingkat pengangguran dan kriminalitas tinggi. Punk berusaha menyindir para penguasa dengan caranya sendiri, melalui lagu-lagu dengan musik dan lirik yang sederhana namun kadang-kadang kasar, beat yang cepat dan menghentak.

Berikut ini lima hal yang dianggap sebagai ideologi yang mendasari gerakan punk:

1. Do it Yourself (DIY)

Yaitu gaya hidup yang mengusahakan segala sesuatu bisa dibuat atau dikerjakan sendiri. Maksudnya, tidak membiasakan diri untuk buru-buru membeli produk yang siap pakai, apalagi jika harganya mahal.

2. Anti Kemapanan

Yang dimaksud dengan kemapanan adalah segala hal yang sifatnya mainstream atau dominan di masyarakat. Punk selalu mempertanyakan segala yang dominan lalu menentangnya.

3. Counter Culture

Punk menawarkan alternatif dari budaya mainstream dengan cara mencuri simbol-simbol kemapanan lalu menciptakan gayanya sendiri. Misalnya, dalam berpakaian, punk meledek gaya berpakaian yang rapi dan teratur dengan bergaya yang terkesan serampangan.

4. Kesetaraan

Di dalam komunitas punk, semua orang dipandang dianggap memiliki hak dan kewajiban yang sama, nggak dibedakan dari latar belakang, gender, atau status sosial.

5. Anarkis

John Martono dan Arsita Pinandita menuliskan bahwa punk lekat dengan anarkis, yaitu paham kehidupan tanpa negara, tanpa pemerintah.

Namun pada era selanjutnya, banyak yang dianggap telah menyalahartikan punk sebagai glue sniffer dan perusuh karena di Inggris pernah terjadi wabah penggunaan lem berbau tajam untuk mengganti bir yang tak terbeli oleh mereka. Banyak pula yang merusak citra punk karena banyak dari mereka yang berkeliaran di jalanan dan melakukan berbagai tindak kriminal.

Berdasarkan lima hal yang dianggap sebagai ideologi punk tadi, jelas sekali bahwa ide punk berawal dari ketidakpuasan mereka terhadap ketimpangan sosial yang timbul dalam kehidupan. Hal ini tentu sebagai hasil dari penerapan ideologi yang tidak sesuai dengan fitrah mereka sebagai manusia ciptaan Allah SWT. Namun karena mereka tidak memperoleh pelarian untuk menuju Rabb-nya, tak heran jika dampak ekstrim menjadi punker adalah menentang Tuhan.

Di Indonesia, anak punk biasanya akan langsung dikenali dari kostum yang dikenakan. Juga dari tingkah laku yang mereka perlihatkan, seperti potongan rambut mohawk ala suku Indian, atau dipotong ala feathercut dan diwarnai dengan warna-warna yang terang, sepatu boots, rantai dan spike, jaket kulit, celana jeans ketat dan baju yang lusuh, anti kemapanan, anti sosial, kaum perusuh dan kriminal dari kelas rendah, hingga pemabuk berbahaya.

Pada perkembangannya, punk bagaikan arena perilaku pelarian anak-anak yang kecewa dengan keluarganya. Seperti perceraian orang tua, pertengkaran orang tua, kurang harmonisnya keluarga, kurang mendapat perhatian orang tua, mendapat tekanan psikis yang negatif akibat sering dimarahi orang tua, hingga memang benar-benar salah dalam pergaulan sosialnya.

Ketika mereka sudah lari dari keluarga, anak punk biasanya menjadi anak jalanan. Mereka mencari nafkah dengan mengamen berkeliling kota. Namun parahnya, mereka juga terlibat pergaulan dengan sesama anak punk yang luar biasa bebas, lekat dengan dunia minuman keras dan narkoba, bahkan tak jarang ada juga yang terjerat jaringan L98T.

Dalam menangani hal ini, Menteri Sosial yang saat itu masih dijabat Khofifah Indar Parawansa, terus berupaya mengurangi jumlah anak jalanan. Berdasarkan data, masih ada 16.290 anak jalanan hingga Agustus 2017. Sebelumnya, menurut Khofifah, pada 2006, jumlah anak jalanan di seluruh Indonesia sebanyak 232.894 orang. Kemudian pada 2010 ada 159.230 anak jalanan, 2011 turun menjadi 67.607 anak jalanan, dan 2015 menjadi turun lagi menjadi 33.400 anak jalanan.

Seluruh anak jalanan tersebut tersebar di 21 provinsi. Saat itu, Khofifah juga menyosialisasikan PP Nomor 44 Tahun 2017 tentang Pengasuhan Anak bersama anak jalanan dan panti asuhan, serta mencanangkan Gerakan Sosial Menuju Indonesia Bebas Anak Jalanan (MIBAJ).

Khofifah menyampaikan, keberadaan PP ini sangat penting. Sebab, tidak sedikit orang tua yang memang tidak cakap mengasuh. Ada pula orang tua yang hak asuhnya dicabut serta pengasuhannya dialihkan sementara atau permanen. Maka tidak jarang ada istilah orang tua asuh atau orang tua angkat. PP ini merupakan breakdown dari Undang-undang Perlindungan Anak. PP ini berfungsi untuk memberikan payung hukum kepada anak-anak soal pengasuhan, perlindungan, dan hak-hak hukum lainnya yang melekat pada upaya perlindungan anak. Menurut Khofifah, anak wajib dilindungi karena mereka punya hak hidup. Pemenuhan hak anak adalah dari sisi pengasuhan.

Mencermati hal ini, bahwa merebaknya jumlah dan kasus anak punk, masih selalu menjadi PR besar. Menangani anak punk, harus berawal dari pemahaman akan sebuah kelurga yang menjadi inkubator pengasuhan yang mutakhir dan memadai. Harus dipahami, bahwa menjadi orang tua tidaklah sekedar menjadi induk, pun tidak sekedar menafkahi. Melainkan ada peran pengasuhan yang harus diupayakan sungguh-sungguh agar keluarga sebagai benteng terkecil negara bagi generasi dapat diwujudkan.

Pernikahan diselenggarakan dalam rangka membentuk keluarga, sekaligus mewujudkan ketenteraman bagi keluarga tersebut. Yang termasuk di dalamnya suasana yang kondusif untuk mendidik anak-anak. Kondusifitas ini dapat diraih hanya dengan mengembalikan aturan pengasuhan anak kepada pihak yang telah mengamanahi orang tua atas anaknya, yakni Allah SWT.

Kondusifitas ini juga harus diupayakan dengan senantiasa memberikan pembelajaran dan praktik syariah di tengah keluarga. Diantaranya aspek aqidah (rukun iman dan rukun Islam), ibadah, akhlak, keterikatan terhadap hukum syara’, standar halal-haram, syariah tentang interaksi anak laki-laki dan perempuan, hingga pembelajaran tentang muamalah dan uqubat (sanksi ketika melanggar hukum syara’).

Inilah yang selama ini absen dalam keluarga akibat arus sekularisasi yang diniscayakan oleh sistem kehidupan berasas ideologi kapitalisme. Semuanya menjadi serba boleh dan bebas, karena kapitalisme menolak keterikatan kepada aturan Sang Khaliq dalam kehidupan. Namun ketika manusia hidup dalam kondisi yang tidak sesuai fitrah, cepat atau lambat kondisi itu akan ditinggalkan oleh pelakunya sendiri.

Ini tak terkecuali terjadi pada anak punk. Tak sedikit dari mereka yang bertaubat. Sedikit demi sedikit belajar Islam. Malu saat tak paham Islam, padahal hanya dengan Islam mereka bisa hidup dan mati dengan layak.

Ini terbukti dengan fenomena hijrahnya anak punk. Yang tadinya getol menyanyikan lagu-lagu antikemapanan, kemudian berganti dengan lantunan bacaan huruf-huruf hijaiyah. Yang sebelumnya gemar menenggak minuman keras, diganti dengan kopi.

Tato di badan pun lambat laun dihapus. Rambut mohawk juga dicukur rapi layaknya para santri. Aksesori hidung dan telinga dilepas. Pakaian pun lebih layak karena tidak kumal, tidak berlubang di sana-sini, serta menutup aurat. Yang masih usia sekolah, mereka mau kembali bersekolah. Yang sudah usia kerja, mereka mencari pekerjaan baru yang halal. Intinya, mereka berusaha kembali normal sesuai fitrah.

Jadi sungguh, mereka membutuhkan uluran tangan tak hanya dari keluarga, tapi juga kontrol sosial dari masyarakat dan langkah politik dari negara. Mereka membutuhkan gebrakan yang berani untuk menjauhkan mereka dari arus sekularisasi yang berbahaya. Ini demi menjaga taubat mereka dalam naungan kehidupan yang diridhoi Allah SWT, yang dalam jangka panjang tentunya akan jauh lebih kondusif dengan negara berideologi Islam.

Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Indonesia

Kesaksian Seorang Dokter Indonesia Selama Tinggal di Xinjiang

“Jadi memang keadaannya menyedihkan, tidak boleh bikin pasport, di dalam rumahnya tidak boleh bikin kamar mandi, tidak boleh ada WC,” tukasnya.

Ahad, 23/12/2018 17:59 0

Indonesia

Update Korban Tsunami Selat Sunda: 222 orang meninggal, 843 luka-luka dan 28 hilang

Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Sutopo Purwo Nugroho mengungkapkan bahwa jumlah korban tsunami Selat Sunda Bertambah.

Ahad, 23/12/2018 17:44 0

Rohah

Ummu Rabiah, Potret Ibu Peduli Pendidikan Anak

Seluruh penduduk Madinah tahu bahwa Ummu Rabiah sangat loyal ketika membayar guru-guru putranya.

Ahad, 23/12/2018 15:32 0

Indonesia

BNPB: Peristiwa di Selat Sunda Kombinasi Tsunami dan Gelombang Pasang

Sutopo menjelaskan, tsunami bukan dipicu oleh gempabumi, karena tidak terdeteksi adanya aktivitas tektonik.

Ahad, 23/12/2018 10:38 0

Indonesia

Update Dampak Tsunami Selat Sunda: 43 Meninggal Dunia, 584 Orang Luka-luka dan 2 Orang Hilang

Update Dampak Tsunami Selat Sunda: 43 Meninggal Dunia, 584 Orang Luka-luka dan 2 Orang Hilang

Ahad, 23/12/2018 09:56 0

Siyasah

Turkistan Timur, Negeri Islam yang Dibunuh dalam Diam

Pemerintahan komunis Cina telah membunuh lebih dari enam puluh juta muslim Uighur sejak menduduki wilayah Turkistan. Jumlah ini sepuluh kali lipat dari para syuhada Bosnia Herzegovina, Iraq, Afghanistan, Chechnya dan Palestina.

Sabtu, 22/12/2018 22:18 1

Indonesia

Masyarakat Poso Demo Menolak Diskriminasi Muslim Uighur

Masyarakat Kota Poso dan sekitarnya turun ke jalan menuntut dan mengecam pemerintah China yang telah melakukan pembantaian dan penganiyaan terhadap muslim Uighur.

Sabtu, 22/12/2018 13:45 0

Editorial

Mencari Al-Mu’tashim Baru untuk Uighur

Perlu dicatat, menumbuhkan solidaritas untuk Uighur bukanlah perkara mudah.

Sabtu, 22/12/2018 12:49 0

Indonesia

DSKS Tuntut Pemerintah Putus Hubungan Diplomatik dengan China

"Sangat diperlukan, Indonesia sebagai negara yang berdaulat, bisa melakukan pemutusan hubungan diplomatik dengan pemerintah China," ujarnya.

Sabtu, 22/12/2018 09:59 0

Suriah

150 Suku di Suriah Utara Gelar Konferensi Dukung Operasi Militer Turki

Pertemuan itu merupakan konferensi tahunan yang digelar dewan tersebut. Mereka menyatakan dukungan terhadap Turki dalam operasi militer anti milisi PYD-PKK di timur Sungai Efrat.

Sabtu, 22/12/2018 09:06 0

Close