... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

Suara Pembaca

Uighur, Korban Kesekian dari So-Called Kontraterorisme

Foto: Militer Cina

Penulis: Multazim Jamil (Aktivis Kemanusiaan)

 

KIBLAT.NET – Suara kecaman terhadap represi yang dilakukan Pemerintah Tiongkok kepada Muslim Uighur akhir-akhir ini sangat massif bergema di media sosial. Di media internasional, sebenarnya isu ini sudah mulai serentak dihembuskan sejak pertengahan tahun ini, saat lembaga internasional di bidang advokasi hak asasi manusia seperti Human Rights Watch, dan Amnesty International telah mengeluarkan laporannya terkait pelanggaran HAM, penindasan dan perlakuan biadab Pemerintah Tiongkok kepada Muslim Uighur.

Laporan yang dikeluarkan oleh Komisi PBB untuk Penghapusan Diskriminasi Ras dan Etnis, pada medio Agustus 2018, juga menjadi pemantik yang semakin menambah tekanan terhadap Cina. Dalam laporan tersebut, Komisi PBB itu menyebutkan bahwa sekitar satu juta orang Uighur menghuni sebuah kamp yang dinamakan kamp re-edukasi.
Pasca rilis laporan komisi PBB tersebut, Cina jelas membela diri. Hua Chunying, juru bicara Departemen Luar Negeri Cina, menyebut bahwa laporan Komisi PBB tersebut tidak memiliki dasar bukti yang jelas. Cina mengelak dari tuduhan represi dan pelanggaran HAM terhadap etnis Uighur, yang beragama Islam. Bahkan, disebutkan bahwa keamanan dan stabilitas di Provinsi Xinjiang, wilayah yang dihuni oleh orang-orang Uighur, telah mengalami peningkatan.

Narasi yang dilontarkan Cina, melalui pernyataan Chunying, adalah bahwa Cina sedang melakukan usaha kontraterorisme dan penjagaan stabilitas di Xinjiang. Ia menambahkan, bahwa hal ini adalah sebuah usaha yang lazim dilakukan oleh berbagai negara.

BACA JUGA  Pentingnya Budaya Literasi bagi Pemuda Islam dalam Memajukan Indonesia

Setali tiga uang. Baru hari kemarin beredar di media massa tentang klarifikasi dari Konjen Cina untuk Indonesia di Surabaya, Gu Jingqi. Ia mengklaim bahwa tidak ada represi terhadap Muslim Uighur seperti yang ramai diberitakan. Menurutnya, semua ini berasal dari aksi separatisme yang dilakukan oleh sebagian orang Uighur.

Mari kita cek kebenaran ucapan Chunying ini. Kita mulai dari negara anggota tetap dewan keamanan PBB. Amerika Serikat? Jelas, pelanggaran HAM mereka terjadi di berbagai negara dengan dalih pemberantasan terorisme. Rusia? Tentu saja. Suriah menjadi saksi hingga hari ini. Inggris dan Prancis? Duo negara Eropa ini selalu menjadi mitra setia Amerika Serikat di berbagai front perang, terutama di Timur Tengah.

Apa kesamaan yang bisa kita dapatkan dari kelima negara tersebut dalam menjalankan operasi kontraterorisme? Catat ini baik-baik: semua sasaran dan korban usaha kontraterorisme mereka adalah umat Islam!
Bedanya, Cina melakukannya secara massif kepada “warga negaranya” sendiri di dalam negeri. Sedangkan empat negara lainnya melakukannya di luar negaranya.

Cina membumbui narasi pembenaran aksi kejinya itu dengan menambah label separatisme.
Benarkah klaim ini? Saya rasa ini hanya klaim yang dibuat untuk membenarkan tindakan represi dan pelanggaran HAM. Dengan menggunakan alasan separatisme, Cina hendak mengkebiri dan permasalahan Uighur menjadi urusan dalam negeri. Tembok tebal negara-bangsa memang hari ini menjadi penghalang bagi intervensi publik internasional untuk membantu Uighur.

BACA JUGA  Politisi PKS: Penghapusan Materi Jihad dan Khilafah Tidak Mengurangi Radikalisme

Kita perlu bersyukur bahwa sekat negara-bangsa tersebut saat ini tidak menghalangi kepedulian sebagian umat Islam di Indonesia, meskipun sebagian lainnya masih bersikap apatis. Di media sosial, ada kampanye untuk mendoakan orang-orang Uighur dengan qunut nazilah. Ada pula seruan yang menuntut agar Dubes Cina untuk Indonesia diusir.

Terakhir, ada juga ajakan untuk memboikot produk buatan Cina. Namun, untuk ajakan yang ini, saat ini mungkin banyak yang belum mampu. Ehm anu, saya juga. Lha wong artikel ini saja diketik dari laptop yang di bagian bawahnya tertulis MADE IN CHINA.

*Jangan-jangan kamu baca artikel ini juga dari HP bertulis MADE IN CHINA?

Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Indonesia

Yusril: Indonesia Tak Campuri Urusan dalam Negeri Jika Tekan Cina Soal Krisis Uighur

"Ini adalah persoalan kemanusiaan dan HAM, bukan ingin mencampuri urusan dalam negeri Cina"

Jum'at, 21/12/2018 14:55 0

Indonesia

Aksi 2112 di Makassar: Bebaskan Uighur Berislam!

"Kami turun akan melakukan aksi damai, sebagai bentuk dukungan terhadap Uighur supaya dibebaskan berislam," ujarnya mengawali siaran langsung di Facebook.

Jum'at, 21/12/2018 14:51 0

Indonesia

Bela Muslim Uighur dengan Boikot Produk Cina

Bela Muslim Uighur dengan Boikot Produk Cina

Jum'at, 21/12/2018 14:28 0

Indonesia

Pengamat Ungkap Sebab Negara Islam Bungkam Soal Uighur

"Turki sekalipun yang biasanya sangat-sangat aktif untuk merespon, sampai sekarang juga belum memberikan respon untuk kasus masalah Uighur"

Jum'at, 21/12/2018 14:12 0

Indonesia

Fadli Zon: Tak Sikapi Diskriminasi Muslim Uighur, Politik Luar Negeri Kita Melempem

Wakil Ketua DPR-RI, Fadli Zon menyebut diplomasi luar negeri Indonesia melempem di masa pemerintahan Jokowi.

Jum'at, 21/12/2018 13:47 0

Indonesia

Umat Islam Diimbau Lakukan Qunut Nazilah Untuk Uighur

Umat Islam Diimbau Lakukan Qunut Nazilah Untuk Uighur

Jum'at, 21/12/2018 13:42 0

Indonesia

Gelar Diskusi HAM, JITU Dorong Pemerintah Berbuat Untuk Etnis Uighur

"Diharapkan dengan diskusi ini akan menggerakkan berbagai elemen terutama pemerintah agar berbuat untuk etnis Uighur"

Jum'at, 21/12/2018 13:33 0

Indonesia

Amnesty Internasional Benarkan Satu Juta Muslim Uighur Ditahan Pemerintah China

Direktur Amnesty Internasional Indonesia, Usman Hamid mengungkapkan sejumlah fakta tentang penindasan terhadap Muslim Uighur di Xinjiang, China

Jum'at, 21/12/2018 13:20 0

Indonesia

ACT Bentuk Tim untuk Buka Jalur Bantuan ke Muslim Uighur

Lembaga Kemanusiaan Aksi Cepat Tanggap (ACT) akan mengirim tiga tim untuk membuka jalur bantuan ke etnis Uighur yang sedang didiskriminasi oleh Pemerintah China.

Jum'at, 21/12/2018 13:06 0

Myanmar

Myanmar Luncurkan Operasi Militer Baru terhadap Muslim Rohingya

Dalam sebuah pernyataan yang diunggah di situs resmi, Kantor Panglima Militer Myanmar Min Aung Helang mengumumkan bahwa pasukan keamanan mulai bergerak lagi dan meluncurkan "operasi pembersihan" di daerah Mongdao.

Jum'at, 21/12/2018 11:23 0

Close