... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

Fokus

Sejarah Perayaan Tahun Baru Bangsa Kuno

Foto: Sejarah tahun Baru

KIBLAT.NET – Dalam hitungan hari bulan Desember akan segera usai. Perayaan tahun baru akan segera datang. Sebelum lebih lanjut membahas hukum merayakan tahun baru, ada baiknya kita mengetahui dulu sejarah perayaan tahun baru dari zaman ke zaman.

Sejarah Perayaan Tahun Baru

Dalam sebuah artikel di www.history.com yang berjudul “5 Ancient New Years Celebrations” disebutkan lima peradaban kuno yang sejak dulu telah merayakan tahun baru. Lima peradaban itu adalah Babilonia, Romawi, Mesir, China dan Persia. Dari kelima peradaban yang disebutkan tidak ada peradaban yang bernafaskan Islam di dalamnya. Semuanya adalah peradaban di luar Islam.

a. Babilonia

Salah satu peradaban tertua yang tercatat merayakan tahun baru adalah peradaban Babilonia sekitar 2000 SM. Perayaan itu diselenggarakan pada akhir Maret selepas ekuinoks vernal (titik musim semi matahari menandai dimulainya musim semi astronomis). Sekaligus untuk menghormati kelahiran dunia baru dengan festival keagamaan yang dikenal dengan nama Akitu. Ritual itu di selenggarakan selama 11 hari. Selain untuk perayaan tahun baru, Akitu juga digunakan untuk perayaan mitos kemenangan dewa langit Babilon Marduk atas Dewi Laut jahat Tiamat.

Festival Akitu

Festival Akitu, Perayaan tahun baru bangsa Babylonia

b. Romawi

Cikal bakal tahun baru yang diselenggarakan pada 1 Januari bersumber pada perayaan pada peradaban Romawi. Awalnya, saat itu kalender Roma terdiri dari 10 bulan atau 304 hari dimana setiap awal tahun tahu baru jatuh saat ekuinoks vernal. Penanggalan ini diciptakan oleh Romulus, pendiri Roma.

Selang berabad-abad lamanya, ternyata kalender Roma mulai tidak sesuai dengan sinkronisasi matahari. Akhirnya,pada tahun 46 SM Julius Caisar memutuskan untuk memecahkan masalah ini dengan para astronom dan matematikawan. Dia memperkenalkan kalender Julian yang menyerupai kelender Gregorian yang digunakan sebagian besar hari ini di seluruh dunia.

Julius Caesar

Julius Caesar, Raja Romawi yang menetapkan 1 Januari sebagai hari pertama di setiap tahunnya

Reformasi lain yang dibawa Julius adalah menetapkan 1 Januari sebagai hari pertama di setiap tahunnya. Hal ini dimaksudkan sebagai penghormatan kepada dewa Janus, dewa berwajah dua yang melambangkan bisa melihat kembali masa lalu dan masa depan. Perayaan tahun baru itu dimeriahkan dengan pemberian persembahan kepada Janus, saling bertukar hadiah dan menghiasi rumah mereka serta mengadakan pesta pora. Budaya ini ternyata masih ada hingga saat ini saat perayaan tahun baru pada 1 Januari.

c. Mesir

Budaya Mesir Kuno sangat berkaitan erat dengan sungai Nil. Tahun baru mereka didasarkan pada banjir tahunan yang terjadi. Menurut penulis Roman Censorinus, tahun baru Mesir diduga ketika Sirius pertama (bintang tercerah di malam hari) muncul setelah absen 70 hari. Fenomena ini terjadi pada pertengahan Juli sebelum banjir tahunan sungai Nil. Perayaan dilakukan dengan sebuah festival yang dikenal dengan nama “Wepet Renpet” yang berarti pembukaan tahun.

Wepet Renpet

Wepet Renpet, Festival Pembukaan tahun bagi masyarakat Mesir Kuno

Perayaan ini juga dijadikan ajang untuk bermabuk-mabukan. Pesta besar-besaran ini dikaitkan dengan mitos Sekhmet dimana Dewi Perang yang merencanakan membunuh semua umat manusia hingga dewa Ra menipunya dengan minum-minuman keras sampai tidak sadarkan diri. Orang-orang Mesir kuno saat itu selain dengan mabuk-mabukan juga merayakannya dengan alunan musik, seks dan pesta pora.

d. Cina

Tahun baru Cina diyakini mulai dikenal sejak 3000 tahun silam sejak dinasti Shang. Awalnya perayaaan dilakukan pada permulaan musim semi atau musim tanam. Namun, lama kelamaan mulai terkontaminasi dengan mitos dan legenda. Menurut satu cerita yang paling populer saat itu ada makhluk haus darah bernama “Nian” yang berburu setiap tahunnya. Untuk menakut-nakuti makhluk itu maka para penduduk menghiasi rumah dengan hiasan bernuansa merah, pembakaran bambu dan membuat suara yang keras. Akhirnya, hal itu berintegrasi pada perayaan tahun baru Cina hingga saat ini.

Nian

Nian, Makhluk mitos pada masyarakat China kuno

e. Persia

Perayaan ini masih dirayakan di Iran,beberapa wilayah Timur Tengah dan Asia. Sering disebut dengan nama Nowruz atau tahun baru Persia. Perayaan ini dilakukan selama 13 hari pada musim semi atau ketika ekuinoks vernal pada bulan Maret. Diyakini budaya ini sebagai bagian dari agama Zoroaster. Catatan resmi Nowruz belum muncul sampai abad ke-2, namun para sejarawan percaya bahwa perayann ini mulanya terjadi sekitar abad 6 SM pada saat pemerintahan kekaisaran Akhemeniyah.

Hari Raya Nowruz

Hari Raya Nowruz (ilustrasi), perayaan tahun baru bangsa Persia

Peringatan kuno ini terfokus pada kembalinya musim semi.Perayaan yang dilakukan adalah dengan bertukar hadiah, pencahayaan api unggun, mewarnai telur dan percikan air yang melambangkan penciptaan.

Sejarah Penetapan 1 Januari sebagai Tahun Baru

Dari lima peradaban yang merayakan tahun baru di atas ternyata perayaan tahun baru 1 Januari menginduk pada budaya Romawi kuno. Dimana budaya itu diciptakan oleh Julius Caisar untuk mengagungkan dewa bermuka dua, Janus. Hal ini juga ditulis dalam The World Book Encyclopedia Vol.14 hal.237 yang berbunyi

The Roman ruler Julius Caesar established January 1 as New Year’s day in 46 BC. The Romans dedicated this day to Janus, the god of gates, doors and beginning.The month of January was named after Janus, who had two faces-one looking forward and other looking backward.”

Penguasa Romawi, Julius Caesar menetapkan tanggal 1 Januari sebagai hari tahun baru di 46 SM. Orang Roma mendedikasikan hari ini untuk Janus, dewa segala gerbang, pintu dan permulaan waktu. Bulan Januari diambil dari nama Janus sendiri, yaitu dewa yang memiliki dua wajah, Satu wajah menghadap ke (masa) depan dan satu wajah lagi menghadap ke (masa) lalu”. (The World Book Encyclopedia Vol.14 hal.237)

Kesimpulan

Secara umum kita mendapati bahwa peringatan tahun baru dilakukan oleh peradaban-peradaban kafir yang tidak bersesuaian dengan Islam. Mereka menjadikan tahun baru sebagai ajang untuk penghormatan kepada dewa tertentu atau wujud “terima kasih” mereka kepada alam. Mereka menjadikan tahun baru sebagai ajang pesta dan pemujaan yang mereka menganggapnya sebagai sebuah hari raya. Sebagai umat Islam kita sudah memiliki hari raya tersendiri yang disebutkan dalam hadits berikut ini.

Anas radhiyallahu ‘anhu berkata,

قَدِمَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- الْمَدِينَةَ وَلأَهْلِ الْمَدِينَةِ يَوْمَانِ يَلْعَبُونَ فِيهِمَا فَقَالَ « قَدِمْتُ عَلَيْكُمْ وَلَكُمْ يَوْمَانِ تَلْعَبُونَ فِيهِمَا فَإِنَّ اللَّهَ قَدْ أَبْدَلَكُمْ يَوْمَيْنِ خَيْراً مِنْهُمَا يَوْمَ الْفِطْرِ وَيَوْمَ النَّحْرِ

“Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam datang ke Madinah, penduduk Madinah memiliki dua hari raya untuk bersenang-senang dan bermain-main di masa jahiliyah. Maka beliau berkata, “Aku datang kepada kalian dan kalian mempunyai dua hari raya di masa Jahiliyah yang kalian isi dengan bermain-main. Allah telah mengganti keduanya dengan yang lebih baik bagi kalian, yaitu hari raya Idul Fithri dan Idul Adha (hari Nahr)” (HR. An Nasai no. 1556 dan Ahmad 3: 178, sanadnya shahih sesuai syarat Bukhari-Muslim sebagaimana kata Syaikh Syu’aib Al Arnauth).

Berdasarkan hadits ini maka segala bentuk hari raya selain hari raya Idul Fitri dan Idul Adha maka tidak dianggap oleh syariat Islam, walaupun hari raya itu sebuah tradisi sebagaimana yang terjadi pada penduduk Madinah pasca kedatangan Nabi Muhammad saw di Madinah.

Dari sisi sejarah kita bisa mengetahui bahwa perayaan tahun baru adalah hari raya yang diperingati oleh peradaban-peradaban kafir. Sementara dari sisi kekinian kita bisa melihat perayaan tahun baru tak ubahnya menjadi ajang bercampur berbagai macam maksiat. Mulai dari khomr, zina dan hura-hura yang semuanya terlarang di dalam Islam. Wallahu a’lam bisshowab.

Penulis: Dhani El_Ashim
Editor: Arju

Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Indonesia

Soal Diskriminasi Muslim Uighur, Sekjen MUI: Pemerintah Indonesia Jangan Diam

Sekjen Majelis Ulama Indonesia (MUI), Anwar Abbas mengecam diskriminasi muslim Uighur oleh otoritas Tiongkok.

Rabu, 19/12/2018 13:23 0

Video News

Bela Uighur, PB HMI Geruduk Kedubes China dan Kemenlu RI.

KIBLAT.NET- Pada Selasa, 18 Desember 2018, Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) secara serentak se-Indonesia...

Rabu, 19/12/2018 13:00 0

Fikih

Hukum Merayakan Tahun Baru dalam Islam

Perayaan tahun baru seolah menjadi budaya tahunan di Indonesia. Tumpah ruah muda-mudi di jalanan menghitung mundur tahun baru seolah menjadi rutinitas tahunan. Bagaimana hukum merayakan tahun baru dalam Islam?

Rabu, 19/12/2018 13:00 0

Video News

Jalan Gubeng Surabaya Ambles, Apa Sebabnya?

KIBLAT.NET- Jalan Gubeng, sebagai jantung kota Surabaya ini mendadak ambles. Sehingga mobil maupun kendaraan beroda...

Rabu, 19/12/2018 11:46 0

Afrika

Prancis Enggan Tambah Tentara untuk Misi “Anti Teror” di Burkina Faso

Macron menambahkan bahwa pihaknya hanya akan menambah bantuan pelatih dan penasihat militer serta peralatan tempur.

Rabu, 19/12/2018 09:37 0

Eropa

Sang Imam Diduga Kirim Dana ke Gerilyawan Suriah, Masjid di Berlin Digeledah

Abu Al-Bara dikenal sangat aktif berdakwah. Ia kerap menggelar safari dakwa ke kota-kota Jerman. Sejumlah dialog dakwah dengan non-muslim juga pernah ia selenggarakan.

Rabu, 19/12/2018 08:49 0

Afghanistan

Taliban Bantah Pemberitaan Reuters Mengenai Tema Negosiasi di Abu Dhabi

Taliban dan AS menggelar pembicaraan langsung di Abu Dhabi sejak Senin.

Rabu, 19/12/2018 07:55 0

Suriah

Rusia, Iran dan Turki Gagal Bentuk Komite Konstitusi Suriah

Menteri Luar Negeri Turki Mevlut Cavusoglu mengatakan kepada media pemerintah Turki bahwa ketiga negara telah membuat "kontribusi penting" untuk pembentukan komite dan membahas nama-nama kandidat.

Rabu, 19/12/2018 06:27 0

Indonesia

Pengacara Benarkan Habib Bahar Ditahan di Polda Jabar

Pengacara Habib Bahar Bin Smith, Aziz Yanuar membenarkan bahwa kliennya ditahan di Rutan Polda Jabar

Selasa, 18/12/2018 23:51 0

Indonesia

Bela Uighur, Din Syamsuddin: Jangan Karena Investasi Kita Jadi Bungkam

Din menyebut penindasan terhadap etnis muslim Uighur pelanggaran HAM berat, dan pelanggaran hukum internasional yang nyata

Selasa, 18/12/2018 23:10 0

Close