... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

In Depth

Menyudutkan Islam atas Nama Toleransi

Foto: Toleransi

KIBLAT.NET – Beberapa waktu lalu, publik dihebohkan dengan rilisan Setara Institute tentang indeks kota dengan tingkat toleransi. Rilis ini menjadi heboh karena menempatkan Jakarta dan Aceh ke dalam kota dengan tingkat toleransi yang rendah. Gubernur  DKI Anis Baswedan menantang Setara untuk membuka metode penelitian yang digunakan.

Dalam konteks umat Islam, beberapa ajaran Islam seringkali menjadi objek serang kata intoleransi. Seperti tidak mau mengucapkan selamat natal, tidak setuju dengan pemimpin kafir dan lain-lain. Sebenarnya apa itu toleransi? Dan bagaimana kata tersebut menjadi pintu masuk untuk menyudutkan Islam?

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (versi online) kata toleransi bermakna, dua kelompok yang berbeda kebudayaan itu saling berhubungan dengan penuh. Titik tekan toleransi di sini adalah pada terciptanya hubungan antara pihak-pihak yang berbeda.

Namun, pada perkembangannya sepertinya kata toleransi mengalami pergeseran makna. Kata ini dipakai oleh kaum permisivisme (Liberal) untuk mengajak umat Islam toleransi terhadap kemaksiatan, toleransi terhadap perbuatan yang melanggar batas-batas agama, toleransi terhadap bentuk kezaliman, toleransi terhadap tindakan menyia-nyiakan syariat Allah. Di dalam Islam sudah ditentukan kaidah dan batasan dalam bertoleransi.

Syaikh Abdul Azis Ath-Tharifi –hafizahulah- berkata, “Kebebasan manusia terbatas oleh batasan-batasan Allah. Allah berfirman, “Dan itulah batasan-batasan Allah. Barangsiapa melampaui batasan Allah sungguh telah menzalimi dirinya sendiri.” (QS : Ath-Thalaq : 1)”

Ath-Tharifi

Kicauan Syaikh Abdul Azis Ath-Tharifi tentang kebebasan manusia

Atas nama toleransi, mereka mencoba untuk membuat kabur batasan-batasan Allah sedikit demi sedikit. Bahkan, tak jarang mereka menggunakan dalil-dalil syar’i untuk memperkuat argumentasi mereka. Jargon-jargon toleransi sering mereka gembar-gemborkan untuk memberikan stigma negatif kepada mereka yang berusaha mempraktekkan agama dengan benar.

BACA JUGA  Dari Piagam Jakarta ke Pancasila: Mencari Makna Ketuhanan (Bag. 3)

Jika dilihat dari sejarah, munculnya gerakan permisivisme di Eropa, bermula dari kondisi politik Eropa saat itu. Pada tahun 1223, di era pemerintahan raja Lois IX, Paus Gregorius IX mengeluarkan sebuah titah untuk membuat lembaga inkuisisi. Sebuah lembaga yang menjamin ajaran Kristen dari penyelewengan.

Walaupun Paus berusaha menyatukan akidah umat kristiani, namun pada kenyataannya muncul banyak sekte-sekte gereja. Kemunculan sekte-sekte ini memicu adanya fanatisme yang berlebihan antara satu gereja dengan gereja lainnya. Fanatisme ini mengakibatkan banyak dampak negatif, dan yang paling buruk adalah pembantaian ribuan pengikut Protestan yang dikenal dengan kejadian Santo Bartholomew.

Krisis yang berkepanjangan ini memunculkan dua aliran pemikiran di Eropa. Yang pertama mereka yang memiliki gagasan untuk mempersatukan umat Kristiani, pada doktrin-doktrin agama umum, namun pada permasalahan yang sifatnya detail, dipersilahkan untuk berbeda. Adapun kelompok kedua berpandangan bahwa, masing-masing sekte gereja permisive terhadap sekte yang lainnya. Pemikiran ini mulai menguat di akhir abad ke 17.

Adalah Jhon Locke di antara yang memiliki gagasan bahwa toleransi tidak akan terwujud kecuali dengan menjauhkan nilai-nilai agama dari kehidupan bernegara. Di dalam bukunya Letters Concerning Toleration yang diterbitkan pada tahun 1689. Locke mengutarakan bahwa toleransi mengharuskan pemisahan gereja dari kehidupan bernegara. (Naqdut Tasamuh Al-Librali 15 -19)

Melihat dari sejarah dan spirit toleransi Barat, maka bukan hal yang aneh jika agen-agen Barat melalui media-media sekuler menuduh praktek-praktek agama sebagai sebuah tindakan intoleran.

BACA JUGA  Kyai Cholil Nafis: Semoga Mursi Diterima Sebagai Syuhada

Penulis: Miftahul Ihsan

 

Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Afrika

Protes Pemerintah, Warga Tunisia Gunakan Simbol “Rompi Merah”

Pendiri kampanye, Riyad Jarad, pada Jumat (14/12/2018) lalu, mengatakan pada konferensi pers baru-baru ini bahwa inisiatif tersebut terinspirasi dari protes “Rompi Kuning” Perancis.

Ahad, 16/12/2018 10:51 0

Opini

Akankah Hukum Menyala Kepada La Nyalla?

Tak berlangsung lama pasca videonya yang mendukung Jokowi viral, La Nyalla blak-blakan soal pengakuannya yang menyebarkan isu bahwa Jokowi adalah PKI saat Pilpres 2014.

Sabtu, 15/12/2018 16:13 0

Indonesia

Tasawuf Underground Gelar Tadabur Alam Bersama Anak Punk dan Jalanan

Komunitas Tasawwuf Underground menggelar acara tadabur alam bersama anak-anak punk dan jalanan di Nusantara Organik SRI Center (NOSC) Sukabumi.

Sabtu, 15/12/2018 13:09 0

Indonesia

Kisah Adi, Pria yang Hijrah Setelah Menjadi Punk 15 Tahun

Adi, lelaki usia 33 tahun ini bertaubat setelah menjadi punk selama 15 tahun

Sabtu, 15/12/2018 12:21 0

Turki

Setelah Ancam Milisi Kurdi Suriah, Erdogan dan Trump Bertelepon

“Kedua kepala Negara sepakat memastikan kerja sama yang lebih efektif untuk Suriah,” kata pernyataan kantor kepresidenan Turki.

Sabtu, 15/12/2018 09:19 0

Indonesia

Baru Sepuluh Hari, Kemendagri Cabut Aturan Berpakaian ASN

Setelah berjalan sepuluh hari sejak ditandatangai pada 4 Desember lalu, Inmendagri tentang hal yang mengatur tentang cara berpakaian ASN di lingkungan Kemendagri dicabut

Jum'at, 14/12/2018 18:21 0

Indonesia

Nasir Djamil Minta Separatis Papua Ditangani Sesuai UU Terorisme

Nasir Djamil Minta Separatis Papua Ditangani Sesuai UU Terorisme

Jum'at, 14/12/2018 17:52 0

Indonesia

Terkait Penindasan Rohingya, Permabuddhi Sebut Biksu Wirathu Ekstremis

Prof Philip K. Widjaja membenarkan bahwa junta militer Myanmar telah melakukan kekerasan terhadap etnis minoritas Muslim Rohingya.

Jum'at, 14/12/2018 16:52 0

Indonesia

Pengamat Nilai Publik Sudah Kritis Sikapi Isu Terorisme

Pengamat terorisme dan Intelijen, Harist Abu Ulya mengatakan bahwa publik saat ini kritis terhadap isu terorisme.

Jum'at, 14/12/2018 16:26 0

Indonesia

Pengamat: Peringatan Dini Terorisme dari Polri Bikin Publik Cemas

dalam isu terorisme, pernyataan Polri tentang potensi ancaman terorisme hanya berdasarkan asumsi.

Jum'at, 14/12/2018 16:00 0

Close