... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

News

Terkait Penindasan Rohingya, Permabuddhi Sebut Biksu Wirathu Ekstremis

Foto: Ketua Umum Musyawarah Nasional Persatuan Umat Buddha Indonesia (Permabudhi), Prof Philip K. Widjaja di Hotel Gran Melia, Jakarta, Kamis (14/12/2018)

KIBLAT.NET, Jakarta- Ketua Umum Musyawarah Nasional Persatuan Umat Buddha Indonesia (Permabudhi), Prof Philip K. Widjaja membenarkan bahwa junta militer Myanmar telah melakukan kekerasan terhadap etnis minoritas Muslim Rohingya. Tetapi menurutnya, yang dialami etnis Rohingya bukan terkait agama melainkan bentuk penindasan yang bermotif politik.

“Kita tidak senang dengan kasus Myanmar. Karena yang terjadi di sana itu bukan kasus agama. Dulu kita menganggap itu kasus agama. Sudah jelas semua bahwa di sana ada junta militer untuk menindas rakyatnya sendiri karena tujuan politik yang luar biasa kotornya,” ungkapnya kepada Kiblat.net, Kamis (14/12/2018) di Hotel Gran Melia, Jakarta.

Sementara itu, menanggapi keterlibatan Biksu Ashin Wirathu yang vokal mengkampanyekan anti-Muslim Rohingya di Myanmar, Philip tak menampik bahwa di agama Buddha pun juga ada pemahaman ekstremisme. Namun, ia membantah bahwa pemahaman ekstrem ini berkembang di Indonesia.

Ia menjelaskan bahwa dalam agama Buddha terdapat banyak aliran, salah-satunya Teravadha, aliran yang merujuk pada Buddha di Myanmar, Kambodja, Thailand dan Sri Lanka. Penganut aliran Teravadha ini cukup banyak di Indonesia, namun tak sepakat dengan apa yang terjadi di Myanmar.

“Biksu vokal yang sudah di penjara kemudian dibebaskan, jangkriknya ini. Tapi sekarang sudah senyap lagi,” ungkapnya mengkritik Wirathu yang dicap sebagai ‘The Face of Buddhist Terror’ oleh majalah TIME.

Ia menjelaskan, selain pemahaman yang ekstrem, ia menduga vokalnya Wirathu dalam membenci Muslim Rohingya juga karena bayaran. “Semua agama itu punya bagian yang ekstrem. Pasti ada bagian yang ekstremlah. Apalagi bagian ekstrem yang dibayari,” tegasnya.

BACA JUGA  Corona, Antara Uang dan Relasi

Kendati demikian, ia menyakini permasalah yang terjadi di Rohingya saat ini berakar dari zaman kolonial. Kerajaan etnis Rohingya yang berkuasa di Rakhine State tidak mendapatkan keadilan, karena penjajah Inggris memberikan wilayah mereka ke dalam bagian negara Myanmar. Ia melihat, hal serupa juga terjadi di daerah Muslim lainnya seperti di Mindanau dan Pattani.

“Jadi suku Rohingya itu sejak dulu sudah ada di tempat itu. Sejak tahun 1.500 an, itu bukan baru kemarin. Mereka punya kerajaan sendiri, punya cara hidup sendiri, punya agama sendiri dan bahasa sendiri,” tukasnya.

Reporter: Syafei Irman
Editor: Syafei Irman


Jika tulisan ini bermanfaat bagi Anda dan banyak orang, dukung kami membantu terus menginformasikan berita dan tulisan terbaik untuk Anda. Kiblat.net adalah media Islam independen non-partisan yang dikelola mandiri. Anda dapat memberikan donasi terbaik supaya kami dapat terus bekerja di bidang dakwah media.

Donasi Sekarang

Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Video News

Zoom In : Sendiri Dalam Keramaian Reuni 212

KIBLAT.NET- Reuni 212 memang sudah berlalu, namun kehangatannya masih terasa. Ada banyak kenangan yang sulit...

Jum'at, 14/12/2018 15:54 0

Analisis

Jurnal Syamina: Membajak Islam, Menjinakkan Muslim

“Singkatnya, kita harus memecah belah Islam… melemahkan Islam, membuatnya gelisah, mematikannya, dan menjadikannya tidak mampu bangkit selamanya." (Bernard Carra de Vaux, Orientalis Prancis)

Jum'at, 14/12/2018 13:13 0

Suara Pembaca

Ada Ibroh di Balik Reuni Akbar 212

Gelombang manusia yang hadir pada acara reuni 212 yang digelar pada hari minggu kemarin di Monas telah membuka mata dunia bahwa ikatan yang terjalin adalah ikatan akidah semata.

Jum'at, 14/12/2018 11:15 0

Palestina

Tusuk Dua Polisi Penjajah Israel, Pemuda Palestina Gugur

Ia gugur tertembak.

Jum'at, 14/12/2018 09:23 0

Yordania

PBB Bantah Kepulangan Mayoritas Pengungsi Suriah di Yordania

KIBLAT.NET, Amman – Badan Pengungsi PBB (UNHCR) di Yordania membantah laporan sejumlah besar pengungsi Suriah...

Jum'at, 14/12/2018 08:49 0

Afrika

Pemerintah Somalia Tangkap Calon Gubernur Mantan Anggota Al-Shabaab

Robo merupakan mantan anggota senior Al-Shabaab dan pernah menjabat juru bicara gerakan. Pada 2017, dia menyatakan keluar dari gerakan tersebut dan menyatakan secara terbuka meninggalkan kekerasan serta mengakui otoritas federal Somalia.

Jum'at, 14/12/2018 07:34 0

Opini

Ironi Riuh Rendah Hari HAM Sedunia Itu Bernama Umat Islam

Ironi terlihat begitu nyata di balik riuh rendah peringatan Hari HAM Sedunia yang diperingati setiap tanggal 10 Desember

Kamis, 13/12/2018 20:26 0

Artikel

Fenomena Riset Intoleran: Memata-matai dan Memvonis Umat Islam

Satu hal yang kita dapat pahami. Secara tersirat riset-riset tendensius terhadap umat yang “memata-matai” kegiatan ceramah di Masjid, atau pun yang memiliki definisi absurd dari toleransi yang bertentangan dengan Pancasila telah berkelindan dengan kekuasaan.

Kamis, 13/12/2018 16:10 0

Khazanah

Khutbah Jumat: Tiga Perkara yang Membinasakan

Khutbah Jumat: Tiga Perkara yang Membinasakan

Kamis, 13/12/2018 16:00 1

Opini

Serangan Korean Wave: Caranya Merusak Kerja Otak dan Akhlak

Oleh : Astriva Novri Harahap, muslimah, pegiat media sosial KIBLAT.NET – ‘Perang’ antar petisi yang...

Kamis, 13/12/2018 14:31 2

Close