... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

In Depth

Jurnal Syamina: Membajak Islam, Menjinakkan Muslim

“Singkatnya, kita harus memecah belah Islam… melemahkan Islam, membuatnya gelisah, mematikannya, dan menjadikannya tidak mampu bangkit selamanya.” (Bernard Carra de Vaux, Orientalis Prancis)

Pada tahun 1901, Edmond Fazy, editor majalah kolonial Prancis, Questions diplomatiques et coloniales, bertanya kepada sejumlah orientalis dan pejabat kolonial Eropa tentang masa depan Islam di abad berikutnya. Interview tersebut mengungkapkan banyak hal tentang pola pikir di Eropa waktu itu, dan juga bagaimana mereka berpikir tentang Islam hari ini.

Para orientalis yang menjawab pertanyaan Fazy tentang masa depan Islam diantaranya adalah Ignac Goldziher dari Hungaria, orientalis Jerman Martin Hartmann, dan Edmond Douttée, seorang Prancis keturunan Arab. Dalam pernyataannya, masing-masing dari mereka menegaskan premis dasar Orientalisme klasik dan desain kolonial Eropa abad ke-19, bahwa Islam adalah tradisi yang sudah mati, peradaban yang membusuk dan dunia politik-budaya yang kacau yang membutuhkan “misi peradaban” melalui intervensi Barat secara langsung.

Di antara mereka yang menjawab, Bernard Carra de Vaux, seorang sarjana filsafat Islam dari Perancis, menyajikan analisisnya secara hitam-putih. Prediksi Carra de Vaux disajikan dengan perspektif kolonialis. Ia mengusulkan cara untuk menggagalkan potensi ancaman pan-Islamisme, yang didukung oleh Sultan Abdülhamid II dan sejumlah ulama pada saat itu, untuk melawan dominasi Eropa. Carra de Vaux mengakui bahwa Islam dapat direkonsiliasikan dengan nilai-nilai demokrasi dan liberalisme Eropa Barat. Dia berpendapat bahwa liberalisme, “dapat mengendalikan Islam, dan sudah sering dilakukan sebelumnya, dalam bentuk toleransi.”

BACA JUGA  UAS: Di Bawah Naungan Laa Ilaaha Illallah Semut Pun Terjaga

Perhatian utama Carra de Vaux bukan untuk mengembangkan teori liberalisme Islam atau Islam liberal, tetapi lebih untuk menunjukkan cara-cara untuk mempertahankan dan menguatkan dominasi Barat atas umat Islam dalam pengertian politik dan budaya. Kolonisasi membutuhkan waktu, kesabaran dan penataan ulang obyek yang dijajah. Jika Barat ingin berhasil dalam penjajahan totalnya atas dunia Islam, Carra de Vaux menyarankan bahwa “kita harus memecah belah dunia Muhammadan, dan menghancurkan persatuan moral mereka, mengambil keuntungan dari perpecahan politik dan etnis yang sudah ada di dalamnya.”

Dia percaya bahwa perbedaan politik, etnis dan sektarian harus ditekankan, dengan “meningkatkan sentimen nasionalistik dan mengurangi komunitarianisme agama.”

Carra de Vaux menyimpulkan bahwa hanya dengan menghancurkan kesatuan inti Islam, kolonialisme Eropa dapat mencapai tujuannya untuk mencapai dominasi total. Dengan semangat ini, ia membuat proposal resmi: “Singkatnya, kita harus memotong-motong Islam. Kemudian kita bisa memanfaatkan kesesatan dan persaudaraan [Sufi].” Jika bisa diimplementasikan dengan hati-hati, kebijakankebijakan ini akan “melemahkan Islam, membuatnya gelisah, mematikannya, dan menjadikannya tidak mampu bangkit selamanya.”

Untuk itu, mereka mencitrakan Barat sebagai rumah bagi nilai-nilai liberal: toleransi, menghargai hak wanita, penuh empati dan kasih sayang dalam iklim demokratis. Sedangkan Islam diposisikan sebagai lawan dari itu semua: intoleran, menindas perempuan, dan brutal. Joseph Massad dalam bukunya yang berjudul Islam in Liberalism berpendapat bahwa semua elemen tadi “diproyeksikan kepada Islam, dan hanya dengan proyeksi semacam inilah Eropa bisa muncul sebagai [bangsa] yang demokratis, toleran, dan menghormati wanita. Pendeknya, bebas dari Islam.”

BACA JUGA  Udara Palembang Memburuk, Sekolah Pun Tak Masuk

Makalah ini akan membahas bagaimana Islam dikonstruksi sebagai ancaman utama dunia, dengan sekian mitos yang digambarkan, untuk melayani kepentingan penjajahan. Dengan mitos tersebut, mereka menciptakan rasa takut dan kebencian pada Islam, yang berujung pada upaya untuk memodifikasi dan membajak Islam, serta menjinakkan Muslim.

Sejak perang Salib upaya ini didesain, untuk kepentingan politik gereja, merebut Spanyol dan Yerusalem demi menancapkan otoritasnya di Eropa. Kemudian dilanjutkan oleh para orientalis untuk melegitimasi penjajahan di dunia Islam dalam sebuah upaya sistematis yang bersembunyi dibalik baju akademis. Kini, jubah tersebut beralih kepada Amerika. Dengan lensa yang sama, mereka mengupdate strateginya di abad ke-21 untuk kepentingan politik dan ekonomi imperialis Amerika.

Ilustrasi.
Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Indonesia

Sulteng Masih Butuh Nafas Panjang, PP Lidmi Imbau Penggalangan Dana Gelombang Ketiga

KIBLAT.NET, Makassar – Bencana gempa bumi, tsunami dan likuefaksi yang terjadi di Palu, Sigi dan...

Jum'at, 14/12/2018 12:54 0

Indonesia

PBNU: Agama Jangan Dijadikan Sumber Konflik

Ketua Pengurus Harian Tanfidziah PBNU, Robikin Emhas mengatakan agama harus dipahami sebagai solusi perdamaian dan peradaban dunia.

Jum'at, 14/12/2018 11:45 0

Suara Pembaca

Ada Ibroh di Balik Reuni Akbar 212

Gelombang manusia yang hadir pada acara reuni 212 yang digelar pada hari minggu kemarin di Monas telah membuka mata dunia bahwa ikatan yang terjalin adalah ikatan akidah semata.

Jum'at, 14/12/2018 11:15 0

Palestina

Tusuk Dua Polisi Penjajah Israel, Pemuda Palestina Gugur

Ia gugur tertembak.

Jum'at, 14/12/2018 09:23 0

Yordania

PBB Bantah Kepulangan Mayoritas Pengungsi Suriah di Yordania

KIBLAT.NET, Amman – Badan Pengungsi PBB (UNHCR) di Yordania membantah laporan sejumlah besar pengungsi Suriah...

Jum'at, 14/12/2018 08:49 0

Afrika

Pemerintah Somalia Tangkap Calon Gubernur Mantan Anggota Al-Shabaab

Robo merupakan mantan anggota senior Al-Shabaab dan pernah menjabat juru bicara gerakan. Pada 2017, dia menyatakan keluar dari gerakan tersebut dan menyatakan secara terbuka meninggalkan kekerasan serta mengakui otoritas federal Somalia.

Jum'at, 14/12/2018 07:34 0

Indonesia

Negara Muslim Diharapkan Beri Perhatian ke Muslim Uighur

ia mendesak kepada pemerintah Indonesia untuk berperan menghentikan perlakuan diskriminatif tersebut. Selain itu, ia juga berharap warga muslim mengambil langkah tegas

Kamis, 13/12/2018 22:19 2

Indonesia

Komisi I DPR Kecam Diskriminasi Muslim Uighur

pihaknya menolak adanya diskriminasi terhadap warga muslim Uighur.

Kamis, 13/12/2018 22:10 0

Opini

Ironi Riuh Rendah Hari HAM Sedunia Itu Bernama Umat Islam

Ironi terlihat begitu nyata di balik riuh rendah peringatan Hari HAM Sedunia yang diperingati setiap tanggal 10 Desember

Kamis, 13/12/2018 20:26 0

Indonesia

Sekum PP Muhammadiyah Sebut Perdebatan Politik Saat Ini Bodohi Rakyat

"Saya menyesali perdebatan kandidat politik yang lebih mengedepankan adu isu, saling serang, dan membantah"

Kamis, 13/12/2018 17:13 0

Close