Setara Institute Rilis Indeks Kota Toleran, Wasekjen MUI: Ini Ngawur

KIBLAT.NET, Jakarta – Setara Institute kembali merilis daftar Indeks Kota Toleran (IKT) di tahun 2018. Dari 94 kota yang telah disurvei, disebut ada sepuluh kota dengan toleransi yang tertinggi dan tiga kota dengan toleransi terendah.

Sepuluh kota toleran versi Setara Institute yaitu Singkawang, Salatiga, Pematang Siantar, Manado, Ambon, Bekasi, Kupang, Tomohon, Binjai, Surabaya. Sementara tiga kota dengan toleransi terendah, atau intoleran yaitu: Jakarta, Banda Aceh, Tanjung Balai.

Menanggapi rilis tersebut, Wakil Sekretaris Jenderal MUI, Tengku Zulkarnain melakukan protes keras terhadap rilis tersebut. Menurutnya, hasil survei tersebut bertolak belakang dengan realita yang ada.

“Saya protes keras. Karena Setara Institute ini sering ngawur,” ujar Tengku saat diwawancarai Kiblat di Kantor MUI, Jakarta, Selasa (11/12/2018).

Dia kemudian menjelaskan alasan pernyataannya tersebut. “Bagaimana mungkin memberikan gelar kota toleran terhadap kota Manado yang pernah menolak dua tokoh dan mengejar mereka hingga bandara dengan menggunakan parang,” ujarnya.

“Nah itulah saya bilang Setara Institute ini ngawur, Manado itu menolak dua orang. Fahri Hamzah dikejar pake parang sampai ke airport, Termasuk kemarin Habib Bahar mau pulang ke haul bapak kandungnya sendiri dikejar pakai parang sampai airport,” tegas Tengku.

Ia mengatakan, bahwa tindakan tesebut melanggar undang-undang hukum darurat sipil, dengan hukuman 20 tahun penjara. Menurutnya, itu merupakan delik umum, sehingga tidak perlu pengaduan. “Selain kriminal, mengejar pakai parang itu intoleran,” tambahnya.

BACA JUGA  Tolak Ajakan Dialog, Istana Anggap Habib Rizieq Bukan Level Jokowi

Tengku kemudian membandingkan antara kota yang dianggap toleran dan tntoleran hasil survei Setara Institute. “Kalau Manado dikatakan kota paling toleran, menggelikan. Karena dua tokoh nasional dikejar pakai parang, dan tidak diproses hukum.”

“Di Tanjung Balai nggak ada tokoh di luar Islam dikejar pakai parang. Di Aceh juga nggak ada tokoh di luar Islam dikejar pakai parang. Apalagi di Jakarta, nggak ada. Kok bisa Jakarta, Aceh dengan Tanjung Balai intoleran. Manado yang ngejar pakai parang toleran,” kata Tengku.

Reporter: Fanny Alif
Editor: M. Rudy

Ingin Langganan Artikel?
Daftarkan emailmu di sini untuk mendapatkan update artikel terbaru.
Anda dapat berhenti langganan kapan saja.
Anda mungkin juga berminat