... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

In Depth

Kemajuan Taliban, Kemunduran Amerika

Foto: Ilustrasi.

KIBLAT.NET – Sebuah artikel yang muncul di CNN bulan lalu menyatakan bahwa perang di Afghanistan yang masih terus berlangsung saat ini tengah mengalami jalan buntu. Si Penulis mengambil kesimpulan seperti itu karena berangkat dari argumentasi: Pertama, bahwa Taliban belum bisa menguasai kota-kota. Dan, setiap kali pejuang-pejuang Taliban berusaha merebut dan menguasai ibukota provinsi, tidak lama kemudian Tentara Nasional Afghan (ANA) dengan dukungan NATO dan serangan udara AS berhasil memukul mundur kembali.

Kedua, lebih jauh penulis menyinggung soal stagnasi kegagalan Amerika di medan pertempuran, termasuk menulis tentang harapan para politisi Amerika akan sebuah solusi terbaik di bidang politik. Apa yang dilihat dan dipahami penulis artikel di CNN tersebut tentang Taliban bahwa gerakan insurjensi jihadis terkuat di dunia ini terdiri dari sejumlah faksi, sebagaimana ia melihat di internal rezim Kabul sendiri yang tersegmentasi ke dalam faksi-faksi, telah memunculkan keraguan akan sebuah solusi politik.

Menurut penulis, banyaknya faksi di tubuh Taliban dan juga di dalam pemerintah persatuan nasional membuat Amerika harus menurunkan level ekspektasi dan harapan tentang sebuah rekonsiliasi. Di dalam artikelnya, penulis mengutip file Laporan Inspektorat Jenderal Khusus Pentagon bahwa perubahan peta koalisi politik di pemerintahan jelang pilpres 2019 berpeluang mendorong para politisi di Kabul saling merapat. Situasi itu membuat mereka tidak selalu konsisten satu suara di setiap proses negosiasi.

Keberadaan berbagai faksi di tubuh Taliban menjadi alasan bagi mereka untuk enggan mengakhiri perang Afghanistan, atau bahkan hanya sekedar mendiskusikannya di kalangan politisi Amerika. Hal ini menunjukkan bahwa Taliban belum secara jelas dipahami oleh Amerika, dan mereka masih melihat dari sudut pandang yang lain bahwa faksi-faksi Taliban sebagai sub-kelompok yang tidak bisa bersatu. Kesalahpahaman ini bisa menyebabkan Amerika membuat keputusan yang salah dalam menyikapi situasi buruk di Afghanistan, sekaligus semakin membuktikan kemunduran Amerika.

Demi melindungi kepentingan pribadi baik entitas maupun individu yang bersifat materi, juga dalam rangka memaksa Amerika tinggal lebih lama di Afghanistan, sejumlah pihak/individu tersebut menyuplai informasi yang salah tentang Imarah Islam (Taliban) kepada para politisi Amerika. Distorsi informasi semacam itu secara kontinyu diberikan meskipun Amerika terus mengalami kerugian baik finansial maupun korban nyawa. Jatuhnya korban pasukan Amerika dan sekutu-sekutunya, termasuk kerugian finansial bukan menjadi masalah penting bagi mereka. Sebaliknya, mereka hanya peduli terhadap kekhawatiran mereka sendiri demi mengamankan keberlangsungan keuntungan pribadi. Maka satu-satunya cara adalah menyuplai informasi yang salah mengenai Taliban kepada Amerika.

AS seharusnya tidak puas begitu saja dengan definisi dan gambaran yang diberikan oleh pemerintah Kabul mengenai Taliban, bahwa Taliban adalah kelompok yang terdiri dari beragam faksi. Maka AS harus mencoba melihat Taliban dengan benar dengan cara menerima informasi melalui interaksi secara langsung dari sumber yang pertama. Dan juga, AS seharusnya tidak melihat Taliban dengan cara yang sama ketika menyaksikan rezim Kabul yang semakin hari semakin penuh dengan pertikaian dan perpecahan. Jika AS ingin menilai Taliban secara objektif dengan melakukan pengamatan terhadap gerakan tersebut dari aspek militer dan politik, maka AS akan mendapatkan gambaran yang benar dan faktual tentang Taliban, bukan seperti yang didefinisikan oleh para politisi di Kabul.

BACA JUGA  Wajah Dunia Setelah Corona

Berulangkali politisi-politisi yang ada di Kabul menipu orang-orang Amerika dengan menyatakan telah mengadakan negosiasi dengan oposisi, padahal mereka bohong, hanya untuk mendapatkan insentif keuangan. Demikian juga, Taliban telah berulangkali menolak dan menyangkal adanya pertemuan-pertemuan bohong tersebut. Namun sayangnya, baik sengaja ataupun tidak, Amerika masih saja menutup mata pura-pura tidak tahu berbagai macam rekayasa dan kebohongan proksi/boneka mereka itu.

Propaganda sesat yang disebarluaskan melalui media untuk melawan Taliban sejak periode dua dekade terakhir ini akhirnya terbukti tidak benar sekaligus mengungkap kebohongan rezim Kabul. Fakta tersebut terlihat jelas ketika Taliban menunjukkan soliditas persatuan mereka dengan mengumumkan sebuah gencatan senjata 3 hari selama Hari Raya Idul Fitri tahun lalu tanpa ada pertentangan dan perbedaan pendapat.

Jika Amerika benar-benar ingin mengakhiri perang di Afghanistan, dan ingin melindungi kepentingan ekonomi dan status global mereka, maka sudah seharusnya Amerika melakukan upaya-upaya yang benar untuk memahami Taliban melalui interaksi secara langsung. Tetapi jika Amerika melakukan upaya sebaliknya, maka kemunduran AS di kancah internasional akan semakin mengalami percepatan. Persis seperti penjajah sebelumnya, yaitu bekas negara Uni Soviet dan Inggris.

Amerika tidak akan bisa mempertahankan status sebagai salah satu kekuatan ekonomi dan politik dunia seperti selama ini apabila negara itu terus mempertahankan penjajahan di Afghanistan. Sejarah telah membuktikan bahwa Afghanistan adalah kuburan bagi imperium dunia. Oleh karena itu, seharusnya prioritas kepentingan Amerika saat ini adalah mengakhiri perang yang hingga sekarang masih terus berlangsung dan menjadi perang terpanjang dalam sejarah Amerika.

Sejak awal agresi militer Amerika di Afghanistan, Imarah Islam Taliban terus berdiri kokoh melakukan perlawanan. Dengan segala pengorbanan, keberanian, strategi, dan persatuan, Taliban membuktikan diri kepada musuh yang tidak mengenal kemanusiaan bahwa dukungan masyarakat ada di pihak mereka. Harus diketahui juga bahwa Taliban bukan sekedar sebuah kelompok, tapi mereka adalah entitas yang mewakili kekuatan publik, sekaligus merupakan sebuah gerakan & kekuatan yang terorganisir. Sudah terlalu banyak musuh menebar propaganda sesat terhadap Imarah Islam dan dalam skala besar mereka melancarkan operasi barbar dan memberlakukan larangan-larangan. Walau demikian, di tengah upaya dan tekanan musuh, Imarah Islam muncul sebagai pemenang dan didukung oleh seluruh rakyat Afghan. Ini semua terjadi karena pertolongan Allah SWT, kemudian juga atas dukungan tiada henti dari rakyat Afghan, dan keikhlasan para pemimpin Imarah Islam Taliban.

BACA JUGA  Jelang Dua Bulan Kasus Qidam: Progresnya Seperti Siput Berjalan

Pemerintah Kabul, untuk menyenangkan hati majikannya, yaitu penjajah Amerika, selalu menggambarkan jihad yang sedang berlangsung hingga saat ini dan yang digelorakan oleh rakyat Afghan di bawah kepemimpinan Imarah Islam sebagai bagian dari permainan kekuatan-kekuatan asing di bumi Afghanistan. Dengan cara ini mereka ingin menciptakan kontroversi sekaligus mendeligitimasi jihad Afghanistan. Pemerintah boneka Kabul sendiri yang tidak memiliki legitimasi sudah sedemikian jauh menolak fakta-fakta yang sudah sangat jelas. Sebaliknya, mereka terus membuat pernyataan-pernyataan sepihak yang keliru tentang perdamaian. Di sisi lain, Imarah Islam secara konsisten mendorong suatu perdamaian di setiap kesempatan konferensi internasional. Imarah Islam Taliban secara terbuka telah memaparkan kebijakannya di hadapan negara-negara penting di dunia dan kawasan yang hadir, dan mereka menyambutnya dengan baik.

Ini adalah sebuah indikasi yang positif bahwa penjajah asing baru-baru ini sudah memahami sejumlah fakta yang ada dengan memulai negosiasi dengan Imarah Islam, dan mendukung upaya-upaya untuk mencari solusi damai bagi konflik di Afghanistan. Imarah Islam juga telah memaparkan bukti-bukti untuk menghilangkan hambatan dan kesalahpahaman, termasuk mengambil posisi yang cukup kuat terkait perkembangan situasi di medan jihad yang akan terus berlangsung hingga pasukan musuh angkat kaki dari bumi Afghanistan secara keseluruhan. Para pemimpin Taliban sudah sejak awal membuktikan di berbagai kesempatan bahwa tidak ada kompromi dalam hal kedaulatan nasional & kepentingan nasional. Imarah Islam Taliban tidak akan bersikap lemah dan tunduk terhadap tekanan musuh. Untuk itu mereka siap berkorban apa saja demi mewujudkan tujuan mulia yaitu menegakkan sistem Islam di negara mereka.

Imarah Islam Taliban berhasil membuat tekanan signifikan dan kerugian di pihak musuh asing dan lokal, baik di bidang militer maupun politik. Taliban juga berhasil membongkar rekayasa jahat musuh, menghancurkan skema rencana jahat penjajah tersebut sebelum mereka bisa mengimplementasikannya untuk rakyat dan bangsa Afghanistan. Para pemimpin Imarah Islam yakin bahwa Imarah Islam akan mampu memenuhi hak-hak untuk mewakili bangsa Afghan dalam rangka mencari solusi terbaik bagi konflik Afghanistan.

Sumber: Alemarah
Redaktur: Ibas Fuadi


Jika tulisan ini bermanfaat bagi Anda dan banyak orang, dukung kami membantu terus menginformasikan berita dan tulisan terbaik untuk Anda. Kiblat.net adalah media Islam independen non-partisan yang dikelola mandiri. Anda dapat memberikan donasi terbaik supaya kami dapat terus bekerja di bidang dakwah media.

Donasi Sekarang

Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Suriah

Warga Ghouta dalam Kendali Assad: Diperkosa Hingga Dipaksa Jadi Tentara

Warga kota Ghouta, yang berada di sebelah timur Damaskus, telah dievakuasi ketika terjalin perundingan tak adil antara Rusia dan oposisi.

Rabu, 12/12/2018 13:08 0

Indonesia

Seniman Aceh Pentaskan Prang Sabi, Hikayat Pengobar Semangat Jihad

Seniman Aceh Pentaskan Prang Sabi, Hikayat Pengobar Semangat Jihad

Rabu, 12/12/2018 12:24 0

Yaman

Pemerintah dan Syiah Hutsi Sepakat Tukar Tawanan Sebelum Negosiasi Resmi

Masing-masing telah menyerahkan daftar nama. Menurut pemberontak, sebanyak 15 ribu tawanan masuk dalam daftar tersebut

Rabu, 12/12/2018 11:35 0

Video News

Ini Puisi Taufik Ismail untuk Rohingya

Sastrawan Indonesia Taufik Ismail turut diundang dalam Aksi Bela Rohingya yang diadakan di depan kantor...

Rabu, 12/12/2018 11:22 0

Video News

31 Pekerja Dibantai di Papua, Ini Pelaku Sebenarnya!

KIBLAT.NET- Pada hari minggu tanggal 2 Desember kemarin, terjadi insiden penembakan terhadap puluhan pekerja pembangunan...

Rabu, 12/12/2018 11:18 0

Video News

Demo Dubes Myanmar, Presiden KNSR: Kita Akan Usir Mereka

KIBLAT.NET- Presiden KNSR, Syuhelmaidi Syukur mengatakan bahwa aksi yang dilakukan di depan kantor Dubes Myanmar...

Rabu, 12/12/2018 11:14 0

Asia

Australia Bahas Pemindahan Kedutaan di Israel ke Al-Quds

"Pemerintah bertemu hari ini dan membahas pemindahan kedutaan di Israel," kata sumber pejabat Australia yang meminta tidak disebutkan namanya karena dia tidak berwenang untuk berbicara kepada media kepada Reuters

Rabu, 12/12/2018 10:30 0

Afrika

400 Ulama Mauritania Desak Pemerintah Buka Kembali “Pusat Kaderisasi Ulama”

Aksi tersebut digelar dengan menggumpulkan tandatangan.

Rabu, 12/12/2018 09:20 0

Turki

Rusia dan Turki Bahas Pembentukan Komite Konstitusi Suriah di Ankara

Pertemuan itu membahas secara rinci pembentukan dan peluncuran kerja Komisi Konstitusi sebagai tahap penting bagi penyelesaian politik dalam isu-isu Suriah.

Rabu, 12/12/2018 08:06 0

Info Event

The Last MUQTI: Muslimah Berkarir Surga

The Last MUQTI: Muslimah Berkarir Surga

Selasa, 11/12/2018 21:20 0

Close