Soal Indeks Kota Toleran, Eggi: Rilis Setara Institute Sangat Diskriminatif

KIBLAT.NET, Jakarta – Rilis terbaru Setara Institute mengenai Indeks Kota Toleran Tahun 2018 menunjukkan sebuah diskriminasi baru. Demikian dikemukakan Dewan Penasihat Persaudaraan Alumni (PA) 212 Eggi Sudjana.

Eggi melihat bahwa kota-kota yang penduduknya mayoritas non muslim seperti Singkawang dan Manado cenderung berada di peringkat atas. Sementara kota yang mayoritas penduduknya muslim seperti Padang dan Banda Aceh justru berada di bottom ten (daftar 10 dari bawah).

“Sangat diskriminatif sekali, karena dia mengkategorikan toleransi tidaknya sebuah kota itu, karena banyaknya orang-orang non muslim, sementara yang muslimnya banyak seperti Aceh, Sumatra Barat, dan Jawa Barat itu dianggap bottom ten. Atau dengan kata lain, dianggap yang melakukan intoleransi,” jelas Eggi, ketika dihubungi Kiblat.net melalui telepon, Ahad (09/12/2018).

Eggi menegaskan bahwa apa yang dipaparkan Setara Institute menimbulkan diskriminasi SARA gaya baru. Karena kesan ditimbulkan dari rilis tersebut adalah ketika sebuah daerah mayoritas penduduknya muslim maka pasti terjadi diskriminasi SARA, sementara daerah yang mayoritas penduduknya non muslim cenderung bersih dari perilaku tersebut.

Menurut pria yang juga berprofesi sebagai advokat ini, rilis Setara Institute ini secara tidak langsung berkaitan dengan statement ketua Partai Solidaritas Indonesia (PSI) perihal perda syariah.

“Tujuannya adalah ingin mendegradasikan nilai Islam, yang mencitrakan Islam itu tidak adil, Islam itu diskriminatif, Islam itu intoleran. Nanti dikaitkan dengan statement-nya Grace Natalie, maka perda-perda syariah musti ditolak gitu lho, arahnya kesitu,” tambah Eggi.

BACA JUGA  Soal Pelanggaran PSBB, Haikal Hassan: Semua Sudah Disanksi, Mau Apa Lagi?

Eggi juga menegaskan bahwa mustahil orang Islam bersikap intoleran. Karena terkait hubungan dengan orang berbeda agama, telah diatur di dalam Al-Quran.

“Islam sudah sejak 15 abad yang lalu, sangat mengajarkan toleransi, dasarnya adalah surat Al-Kafirun ‘agamamu agamamu, agamaku agamaku, aku tidak menyembah yang kamu sembah, kamu tidak menyembah yang aku sembah’. Ekstremnya kalau dia mau kafir boleh, tidak ada masalah, dan tidak ada paksaan untuk masuk agama Islam,” ujar Eggy.

“Jadi Islam menjunjung tinggi nilai keadilan, nilai kesetaraan, dan Islam itu sangat mengajarkan toleransi, dan Islam itu sangatlah inklusif,” tandasnya.

Reporter: Rusydan
Editor: M. Rudy

Ingin Langganan Artikel?
Daftarkan emailmu di sini untuk mendapatkan update artikel terbaru.
Anda dapat berhenti langganan kapan saja.
Anda mungkin juga berminat