... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

Titian

Menerapkan Wala’ dan Bara’ dalam Reuni 212

Foto: Jutaan massa ikuti reuni 212

KIBLAT.NET – Reuni Akbar Mujahid 212 sukses digelar di kawasan Monumen Nasional (Monas), Jakarta, Ahad (2/12/18) lalu. Aksi yang berhasil mengundang jutaan massa umat Islam itu hingga kini masih menyisakan beragam perdebatan, mulai dari jumlah peserta yang hadir, tuduhan adanya agenda politik hingga tidak hadirnya media-media mainstream untuk meliput acara tersebut.

Menariknya dibalik perdebatan itu semua, tampaknya memang ada sebagian kelompok yang tidak setuju dengan aksi tersebut, lalu menudingnya dari sisi yang berbeda. Bukan semata-mata tuduhan adannya kampanye atau konsolidasi politik, tapi lebih kepada kesesalan mereka dengan persatuan yang dibangun bukan atas dasar kesamaan manhaj. Menurut mereka, kumpulan seperti itu bukanlah persatuan yang diinginkan dalam Islam. Persatuan seperti ini hanya akan berujung pada kesia-sian belaka. Umat dipaksa untuk melebur dengan acara-acara bid’ah yang tidak sesuai dengan petunjuk Nabi SAW.

Tudingan semacam ini menarik untuk menjadi bahan kajian para aktivis. Sebab, bagaimana pun model perjuangannya, tuntunan Rasulullah SAW tetap harus menjadi pedoman utama dalam mengatur langkah. Persatuan adalah tuntutan utama yang harus diwujudkan dalam perjuangan. Dan sebagaimana yang diketahui, aksi reuni 212 kemaren memang dihadiri oleh berbagai macam kelompok umat Islam dengan latar belakang pemikiran yang berbeda-beda. Nah, apakah persatuan semacam ini layak disebut persatuan semu yang tidak dicontohkan oleh Nabi SAW. Lalu benarkah persatuan umat itu hanya mampu terwujud bila semuanya berada di atas satu manhaj?

Kewajiban Bersatu dalam Menegakkan Syariat

Dalam Islam, kita senantiasa diperintahkan untuk bersatu dalam memenangkan syariat Allah. Persatuan adalah kunci kemenangan, sementara perpecahan adalah awal dari segala kekalahan. Tidak sedikit dari ayat al-Quran ataupun hadis dari Nabi SAW yang mendorong kita untuk saling bersatu di antara sesama muslim. Sebaliknya, tidak sedikit juga jumlah ayat ataupun hadis yang melarang kita berpecah-belah. Dengan kata lain, persatuan umat merupakan kunci utama untuk memenangkan tegaknya syariat secara kaffah. Di antaranya Allah Ta’ala berfirman:

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا ۚ

“Dan berpegang teguhlahlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai,” (QS. Ali-Imran: 103)

Demi kuatnya persatuan tersebut, dalam banyak ayat lainnya, Allah ta’ala juga menegaskan bahwa umat Islam itu pada hakikatnya bersaudara satu sama lain. Bahkan oleh Nabi SAW diibaratkan layaknya seperti satu tubuh yang langsung merasakan kepedihan bila ada salah satu anggota tubuhnya yang sakit. Tidak pernah mengenal latarbelakang ras, kelompok, bangsa, suku dan sebagainya. Semuanya bersatu dalam persaudaraan iman.

Lahirnya aksi 212 yang dihadiri oleh jutaan umat bisa dianggap sebagai simbol persatuan umat hari ini. Meskipun datang dari latarbelakang pemikiran mazhab yang berbeda-beda, namun semua bersatu menyuarakan kebenaran dan menegakkan amar ma’ruf nahi mungkar. Dilihat dari kelompok, di antara mereka ada dari Muhammadiyah, NU, Persis, Wahdah, Hasmi, HTI, FPI dan mungkin mencapai ratusan lebih ormas dan majlis ta’lim yang terlibat di dalamnya. Semuanya melebur untuk saling mengerti, memahami, dan saling bersikap loyal dalam membangun ukhuwah dan persatuan. Sebuah prinsip yang selalu diingatkan ialah saling menolong dalam hal yang disepakati dan bersikap toleran dalam perkara yang diperselisihkan.

Kegagalan Dalam Menerapkan Konsep Wala’ wal Bara’  

Tudingan bahwa perkumpulan umat semacam ini tidak sesuai petunjuk nabi mungkin erat kaitannya dengan konsep wala’ wal bara’, yaitu memberi loyalitas kepada sesama mukmin dan berlepas diri dari kekufuran. Konsep yang sejatinya diterapkan ketika berhadap dengan orang-orang kafir, oleh sebagian kelompok justru digunakan saat berhadap dengan jamaah/kelompok yang berbeda pandangan dengannya.

BACA JUGA  Ini Seruan MIUMI Kepada Dunia Atas Aksi Teror di Selandia Baru

Konsekuensinya, loyalitasnya hanya diberikan kepada sesama anggota kelompok saja, sedangkan mereka yang berada di luar kelompoknya layak untuk dijauhi, baik pemikirannya maupun perkumpulannya. Karena itu, konsep persatuan yang mereka inginkan hanya bisa terjadi bila semua orang memiliki pemahaman manhaj yang sama. Sementara persatuan yang dibangun di atas beragam kelompok itu hanyalah persatuan semu atau persatuan gado-gado yang tidak jelas manhajnya.

Menjawab tudingan ini, cukup menarik bila kita membaca keterangan dari Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Dalam kitab Majmu’ Fatawa, beliau menjelaskan, “Seorang Mukmin harus bermusuhan karena Allah dan berteman karena Allah. Terhadap orang Mukmin lainnya, ia harus memberikan loyalitas meskipun ia menzaliminya. Sebab, kezaliman tidak bisa memutuskan ikatan yang berdasarkan iman. Bukankah Allah Ta’ala telah berfirman:

وَإِنْ طَائِفَتَانِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ اقْتَتَلُوا فَأَصْلِحُوا بَيْنَهُمَا

“Dan jika ada dua golongan dari orang-orang Mukmin berperang, maka damaikanlah antara keduanya,” (QS. Al-Hujurat: 9).

Allah Ta’ala tetap menjadikan mereka bersaudara meskipun di antara mereka terjadi peperangan dan penzaliman, dan Allah Ta’ala tetap memerintahkan agar mendamaikan mereka. Oleh sebab itu, setiap Mukmin harus selalu ingat bahwa seorang Mukmin wajib dicintai dan dibantu meskipun ia menzalimi dan menyakitimu. Sebaliknya, orang kafir wajib dimusuhi meskipun ia memberi dan berbuat baik kepadamu.

Apabila pada diri seseorang terhimpun kebaikan dan keburukan, kemaksiatan dan ketaatan, sunnah dan bid’ah, maka ia berhak dibantu, dicintai dan dihargai sesuai kadar kebaikan yang ada pada dirinya. Pada saat yang sama, ia juga berhak dimusuhi dan dihukum sesuai kadar keburukan yang ada padanya. Oleh sebab itu, boleh jadi pada diri seseorang terhimpun faktor-faktor yang membuatnya harus dihargai dan dihinakan sekaligus.

Sebagai contoh, seorang pencuri harus dipotong tangannya karena mencuri, namun di sisi lain ia disantuni dari baitul mal untuk mencukupi kebutuhannya. Inilah prinsip yang disepakati oleh Ahlus Sunnah wal Jamaah, tetapi orang-orang Khawarij dan Mu’tazilah serta orang-orang yang sejalan dengan mereka tidak menyetujuinya.” (lihat: Majmu’ Fatawa, XXVIII/208-209)

Karena prinsip wala’ wal bara’ terbangun di atas pondasi cinta dan benci, maka dalam pandangan Ahlus Sunnah wal Jamaah, menurut Syaikh Muhammad bin Sa’id Al-Qahthani, manusia terbagi menjadi tiga kelompok berdasarkan kadar cinta dan benci, al-wala’dan al-bara’ mereka, yaitu:

a. Orang yang wajib dicintai secara utuh

Mereka adalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, dan teguh menjalankan kewajiban-kewajiban Islam serta teguh menegakkan pondasi-pondasinya yang agung dengan ilmu dan keyakinan. Di samping itu, mereka senantiasa mengikhlaskan seluruh amal, perbuatan, dan perkataannya hanya untuk Allah. Tunduk kepada seluruh perintahNya, dan menjauhi larangan-Nya serta larangan Rasul-Nya.

Mereka mencintai karena Allah, ber-wala’ karena Allah, membenci karena Allah, dan memusuhi juga karena Allah. Mereka lebih mendahulukan perkataan Rasulullah SAW daripada perkataan seseorang, siapa pun dan bagaimana pun dia.

b. Orang yang dicintai dari satu sisi dan dibenci dari sisi yang lain

Yaitu Muslim yang mencampur perbuatan baik dan perbuatan buruk. Orang yang seperti ini harus diberi wala’sesuai kadar kebaikan yang ada padanya, namun di sisi lain juga harus dibenci dan dimusuhi sesuai kadar keburukan yang ada padanya. Apabila hati seseorang tidak menerima ketentuan ini, maka ia lebih banyak merusak daripada memperbaiki.

BACA JUGA  Khutbah Jumat: Teror Selandia Baru dan Industri Islamofobia

Berikut ini Abdullah bin Himar, seorang shahabat Rasulullah nyang masih suka minum khamr. Ketika dihadapkan kepada Rasulullah, ada orang yang melaknatnya, “Betapa banyak (dosa) yang telah ia perbuat.” Kemudian Rasulullah bersabda, “Jangan melaknatnya, karena sesungguhnya ia masih mencintai Allah dan Rasul-Nya.” (HR.Bukhari)

Padahal dalam riwayat lain Rasulullah SAW telah melaknat khamer, peminumnya, penjualnya, pemerasnya, yang minta untuk diperaskan, pembawanya dan yang meminta untuk dibawakan. (HR Abu Daud dan Ibnu Majah).

c. Orang yang dibenci secara utuh

Yaitu orang yang kafir kepada Allah, Malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya, Rasul-Rasul-Nya, dan hari akhir serta tidak beriman kepada takdir Allah yang baik dan yang buruk, serta tidak mau memercayai bahwa semua yang ada itu terjadi atas qadha’ dan qadar Allah. Mengingkari hari kebangkitan setelah kematian. Atau meninggalkan salah satu rukun Islam yang lima.

Dengan demikian, Ahlus Sunnah wal Jamaah ber-wala’ dengan perwala’-an yang sempurna kepada Mukmin yang lurus mengikuti agamanya; mencintai dan menolongnya dengan pertolongan yang sempurna pula. Di sisi lain, Ahlus Sunnah wal Jamaah berlepas diri dari orang-orang kafir, ateis, musyrik, dan murtad. Mereka memusuhi dan membenci mereka dengan permusuhan dan kebencian yang sempurna pula. Adapun bagi orang yang mencampur amal saleh dengan amal buruk, maka Ahlus Sunnah wal Jamaah memberikan wala’nya kepadanya sesuai kadar keimanan yang dimilikinya, dan memusuhinya sesuai kadar keburukan dan kejahatan yang dilakukannya. (Al-Qahthani, Al-Wala’ wa Al-Bara fi Al-Islam, hal. 154)

Dalam kesempatan yang berbeda, Ibnu Taimiyah menerangkan lebih lanjut bahwa ikatan wala’ wal bara’ harus dibangun atas dasar petunjuk wahyu itu sendiri dan tidak diikat atas dasar kelompok atau jamaah tertentu. Beliau berkata, “Pujian dan celaan, kecintaan dan kebencian, persahabatan dan permusuhan itu dilakukan berdasarkan sesuatu yang dengannya Allah menurunkan kekuasaan-Nya. Dan yang dimaksud “kekuasaan-Nya” adalah Kitab-Nya. Maka barang siapa yang beriman, wajib dibantu dan dicintai tanpa memedulikan dari kelompok mana pun ia. Sebaliknya, barang siapa yang kafir, maka wajib dimusuhi dan dibenci tanpa mempertimbangkan dari golongan mana pun ia.” Lalu Ibnu Tamiyah menyentil beberapa ayat dari Al-Qur’an, di antaranya:

“Dan orang-orang yang beriman, laki-laki dan perempuan, sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain.” (At-Taubah: 71).

Kemudian beliau berkata, “Barang siapa yang dalam dirinya terhimpun keimanan dan kefajiran, maka wala’ diberikan kepadanya sesuai dengan kadar keimanannya. Dan di sisi lain, ia juga dibenci sesuai dengan kadar kefajirannya.” (Majmu’ Fatawa, 28/209)

Oleh karena itu, dalam tataran prakteknya, Ibnu Taimiyah telah mencontohkan bagaimana beliau mampu bersatu dan bergabung dengan orang-orang Asy’ariah ketika memerangi pasukan Tartar. Padahal beliau termasuk tokoh yang vokal dalam berdebat dengan kelompok Asy’ariah karena menurut beliau menyimpang dari Sunnah, namun dalam persatuan umat beliau tetap bersatu dengan mereka untuk menghadapi musuh bersama melawan pasukan Tartar. Lalu apakah persatuan beliau dengan kaum Asy’ariah juga dianggap persatuan semu? Wallahu a’lam bissowab

Penulis: Fakhruddin
Editor: Arju

Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

3 comments on “Menerapkan Wala’ dan Bara’ dalam Reuni 212”

  1. Lia

    Assalamualaikum wr wb
    Mohon Kiblat menampilkan materi utuh dan lengkal mengenai al wala’ wal bara’ supaya kita bisa muhasabah bersama2,,,bukan sekedar untuk meng-interupsi pendapat orang lain/kelompok lain yang tidak sependapat dgn suatu kegiatan.
    Syukron

  2. Jaran

    Faktanya dong reuni 212, jgn teorinya, nyanyi, diajari demokrasi,

  3. Intinya ada dua hal penting.. ya itu tentang pribadi masing-masing tentang ketaatan agamanya apakah menghantarkan ia ke surga atau neraka hanya Allah yang tau dan kota hanya berusaha semaksimal mungkin untuk menjalankan agama sesuai tuntunan Allah dan Rasulullah.. yang kedua ada masalah keumatan yaitu kepentingan umat Islam secara menyeluruh di seluruh dunia. Membangun persatuan agar tegak kembali Islam dimasa kekayaannya.. kalau kita masih sibuk dengan perbedaan dan kelompok sampai hari kiamat tidak akan selesai.. konsep Islam itu mudah seperti pertama kali Islam turun.. cukup ajak manusia kepada Islam dan sebarkan Islam keseluruh dunia.. dan kelompok yang sudah di sepakati masih dalam jalur ahlusunah waljamaah harus dihargai dan dinasehati bila memungkinkan jika menyimpang.. jadikan pola pikir anda itu jauh kedepannya ,cooling down. Pikirkan Islam berjaya kembali bukan sibuk dengan perdebatan kusir yang sebenarnya sudah selesai pada masa salafushalih dahulu..

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Suriah

Injak Ranjau, Enam Tentara Bashar Assad Tewas di Daraa

Lebih dari 125.000 pasukan pro-rezim telah tewas dalam tujuh tahun perang. Demikian penuturan kelompok pemantau setempat yang dikutip Zaman el-Wasl.

Ahad, 09/12/2018 14:20 0

Indonesia

Tunggakan BPJS Belum Dibayar, Layanan Kesehatan Terancam Mandek

“Rumah sakit tidak mungkin bisa berjalan tanpa biaya operasional. Akibat tunggakan ini banyak rumah sakit yang terancam tidak bisa melayani lagi pasien BPJS atau setidaknya membatasi pelayanan pasien BPJS.

Ahad, 09/12/2018 13:45 0

Indonesia

Bagi Jonru, Para Advokat yang Membantu Sudah Seperti Saudara

"Saya menyaksikan sendiri bagaimana bimbingan mereka itu benar-benar ikhlas, tulus dalam membantu," jelasnya.

Ahad, 09/12/2018 13:09 0

China

Puluhan Tahun Berdiri, Sekolah Bahasa Arab di China Bakal Ditutup

"Jika sekolah ditutup, mereka bisa berakhir sebagai putus sekolah di jalan."

Ahad, 09/12/2018 11:46 0

Indonesia

Jonru Beberkan Fakta-fakta Persidangan yang Jarang Diungkap

"Gak satupun yang cocok dan kemudian vonisnya itu ya seperti dibuat-buat gitu. Seperti dipaksa-paksakan gitu," katanya

Ahad, 09/12/2018 10:53 0

Suara Pembaca

Siapakah yang Bermain-main di Atas Darah Anak-anak Yaman?

Kondisi mengerikan selama tiga tahun terakhir di Yaman sejak dimulainya perang pada 2015 telah mengakibatkan 85.000 anak-anak mati kelaparan.

Sabtu, 08/12/2018 22:04 0

Malaysia

Ratusan Ribu Massa Gelar Aksi Damai 812 di Malaysia, Bela Islam Jadi Agama Resmi

Ratusan Ribu Massa Gelar Aksi Damai di Malaysia, Bela Islam Jadi Agama Resmi

Sabtu, 08/12/2018 19:44 11

Suara Pembaca

Mendomplang Suara Pemilu dengan Suara Orang Gila

Tidak sah di dalam Islam jika seseorang yang hilang akal baik mabuk ataupun gila menggunakan hak pilihnya.

Sabtu, 08/12/2018 19:44 0

Suara Pembaca

Sikap Seorang Muslim Terhadap Kalimat Tauhid

Setiap muslim wajib memuliakan dan menjaga kalimat tauhid.

Sabtu, 08/12/2018 18:57 0

Suara Pembaca

Mengkritisi Pembakaran Bendera Tauhid

Perbuatan membakar bendera tauhid merupakan pelecehan terhadap kalimat tauhid. Perbuatan ini mustahil dilakukan oleh seorang muslim.

Sabtu, 08/12/2018 18:18 0

Close