... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

Suara Pembaca

Siapakah yang Bermain-main di Atas Darah Anak-anak Yaman?

Foto: Seorang wanita Yaman bersama anaknya di sebuah kamp pengungsian di Sanaa (foto: REUTERS)

Oleh: Novita M. Noer (Pemerhati Politik Internasional)

KIBLAT.NET – Secara kejam, Amerika Serikat (AS) dan Inggris telah bermain-main di atas kehidupan dan darah anak-anak Yaman. Amerika mengambil peran sebagai singa dan Inggris sebagai kancil yang memungut daging-daging yang tersisa.

Secara licik mereka menggunakan tangan-tangan rezim boneka sebagai cambuk – Arab Saudi dan koalisinya – dalam melancarkan perang proksi brutal dan ilegal yang sangat mengerikan. Mereka memasok senjata mematikan tanpa memperhatikan kehidupan manusia. Saling berburu untuk memperoleh pengaruh politik dan kekayaan (sumber daya) di negara itu atas nama demokrasi.

Apa yang mereka elu-elukan tentang hak asasi manusia (HAM), demokrasi, kebebasan, hukum, dan konvensi internasional tak lebih hanyalah slogan-slogan kosong. Sejatinya, negara-negara Barat tak lepas dari tabiat aslinya dalam menciptakan, memancing kematian, dan kehancuran sehingga mereka dapat dengan leluasa mengisi penuh kantong-kantong kerakusan mereka.

Apakah tatanan dunia kapitalis barbar saat ini yang akan terus kita pertahankan bagi kehidupan manusia yang beradab? Tidakkah kita mencium pula aroma busuk yang menempel di tubuh penguasa negeri-negeri Muslim saat ini yang tidak peduli akan nasib anak-anak Yaman?

Cukup sudah! Kondisi mengerikan selama tiga tahun terakhir di Yaman sejak dimulainya perang pada 2015 telah mengakibatkan 85.000 anak-anak mati kelaparan dan 2.575 anak tewas, lebih dari 4.000 orang terluka, dan ratusan ribu warga sipil tewas.

Sementara tidak kurang dari 14 juta orang  – kira-kira setengah dari total penduduk negara itu – termasuk 1.8 juta anak-anak berada di tepi jurang kelaparan. Didapati pula 10.000 kasus kolera baru berkembang setiap minggu karena tidak ada air minum yang bersih. Rasanya tak berlebihan menyebut Yaman sebagai krisis kemanusiaan terburuk di dunia dalam 100 tahun terakhir.

Dalam perkembangan terakhir (Rabu, 28/11/2018), perwakilan dari dua partai utama AS menuntut untuk mengambil langkah-langkah terhadap Saudi, khususnya membatalkan kontrak besar pengiriman senjata dan bergerak maju untuk menarik dukungan dari pertempuran koalisi yang dipimpin oleh Saudi di Yaman. Tetapi Trump mengatakan bahwa langkah-langkah ini bertentangan dengan kepentingan nasional AS.

Lucunya, pemungutan suara dilakukan setelah kasus pembunuhan wartawan Saudi Jamal Khashoggi di kantor konsulat Saudi di Istanbul awal Oktober lalu. Begitu banyak laporan HAM yang menegaskan bahwa Arab Saudi telah menyebar terornya ke seluruh wilayah tidak hanya di Timur Tengah, tetapi juga Asia Tengah, Asia Pasifik, dan sebagian Afrika. Dan itu semua didorong, disponsori, dan disetujui AS serta Inggris atas nama menegakkan demokrasi dan kebebasan di seluruh dunia.

BACA JUGA  Ajak Orang Golput Bisa Dipidana?

Belum lagi,  bagaimana rezim terus melanggar hak warganya di dalam dan di luar negeri. Dan kini, kejahatan Arab Saudi terpampang jelas di Yaman dan didokumentasikan oleh semua umat manusia, namun “dilegalkan” oleh PBB.

Baru setelah pembunuhan Khashoggi, kita baru mendengar suara sayup-sayup, menuntut pemberhentian penjualan senjata ke Arab Saudi. Seolah-olah ini adalah satu-satunya peristiwa eksklusif.

Jika Anda bertanya-tanya, apa yang terjadi dengan Arab Saudi serta situasi Khashoggi, sayangnya itu tidak ada hubungannya dengan keadilan. Ini semua hanya berkaitan dengan permainan catur kolonial antara AS dan Inggris.

Memang kita sempat mendengar beberapa pernyataan serta ancaman Trump terkait masalah ini, namun itu hanya terjadi setelah masalah sepenuhnya berputar di luar kendali AS. Dan AS tidak punya pilihan selain mengatasinya agar mereka terlihat seperti masih memegang kendali.

Di era politik transaksional, nilai-nilai sangat penting bagi pembentukan politik Amerika. Baik Demokrat maupun Republik telah ikut andil memberi Trump semacam lisensi terbuka demi mengejar kepentingan komersial bagi para elitnya. Hal yang terang adalah bahwa dunia dapat dengan jelas melihat seperti apa imperialisme Amerika yang tidak terkendali, sarat nilai-nilai semu, namun terus saja dipaksakan ke dunia Islam.

Bukankah ini menunjukkan kepada dunia akan kosongnya demokrasi dari unsur keadilan, kemanusiaan,  serta nilai-nilai demokrasi yang mereka muliakan?

Kemunafikan para pemimpin Barat dan tipuan-tipuan HAM beserta nilai-nilainya bukanlah hal baru. Sejatinya telah lama serta nyaring didengar bagi umat Islam.

Selama dekade terakhir, AS, Inggris, Prancis, dan Jerman senantiasa mendukung rezim-rezim semodel Mubarak, Kaddafi, Ben Ali, Ali Abdullah Saleh, keluarga Assad dan banyak lainnya untuk dapat menjarah sumber daya negeri-negeri Muslim dan menjual senjata kepada mereka. Menurut Freedom House & MintPress, AS menyediakan bantuan militer atau menjual senjata kepada 73% – 36 dari 49 – dari kediktatoran dunia.

Tetapi ketika tahta-tirani ini mulai berputar sebagai akibat dari arab spring, negara-negara Barat bersuara keras atas atas nama demokrasi dan kebebasan serta pelanggaran hak asasi manusia di seluruh Timur Tengah.

BACA JUGA  Ajak Orang Golput Bisa Dipidana?

Yaman telah menjadi incaran rezim negara imperialis Barat yang rakus bersama rezim Saudi dan koalisi lainnya hasil budidaya Barat. Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA), yang mengobarkan perang dengan nama koalisi Arab melawan Houthi, yang menerima dukungan dari Iran, memiliki kepentingan yang berbeda dan tidak peduli tentang rakyat Yaman dan penderitaan anak-anak yang tak berdosa.

Sebagai contoh, bagaimana hiruk-pikuknya antara Arab Saudi dan koalisinya atas sumber daya dan pelabuhan di Yaman. Uni Emirat Arab mengendalikan pelabuhan Yaman selatan dan proyek gas di Balhaf, sementara Arab Saudi bekerja untuk membangun saluran pipa minyak di wilayah Al-Mahra untuk mengangkut minyak ke Laut Arab. Yaman adalah wilayah yang memiliki kepentingan strategis, Yaman merupakan mata rantai penting bagi pengiriman minyak dunia.

Maka dari itu, topeng kedzaliman penguasa-penguasa Muslim harus segera dibuka. Berpura-pura menjadi pemimpin umat Islam dengan menunjukkan kepura-puraan tentang nasib kaum muslimin, sementara mereka terus mengkhianati kepentingan umat Islam dengan cara tersembunyi dan licik, dan begitu gampangnya melayani kehendak para majikan Barat mereka.

Para penguasa Arab sejatinya tidaklah berusaha membela Yaman dari Iran, tetapi ini hanyalah upaya untuk menyelamatkan Houthi dengan membantu mereka mencapai meja perundingan. Hal ini ditegaskan Menteri Luar Negeri AS, Pompeo bahwa pemungutan suara senat yang direncanakan untuk mengakhiri dukungan AS atas koalisi Arab pimpinan Saudi, tidak akan merusak upaya utusan khusus PBB untuk Yaman Martin Griffiths untuk menyatukan kedua pihak dalam melakukan gencatan senjata dan bertemu di meja perundingan.

Inilah ambisi AS agar dapat menguasai Yaman yang telah dikendalikan Inggris sejak jatuhnya Khilafah Turki Utsmani. Setelah Perang Dunia II, AS melangkah masuk dan mulai mengambil koloni Inggris dan Perancis di Timur Tengah. Satu demi satu.

Yaman hanyalah bagian berikutnya dari kue yang sedang digulat AS dari Inggris. Setelah negosiasi dilakukan antara dua boneka AS, siapa pun yang berkuasa di Yaman akan menjadi kaki tangan AS. Tapi tentu saja Inggris tidak duduk dan membiarkan ini terjadi. Inilah realitas peradaban busuk yang terus bermain-main di atas darah anak-anak Yaman.

 

Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Malaysia

Ratusan Ribu Massa Gelar Aksi Damai 812 di Malaysia, Bela Islam Jadi Agama Resmi

Ratusan Ribu Massa Gelar Aksi Damai di Malaysia, Bela Islam Jadi Agama Resmi

Sabtu, 08/12/2018 19:44 11

Indonesia

Soal Ledakan di Malam Reuni 212, Panitia: Semua Barang Bukti Sudah di Polisi

"Kalau mengecas kenapa harus mengecas di genset, gitukan. Kan banyak listrik di tenda-tenda"

Sabtu, 08/12/2018 17:46 0

Video News

31 Pekerja Dibunuh, Ini Kata Mantan Komisioner Komnas HAM

KIBLAT.NET- Direktur Pusdikham Uhamka, Dr. Maneger Nasution turut menyampaikan bela sungkawa terhadap tragedi pembantaian di...

Sabtu, 08/12/2018 17:13 0

Video News

Panitia 212 Tanggapi Cuitan Dubes Osama: Yang Salah yang Minta Dia Diusir

KIBLAT.NET- Tanggapan ketua panitia Reuni 212, Bernard Abdul Jabbar terkait cuitan Duta Besar Saudi Arabia...

Sabtu, 08/12/2018 17:06 0

Video News

Isu Bom Rakitan Di Reuni 212, Ini Klarifikasi Panitia

KIBLAT.NET- Masyarakat dihebohkan dengan adanya bom rakitan saat Aksi Reuni 212 yang diselenggarakan hari Minggu,...

Sabtu, 08/12/2018 16:59 1

Indonesia

Kicauan Dubes Saudi Tak Salah, Tema Reuni 212 Memang Terkait Pembakaran Bendera Tauhid

Panitia Reuni 212 menjelaskan tema Membela Kalimat Tauhid Demi Kejayaan NKRI dilatarbelakangi adanya pembakaran terhadap bendera tauhid

Sabtu, 08/12/2018 16:40 0

Indonesia

FSLDK Indonesia Desak Pelaku Pembantaian Pekerja Trans Papua Segera Ditindak

FSLDK Indonesia Desak Pelaku Pembantaian Pekerja Trans Papua Segera Ditindak

Sabtu, 08/12/2018 15:16 0

Indonesia

Terungkap, Inilah Penyebab Gagalnya Teleconference Habib Rizieq Saat Reuni 212

Panitia Reuni 212 mengungkap penyebab gagalnya teleconference Habib Rizieq saat Reuni 212 lalu

Sabtu, 08/12/2018 11:59 0

Indonesia

Habib Bahar Jadi Tersangka, GNPF Ulama: Hukum Jadi Alat Kekuasaan

Polisi bertindak sigap dan cepat dalam memproses perkara yang melibatkan umat Islam atau para tokohnya.

Sabtu, 08/12/2018 11:29 0

Indonesia

Reuni 212 Sukses, Bukti Umat Islam Solid

"Tidak ada kerusuhan apalagi chaos seperti yang sebelumnya ditudingkan pihak-pihak yang tidak rela umat bersatu," imbuhnya.

Sabtu, 08/12/2018 08:40 0

Close