... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

Suara Pembaca

Mengkritisi Pembakaran Bendera Tauhid

Foto: Beragam warna bendera tauhid berkibar di Reuni 212, Ahad (02-12-2018)

Oleh: Dr. Muhammad Yusran Hadi, Lc., MA (Dosen Fakultas Syari’ah dan Hukum UIN Ar-Raniry Banda Aceh)

KIBLAT.NET – Pembakaran bendera tauhid baru-baru ini oleh para anggota Barisan Ansor Serba Guna Nahdatul Ulama (Banser NU) di Garut, Senin (22/10/2018) bertepatan dengan acara peringatan Hari Santri Nasional menuai kritikan dan kecaman keras dari berbagai elemen umat Islam Indonesia (termasuk kalangan NU sendiri baik dari kelompok garis lurus ataupun kultural), bahkan dunia Islam.

Aksi ini dianggap telah melecehkan kalimat dan bendera tauhid sehingga melukai hati umat Islam di Indonesia, bahkan dunia. Umat Islam pun bersatu mengadakan Aksi Bela Tauhid di Jakarta dan berbagai daerah di Indonesia. Mereka mengecam pembakaran bendera tauhid dan menuntut agar para pelaku dihukum seberat-beratnya. Bahkan, mereka mendesak agar Banser dan GP Ansor dibubarkan. Selain itu, menuntut PBNU serta GP Ansor meminta maaf kepada umat Islam atas pembelaan mereka.

Puncaknya, Aksi Bela Tauhid 212 pada hari Ahad 2 Desember 2018 baru-baru ini di Monas, Jakarta yang beriringan dengan acara reuni mujahid Aksi Bela Islam 212 tahun 2016. Aksi Bela Tauhid 212 ini bertujuan untuk membela bendera tauhid yang telah dilecehkan oleh Banser NU. Dalam aksi ini, umat Islam dari berbagai elemen dan ormas Islam bersatu membela tauhid dengan mengibarkan jutaan bendera tauhid serta memakai atribut tauhid.

Diperkirakan oleh banyak pihak, peserta Aksi Bela Tauhid 212 ini mencapai sepuluh juta orang. Jumlah ini lebih besar dibandingkan dengan jumlah Aksi Bela Islam 212 pada tahun 2016 lalu ketika umat Islam menuntut ahok untuk dihukum atas kasus pelecehan terhadap Al-Quran (surat Al-Maidah ayat 51) yang dihadiri sekitar tujuh juta orang.

Aksi Bela Islam 212 dan Aksi Bela Tauhid 212 yang super damai ini sangat spektakuler dan mencapai rekor dunia. Tidak ada seorangpun dan organisasi atau partai apapun di Indonesia, bahkan dunia, yang mampu mendatangkan jumlah manusia sebesar itu dengan satu tujuan, melainkan panggilan Allah SWT. Hanya Allah SWT yang mampu menggerakkannya.

Tulisan ini bertujuan untuk mengkritisi pembakaran bendera tauhid yang dilakukan oleh Banser NU serta pembelaan yang dilakukan oleh GP Ansor, PBNU, dan orang-orang yang sepaham dengan mereka, dalam rangka melaksanakan kewajiban nahi munkar dan nasehat dalam kebenaran. Selain itu, untuk menjelaskan dan meluruskan penyimpangan perbuatan mereka ini serta mengingatkan mereka untuk kembali kepada ajaran Islam.

Mengkritik Banser NU dan Pembelanya

Menurut penulis, pembakaran bendera bertuliskan lafadz laa ilaaha illa Allah Muhammad Rasulullah yang dilakukan oknum Banser NU merupakan penodaan terhadap agama Islam. Perbuatan ini telah melecehkan kalimat tauhid dan bendera tauhid. Ini berarti penghinaan terhadap Allah SWT dan Rasul-Nya SAW.

Tindakan Banser ini juga melanggar hukum positif Indonesia yang dapat dikenakan sanksi pidana seperti yang diatur dalam pasal 156a KUHP tentang penodaan agama. Pelakunya harus dihukum dengan aturan pasal penodaan agama ini.

Selain itu, perbuatan Banser juga melanggar hukum Islam yang mengharamkan penghinaaan terhadap simbol dan ajaran Islam. Dalam hukum Islam, perbuatan penodaan Islam hukumnya haram (dosa besar) dan mengakibatkan pelakunya murtad (keluar dari Islam) berdasarkan kesepakatan (ijma’) para ulama.

BACA JUGA  Nuansa 212 Dalam Kampanye Akbar Prabowo-Sandi

Hukuman bagi orang murtad di dunia adalah diceraikan dari istrinya, tidak bisa menerima warisan, dan tidak boleh dikuburkan di pekuburan kaum muslimin. Selain itu, hukuman bagi orang murtad adalah dibunuh. Hukuman ini dilakukan oleh pemimpin atau hakim jika pelakunya tidak bertaubat. Adapun hukuman di akhirat nanti akan diazab di dalam neraka.

Parahnya lagi, perbuatan Banser yang melanggar syariat dan melukai hati umat Islam tersebut justru mendapat pembelaan dari ketua umum GP Ansor NU Yaqut Cholil Qaumas (www.detik.com, 22/11/2018), ketua umum PBNU Prof. Dr. Said Agil Siraj (www.detik.com, 23/11/2018), dan orang-orang yang sepaham dengan mereka.

Mereka berdalih bahwa bendera yang dibakar adalah bendera Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), bukan bendera tauhid. Dengan dalih bendera HTI ini, mereka membolehkan membakar kalimat dan bendera tauhid. Mereka juga beralasan untuk menyelamatkan kalimat tauhid, agar tidak diinjak. Selain itu, perbuatan Banser dianggap sebagai tindakan spontanitas karena emosi saja. Dengan kata lain, tidak sengaja dilakukan dan tidak ada niat jahat. Oleh karena itu, menurut mereka, perbuatan Banser tidak melanggar hukum dan bukan penodaan agama.

Alasan tersebut tentu tidak bisa diterima secara agama dan akal sehat, justru terkesan menutupi kesalahan Banser serta membohongi publik. Faktanya, bendera yang dibakar itu bukan bendera HTI, namun bendera tauhid seperti yang kita saksikan di video yang beredar luas dan telah ditegaskan oleh MUI, pihak HTI, dan mayoritas umat Islam Indonesia.

Kalaupun yang dibakar bendera HTI, perilaku tersebut tetap saja tidak bisa dibenarkan. Karena, bendera HTI juga bertuliskan kalimat tauhid yang wajib dihormati dan dimuliakan. Perbuatan tersebut tetap saja merupakan pelecehan terhadap kalimat Tauhid.

Adapun syubhat-syubhat yang dikemukakan oleh PBNU dan GP Ansor diatas telah dibantah oleh penulis secara khusus dan panjang lebar dalam artikel yang berjudul “Pembakaran Bendera Tauhid, Penodaan Agama!” yang dimuat oleh media online kiblat.net (25/11/218).

Sudah sepatutnya PBNU dan GP Ansor sebagai induk Banser memberikan teguran keras dan sanksi tegas atas perilaku mereka. Bukan malah mendukung dan membenarkannya. Pembelaan  itu justru menambah luka dan sakit hati umat Islam. Aksi pembakaran bendera tauhid ini telah memalukan dan memperburuk citra NU sendiri sebagai organisasi induk Banser dan GP Ansor. Bahkan memalukan dan mencoreng nama baik bangsa Indonesia sebagai negara muslim terbanyak di dunia.

Tindakan Banser NU ini mencerminkan sikap radikal dan amoral yang dapat merusak ukhuwah Islamiah dan perdamaian bangsa. Parahnya lagi, aksi penistaan agama ini terjadi pada saat acara peringatan Hari Santri Nasional 2018. Tentu saja perbuatan ini juga mencoreng Hari Santri Nasional yang sedang diperingati pada hari itu secara nasional, khususnya di Garut.

Bendera tauhid merupakan simbol Islam dan bendera Rasul SAW. Bendera ini milik umat Islam, bukan HTI. Bendera ini dipakai oleh Rasulullah SAW dalam segala kondisi, baik dalam waktu damai maupun perang.

BACA JUGA  Ajak Orang Golput Bisa Dipidana?

Dari Ibnu Abbas ra, ia berkata: “Rayah (panji) Rasul Saw berwarna hitam, sedangkan liwa’nya (benderanya) berwarna putih” (HR. At-Tirmizi, Ibnu Majah, Ath-Tabrani, dan Hakim).

Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan At-Tirmizi, melalui jalur Ibnu Abbas meriwayatkan: “Rasulullah telah menyerahkan kepada Ali sebuah liwa’ (bendera) yang berwarna putih, yang ukurannya sehasta. Pada liwa’ (bendera) dan rayah (panji) terdapat tulisan laa ilaaha illa Allah, Muhammad Rasulullah. Pada liwa’ yang berwarna dasar putih, tulisan itu berwarna hitam. Sedangkan pada rayah yang berwarna dasar hitam, tulisannya berwarna putih.” (HR. Ahmad dan At-Tirmizi)

Pembakaran bendera tauhid tentu bertentangan dengan iman dan tauhid. Iman dan tauhid menuntut seseorang untuk memuliakan dan menjaga kalimat tauhid. Selain itu, iman dan tauhid mencegah seseorang dari perbuatan semacam ini dikarenakan rasa takutnya kepada Allah Swt. Oleh karena itu, seorang yang beriman dan bertauhid pasti memuliakan dan menjaga kalimat tauhid. Bahkan dia pasti terpanggil untuk membela kalimat tauhid ketika dilecehkan.

Kalimat tauhid merupakan syarat seseorang masuk Islam. Dengan kalimat tauhid inilah seseorang dijamin masuk surga. Kalimat tauhid ini pula yang menyelamatkannya dari api neraka. Maka, bagaimana mungkin seorang muslim berani membakar bendera yang bertuliskan kalimat tauhid? Sepatutnya seorang muslim wajib memuliakan bendera tauhid. Inilah bukti iman dan tauhid seseorang. Bila tidak, berarti dia tidak beriman dan bertauhid.

Merujuk kepada sirah Rasul SAW, penodaan agama Islam pada masa itu hanya dilakukan oleh orang-orang kafir musyrik, yahudi dan munafik saja. Terhadap orang yang menghina dirinya, Rasul saw masih bisa memaafkannya. Namun beliau tidak bisa memaafkan orang yang melecehkan Allah SWT dan agama-Nya. Beliau bersikap tegas terhadap pelaku penodaan agama Islam dengan hukuman bunuh atau perang.

Tidak mengherankan bila penodaan agama Islam dilakukan oleh orang-orang kafir dan munafik, karena mereka tidak beriman kepada Allah Swt dan Rasul-Nya. Justru yang mengherankan bila para pelaku penodaa agama dan pendukungnya mengaku dirinya muslim, namun perbuatan mereka bertentangan dengan Islam, bahkan perbuatan kufur. Sikap mereka justru nampak seperti orang-orang munafik.

Pembakaran bendera yang diklaim sebagai bendera HTI oleh Banser, GP Ansor dan PBNU menunjukkan sikap permusuhan mereka terhadap HTI. Hal ini terlihat dari perbuatan mereka membakar bendera tauhid yang dianggap bendera HTI dan cara mereka membakarnya dengan mempertontonkan dihadapan orang ramai di tempat terbuka (lapangan) dan dengan sorakan bangga dan gembira. Tampak sekali kebencian serta permusuhan yang mereka pertontonkan.

Tentu saja sikap ini bertentangan dengan ajaran Islam. Rasul SAW bersabda: “Dan janganlah kalian saling dengki, jangan saling membenci dan jangan saling membelakangi. Dan jadilah kalian hamba Allah yang bersaudara” (HR. Muslim).

Dalam riwayat yang lain: “Janganlah kalian saling memboikot, jangan saling membelakangi, dan jangan saling dengki. Jadilah kalian hamba Allah yang bersaudara.” (HR. Muslim)

Baca halaman selanjutnya: Sikap Banser dan pendukung...

Halaman Selanjutnya 1 2
Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Indonesia

Soal Ledakan di Malam Reuni 212, Panitia: Semua Barang Bukti Sudah di Polisi

"Kalau mengecas kenapa harus mengecas di genset, gitukan. Kan banyak listrik di tenda-tenda"

Sabtu, 08/12/2018 17:46 0

Video News

31 Pekerja Dibunuh, Ini Kata Mantan Komisioner Komnas HAM

KIBLAT.NET- Direktur Pusdikham Uhamka, Dr. Maneger Nasution turut menyampaikan bela sungkawa terhadap tragedi pembantaian di...

Sabtu, 08/12/2018 17:13 0

Video News

Panitia 212 Tanggapi Cuitan Dubes Osama: Yang Salah yang Minta Dia Diusir

KIBLAT.NET- Tanggapan ketua panitia Reuni 212, Bernard Abdul Jabbar terkait cuitan Duta Besar Saudi Arabia...

Sabtu, 08/12/2018 17:06 0

Video News

Isu Bom Rakitan Di Reuni 212, Ini Klarifikasi Panitia

KIBLAT.NET- Masyarakat dihebohkan dengan adanya bom rakitan saat Aksi Reuni 212 yang diselenggarakan hari Minggu,...

Sabtu, 08/12/2018 16:59 1

Indonesia

Kicauan Dubes Saudi Tak Salah, Tema Reuni 212 Memang Terkait Pembakaran Bendera Tauhid

Panitia Reuni 212 menjelaskan tema Membela Kalimat Tauhid Demi Kejayaan NKRI dilatarbelakangi adanya pembakaran terhadap bendera tauhid

Sabtu, 08/12/2018 16:40 0

Indonesia

FSLDK Indonesia Desak Pelaku Pembantaian Pekerja Trans Papua Segera Ditindak

FSLDK Indonesia Desak Pelaku Pembantaian Pekerja Trans Papua Segera Ditindak

Sabtu, 08/12/2018 15:16 0

Indonesia

Terungkap, Inilah Penyebab Gagalnya Teleconference Habib Rizieq Saat Reuni 212

Panitia Reuni 212 mengungkap penyebab gagalnya teleconference Habib Rizieq saat Reuni 212 lalu

Sabtu, 08/12/2018 11:59 0

Indonesia

Habib Bahar Jadi Tersangka, GNPF Ulama: Hukum Jadi Alat Kekuasaan

Polisi bertindak sigap dan cepat dalam memproses perkara yang melibatkan umat Islam atau para tokohnya.

Sabtu, 08/12/2018 11:29 0

Indonesia

Reuni 212 Sukses, Bukti Umat Islam Solid

"Tidak ada kerusuhan apalagi chaos seperti yang sebelumnya ditudingkan pihak-pihak yang tidak rela umat bersatu," imbuhnya.

Sabtu, 08/12/2018 08:40 0

Indonesia

Pidato Habib Rizieq di Reuni 212 Dipersoalkan, Ini Tanggapan Panitia

"Hal itu merupakan fatwa Habib Rizieq Shihab sebagai imam besar umat Islam kepada pengikutnya," terang Yusuf.

Sabtu, 08/12/2018 07:42 3

Close