... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

Fokus

Kalau Wartawan Baik, Reuni 212 Juga Baik

Foto: Reuni 212

KIBLAT.NET – Jika wartawan adalah pilar utama media massa, maka media massa adalah alat paling efektif untuk mempengaruhi psikologi publik. Sulit rasanya mendapati sebuah ruang dan waktu di mana persepsi publik terhadap sebuah objek bebas sepenuhnya dari pengaruh media massa, bahkan terkadang produk media massa menjadi satu-satunya acuan seseorang dalam menyukai atau membenci sesuatu.

Pada tulisan kali ini, saya akan mengambil contoh yang jauh dari keberadaan kita. Supaya tidak terkesan sedang membela Edy Rahmayadi kepentingan seseorang ataupun mendukung capres kelompok tertentu.

Douglas Kellner, dalam bukunya From 9/11 to Terror War: The Dangers of The Bush Legacy menggambarkan bagaimana peran media dalam mengkonstruksi opini publik Amerika Serikat terkait peristiwa 11 September.

Pertama, jaringan televisi nasional menampilkan berbagai peristiwa yang menggugah simpati publik akan peristiwa 11 September. Rekaman video ketika pesawat menubruk gedung World Trade Center, detik-detik ketika salah satu gedung runtuh dalam kobaran api dan asap, orang-orang yang berusaha lompat keluar gedung untuk menyelamatkan nyawanya, serta teriakan orang-orang yang histeris dan putus asa melihat tragedi keruntuhan gedung WTC.

Semua peristiwa ini diputar dan dipertontonkan berulang-ulang sehingga menjadi kenangan0kenangan yang tidak mudah dilupakan oleh publik Amerika. Kenangan akan 11 September menjadi sangat simbolik dan ironik layaknya peristiwa pembunuhan John F. Kennedy, kematian Putri Diana, ataupun kekalahan perang Vietnam.

Setelah itu, media Amerika baik televisi maupun radio melakukan framing issue yang begitu kuat bahwa ini merupakan serangan militer yang harus direspon dengan serangan militer yang lebih besar.

Peter Jennings dari ABC News menyatakan, “Respons militer yang harus dilakukan harus massif untuk mendapatkan hasil yang efektif”. Respons lain yang diberikan seperti pernyataan NBC News yang menyarankan tindakan militer seharusnya diambil oleh pemerintah untuk membalas serangan ini. Begitu juga dengan CNN yang memberikan penegasan dalam setiap breaking news mengenai 11 September dengan caption “Attack On America” serta slogan-slogan serupa yang agresif.

BACA JUGA  Antara Ketahanan Politik dan Ketahanan Keluarga

Bush juga melakukan hal yang sama, dalam setiap kesempatan dia senantiasa melakukan framing issue terkait 11 September. Sebutan evil selalu dia sematkan kepada Al-Qaidah, dan penyebutan tersebut senantiasa diulang-ulang dalam setiap pernyataan publiknya yang disiarkan televisi. Bush mencoba membingkai reaksi atas peristiwa 11 September sebagai peperangan antara kebaikan melawan kejahatan dengan mencitrakan dirinya sebagai superhero yang akan mengalahkan musuhnya.

Pasca 11 September, media-media di Amerika menjadi sangat propagandis dan seolah berupaya meningkatkan kemarahan publik. Siaran-siaran yang bermuatan kebencian terhadap arab dan Islam bermunculan, slogan-slogan patriotisme dan propaganda perang terus menerus disuarakan.

Media Amerika pasca 11 September seperti kecanduan perang, mereka pun melakukan framing ulang mengenai posisi politik Amerika yang awalnya “Amerika Under Attack” menjadi “America Arising”, “America Strikes Back” dan “America’s New War”.

Dari apa yang disampaikan Douglas Kellner, terlihat jelas bagaimana peran penting media dalam memuluskan sebuah kebijakan politik. Dalam kasus 11 September ini, kita melihat bagaimana framing media telah memuluskan kebijakan Bush untuk menginvasi beberapa negara Timur Tengah khususnya Afghanistan dan Irak. Sebuah kebijakan yang pada akhirnya memakan korban lebih banyak dari korban 11 September itu sendiri.

Maka dari itu dalam konteks reuni 212 kali ini, yang berdekatan dengan tahun politik ini, jika kita semua masih mendambakan situasi yang kondusif setidaknya hingga Pilpres usai, menurut subjektifitas penulis bola sekarang berada di tangan para wartawan.

BACA JUGA  Antara Kisruh Industri Penerbangan dalam Negeri dan Kecakapan Pemimpin

Ada baiknya wartawan terfokus saja pada hal-hal yang positif, bahwa reuni 212 merupakan peringatan sebuah momentum bersejarah, ketika dari sekian pilihan cara –yang dibenarkan syariat- umat Islam justru memilih sholat Jum’at di jalanan demi menuntut keadilan.

Ada baiknya wartawan mem-blow up potret-potret ukhuwah yang terjadi, kesantunan, keberadaban, ketertiban, serta kebersihan para peserta.

Tak perlu lah wartawan terlalu mengulik hal-hal kecil semisal adanya motif politik di balik reuni, toh Ustadz Bernard Abdul Jabbar selaku Ketua OC sudah mengatakan kalau semua orang juga sudah tahu kepada siapa alumni 212 mengarahkan dukungan.

Tak perlu lah dipermasalahkan soal Neno Warisman yang duduknya agak mepet Yusuf Martak ketika konpers panitia reuni di gedung DDII. Tak perlu lah dipermasalahkan perihal posisi Habib Rizieq yang terkesan sebagai orang yang paling harus didengar ucapannya.

Tak perlu juga wartawan terlalu serius seperti Syafii Maarif yang selalu mempertanyakan landasan teologis di balik aksi-aksi bertanggal cantik itu.

Sekali lagi menurut subjektifitas penulis, penulis sangat yakin dan sangat percaya bahwa ketika wartawan baik, maka timnas reuni 212 juga baik. Dalam artian ketika wartawan memilih fokus memberitakan hal-hal yang baik maka publik pasti akan menilai baik kegiatan reuni 212.

Meskipun terkadang yang (tampak) baik itu belum tentu benar.

Penulis: Bang Azzam

 

 

Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Indonesia

Panitia: Tidak Boleh Bawa Atribut Partai dalam Reuni 212

Bernard menegaskan bahwa acara yang akan digelar di Monas akhir minggu ini adalah murni kegiatan keumatan yang diprakarsai oleh alumni 212.

Kamis, 29/11/2018 14:45 0

Indonesia

Diancam Gerakan Jaga Indonesia, Panitia Reuni 212: Silahkan Kalau Berani!

Ketua Panitia Reuni 212 jilid 2, Ustadz Bernard Abdul Jabbar menyatakan tak gentar dengan ancaman yang dilayangkan Gerakan Jaga Indonesia (GJI).

Kamis, 29/11/2018 14:19 2

Afghanistan

Ashraf Ghani Bentuk Tim Negosiator, Taliban: Kami Hanya Negosiasi dengan AS

Pemerintahan seperti ini bukan pemerintahan milik rakyat Afghansitan yang berjiwa pemberani dan mujahid.

Kamis, 29/11/2018 13:55 0

Video News

Kiblat Review: Di Balik Kasus Bendera Tauhid

Siapa di balik kasus bendera tauhid ini?

Kamis, 29/11/2018 13:12 0

Artikel

Sufi-sufi Jihadis

Sebagian pihak memandang bahwa para Sufi hanya identik dengan menyendiri dan berzikir, namun sejarah mencatat bahwa banyak deretan para Sufi yang terjun ke kancah jihad memerangi musuh-musuh Allah

Kamis, 29/11/2018 12:01 1

Indonesia

GUIB Ajak Masyarakat Tak Takut Hadiri Reuni 212

"Jangan takut, ini negara hukum, jangan sampai premanisme, main ancam mengancam kepada sebagian elemen masyarakat yang ingin menyampaikan pendapat di muka umum, ini bagian dari demokrasi," ungkapnya.

Kamis, 29/11/2018 10:55 0

Indonesia

Panitia Reuni 212 Sebut Ada Penggembosan dan Pencekalan Peserta dari Daerah

Bahkan ada laporan disiapkan dananya agar bikin acara di hari dan jam yang sama supaya tidak datang ke Jakarta

Kamis, 29/11/2018 09:47 1

Amerika

PBB Akan Gelar Voting Proposal untuk Mengutuk Hamas

Resolusi itu juga meminta untuk mengakhiri semua upaya provokasi Hamas dan faksi-faksi lainnya.

Kamis, 29/11/2018 08:07 0

Afghanistan

Gubernur Helmand: Puluhan Warga Tewas Akibat Serangan Udara AS

“Daerah yang diserang merupakan wilayah kontrol Taliban. Namun seluruh korban pada serangan malam hari itu warga sipil,” pungkas Muhammadullah.

Kamis, 29/11/2018 07:32 0

Indonesia

Terpilih Ketum Pemuda Muhammadiyah, Cak Nanto Diminta Mundur dari Ketua JPPR

“Sesuai ADRT tidak boleh rangkap jabatan dengan posisi lain, kalau kita sebagai ketua umum. Lain halnya kalau wakil ketua atau sekertaris,” ucapnya.

Kamis, 29/11/2018 06:54 0

Close