... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

News

Pasca Putusan MA, Kuasa Hukum Baiq Nuril Tegaskan Kliennya Tak Langgar UU ITE

Foto: Kuasa hukum Baiq Nuril, Aziz Fauzi berbicara kepada wartawan di Jakarta, Jumat (16-11-2018)

KIBLAT.NET, Jakarta – Mahkamah Agung (MA) membatalkan putusan Pengadilan Negeri (PN) Mataram dalam kasus dugaan pelanggaran Pasal 27 UU ITE, yang melibatkan Baiq Nuril Maqnun. Guru SMAN 7 Mataram itu dinyatakan bersalah, dan dijatuhi hukuman 6 bulan penjara serta denda Rp500 juta.

Putusan kasasi MA dalam kasus Baiq Nuril diterbitkan tanggal 26 September 2018 lalu. Putusan dengan nomor 574K/Pid.Sus/2018 itu dibuat setelah adanya permohonan kasasi dari penuntut umum Kejaksaan Negeri Mataram, terhadap putusan Pengadilan Negeri Mataram.

“Membatalkan putusan PN Mataram nomor 265/Pid.Sus/2017/PN Mtr tertanggal 26 Juli 2017,” bunyi putusan kasisi MA.

Sebelumnya, Baiq Nuril menjalani persidangan di Pengadilan Negeri (PN) Mataram dalam kasus dugaan pelanggaran Pasal 27 ayat (1) UU ITE 19/2016, tentang pendistribusian informasi elektronik yang memiliki muatan melanggar kesusilaan. Dia dilaporkan oleh kepala SMAN 7 Mataram.

Setelah melalui proses persidangan, PN Mataram mengeluarkan putusan dengan nomor 265/Pid.Sus/2017/PN Mtr tertanggal 26 Juli 2017. Baiq Nuril dinyatakan tak terbukti bersalah menyebarkan konten bermuatan asusila, berupa percakapan antara dirinya dan kepala SMAN 7 Mataram.

Kuasa Hukum Baiq Nuril, Aziz Fauzi mengatakan berdasarkan fakta persidangan kliennya memang sangat layak untuk mendapatkan putusan bebas. Dia atak terbukti melakukan transaksi elektronik atas tersebarnya rekaman berbau asusila atasannya atau kepala sekolah SMAN 7 Mataram.

“Ibu Nuril ini menurut kami dari penasehat hukum sangat layak untuk mendapatkan putusan bebas,” ungkap Aziz saat menyampaikan pernyataan pers di Jakarta, Jumat (16/11/2018).

BACA JUGA  Empat Masalah Ini Jadi Prioritas Kerja Mahfud MD

Aziz Fauzi menerangkan berdasarkan pasal 27 ayat (1) UU ITE, kliennya tidak terbukti melakukan transaksi elektronik. Baiq Nuril hanya menyerahkan handphone yang berisi rekaman asusila tersebut secara konvensional.

“Dari fakta persidangan secara materil Ibu Nuril tidak terbukti melakukan distribusi transmisi atau membuat dapat diaksesnya informasi elektronik atau dokumen elektronik yang bermuatan kesusilaan,” imbuhnya.

Aziz menjelaskan rekaman asusila antara Baiq Nuril kepala sekolah SMAN 7 Mataram tersebar pada Maret 2015. Rekaman tersebut dibuat Baiq Nuril sengan inisiatif sendiri karena dirinya merasa risih dengan kepala sekolah yang sering kali melakukan percakapan berbau asusila.

Belakangan rekaman tersebut tersebar dan sampai kepada para murid. Akhirnya, kepala sekolah melaporkan wanita 37 tahun itu kepada pihak berwajib.

Menurut Aziz, syarat pada pasal 27 ayat 1 harus dilakukan secara aktif. Secara aktif yang dimaksud adalah yang bersangkutanlah yang mengoperasikan perangkat elektronik, mencolok kabel data, sampai file itu sukses terkirim. Perbuatan itu dilakukan saat yang bersangkutan masih berada di tempat kejadian dan dilakukan secara sadar.

“Sedangkan, klien kami tidak melakukan itu,” tandas Aziz.

Reporter: Haikal
Editor: Imam S.

Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Tazkiyah

Doa dan Zikir Ketika Berada dalam Perjalanan

Hampir semua manusia pernah melakukan perjalanan, baik jarak dekat maupun jauh. Nah Islam memberikan tuntunan zikir dan doa ketika seorang muslim melakukan safar

Jum'at, 16/11/2018 20:09 0

Opini

Sekilas Tentang Khilafah yang Kalian Benci Setengah Mati Itu

Tahun politik di era percepatan komunikasi menjadi padanan yang terkadang mengerikan,

Jum'at, 16/11/2018 19:46 0

Iran

Iran dan Turki Perkuat Hubungan Dagang di Tengah Sanksi AS

Davut Behbudi, kepala Organisasi Perencanaan dan Administrasi Tabriz mengatakan hubungan perdagangan antara Iran dan Turki sangat mendalam.

Jum'at, 16/11/2018 16:29 0

Artikel

Ketika Bro and Sis PSI Ikut Mengusung Politik Islamophobia

Bagi umat Islam kita tidak perlu terjebak dalam permainan politik elektoral ala partai pengusung “Politik Sekular-Islamophobia” ini. Permainan keresahan, kebencian ini semata demi mendongkrak elektabilitas mereka, semakin ramai, semakin naik pamor mereka. Meski menaiki ombak yang memecah belah masyarakat.

Jum'at, 16/11/2018 14:36 0

China

China Luncurkan Kampanye Non-Halal di Wilayah Xinjiang

Pemerintah China telah meluncurkan kampanye melawan produk halal di wilayah Xinjiang China untuk menghentikan aktivitas Islam yang menembus kehidupan sekuler dan memicu "ekstremisme".

Jum'at, 16/11/2018 14:23 0

Suriah

Bashar Assad Sahkan RUU Pengawasan terhadap Para Ulama

Presiden Suriah Bashar Assad telah menandatangani RUU baru yang memperluas kekuasaan sebuah kementerian pemerintah yang mengawasi urusan agama (wakaf) dan membatasi istilah ulama terkemuka di negara itu.

Jum'at, 16/11/2018 13:48 0

Asia

Hendak Dipulangkan, Pengungsi Rohingya di Bangladesh Menghilang

Pemerintah Bangladesh mengakui bahwa mereka tidak akan dapat secara sukarela memulangkan pengungsi Rohingya ke Myanmar seperti yang direncanakan.

Jum'at, 16/11/2018 10:15 0

Profil

Maulana Samiul Haq, The Father Of Taliban

"Beri mereka waktu satu tahun saja dan mereka akan membuat seisi Afghanistan bahagia...Seluruh Afghanistan akan menyatu dengan mereka...Setelah orang Amerika pergi, semua itu akan terjadi dalam kurun waktu satu tahun.” Itulah pernyataan Samiul Haq ketika diwawancara oleh media Barat. Beliau juga dikenal sebagai Father Of Taliban. Beberapa waktu yang lalu, kita dikejutkan oleh pembunuhan terhadap salah seorang ulama terkenal Pakistan. Ulama ini disebut Barat sebagai Father Of Taliban.

Kamis, 15/11/2018 20:00 0

Khutbah Jum'at

Khutbah Jumat: Tegaknya Keadilan, Tujuan Utama Syariat Islam

Khutbah Jumat: Tegaknya Keadilan, Tujuan Utama Syariat Islam

Kamis, 15/11/2018 15:10 0

Amerika

Gadis Muslimah 10 Tahun Dapat Surat Kaleng, Isinya: Kamu Seorang Teroris!

Gadis muslimah berusia 10 tahun menemukan dua catatan tulisan tangan berisi ancaman di kamar kecilnya di sebuah sekolah dasar, sebelah barat Boston.

Kamis, 15/11/2018 15:02 0

Close