... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

Titian

Jalan Berliku Hijrah Milenial

Foto: Rel kereta

KIBLAT.NET – Hidayah menuntun seseorang menuju jalan hijrah. Ya, hijrah dari gelimang dosa dan maksiat menuju penghambaan dan ketaatan kepada Allah. Tetapi, jalan hijrah ini bukanlah jalan landai yang indah. Di dalamnya penuh tantangan-tantangan yang siap menghadang.

Gelombang hijrah akhir-akhir ini memang menggembirakan. Generasi milenial yang terombang-ambing gemerlap dunia mulai sedikit demi sedikit tersadar akan tujuan hidup di dunia ini. Semangat ini patut untuk diapresiasi sekaligus diberi pengarahan bahwa hijrah bukanlah garis finish, namun jalan hijrah ibarat pit stop, yang masih ada pit stop berikutnya.

Dalam meniti jalan hijrah akan ada tantangan-tantangan yang siap mengguncang prinsip dan komitmen diri. Sebagaimana firman Allah

أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لا يُفْتَنُونَ

Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: ‘Kami Telah beriman’, sedang mereka tidak diuji lagi? [al-‘Ankabût/29:2]

Ujian itu pasti akan datang. Tantangan itu pasti  ada. Semua itu dihadirkan Allah untuk menguji hamba-Nya yang paling baik amalannya.

الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلا

Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya.. (QS.Al-Mulk : 2)

Macam-Macam Tantangan Hijrah

Ada ungkapan Arab yang berbunyi, “Barangsiapa tahu jauhnya perjalanan, maka dia akan mempersiapkan bekal.” Jalan hijrah adalah jalan panjang, memiliki tangga yang bertingkat-tingkat. Dan pada setiap tingkatannya akan selalau hadir godaan yang menyesatkan. Jangan sampai hijrah hanya bergelora di awal saja, ketika diterpa badai cobaan, satu per satu roboh dan tumbang tanpa perlawanan dan pertahanan.

Maka, mengetahui macam-macam tantangan yang mungkin muncul adalah hal yang penting. Sekali lagi, untuk mempersiapkan segala kemungkinan yang terjadi nantinya.

Pertama, Tantangan Internal

Godaan pertama adalah niat dan motivasi hijrah. Apakah hijrah kita karena Allah? Atau hanya sekedar ikut trend. Faktor niat merupakan faktor krusial dalam hijrah. Ketika seorang hijrah karena Allah, maka tugas selanjutnya adalah menjaga kelurusan niat hingga akhir. Namun jika hijrah dimulai tidak karena Allah, maka segerelah untuk merubahnya, karena hijrah tanpa niat yang ikhlas bagikan musafir yang mengisi tempat minumnya dengan pasir, memberatkannya namun tidak memberikan manfaat.

Tentu kita ingat dengan kisah Muhajir Ummu Qais. Dalam al-Mu’jam Al-Kabir, Imam ath-Thabrani meriwayatkan dengan sanad yang bisa dipercaya, bahwa Ibnu Mas’ud berkata: “Di antara kami ada seorang laki-laki yang melamar seorang wanita, bernama Ummu Qais. Namun wanita itu menolak sehingga ia berhijrah ke Madinah. Maka laki-laki itu ikut hijrah dan menikahinya. Karena itu kami memberinya julukan Muhajir Ummu Qais.”

Godaan kedua adalah hawa nafsu. Setiap orang pasti menyimpan memori di dalam kenangannya. Ketika seseorang sedang sibuk menata diri tetiba  setan datang menyelipkan kenangan berupa kemaksiatan yang dibalut dengan indah. Maka, hawa nafsu kembali bergelora dan  menoleh kembali pada masa lalu yang telah terkubur.

Salah satu penyakit yang sering muncul adalah tindakan mencuri kesempatan untuk bernostalgia dengan masa lalu. Tinggalkan masa lalu, jangan menoleh terlalu lama, jadikan masa lalu sebagai kenangan untuk berubah lebih baik lagi, bukan untuk kembali berkubang di lubang yang sama.

BACA JUGA  OPM Bantai Pekerja Proyek, Komisi III DPR Pertanyakan Kinerja BIN

Godaan ketiga adalah futur. Rasa futur akan menjangkiti jika proses hijrah dan segala aktivitas di dalamnya hanya berlalu seperti rutinitas biasa. Jadikan semua aktivitas lebih bermakna, sering-seringlah bertemu dengan teman seperjuangan untuk menguatkan azzam untuk berhijrah. Proses perubahan yang memakan waktu lama kadang menjemukan, apalagi kesulitan-kesulitan yang dialami di tengah jalan ketika proses hijrah. Maka, futur pun menyelimuti hati dan rasa malas menguasai diri. Ketika itu terjadi,jangan segan-segan untuk berbagi rasa dan cerita dengan teman yang sejalan bukan dengan teman yang mengajak kepada kemaksiatan.

Kedua, Faktor Keluarga

Setiap orang pasti dilahirkan dari latar belakang keluarga yang berbeda. Ada potret keluarga seperti keluarga Lukmanul Hakim. Seorang ayah yang selalu menghasung anaknya untuk bertaqarub dan mengesakan Allah. Tetapi ada juga tipe keluarga seperti keluarga sahabat Mush’ab bin Umair radhiyallahu ‘anhu.

Mush’ab bin Umair adalah pemuda tampan dan menjadi primadona kota Makkah. Terlahir dari keluarga kaya raya dan terpandang. Bahkan Rasulullah bersabda

مَا رَأَيْتُ بِمَكَّةَ أَحَدًا أَحْسَنَ لِمَّةً ، وَلا أَرَقَّ حُلَّةً ، وَلا أَنْعَمَ نِعْمَةً مِنْ مُصْعَبِ بْنِ عُمَيْرٍ

“Aku tidak pernah melihat seorang pun di Mekah yang lebih rapi rambutnya, paling bagus pakaiannya, dan paling banyak diberi kenikmatan selain dari Mush’ab bin Umair.” (HR. Hakim).

Kehidupan yang makmur tidak serta merta membuatnya terbuai. Allah memberikan cahaya di hatinya dan masuk Islam di rumah Al-Arqam. Awalnya ia menyembunyikan keislamannya sebagaimana sahabat yang lain, untuk menghindari intimidasi kafir Quraisy. Dalam keadaan sulit tersebut, ia tetap terus menghadiri majelis Rasulullah untuk menambah pengetahuannya tentang agama yang baru ia peluk. Hingga akhirnya ia menjadi salah seorang sahabat yang paling dalam ilmunya. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutusnya ke Yastrib untuk berdakwah di sana.

Ketika keislamannya terkuak, ia pun kehilangan seluruh fasilitas yang selama ini mengelilinginya. Endingnya adalah sebagaimana yang ditulis Khalid Muhammad Khalid dalam Rijalu Khaula Rasul. Ibu Mush’ab mengusirnya dari rumah.

Dia berkata,”Pergilah sesuka hatimu! Aku bukan ibumu lagi!!!”

Mush’ab menghampiri ibunya seraya berkata,”Wahai ibunda! Saya ingin menyampaikan nasihat padamu dan aku merasa kasihan padamu. Saksikanlah bahwa tiada Ilah selain Allah dan Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.”

Ibunya menjawab dengan penuh emosi dan kesal,”Demi bintang!!! Sekali-kali aku takkan masuk ke dalam agamamu itu. Otakku bisa jadi rusak dan akalku akan melemah.”

Tantangan keluarga ini mungkin beragam “level”-nya. Ada yang setingkat sahabat Mush’ab dan ada yang sebenarnya sekadar salah paham dari orang tua tentang hijrah itu sendiri. Kuncinya adalah jalin komunikasi yang baik dengan orang tua serta memahamkan mereka akan hakikat hijrah yang sebenarnya. Apapun yang terjadi tetap gigih di jalan hijrah sembari menjaga adab kita kepada orang tua walaupun mereka tidak sejalan dan sepemikiran.

Ketiga, Faktor Lingkungan

Setiap dari kita adalah anggota masyarakat yang heterogen serta majemuk. Maka, suara-suara miring tentang hijrah pastilah ada. Sebagaimana para sahabat pada awal mula dakwah Rasulullah di Makkah, mereka mendapat cemoohan, perilaku kasar, umpatan dan gangguan lainnya.

BACA JUGA  Munafik yang Pandai Bersilat Lidah

Pun ketika seseorang berhijrah, akan ada suara-suara sumbang yang menyerang. Maka, tugas kita adalah tetap memegang prinsip walaupun bongkahan karang menghadang. Sembari berdakwah kepada mereka tentang ulumuddien dan memperlihatkan akhlaqul karimah sebagaimana Rasulullah berdakwah dengan kemuliaan akhlaknya.

Jadi, bisa dibilang, jika seseorang berniat untuk berhijrah, maka harus siap juga menerima segala hal yang akan muncul di masyarakat. Keteguhan para sahabat hendaknya membuat kita kuat dalam pendirian. Tantangan yang menimpa kita tidaklah seberat dengan apa yang mereka alami. Maka, harusnya kita lebih tangguh mempertahankan tekad untuk berhijrah.

Keempat, Makar Musuh Islam

Dalam era digital ini arus informasi menggelinding bebas di media sosial. Propaganda demi propaganda berkeliaran dan  dikonsumsi siapa saja. Maka, dalam mencerna sebuah informasi tidak boleh serampangan dan asal percaya.

Banyak orang di luar sana yang tidak suka dengan Islam dan berusaha memadamkan cahaya Allah. Berita dan informasi dipolitisir demi keuntungan dan menjauhkan orang dari pengetahuan yang sebenarnya tentang Islam. Contohnya penyematan kata radikal pada Islam seolah ingin mengkotak-kotakan kaum muslimin dan menggoyahkan para “muhajir”.

Tidak heran jika musuh-musuh Islam menggelontorkan dana yang tidak sedikit soal perang informasi ini. Secara sengaja mereka ingin membuat kaum Muslimin memiliki pemahaman Islam versi mereka. Tidak perlu membuat mereka murtad, cukup membuat umat Islam berpaham seperti yang mereka kehendaki. Jadi, umat Muhammad ingin dibuat mudah terombang ambing dengan informasi dan yang paling penting jauh dari agamanya sendiri.

Sebenarnya ini bukan tantangan yang menyerang orang yang berhijrah saja, tetapi lebih umum kepada seluruh umat Islam di mana pun berada. Sebab firman Allah jelas di dalam Al-Quran

وَلَنْ تَرْضَى عَنْكَ الْيَهُودُ وَلَا النَّصَارَى حَتَّى تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ قُلْ إِنَّ هُدَى اللَّهِ هُوَ الْهُدَى وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَاءَهُمْ بَعْدَ الَّذِي جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ مَا لَكَ مِنَ اللَّهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلَا نَصِيرٍ

“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)”. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.” (QS. Al-Baqarah: 120)

Mungkin masih banyak tantangan yang akan muncul di dunia nyata. Apa yang dihadirkan di sini hanyalah sebagian kecil dari apa yang terjadi sebenarnya nanti. Yang paling penting adalah teruntuk para “muhajir”, perjalanan hijrah bukanlah perjalanan singkat seperti berganti baju dan penampilan semata. Akan ada banyak tantangan yang akan datang dan harus siap pasang badang untuk menghadapinya. Entah itu tantangan dari diri sendiri, keluarga, sosial masyarakat atau tantangan yang bersifat global. Wallahu a’lam bi shawab.

Penulis: Dhani El_Ashim
Editor: Arju

Sumber

  1. Rijal Khaula Rasul, Khalid Muhammad Khalid.
  2. Rakhiqul Mahtum, Shafiyaruhhman Mubarakfurry

 

Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Suriah

Pejuang Jihadis di Zona Demiliterisasi Idlib Serang Pos Militer Suriah

Sedikitnya sembilan tetnara rezim tewas akibat serangan itu

Sabtu, 17/11/2018 16:04 0

Indonesia

Putusan MA dalam Kasus Baiq Nuril Dinilai Merusak Rasa Keadilan Masyarakat

Putusan MA dalam Kasus Baiq Nuril Dinilai Merusak Rasa Keadilan Masyarakat

Sabtu, 17/11/2018 15:19 0

Opini

Menjawab Orasi Politik Grace Natalie

Perda Syariah adalah perda yang bermuatan nilai-nilai Syariah, termasuk di dalamnya keadilan dan kesetaraan.

Sabtu, 17/11/2018 15:05 0

Iran

Jaisyul Adl Bebaskan Lima Tentara Iran yang Ditawan

Lima tentara tersebut merupakan bagian dari 12 tentara yang diculik di perbatasan dengan Pakistan.

Sabtu, 17/11/2018 14:51 0

Indonesia

Said Aqil Klaim Budaya Indonesia Lebih Mulia dari Arab

Said Aqil Klaim Budaya Indonesia Lebih Mulia dari Arab

Sabtu, 17/11/2018 13:52 0

Indonesia

LBH Pers Sebut UU ITE Bermasalah Sejak Awal

LBH Pers Sebut UU ITE Bermasalah Sejak Awal

Sabtu, 17/11/2018 13:22 0

Indonesia

PPP: Sikap PSI Tolak UU Bernuansa Agama Lebih Ekstrem dari Politik Era Kolonial

PPP: Sikap PSI Tolak UU Bernuansa Agama Lebih Ekstrem dari Politik Era Kolonial

Sabtu, 17/11/2018 11:43 0

Indonesia

KH. Said Aqil: Nggak Boleh Ngomong Ganti Presiden

KH Said Aqil: Nggak Boleh Ngomong Ganti Presiden

Sabtu, 17/11/2018 11:32 2

Indonesia

Pasca Putusan MA, Kuasa Hukum Baiq Nuril Tegaskan Kliennya Tak Langgar UU ITE

Pasca Putusan MA, Kuasa Hukum Baiq Nuril Tegaskan Kliennya Tak Langgar UU ITE

Sabtu, 17/11/2018 10:46 0

Indonesia

Jubir FPI: Habib Rizieq Sedang Mempertimbangkan Kepulangan dalam Waktu Dekat

Jubir Front Pembela Islam (FPI), Slamet Maarif mengungkapkan bahwa HRS sedang mempertimbangkan pulang dalam waktu dekat ini.

Sabtu, 17/11/2018 07:45 4

Close