... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

In Depth

Ketika Bro and Sis PSI Ikut Mengusung Politik Islamophobia

Oleh: Beggy Rizkiansyah, kolumnis Kiblatnet

KIBLAT.NET – Politik rasa takut agaknya jadi dagangan paling laku di tanah air. Untuk kesekian kalinya, rasa takut ditebar dengan memojokkan Islam. Kali ini dongeng menakutkan tersebut dihembuskan oleh Grace Natalie, Ketua Umum Partai Solidaritas Indonesia (PSI).

Sebagai partai baru dalam kancah politik, partai ini mengidentifikasi dirinya sebagai partai anak muda (mereka biasa memakai panggilan “Bro” dan “Sis” pada sesamanya) terbuka, dan progresif. Masih dalam umur yang sangat muda PSI sudah identik dengan dua hal. Pertama, mendukung penguasa (meski belum ada bukti dukungan massa yang jelas) dan kerap memunculkan kontroversi.

Partai ini pernah larut dalam kontroversi ketika memunculkan iklan dukungan mereka pada industri sawit. Dukungan ini meminta pemerintah untuk memberi kelonggaran pada industri sawit. Padahal industri ini sedang menjadi sorotan karena kontribusinya pada lingkungan dan masyarakat. Mulai dari kebakaran hutan hingga perampasan tanah rakyat.

Kita sama-sama paham, industri sawit dikuasai para konglomerat. Para konglomerat inilah yang menguasai lahan hampir setengah pulau Jawa di Indonesia. Maka dukungan PSI pada industri sawit sebagai (mitos) penopang ekonomi Indonesia adalah dukungan tanpa malu pada konglomerat sawit.

Kontroversi lainnya adalah kehadiran Sunny Tanuwidjaja dalam PSI sebagai Sekretaris Dewan Pembina PSI. Penelusuran Abdul Mughis Mudhoffir (2018) menunjukkan bahwa Sunny adalah sepupu dari istri Franky Osman, anak dari konglomerat Eka Tjipta Widjaja, pemilik Sinar Mas. Grup Sinar Mas adalah perusahaan sawit terbesar terbesar ketiga di Indonesia dan pernah terlibat dalam perusakan hutan di Indonesia. Tahun 2018, Green Peace menyebutkan bahwa perusahaan di bawah grup ini kembali terlibat deforestasi di Indonesia

Jejak Sunny lebih kontroversial terkait skandal hubungannya sebagai penghubung mantan Gubernur DKI, terpidana penistaan agama, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok). Sunny menjadi penghubung Ahok dengan konglomerat yang terlibat reklamasi pantai Jakarta. Begitu dekatnya dengan Ahok, sehingga Sunny juga diajak Ahok bertemu Surya Paloh dan Megawati. Sunny akhirnya dicekal KPK pada April 2016. Ahok sebelum Sunny dicekal menyebutnya sebagai Staf Magang. Namun setelah dicekal, Ahok tak lagi menyebutnya anak Magang.

BACA JUGA  Ratusan Ribu Massa Gelar Aksi Damai 812 di Malaysia, Bela Islam Jadi Agama Resmi

Kita tak perlu heran terhadap sikap PSI dalam mendukung industri (konglomerasi) sawit. Sebab landasan ekonomi PSI memang secara jelas mendukung ekonomi (pro) pasar. Platform ekonomi dan pembangunan PSI, meski mereka memiliki tujuan keadilan sosial dan kesejahteraan umum, namun secara kontradiktif, PSI terbuka menyokong ekonomi pasar.

Dalam situsnya, PSI mereka menyebutkan bahwa, Banyak pihak meragukan manfaat globalisasi dan ekonomi pasar. Namun PSI percaya bahwa globalisasi dan ekonomi pasar tidak mungkin dilepaskan dari kepentingan nasional kita. Karenanya, PSI turut mendorong sistim ekonomi yang terbuka di mana publik menjadi penggerak utamanya.”  PSI nampaknya tak melihat gagasan para pendiri bangsa yang menolak ekonomi pasar, mengutamakan kolektivisme, bukan individualisme dalam konsep ekonomi.

Logo Partai Solidaritas Indonesia, mirip dengan logo Sosialis Internasional.

Melihat sepak terjang tersebut pula tentu kita menarik kesimpulan tentang semangat progresif anti korupsi dari PSI. Meski PSI terus saja menyebut kontra terhadap korupsi. Dalam video pidato yang kontroversial baru-baru ini, Grace Natalie menyebut ada dua hal yang mereka lawan, yaitu Korupsi Intoleransi. Grace dalam pidato di depan Presiden Jokowi tersebut nampaknya lupa, bahwa PDIP ditahbiskan sebagai partai terkorup nomor dua paling tinggi yang kadernya diciduk dalam kasus korupsi.

Sebagai partai baru tentu PSI membutuhkan publisitas yang banyak. Semakin banyak liputan bisa jadi semakin menaikkan pamor PSI. Kontroversi menjadi bahan bakar yang dapat meroketkan pamor mereka. Semoga mereka tak menempuh jalan social climber sekaligus political climber dalam arena politik tanah air.

Oleh sebab itu kita tak perlu terkejut melihat betapa PSI membutuhkan isu kontroversi dalam arena politik tanah air. Salah satunya tentu resistensinya terhadap isu agama. Dalam pidato kontroversial tersebut Grace Natalie dengan tegas menyebut salah satu gejala intoleransi adalah pemilih yang tak mau memilih pemimpin yang berbeda agama. Kasus ini tentu mengingatkan kita ketika para figur PSI mati-matian membela Ahok dalam kasus penistaan agama Islam.

BACA JUGA  Banda Aceh Disebut Kota Intoleran, Ketua MIUMI Aceh: Ini Pembohongan Publik

Sikap PSI menganggap keyakinan memilih pemimpin seagama adalah intoleran tentu bertabrakan dengan pendapat para pendiri bangsa, salah satunya K.H. Wahid Hasyim. Menurut Ayah dari Gus Dur tersebut ketika menanggapi keputusan Ulama tentang haramnya memilih pemimpin non-muslim, beliau mengatakan,

Keputusan Ulama’ demikian itu dalam pendengaran sementara pihak barangkali tidak enak diterima.Tetapi dalam demokrasi theoritis, sebenarnja tidak ada salahnja sesuatu golongan mengambil keputusan teruntuk bagi golongannja sendiri.Dan tidak ada alasan buat orang luar untuk berkeberatan.” (K.H. A. Wahid Hasjim: 1957)

Tak berhenti disitu, Grace Natalie kemudian melancarkan penolakan terbukanya terhadap Perda Injil dan Perda Syariah.

“PSI akan mencegah lahirnya ketidakadilan, diskriminasi, dan seluruh tindakan intoleransi di negeri ini. PSI tidak akan mendukung Perda-Perda Injil atau Perda-Perda Syariah. Tidak boleh ada lagi penutupan rumah-rumah ibadah secara paksa,” demikian tukas Grace Natalie, berapi-api dalam pidatonya, yang diikuti tepuk tangan para pendukung PSI.

PSI yang diwakili Grace Natalie tampak tegas menolak syariat Islam yang berusaha diperjuangkan nilai-nilainya lewat Peraturan Daerah. Mereka menganggap hal itu adalah bentuk diskriminasi, intolernasi dan ketidakadilan. Sis Grace tampaknya salah kaprah, terputus landasannya dari para pendiri bangsa. Bung Karno dalam Pidato yang disebut Pidato Lahirnya Pancsilpada 1 Juni 1945 sudah menyatakan bahwa,

Jikalau memang kita rakyat Islam, marilah kita bekerja sehebat-hebatnya, agar-supaya sebagian yang terbesar dari pada kursi-kursi badan perwakilan Rakyat yang kita adakan, diduduki oleh utusan Islam. Jikalau memang rakyat Indonesia rakyat yang bagian besarnya rakyat Islam, dan jikalau memang Islam disini agama yang hidup berkobar-kobar didalam kalangan rakyat, marilah kita pemimpin-pemimpin menggerakkan segenap rakyat itu, agar supaya mengerahkan sebanyak mungkin utusan utusan Islam ke dalam badan perwakilan ini. Ibaratnya badan perwakilan Rakyat 100 orang anggautanya, marilah kita bekerja, bekerja sekeras-kerasnya, agar supaya 60,70, 80, 90 utusan yang duduk dalam perwakilan rakyat ini orang Islam, pemuka-pemuka Islam. dengan sendirinya hukum-hukum yang keluar dari badan perwakilan rakyat itu, hukum Islam pula. (cetak tebal dari penulis, red)

Baca halaman selanjutnya: Penegakan Hukum Islam dijamin...

Halaman Selanjutnya 1 2
Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

China

China Luncurkan Kampanye Non-Halal di Wilayah Xinjiang

Pemerintah China telah meluncurkan kampanye melawan produk halal di wilayah Xinjiang China untuk menghentikan aktivitas Islam yang menembus kehidupan sekuler dan memicu "ekstremisme".

Jum'at, 16/11/2018 14:23 0

Suriah

Bashar Assad Sahkan RUU Pengawasan terhadap Para Ulama

Presiden Suriah Bashar Assad telah menandatangani RUU baru yang memperluas kekuasaan sebuah kementerian pemerintah yang mengawasi urusan agama (wakaf) dan membatasi istilah ulama terkemuka di negara itu.

Jum'at, 16/11/2018 13:48 0

Indonesia

Eks Ketua BAIS: Orang Berpikiran Radikal Jangan Dianggap Teroris

Alumnus Akademi Angkatan Laut tahun 1978 ini menegaskan, pemikiran radikal bukanlah barang baru, melainkan hanya perbedaan pendapat yang ekstrem.

Jum'at, 16/11/2018 10:40 0

Asia

Hendak Dipulangkan, Pengungsi Rohingya di Bangladesh Menghilang

Pemerintah Bangladesh mengakui bahwa mereka tidak akan dapat secara sukarela memulangkan pengungsi Rohingya ke Myanmar seperti yang direncanakan.

Jum'at, 16/11/2018 10:15 0

Indonesia

Kasus Tabrak Mati Iwan Andranacus Dinilai Penuhi Unsur Pasal Pembunuhan Berencana

Kasus Tabrak Mati Iwan Andranacus Dinilai Penuhi Unsur Pasal Pembunuhan Berencana

Jum'at, 16/11/2018 05:58 0

Indonesia

Ketua MK Contohkan Umar bin Khattab dalam Ketegasan Penegakan Hukum

Ketua MK Contohkan Umar bin Khattab dalam Ketegasan Penegakan Hukum

Kamis, 15/11/2018 21:08 0

Indonesia

Pengacara Bantah Keluarga Eko Prasetyo Damai dengan Bos Cat Pelaku Tabrak Mati

Pengacara Bantah Keluarga Eko Prasetyo Damai dengan Bos Cat Pelaku Tabrak Mati

Kamis, 15/11/2018 20:50 0

Indonesia

Ada Agenda Parade Tauhid dalam Reuni 212 Jilid 2

Ketua Persaudaraan Alumni 212, Slamet Ma'arif mengungkapkan bahwa akan ada parade tauhid di reuni 212 jilid 2. Ia menegaskan bahwa parade ini untuk mensosialisasikan pentingnya kalimat tauhid.

Kamis, 15/11/2018 20:30 0

Profil

Maulana Samiul Haq, The Father Of Taliban

"Beri mereka waktu satu tahun saja dan mereka akan membuat seisi Afghanistan bahagia...Seluruh Afghanistan akan menyatu dengan mereka...Setelah orang Amerika pergi, semua itu akan terjadi dalam kurun waktu satu tahun.” Itulah pernyataan Samiul Haq ketika diwawancara oleh media Barat. Beliau juga dikenal sebagai Father Of Taliban. Beberapa waktu yang lalu, kita dikejutkan oleh pembunuhan terhadap salah seorang ulama terkenal Pakistan. Ulama ini disebut Barat sebagai Father Of Taliban.

Kamis, 15/11/2018 20:00 0

Indonesia

Panitia Reuni 212: Polisi Wajib Mengamankan, Bukan Menghalangi

“Saya perlu ingatkan kepolisan tidak boleh berlebihan. Sebab seperti ini, dua tahun yang lalu juga terjadi, dianggap akan membuat kegaduhan, akan ada kisruh dan lain sebagainya, tapi terbukti 212 aksi super damai,” kata Ketua Persaudaraan Alumni 212, Slamet Maarif.

Kamis, 15/11/2018 19:01 0

Close