... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

News

Hendak Dipulangkan, Pengungsi Rohingya di Bangladesh Menghilang

Foto: Kondisi pengungsi Rohingya di perbatasan Bangladesh

KIBLAT.NET, Cox’s Bazar – Pemerintah Bangladesh mengakui bahwa mereka tidak akan dapat secara sukarela memulangkan pengungsi Rohingya ke Myanmar seperti yang direncanakan. Tidak ada yang mau kembali, meskipun upaya untuk mendorong mereka pergi akan terus berlanjut.

Empat truk dan tiga bus ditempatkan di kamp Unchiprang di Cox’s Bazar pada Kamis (15/11/2018) pagi. Armada itu siap untuk mengangkut para pengungsi yang telah “disetujui” ke kamp transit di perbatasan, tetapi tidak satu pengungsi pun bersedia naik.

Mohammad Abul Kalam, komisaris rehabilitasi dan pemulihan pengungsi Bangladesh, mengatakan timnya telah menyelesaikan “persiapan fisik dan logistik” untuk memfasilitasi pemulangan. Tetapi pada Kamis malam waktu setempat, para pengungsi tidak bersedia untuk kembali sekarang.

“Bangladesh benar-benar berkomitmen pada prinsip non-refoulement dan repatriasi sukarela,” kata Abul Kalam. “Kami tidak akan memaksa siapa pun untuk kembali ke Myanmar melawan kehendaknya,” tambahnya, meskipun pihak berwenang akan terus mencoba mendorong pengungsi untuk pergi.

Lebih dari 2.000 pengungsi Rohingya telah dimasukkan dalam daftar yang disetujui oleh Myanmar untuk kembali, tanpa persetujuan mereka. Sementara rencananya adalah mengirim mereka kembali 150 orang per hari mulai hari Kamis. Pada Rabu malam hampir semua bersembunyi di kamp lain dan di hutan terdekat, di tengah kekhawatiran mereka akan dikirim ke Myanmar.

Beberapa jam sebelum repatriasi akan dimulai, komisioner tinggi PBB untuk pengungsi telah menempatkan hanya 50 keluarga yang terdaftar untuk repatriasi, yang semuanya mengatakan mereka tidak ingin kembali ke Myanmar dalam kondisi saat ini.

BACA JUGA  Kematian Mengintai Para Tahanan Politik di Penjara Mesir, Ini Sebabnya

Meskipun Abul Kalam mengakui bahwa sebagian besar Rohingya masih terlalu takut untuk kembali, ia bersikeras: “Setidaknya beberapa orang Rohingya, kami yakin, bersedia untuk kembali ke Myanmar sekarang. Kami mencoba menjangkau mereka di berbagai kamp. Kami siap membantu mereka kembali ke Myanmar.”

Mohammad Idris , seorang tokoh masyarakat Rohingya yang berada di sebuah pertemuan di kamp Unchiprang pada Kamis pagi, mengatakan 50 keluarga di kamp yang terdaftar untuk kembali telah menghilang dari gubuk mereka tiga atau empat hari yang lalu. Para pejabat telah gagal melacak mereka keberadaan mereka.

“Sejak pagi ini, tentara dan polisi mengepung kamp. Pengungsi dan pejabat administratif lainnya telah mengadakan pertemuan dengan majhis dan pemimpin komunitas Rohingya lainnya yang mencari bantuan mereka untuk membujuk para pengungsi yang terdaftar untuk kembali ke Myanmar,” tambahnya.

Pengungsi Rohingya mengatakan kepada Guardian mengenai cara pemerintah Bangladesh membujuk para pengungsi untuk kembali, termasuk dengan ancaman langsung. Hal itu diungkap Saifullah, yang tinggal di kamp Balukhali.

“CIC (Camp in Charge) telah mengatakan kepada pengungsi Rohingya, bahwa (mereka) akan menghadapi kesulitan jika mereka tidak kembali ke Myanmar,” katanya. “Mereka mengancam untuk berhenti memasok ransum ke pengungsi, mereka akan dilarang bekerja dengan LSM yang berbeda dan tidak akan memiliki kebebasan untuk bergerak bebas.”

PBB telah meminta kedua pemerintah untuk menghentikan rencana repatriasi yang “tergesa-gesa” tetapi permohonan itu tampaknya tidak didengar. Bangladesh, mencoba untuk memadamkan kepanikan dengan menginstruksikan LSM bahwa mereka mempertahankan komitmennya untuk kembali secara sukarela dan bahwa semua LSM harus melanjutkan pekerjaan mereka seperti biasa.

BACA JUGA  Dari Piagam Jakarta ke Pancasila: Jalan Panjang Dasar Negara (Bag. 1)

Ada lebih dari 700.000 pengungsi Rohingya yang tinggal di Cox’s Bazar yang melarikan diri dari penumpasan brutal oleh militer Myanmar pada bulan Agustus 2017, yang digambarkan oleh misi pencari fakta PBB sebagai genosida. Perempuan diperkosa, anak-anak dibantai dan ribuan orang terbunuh, sementara sebagian besar desa-desa Rohingya di negara bagian Rakhine dibakar habis.

Menurut kepala misi pencarian fakta PBB, genosida di Rakhine terhadap minoritas Muslim sedang berlangsung. Ada demonstrasi pekan ini di kalangan komunitas Budha Rakhine yang memprotes kembalinya Rohingya.

Sumber: The Guardian
Redaktur: Ibas Fuadi

Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Indonesia

Kasus Tabrak Mati Iwan Andranacus Dinilai Penuhi Unsur Pasal Pembunuhan Berencana

Kasus Tabrak Mati Iwan Andranacus Dinilai Penuhi Unsur Pasal Pembunuhan Berencana

Jum'at, 16/11/2018 05:58 0

Indonesia

Ketua MK Contohkan Umar bin Khattab dalam Ketegasan Penegakan Hukum

Ketua MK Contohkan Umar bin Khattab dalam Ketegasan Penegakan Hukum

Kamis, 15/11/2018 21:08 0

Indonesia

Pengacara Bantah Keluarga Eko Prasetyo Damai dengan Bos Cat Pelaku Tabrak Mati

Pengacara Bantah Keluarga Eko Prasetyo Damai dengan Bos Cat Pelaku Tabrak Mati

Kamis, 15/11/2018 20:50 0

Indonesia

Ada Agenda Parade Tauhid dalam Reuni 212 Jilid 2

Ketua Persaudaraan Alumni 212, Slamet Ma'arif mengungkapkan bahwa akan ada parade tauhid di reuni 212 jilid 2. Ia menegaskan bahwa parade ini untuk mensosialisasikan pentingnya kalimat tauhid.

Kamis, 15/11/2018 20:30 0

Profil

Maulana Samiul Haq, The Father Of Taliban

"Beri mereka waktu satu tahun saja dan mereka akan membuat seisi Afghanistan bahagia...Seluruh Afghanistan akan menyatu dengan mereka...Setelah orang Amerika pergi, semua itu akan terjadi dalam kurun waktu satu tahun.” Itulah pernyataan Samiul Haq ketika diwawancara oleh media Barat. Beliau juga dikenal sebagai Father Of Taliban. Beberapa waktu yang lalu, kita dikejutkan oleh pembunuhan terhadap salah seorang ulama terkenal Pakistan. Ulama ini disebut Barat sebagai Father Of Taliban.

Kamis, 15/11/2018 20:00 0

Indonesia

Panitia Reuni 212: Polisi Wajib Mengamankan, Bukan Menghalangi

“Saya perlu ingatkan kepolisan tidak boleh berlebihan. Sebab seperti ini, dua tahun yang lalu juga terjadi, dianggap akan membuat kegaduhan, akan ada kisruh dan lain sebagainya, tapi terbukti 212 aksi super damai,” kata Ketua Persaudaraan Alumni 212, Slamet Maarif.

Kamis, 15/11/2018 19:01 0

Indonesia

Reuni 212 Jilid 2, Panitia Telah Koordinasi dengan Polisi

Persaudaraan Alumni (PA) 212 menjadi penanggung jawab Reuni 212 Jilid 2 yang akan digelar di Monas 2 Desember 2018

Kamis, 15/11/2018 17:38 0

Indonesia

ASEAN Tak Sepakat Hentikan Krisis Rohingya

ASEAN Tak Sepakat Hentikan Krisis Rohingya

Kamis, 15/11/2018 17:01 0

Khutbah Jum'at

Khutbah Jumat: Tegaknya Keadilan, Tujuan Utama Syariat Islam

Khutbah Jumat: Tegaknya Keadilan, Tujuan Utama Syariat Islam

Kamis, 15/11/2018 15:10 0

Indonesia

Kenapa Pengadilan Internasional Kasus Genosida Rohingya Tak Kunjung Digelar?

Heru pun kemudian menjelaskan mengapa pengadilan internasional tidak bisa segera digelar. Menurutnya, hal itu perlu pendekatan politik dan utusan dari PBB dan Keputusan Dewan Keamanan PBB

Kamis, 15/11/2018 10:49 0

Close