... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

Suara Pembaca

Hijrah Fest; Menangkap Dunia yang Berubah

Penulis: Rusydan Abdul Hadi

KIBLAT.NET – Nekat, mungkin menjadi kata yang pas untuk seorang Arie Kuncoro Untung ketika menggelar sebuah event besar bernama Hijrah Fest 2018. Memang dalam event yang digelar selama tiga hari ini nama-nama beken yang selama ini identik dengan kata hijrah diundang, sebut saja Ustadz Abdul Somad, Hanan Attaki, Oemar Mita, Salim A Fillah, dan tak lupa Felix Yanuar Siauw. Namun semeriah apapun acaranya, tetap saja event tersebut “hanyalah” sekumpulan pengajian, sebuah acara yang bentuk serta realitasnya begitu-begitu saja: ada seorang ustadz berdiri atau duduk di hadapan sekumpulan orang, mereka mendengar pemaparan materi kurang lebih satu jam, lalu sesi tanya jawab setengah jam dan penutup.

Sampai di sini memang tidak berbeda, toh sebelumnya sudah pernah ada event-event serupa, Islamic Book Fair contohnya. Namun sisi nekatnya adalah ketika event ini ternyata berbayar dan banderol tiketnya lumayan, seharga dua porsi paket Combo Fire Wings di Richeese Factory. Bagi penulis yang warga Bekasi, tentu ogah “membuang” uang semudah itu, lebih efisien menghadiri kajian Ustadz Oemar Mita di Islamic Center Bekasi yang hanya seperempat jam perjalanan, sepulang kajian masih bisa menikmati paket Combo Fire Wings bersama istri tercinta. Namun nyatanya tiket event tersebut sold out, dan lebih mengejutkannya lagi peminatnya didominasi kaum muda bukan lagi orang-orang tua, demografi yang selama ini melekat dengan kata pengajian.

Keberhasilan Hijrah Fest menghapus total kesan pengajian sebagai acara kuno, monoton, murahan, dan tua sejatinya tidak mengejutkan. Ustadz Felix Y Siauw dalam bukunya Art Of Dakwah menjelaskan bahwa dunia telah berubah sehingga lanskap dakwah khususnya di Indonesia pun ikut berubah. Ustadz Felix menyimpulkan bahwa terdapat empat kata kunci dakwah, objek dakwah, sekaligus perantara dakwah pada masa kini; visual, online, generasi muda, wanita.

Lalu bagaimana hubungan antara empat kata kunci tersebut dengan Hijrah Fest?

  1. Online           

Tak dapat dipungkiri era percepatan informasi telah banyak merubah wajah dunia, media sosial seolah menjadi sebuah kebutuhan primer bagi generasi milenial. Bahkan tak jarang medsos dianggap telah menggantikan “tatap muka langsung” sebagai bentuk komunikasi yang ideal. Rasanya tidak perlu mengutip lembaga riset barat untuk membuktikannya. Cukup lihat sekeliling Anda, istri Anda, putra putri Anda, tetangga Anda, teman kerja Anda, nyaris setiap waktu menghadapkan wajah ke ponselnya.

Hal inilah yang ditangkap oleh penyelenggara. Sejauh pengamatan penulis, tidak ada poster ataupun flyer Hijrah Fest yang ditempel di tiang listrik ataupun dipaku di pohon. Sosialisasi via online benar-benar dimaksimalkan, selain melalui Instagram mas Arie Untung dan Istri yang mungkin sebelum hijrah followernya memang sudah jutaan (1,1 m dan 1,2 m). Tak ketinggalan ustadz-ustadz yang menjadi pembicara juga ikut mempromosikan di Instagram mereka, sebut saja Ustadz Abdul Somad (5,7 m follower), Ustadz Luqmanul Hakim (16,9 k), Ustadz Felix Siauw (555 K), dan Ustadz Oemar Mita (385 k).

BACA JUGA  Pembatalan Negosiasi dengan Taliban Dinilai Rugikan AS

Di samping sosialisasi, mekanisme pembelian tiket juga hanya bisa dilakukan melalui aplikasi t-cash. Jadi tidak mungkin bapak, ibu, atau mbah Anda yang masih keukeuh menggunakan handphone Nokia sejuta umat membeli tiketnya tanpa bantuan seseorang. Artinya, penyelenggara event ini menyadari bahwa dunia telah berubah, hari ini segala sesuatu telah “ter-online-kan”, seseorang bisa membeli mulai dari popok bayi hingga kulkas dua pintu cukup dengan sekali usapan sembari duduk manis di ruang keluarga.

  1. Visual

Yankelovich, Inc., sebuah firma yang meneliti soal periklanan mendapatkan bahwa pada tahun 1977 penduduk di Amerika rata-rata terpapar sekitar 2.000 pesan iklan per hari dan pada tahun 2007 meningkat menjadi 5.000 pesan per hari. Lalu bagaimana dengan sekarang, di mana dalam satu menit kita dipaksa menerima berbagai pesan termasuk konten iklannya.

Sayangnya pesan yang terlalu banyak tersebut tidak diimbangi kemampuan kebanyakan manusia untuk mencerna pesan-pesan tersebut. Alam bawah sadar mereka pun akan menyeleksi mana pesan yang paling menarik dan paling mudah untuk dicerna. Maka kombinasi antara pesan yang terlalu banyak berseliweran di benak objek dakwah dengan keterbatasan kemampuan pikiran objek dakwah menjadi tantangan tersendiri bagi gerakan dakwah.

Karena itu menurut Felix Siauw, visualisasi dakwah adalah cara terbaik saat ini yang menjadi solusi bagi kedua tantangan di atas. Karena dengan visual, kita bisa menjadi berbeda dan menarik dalam mengemas konten dakwah sekaligus menyampaikan banyak hal dalam waktu singkat. Satu gambar bisa lebih berarti daripada 1.000 kata, begitu ungkapan yang sering kita dengar.

Dalam event Hijrah Fest, tentu penulis tak perlu terlalu banyak menjelaskan perihal visualisasinya yang jempolan. Dimulai dari logonya yang penuh makna, dengan kombinasi pilihan warna yang menyejukkan mata serta pilihan font yang tidak kaku. Di sekeliling tulisan Hijrah Fest terdapat seabrek simbol namun mudah ditangkap maknanya oleh siapapun. Misalnya gambar tangan dengan telunjuk ke atas berarti tauhid, gambar pria berjenggot lebat berarti sunnah memanjangkan jenggot, gambar wanita berhijab berarti kewajiban muslimah untuk berhijab.

Logo bulan bintang jadi tanda event tersebut bernuansa Islami, tulisan halal berarti makanan yang dijual terjamin kehalalannya, gambar anak panah serta kuda berarti sunnah untuk belajar memanah serta berkuda. Masih banyak pesan lainnya yang mudah dipahami oleh siapapun, masing-masing logo menggunakan pilihan warna yang menyejukkan, yang menimbulkan kesan muda, gaul, dan keren.

Itu baru logonya, belum konten-konten lainnya semisal rundown acara, dekorasi panggung, dresscode panitia, hingga penggarapan cuplikan quote menarik dari para pembicara yang diambil dari angle yang tidak bikin pegel mata.

  1. Generasi Muda

Tidak bisa dipungkiri, pengguna media online sudah pasti didominasi kaum muda. Tak perlu susah-susah melakukan riset. Gejala-gejalanya sudah tersaji di sekitar Anda, masih ingat di awal-awal kemunculan ojek online. Bertebaranlah tukang ojek baru dengan wajah unyu-unyu mengendarai motor-motor mengkilap. Gejala tersebut nyaris terjadi di setiap lini yang “di-online-kan”. Bagi yang tidak menggandrungi media online rasanya akan semakin terpinggirkan, terutama generasi tua yang menganggap selancar di dunia maya adalah kegiatan yang membuang-buang waktu.

BACA JUGA  BJ Habibie Wafat, Ulama dan Tokoh Sampaikan Duka Cita

Dalam Hijrah Fest, menurut pengamatan sekilas penulis, hasil dari sosialisasi via medsos sepertinya cukup berhasil menggaet generasi muda. Pilihan-pilihan warna serta model hijab, jubah, baju koko, gamis yang dikenakan mayoritas pengunjung mencermikan rentang usia mereka yang tak lebih dari 40 tahun.

Di samping itu, rataan usia narsum yang diundang –jika kita memasukkan Ustadz Bachtiar Nasir (51) dan Aa Gym (56)—adalah 35,6 tahun. Penyelenggara seolah ingin menyampaikan pesan bahwa event ini dari, oleh, dan untuk para kawula muda.

  1. Wanita

Dunia kini menjadi lebih emosional dikarenakan keterlibatan wanita yang ternyata lebih dominan di dunia maya. Maka wajar dalam dunia milenial ini wanita terasa lebih memegang peranan dibanding pria. Berdasarkan data yang dirilis oleh Pew Research pada tahun 2015, wanita masih mengungguli pria dalam keterlibatan di sosial media. Bahkan terkadang merekalah yang menyebabkan sebuah sosial media menjadi tren. Mudahnya, jika sebuah platform sosial media ataupun sebuah postingan berhasil menarik perhatian wanita, maka mereka akan merajai share dunia maya.

Tidak hanya itu, wanita juga menghabiskan lebih banyak waktu di sosial media ketimbang pria. Menurut rilis Rubymedia Corporation pada tahun 2014, di sosial media engagement wanita lebih tinggi dibanding dengan pria. Wanita menunjukkan perbedaan yang nyata dalam berinteraksi dengan sahabat dunia maya, brand, ataupun ide. Wanita lebih banyak menunjukkan dukungan, menyambut tawaran, dan mereka lebih aktif berkomentar di sosial media.

Penulis mengamati dengan seksama di setiap postingan Instagram @hijrahfest, mayoritas yang berkomentar adalah wanita. Bahkan tidak jarang di setiap komentarnya mereka mention beberapa temannya agar ikut berkomentar juga. Di sisi lain, penyelenggara juga memaksimalkan beberapa aktris yang telah mantap berhijab untuk terlibat dalam promosi event tersebut. Promosi pun dikemas dalam video-video yang berdurasi relatif pendek, namun tidak mungkin ditonton sampai habis oleh ikhwan-ikhwan yang sudah berhijrah.

Pada akhirnya, event Hijrah Fest ini memang bisa disebut sebagai satu cerminan dari metode dakwah di era kekinian, di mana anak-anak muda yang berhijrah sedikit terhibur dan tidak terlalu berkecil hati menghadapi rintangan-rintangan yang berdatangan setelah hijrah. Setidaknya mereka bisa berkata “Wow Islam tuh sebenernya keren buanget ya, kemana aja gue selama ini?”. Namun perlu diingat baik-baik bahwa dakwah bukanlah sekedar metode, dakwah juga punya konsep yang paten; menyampaikan kebenaran kalimat tauhid sepahit apapun hasilnya. Siapa pun jangan sampai terlena, terlalu lama berputar-putar pada metode hingga melalaikan konsep kebenaran yang harus segera disampaikan.

Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Indonesia

Pesan UBN Untuk Kaum Milenial yang Sedang Hijrah

Pesan UBN Untuk Kaum Milenial yang Sedang Hijrah

Rabu, 14/11/2018 14:52 0

Indonesia

Hijrah Fest Kuatkan Konsistensi Berhijrah

Hijrah Fest Kuatkan Konsistensi Berhijrah

Rabu, 14/11/2018 14:21 0

Asia

Pengungsi Rohingya Syok Dengar Kabar Akan Dipulangkan

Kesepakatan repratiasi yang akan dimulai pada Kamis, 15 November 2018 besok. Kabar itu menjadi hal yang paling menakutkan sejak mereka melarikan diri dari kampung halamannya.

Rabu, 14/11/2018 11:25 0

Arab Saudi

Arab Saudi Bantah Larang Warga Palestina Berhaji

Arab Saudi Bantah Larang Sejuta Warga Palestina Berhaji

Rabu, 14/11/2018 11:12 0

Suriah

Puluhan Sipil Keluarga ISIS Jadi Korban Gempuran Brutal Koalisi AS

"Pada Selasa, sebanyak 32 jasad sipil, termasuk 13 anak-anak dan enam jasad tak dikenali, di bawah reruntuhan bangunan rumah di lingkungan di kota Al-Syuf’ah, yang menjadi target jet koalisi pada Ahad,” kata Direktur SOHR, Rami Abdurrahman.

Rabu, 14/11/2018 11:09 0

Video Kajian

Zikir: Bersiap untuk Pulang Kampung

Zikir: Bersiap untuk Pulang Kampung

Rabu, 14/11/2018 10:56 0

Myanmar

Kritisi Program Pemulangan Rohingya, PBB: Kondisi Rakhine Belum Aman

Besok Kamis, 15 November 2018 pemulangan pengungsi Rohingya di Bangladesh akan dimulai.

Rabu, 14/11/2018 10:53 0

Indonesia

SP3 Kasus Sukmawati Digugat, Begini Jawaban Polisi

Sidang praperadilan SP3 dugaan penistaan agama yang dilakukan Sukmawati Soekarnoputri kembali digelar di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan.

Rabu, 14/11/2018 10:44 0

Irak

Jet Turki Gempur Milisi PKK di Iraq

Dephan Turki mengatakan di akun resmi Twitter, serangan itu menargetkan sejumlah lokasi di daerah Iraq utara, di antaranya wilayah pegunungan Qandil. Wilayah tersebut merupakan basis PKK.

Rabu, 14/11/2018 08:20 0

Indonesia

Bicara Kasus Bendera, Dubes Saudi: Habib Rizieq Adalah Korban

Di hadapan tokoh-tokoh PP Muhammadiyah, Osama berulang kali mengatakan Habib Rizieq sebagai orang baik. "Seandainya beliau itu orang jahat maka dia sudah ditahan."

Selasa, 13/11/2018 16:53 0

Close