... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

In Depth

Mendaras (Hari) Pahlawan

Oleh: Beggy Rizkiansyah, pegiat Jejak Islam untuk Bangsa, kolumnis Kiblat.net

“Slogan kita tetap sama: Merdeka atau Mati. Dan kita tahu, Saudara-saudara, bahwa kemenangan akan ada di pihak kita, karena Tuhan ada di sisi yang benar. Percayalah saudara-saudara, bahwa Tuhan akan melindungi kita semua. Allahu Akbar..Allahu akbar..!

KIBLAT.NET – Pekik takbir itu terasa menghujam di hati meski kita dengar berulang-ulang rekamannya. Rekaman pidato Bung Tomo pada pertempuran 10 November itu bisa kita dengar di dunia maya. Namun di dunia maya pula, kini pekik takbir dilecehkan sebagian orang. Take Beer, atau Tuak Bir. Penistaan itu dengan ringan dilontarkan di dunia maya. Dan semoga Allah melindungi kita dari kejahatan luar biasa semacam itu.

Pekik takbir padahal menjadi satu pekik yang menemani sepanjang perjalanan berjuang di tanah air. Seperti yang diingatkan Buya Hamka dalam sidang Konstituante yang dimulai sejak tahun 1957, ketika memperjuangkan Islam sebagai Dasar Negara. Bahwa kalimat takbir bukan saja mengandung pancasila, tetapi segala sila,

“Allahu Akbar yang tertulis dalam dada saudara itulah sekarang yang kami mohon direalisasikan. Allahu Akbar yang di dalamnya terkandung segala macam sila, baik panca, atau sapta, atau ika, atau dasa, Allahu Akbar yang menjadi pertahanan saudara ketika saudara pernah menghadapi bahaya besar! Allahu Akbar yang menjadi pertahanan saudara disaat maut telah melayang-layang di atas kepala saudara. Allahu Akbar, yang kepada-Nya putra saudara yang tercinta saudara serahkan! Allahu Akbar yang dengan dia saudara sambut waktu lahir dari perut ibu.” (H. Abdul Malik Karim Amrullah: 2008)

Perlawanan para pejuang di Surabaya pada 10 November berakar pula dari Resolusi Jihad yang dicetuskan KH Hasyim Asy’ari. Resolusi itu bukan saja membuat umat berbondong-bondong memasuki Surabaya, tetapi juga membanjiri Surabaya dengan tumpahan darah mereka. Maka tak mungkin kita ceraikan Hari Pahlawan 10 November dari pekik takbir dan perjuangan umat Islam.

Konsepsi Pahlawan memang bukan satu bagian dari ajaran Islam. Secara fiqih pun nampaknya ini adalah persoalan yang bersifat mubah. Meski demikian, konsep ini berdampak pada masyarakat di Indonesia. Kata Pahlawan sendiri berasal dari kata ‘Pahla’ dan ‘wan.’Pahla berasal dari bahasa sansekerta yang berarti buah. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti orang yang menonjol karena keberanian dan pengorbanannya dalam membela kebenaran; pejuang yang gagah berani.

Penisbatan kepahlawanan memang berarti pengakuan baik oleh orang-orang yang hidup sezaman maupun yang tidak. Pengakuan kepada satu sosok yang dianggap pahlawan berarti memberi pemaknaan terhadap perbuatan sosok tersebut. Pemaknaan tersebut belum tentu sama apa yang diniatkan Sang Pahlawan. Dalam konsep negara-bangsa, sosok pahlawan dianggap berjuang untuk negara-bangsa tersebut, meski bisa saja pahlawan tersebut hidup jauh sebelum adanya konsep negara-bangsa.

Sosok Pangeran Diponegoro misalnya. Ia adalah satu pejuang Islam yang melakukan perlawanan di Tanah Jawa untuk mendirikan Negara Islam di tanah Jawa. Namun generasi-generasi setelahnya melihat Pangeran Diponegoro sebagai satu pejuang bangsa, ketimbang pejuang negara Islam.

Hal ini dapat kita lihat dalam satu terbitan Surat Kabar Persatoean Indonesia, yang terbit pada 3 dan 10 Februari 1932. Surat Kabar yang diasuh oleh tokoh PNI, Mr. Soenarjo tersebut memberi pemaknaan kepada sosok Pangeran Diponegoro:

BACA JUGA  Terungkap, Inilah Penyebab Gagalnya Teleconference Habib Rizieq Saat Reuni 212

“Sedikit hari lagi, tanggal 8 Febroeari 1932, seloeroeh bangsa Indonesia siap memoeliakan pahlawan jang besar: Dipo Negoro. Pahlawan ini jalah seorang dari pada poetra Indonesia jang bekerdja dalam abad jang ke-19 oentoek kemerdekaan bangsa Indonesia.

…Mereka bekerdja menggerakkan Rakjat. soepaja melakoekan kewadjiban: kewadjiban bangsa jang setinggi-tingginja tidak lain-tidak-boekan daripada kemerdekaan bangsa.”

Perjuangan Diponegoro

Perjuangan Diponegoro

Bagi “Si Merdeka”, penulis dalam artikel surat kabar tersebut, perjuangan Diponegoro adalah perjuangan untuk kemerdekaan Bangsa Indonesia. Kita sama-sama memahami, saat itu belum ada nama Indonesia, pun perjuangan Sang Pangeran adalah menegakkan Islam di tanah Jawa. Oleh sebab itu penisbatan pahlawan tak dapat mengelakkan dimensi politiknya.

Dimensi politik dari penisbatan pahlawan ini kemudian diresmikan dalam satu kerangka negara-bangsa bernama “Pahlawan Nasional.” Penisbatan resmi pahlawan Nasional dimulai oleh Presiden Soekarno pada tahun 1959. Ia menyusun daftar resmi “Pahlawan Naisonal.” (Denys Lombard: 2005)

Abdul Muis, dan Soerjopranoto, keduanya tokoh Sarekat Islam, dan Ki Hajar Dewantara menjadi orang-orang pertama yang masuk ke dalam daftar resmi Pahlawan Nasional. Ada 33 nama yang dikukuhkan sebagai Pahlawan Nasional selama masa Soekarno sejak 1959-1965. Menurut Sejarawan Denys Lombard dalam Nusa Jawa Silang Budayaperesmian gelar Pahlawan Nasional tak lepas dari upaya Soekarno memperkuat ideologi persatuan. (Denys Lombard: 2005)

Dari tokoh-tokoh yang dipilih Soekarno dan Soeharto, setidaknya dapat ditarik kesimpulan bahwa penisbatan ini memiliki beberapa kriteria, diantaranya; tokoh tersebut harus memiiki prestasi dibidang militer atau sipil. Tokoh tersebut, kecuali dia telah wafat, juga harus membuktikan bahwa hidupnya hingga akhir hayat tak tercela, termasuk loyal pada rezim yang berkuasa. (Klaus H. Schreiner: 2002)

Soekarno sendiri memilih banyak tokoh yang hidup di paruh pertama abad ke 20. Mereka adalah para pemimpin perjuangan anti penjajahan, termasuk pergerakan nasionalis awal abad ke-20 atau terkenal ketika masa perang kemerdekaan. Meski demikian tokoh-tokoh yang dipilih Soekarno lebih banyak berasal dari Jawa. (Klaus H. Schreiner: 2002)

Sebaliknya, Soeharto memilih tokoh-tokoh yang lebih beragam latar belakangnya. Meski ada yang patut dipertanyakan, seperti masuknya nama istrinya sendiri, yaitu Ibu Tien Soeharto. (Klaus H. Schreiner: 2002) Soeharto juga tidak memasukkan nama Bung Tomo yang kritis pada diirinya.  Nama Bung Tomo baru menjadi Pahlawan Nasional pada tahun 2008.

Di masa kini, meski menurut Undang-undang pemberian gelar dan tanda jasa adalah hak prerogatif presiden, namun ada beberapa proses yang harus dilewati untuk pengajuan seorang pahlawan nasional. UU No. 20/2009 mengatur hak prerogatif tersebut. Tahapannya mulai dari pengajuan di pemerintah kota, provinsi hingga ke pusat (Kementerian Sosial). Tim Independen kementerian Sosial kemudian kaan menilai calon yang memenuhi syarat administratif. Jika lolos, nama calon Pahlawan Nasional tersebut kemudian diajukan kepada Presiden melalui Dewan Gelar dan Tanda Jasa.

Di sinilah berlaku hak prerogatif Presiden. Menurut Lukman Hakiem, seorang tokoh yang terlibat dalam pengajuan beberapa tokoh Islam seperti Moh. Natsir, K.H.A Moezakkir hingga Kasman Singodimedjo sebagai Pahlawan Nasional, pengukuhan Pahlawan Nasional adalah pertemuan antara aspirasi masyarakat dengan hak prerogatif presiden.

BACA JUGA  Puluhan Tahun Berdiri, Sekolah Bahasa Arab di China Bakal Ditutup

Penisbatan Pahlawan Nasional menjadi penting demi menciptakan satu ingatan kolektif dalam masyarakat. Menurut Alexi Gugushvili dalam Collective Memory and Reputational Politics of National Heroes and Villains,

“Politik ingatan memainkan peranan penting dalam mengevaluasi dan mengingat figur tertentu, mereka bisa direhabilitasi atau difitnah, atau keduanya, sebagai bagian dari proses kontestasi.” (Alexi Gugushvili, dkk : 2017)

Figur Pahlawan yang dikonstruksikan oleh politik ingatan kemudian menciptakan satu figur pahlawan kepada individu tertentu, mengaitkan mereka pada satu sikap politik, dan juga menggambarkan satu narasi yang menjadi identitas nasional. (Alexi Gugushvili, dkk : 2017)

Narasi nasional ini yang kemudian membantu membentuk ingatan historis dari masyarakat dan dibubuhkan dalam sastra, adat, politik dan cara berpikir masyrakat tersebut. Pembangunan figur sejarah adalah satu taktik yang lazim untuk membangun identitas nasional.

Maka pahlawan dapat menjadi suatu bagian dari identitas nasional. Figur historis ini kemudian digaungkan kemana-mana. Termasuk lewat monumen, foto dan nama jalan. Bisa jadi figur ini kemudian menjadi narasi nasional yang dominan, dan akhirnya menjadi peranan penting dalam membentuk simbol dan identitas nasional, begitu pula sikap dan praktek politik. (Alexi Gugushvili, dkk : 2017)

ilustrasi

Kehadiran para tokoh Islam yang menjadi Pahlawan Nasional harusnya mewarnai corak identitas nasional Indonesia. Ada puluhan para pahlawan nasional yang sebelum era modern melakukan jihad fi sabilillah, berjuang untuk cita-cita Islam seperti Pangeran Diponegoro, Tuanku Imam Bonjol, Tjut Nyak Dien, hingga era modern yang menampilkan nama Moh. Natsir, Sjafruddin Prawiranegara, Haji Rasul, dan lainnya.

Setumpuk nama itu tentu bukan sekedar pemanis dalam membentuk identitas Indonesia. Malah, Islam sebagai ideologi atau pandangan hidup melandasi perjuangan mereka. Oleh sebab itu menjadi absurd ketika unsur Islam dipisahkan dari pemaknaan identitas nasional. Jihad fi Sabilillah yang melandasi perjuangan Pangeran Diponegoro, Tuanku Imam Bonjol, politik dan cita-cita Islam yang diperjuangkan Moh. Natsir, Mr. Kasman Singodimedjo, dan lainnya bukanlah hal tabu dalam wacana nasional. Tak mungkin kita memisahkan hal tersebut dari para tokoh Islam. Sehingga mustahil pula menceraikan hal-hal tesebut mewarnai identitas nasional.

Setumpuk nama itu tentu bukan sekedar pemanis dalam membentuk identitas Indonesia. Malah, Islam sebagai ideologi atau pandangan hidup melandasi perjuangan mereka. Oleh sebab itu menjadi absurd ketika unsur Islam dipisahkan dari pemaknaan identitas nasional.

Menjadi janggal kemudian ketika saat ini, berbagai gerakan, aspirasi, nilai-nilai, pandangan hidup, ideologi dan cita-cita umat Islam dianggap sebagai satu subversi. Direndahkan sebagai satu bentuk intoleransi. Dicap sebagai satu narasi yang bertentangan dengan Indonesia.

Mengenang kembali Hari Pahlawan bukan sekedar selebrasi tahunan dan simbolik belaka, tetapi mencerna makna yang melandasi para pahlawan tersebut. Atas landasan apa mereka berjuang khususnya para pahlawan Islam? Apalagi jika bukan karena ajaran agamanya. Dan oleh karenanya, menjadi mustahil menceraikan identitas Indonesia dari Islam. Sama mustahilnya dengan memisahkan susu dari putihnya.

Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Rusia

Hadiri Konferensi Perdamaian di Moskow, Taliban Tetap pada Tuntutan Awal

Dalam pertemuan tersebut, Taliban kembali menegaskan tidak akan bernegosiasi dengan pemerintah Kabul dan hanya bernegosiasi dengan AS.

Sabtu, 10/11/2018 14:27 0

Suriah

Militer Assad Serang Wilayah Oposisi di Hama

Lembaga yang bermarkas di Inggris itu menunjukkan, pertempuran meletus setelah milisi pro rezim menyerang lokasi oposisi di dekat desa Halfia pada Kamis malam. Sejumlah lokasi pejuang diduduki.

Sabtu, 10/11/2018 13:53 0

Indonesia

HNW: Pemasang Bendera Tauhid di Rumah Habib Rizieq Pasti Pengecut

HNW: Pemasang Bendera Tauhid di Rumah Habib Rizieq Pasti Pengecut

Sabtu, 10/11/2018 12:34 0

Indonesia

Dianggap Hina Prabowo, Bupati Boyolali Dilaporkan ke Polisi

Tim Advokasi Reaksi Cepat (TARC) melaporkan Bupati Boyolalai Seno Samodro ke Polres Boyolali, atas dugaan penghinaan terhadap Prabowo Subianto.

Sabtu, 10/11/2018 10:51 0

Indonesia

Habib Rizieq ke Kapitra: Anda Bukan Lagi Pengacara Saya

Imam Besar Front Pembela Islam (FPI), Habib Rizieq Syihab menegaskan bahwa Kapitra Ampera bukan lagi pengacaranya

Jum'at, 09/11/2018 23:04 0

Indonesia

Soal Kasus Bendera di Saudi, Habib Rizieq: KBRI Jangan Pencitraan yang Tidak Perlu

ia menyayangkan dengan sikap Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI). Menurutnya, KBRI telah memberikan siaran pers soal kasusnya yang terlalu didramatisir.

Jum'at, 09/11/2018 22:52 0

Indonesia

Begini Keterangan Resmi Habib Rizieq Syihab Soal Kasus Bendera di Saudi

Imam Besar Front Pembela Islam (FPI), Habib Rizieq Syihab akhirnya memberikan keterangan soal kasus bendera di Saudi

Jum'at, 09/11/2018 22:39 1

Analisis

Memutar Balikkan Fakta Suriah, Mendistorsi Narasi Khilafah

Memutar Balikkan Fakta Suriah, Mendistorsi Narasi Khilafah

Jum'at, 09/11/2018 20:38 0

Indonesia

Pasca Pertemuan Wiranto-Ormas Islam, Proses Hukum Pembakar Bendera Tauhid Harus Berlanjut

Kamil menekankan bahwa bukan berarti hasil pertemuan tersebut lantas menghentikan proses hukum terhadap pembakar bendera

Jum'at, 09/11/2018 19:57 0

Indonesia

Wali Kota Bogor Sepakat Buat Regulasi Untuk Berantas LGBT

Wali Kota Bogor Sepakat Buat Regulasi Untuk Berantas LGBT

Jum'at, 09/11/2018 19:24 0

Close