... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

In Depth

Mualaf dan Hijrah di Bawah Naungan Infotainment

Foto: Berita infotainment tentang masuk islamnya Roger Danuarta.

Oleh: Beggy Rizkiansyah, anggota Jurnalis Islam Bersatu (JITU)

KIBLAT.NET – Anda mungkin belum mendengar kabar ini, tapi sejumlah situs berita luar negeri gencar memberitakan: Shuhada Davitt murtad lagi karena tak tahu ada larangan minum alkohol dan memakan daging babi dalam Islam. Jika Anda bingung siapa Shuhada Davitt, nama Sinead O’Connor mungkin lebih familiar. Penyanyi tersebut memang kontroversial. Ia pernah merobek foto Paus pada tahun 1992 di acara televisi, sebagai protes pelecehan seks terhadap anak-anak dalam gereja Katolik. Namun kabar Shuhada keluar dari Islam setelah beberapa hari sebelumnya memeluk agama Islam adalah berita palsu alias ngawur.

Kabar ngawur tersebut nyatanya berasal situs satir Irlandia. Situs tersebut memang membuat berita-berita palsu, satir, komedi dan mengelabui. “All our stories (are made up and compeletly untrue. If you read something on here you’re not supposed to believe it.” Demikian tegas situs Irelanoncraic.comtersebut.

Baca juga: Situs Satir Bilang Sinead O’Connor Murtad Lalu Masuk Hindu

Isu mualaf memang satu isu yang kerap digemari. Bagi seorang Muslim, mendengar satu lagi bertambahnya umat Islam memang membahagiakan. Terlebih jika mualaf tersebut menerima kembali Islam melalui satu proses pergulatan yang tak mudah. Ada hikmah dan pelajaran yang dapat ditarik dari kisah-kisah para mualaf.

Meski demikian, seringkali sebagian kita juga tampak mudah terbawa informasi-informasi tak jelas soal masuknya figur tertentu menjadi mualaf. Mulai dari Rowan “Mr. Bean” Atkinson, hingga rapper Snopp Dogg. Kita tampaknya seringkali mudah percaya kabar-kabar tak jelas dan mudah terbawa ketika isu mualaf mulai menyentuh kita. Mengedepankan emosi ketimbang rasionalitas dalam membaca berita-berita seperti ini.

Emosi memang lebih banyak berperan di dunia maya. Kita lebih menjadi terbuka, berani dan seringkali terbawa emosi. Hal ini dinyatakan oleh hasil penelitian yang menyatakan bahwa konten yang menggugah emosi membuat orang lebih mudah untuk menyebarkannya. Dan konten emosional ini dapat terus menyebar secara viral karena efek emosi yang menular (emotional contagion).(E. Guadagno, et al: 2013)

Selain faktor emosi, satu hal lain adalah faktor figuritas. Meski tak ada korelasi antara figur seseorang dengan hidayah dari Allah untuk menerima Islam, nyatanya faktor keterkenalan figur ini tetap tak terhindarkan di mata media.

Media mengekspos figur tertentu yang memeluk Islam. Exposure(paparan) kerap diberitakan berlebihkan oleh media. Figur yang seringkali diberitakan utamanya adalah selebriti. Tentu saja status selebriti dunia hiburan menjadi faktor penentunya. Bukan perjalanan menuju hidayah atau alasan di balik perpindahan agama yang menjadi penentunya.

BACA JUGA  Kenapa Kasus HRS di Saudi Dinilai Operasi Intelijen? Begini Penjelasan Pengacara

Salah satu contohnya adalah berita selebriti Roger Danuarta yang memeluk agama Islam. Dalam pemberitaan Detik.com misalnya. Detik.com memberi satu porsi khusus berjudul “Heboh Roger Danuarta Muallaf” dalam situsnya. Pemberitaan Roger Danuarta dan agama Islamnya dikemas dalam berita-berita seperti Roger Danuarta dan isu pacarnya yang muslim, Roger Danuarta meminta izin ibunya, reaksi keluarga Roger dan lainnya. Ada beberapa berita seputar di balik alasan Roger memilih Islam. Namun secara keseluruhan porsi pemberitaan tetap mengorbit di pemberitaan ala infotainment, yaitu gosip dan konflik.

Pemberitaan “mualaf” yang berfokus pada figuritas ini berdampak pada persepsi kita tentang mualaf tersebut. Figur lebih penting ketimbang hikmahnya. Hal ini tampaknya yang menjadi acuan utama pemberitaan infotainment. Prominence (keterkenalan) dalam jurnalisme adalah lazim. Namun jika pemberitaan hanya bergantung pada keterkenalan, menafikan significance (kepentingan) maka inilah yang terjadi pada pemberitaan muallaf ala infotainment. Atas nama prominence, maka segala aspek dunia artis menjadi layak diberitakan. (Ignatius Haryanto: 2006)

Menurut Ignatius Haryanto (2006), jurnalisme ala infoitainment adalah journalisme omongan (talking journalism) dan jurnalisme bergerombol (pack journalism). Jurnalisme omongan hanya mengutip si A, si B, si C dan seterusnya. Seringkali A dihadapkan kepada B. B kepada A. Mirip adu domba. Karena memang konflik yang membuat infotainment tetap membara. Jurnalisme infotainment juga jurnalisme bergerombol. Sesama peliput saling bergerombol, bermuara pada sumber yang sama. Tak ada kekhasan dalam pemberitaan. Itu sebabnya dalam pemberitaan mualaf sekalipun, berita yang diangkat banyak yang serupa.

Kabar selebriti menjadi mualaf tentu kabar gembira. Namun ketika kita berfokus pada figur, maka seakan-akan dakwah Islam akan menjadi lebih baik jika ada selebriti yang memeluk agama Islam. Ignatius Haryanto dalam Aku Selebriti Maka Aku Ada (2006) menyebutkan bahwa, “…para pengelola infotainment seolah ingin mengatakan bahwa para artis dan kehidupannya yang paling penting.”

Padahal menjadi mualaf (memeluk agama Islam) bagi siapa pun adalah satu tahapan. Tahap berikutnya tentu saja membantunya dalam belajar dan bersama mengamalkan Islam. Kehadiran selebriti untuk mengenalkan (dakwah) Islam tentu positif, namun paparan pemberitaan berlebihan bukan tak mungkin malah mengganggu proses sosok tersebut.

Ada banyak proses yang perlu dijalani seseorang yang baru memeluk Islam yang perlu dibersamai ketimbang memberi sorot kamera berlebihan padanya. Kita tentu dapat menarik hikmah di balik penetapan mualaf sebagai golongan yang berhak menerima zakat. Sebagai pribadi yang baru memeluk agama Islam, mualaf dianggap sebagai pribadi yang perlu dibantu, dan dikuatkan. Bukan diterpa berbagai macam pemberitaan yang bermuara pada gosip dan konflik.

BACA JUGA  Sanksi AS Tidak Ditujukan untuk Menjatuhkan Pemerintah Iran

Kasus yang sama juga terjadi pada pemberitaan seputar artis yang hijrah. Proses artis untuk menjadi lebih baik dan meninggalkan keburukan yang mereka pernah lakukan (bertaubat), menjadi seksi bagi media. Tentu saja penyebabnya bukan proses atau keputusan berhijrah itu sendiri, tetapi figur selebriti alias keterkenalan (prominence).

Fenomena Caesar.

Bagi media infotainment, makna hijrah direduksi sekedar perubahan penampilan sang selebriti, tanpa membuat perubahan pada pemberitaan. Artis hijrah tetap sama diperlakukan dengan artis lainnya. Diekspos penampilannya, digunjingi kehidupan pribadinya. Detik.com misalnya menggosipkan kehamilan seorang public figure bercadar atau mengekspose kecantikan artis yang Detik sebut baru berhijrah.

Repotnya, di benak sebagian masyarakat, pemaknaan kata hijrah oleh media dapat dianggap sebagai satu kebenaran. Kata hijrah yang direduksi oleh media membuat pembaca mungkin saja menilai keterkenalan adalah faktor utama. Jilbab, gamis atau pengalaman berhijrah baru berikutnya. Artinya terkenal menjadi tujuan yang dipandang baik oleh pembaca.

“Prominence di atas segalanya. Tak heran jika orang berlomba-lomba jadi prominent people, alias menjadi selebriti, tanpa mempertimbangkan yang prominent tadi memiliki bobot atau tidak.”(Ignatius Heryanto: 2006)

Bobot ini yang juga menjadi kata kunci yang dilupakan masyarakat akibat efek pemberitaan media. Tanpa mempertimbangkan bobot (kemampuan), masyarakat akhirnya mendudukkan keterkenalan sebagai parameter dakwah. Kadang kala, artis atau selebriti yang baru hijrah diberi sorotan terus menerus oleh masyarakat. Ditempatkan sebagai ujung tombak dakwah. “Dipaksa” di depan panggung dakwah, tanpa mempertimbangkan bobot selebriti tersebut. Tanpa disadari masyarakat sedang menjerumuskan sosok selebriti yang baru saja hijrah tadi. Membuatnya berbicara melampaui kapasitasnya.

Semua persoalan ini bermuara pada praktek lancang media yang menyulap makna mualaf atau hijrah dalam mesin-mesin yang mencetak agama menjadi komoditas semata. Motif media, terlebih media sekular tentu saja bukan hikmah atau perjalanan menuju hidayah mualaf atau pribadi yang hijrah tadi, tetapi motif ekonomi yang mendulang iklan atau klik.

Itu sebabnya berbagai aspek kehidupan yang memungkinkan munculnya sensasi atau konflik menjadi acuan pemberitaan. Sehingga istilah-istilah agama semacam mualaf dan hijrah hanyalah bahan baku untuk konsumsi publik belaka.

 

 

Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

One comment on “Mualaf dan Hijrah di Bawah Naungan Infotainment”

  1. Pram

    Isi artikel membingungkan… Terlalu panjang dan tidak ada point2 yg menjadik pokok pembahasan.

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Video Kajian

Menjadi Rahmatan Lil Alamin dengan Menegakkan Kalimat Tauhid

Menegakkan Kalimat Tauhid Adalah Misi Setiap Rasul

Jum'at, 02/11/2018 20:10 0

Indonesia

Pemerintah Diminta Tegakkan UU Ormas dalam Kasus Pembakaran Bendera Tauhid

Pemerintah Diminta Tegakkan UU Ormas dalam Kasus Pembakaran Bendera Tauhid

Jum'at, 02/11/2018 19:53 0

Indonesia

Kasus Pembakaran Bendera Tauhid Akan Diselesaikan Melalui Pertemuan Ormas Islam

Untuk menyelesaikan kasus pembakaran bendera tauhid Menko Polhukam akan menginisiasi pertemuan antar ormas Islam

Jum'at, 02/11/2018 19:34 0

Indonesia

Tuntutan Aksi Bela Tauhid: Usut Aktor Intelektual Pembakaran Bendera Tauhid

Aparat Didesak Ungkap Aktor Intelektual Pembakaran Bendera Tauhid

Jum'at, 02/11/2018 18:48 0

Foto

Foto Aksi Bela Tauhid II di Jakarta

Aksi Bela Tauhid II di Jakarta

Jum'at, 02/11/2018 17:11 0

Indonesia

Delegasi Aksi Bela Tauhid II Bertemu Wiranto

Delegasi Aksi Bela Tauhid II Bertemu Wiranto

Jum'at, 02/11/2018 16:40 0

Indonesia

UBN dan Bupati Sigi Resmikan Huntara “Berkah Berjamaah” AQL Peduli

Bupati Sigi Muhammad Irwan Lapata menghaturkan banyak terima kasih atas kepedulian AQL untuk menguatkan masyarakat Sigi. Sehingga Sigi bisa kembali bangkit dari musibah gempa.

Jum'at, 02/11/2018 16:01 0

Indonesia

Tauhid Adalah Menjalankan Seluruh Ketentuan Allah

Tauhid adalah Menjalankan Seluruh Ketentuan Allah

Jum'at, 02/11/2018 15:50 0

Indonesia

Kemenag Andalkan Penyuluh Agama Tanggulangi Narkoba, Pornografi, dan Radikalisme

Kemenag Andalkan Penyuluh Agama Tanggulangi Narkoba, Pornografi, dan Radikalisme

Jum'at, 02/11/2018 14:21 0

Analisis

Mengapa Al-Qaidah Menargetkan Menara Kembar WTC?

Serangan 11 September merupakan momen yang menentukan dalam sejarah perang dan terorisme. Di samping itu, 11/9 ini merupakan serangan pertama yang direncanakan dan dieksekusikan dengan memanfaatkan sistem koneksi digital.

Jum'at, 02/11/2018 14:20 1

Close