... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

In Depth

Mengapa Al-Qaidah Menargetkan Menara Kembar WTC?

Foto: Serangan di gedung World Trade Center (WTC)

KIBLAT.NET – Tahun ini menandai peringatan 17 tahun serangan 11 September, sebuah periode waktu yang menyisakan sejumlah fenomena pahit. Hari itu rasanya belum cukup untuk disebut sebagai sebuah memori, belum cukup juga untuk dianggap sebagai sejarah. Berbagai peristiwa lain setelahnya selama rentang 17 tahun, seperti: perang di Afghanistan, Iraq, termasuk kehadiran smartphone dan media sosial, telah mentransformasi hakekat dan maknanya.

Serangan 11 September merupakan momen yang menentukan dalam sejarah perang dan terorisme. Di samping itu, 11/9 ini merupakan serangan pertama yang direncanakan dan dieksekusikan dengan memanfaatkan sistem koneksi digital. Koneksi digital itu adalah akses ke internet. Analogi terdekatnya, sebagaimana insiden ledakan pesawat ulang-alik Challanger tahun 1986 yang kemudian beritanya tersebar melalui TV kabel. Sebuah fenomena yang peristiwanya dijelaskan melalui kehadiran sesuatu tentang bagaimana sesuatu itu terkait.

Di waktu yang sama, bisa dimaknai juga sebagai sebuah aksi perang yang terjadi di tengah perkembangan teknologi yang mampu membuat sebuah berita itu tersebar secara masif. Seorang ilmuwan Kanada, Marshall McLuhan, pernah memprediksi bahwa Perang Dunia III merupakan perang informasi secara gerilya (baca: asimetris) antar pihak-pihak yang bertikai yang tidak lagi bisa dibedakan antara sipil dan militer. Dan, peristiwa 11 September merupakan permulaannya.

“Lawrance of Arabia” Mengubah Definisi Kemenangan

T.E. Lawrence atau dikenal juga sebagai Lawrence of Arabia yang telah mengubah dirinya menjadi ikon pop-culture, merupakan inovator terbesar dalam perang informasi gerilya di abad ke-20. Kata-katanya yang terkenal adalah, “Media cetak adalah senjata terkuat bagi komandan pasukan armor modern.” Dalam otobiografinya berjudul “Tujuh Pilar Kebijaksanaan” memberi gambaran jelas dan detil bagaimana dirinya berproses menjadi figur seperti itu.

Ketika Lawrance sedang sakit di sebuah kamp, di dalam tendanya yang panas di bawah terik matahari, saat itulah ia mulai berfikir bahwa Carl von Clausewitz dan sejumlah pemikir lainnya di bidang ahli perang di abad permulaan akan menganggap bahwa perang yang telah ia kobarkan ini tidak dapat dimenangkan. Alasannya, pasukan Arab tidak dapat menghancurkan musuh, tidak mampu merebut wilayah luas maupun menjatuhkan moril musuh mereka, sebagaimana para jenderal perang yang hebat di era sebelumnya mendefinisikan apa itu kemenangan.

Pendapat para jenderal itu mulai mengusik fikirannya: Bagaimana jika ternyata definisi mereka itu semuanya salah? Bagaimana seandainya, kemenangan itu bukan sebagaimana pengertiannya secara tradisional, karena definisi kemenangan telah berubah? “Perlahan saya renungkan, menurut saya bahwa kita telah meraih kemenangan dalam perang Hijaz,” tulis Lawrence. “Sekali lagi saya mengusir lalat yang berulangkali hinggap di wajahku, saya senang setelah tahu bahwa perang Hijaz telah kita menangkan, dan perang itu sebenarnya telah berakhir sejak kita merebut Wejh.”

Bagi Lawrence tidak perlu menang secara aktual di lapangan. Ia hanya perlu untuk memutuskan bahwa ia telah menang, dan setelah itu mencoba meyakinkan kepada dunia. Perjuangannya adalah mengubah definisi tentang kemenangan, mengubah arti dan makna akan sebuah peristiwa, dan bukan semata-mata berdasarkan pada kejadian dalam peristiwa itu sendiri.

Istilah yang dipakai Lawrence dalam perang semantik atau semacam “perang kata-kata” ini merupakan dietetik (gizi, red.), yaitu sebuah frase yang diperkenalkan pertama kali oleh filosof Yunani Xenophon. Ini merupakan sebuah pertempuran tentang apa yang harus diceritakan dan disampaikan kepada publik, dan untuk menyadarkan mereka dengan cara yang keluar dari kebiasan bagaimana sebuah cerita atau peristiwa itu dipahami.

Perang Sementik, Perang Narasi

Dalam perang semantik ini, kita harus mengelola fikiran pasukan agar selaras dan sesuai dengan langkah dan fikiran para jenderal mereka dalam hal kehati-hatian, formalitas, dan sebagainya. Bukan hanya fikiran pasukan kita sendiri yang harus dikelola, meskipun tentu saja secara alamiah itu menjadi prioritas pertama. Kita juga harus mengelola fikiran musuh sejauh yang kita bisa lakukan, kemudian hati dan fikiran negara-negara pendukung kita yang tidak ikut pertempuran secara langsung karena lebih dari setengah pertempuran dipengaruhi oleh mereka yang berada di garis belakang. Berikutnya, mengelola fikiran negara-negara pendukung musuh yang menunggu hasil akhir pertempuran, negara-negara atau pihak netral, kelompok ring berikutnya, dan seterusnya.

Dietetik adalah perluasan dari perang gerilya. Dalam konteks ini, dietetik digunakan oleh pihak lemah melawan musuh yang lebih kuat dengan menggunakan jaringan komunikasi untuk menetralisir capaian musuh. Sabotase jalur komunikasi bisa mengubah sebuah kekuatan superpower yang memiliki pasukan militer terkuat di dunia menjadi pihak yang relatif rentan dan lemah di setiap tempat yang terpapar jalur komunikasi tersebut. Sabotase jenis ini merupakan kemampuan menyampaikan pesan, informasi, dan material lainnya melampaui jarak yang ada. Definisi ini berbeda dengan sabotase jalur komunikasi biasa yang hanya  menyasar sisi perimeter musuh. Dietetik mensabotase jaringan komunkasi di pusat/episentrum musuh yang menjadi sumber inti dari makna pesan informasi mereka.

BACA JUGA  Memutar Balikkan Fakta Suriah, Mendistorsi Narasi Khilafah

Usamah bin Ladin memahami betul soal dietetik ini baik secara naluriah maupun material eksplisit. “Begitu jelas bahwa perang media di abad ini menjadi salah satu metoda paling kuat dan efektif,” kata Usamah kepada Mullah Muhammad Umar dalam sebuah suratnya di bulan Juni 2002. “Bahkan, rasionya bisa mencapai 90 persen dari total persiapan sebuah pertempuran,” lanjut Usamah. Inilah medan tempur yang bersifat kultural, yaitu sebuah konflik yang berkaitan dengan narasi-narasi.

Perang Dietetikal dan Smartphone

Efektifitas dan kekuatan perang dietetikal bertambah seiring dengan berkembangnya alat media komunikasi massa. Saat ini kita sedang berada di era puncak berkembangnya komunikasi massa dalam sejarah manusia. Media sosial dan smartphone yang dilengkapi dengan kamera belum banyak beredar di tahun 2001. Namun berita di TV kabel sebelumnya sudah lama menghapus perbedaan antara berita dengan hiburan. Acara realityshow di televisi sebagai sebuah genre program juga baru diperkenalkan. Dan internet merupakan perkembangan terbaru yang sudah menjadi hal biasa di dalam rumah-rumah warga dunia dan Amerika.

Serangan 11/9 merupakan peristiwa pertama yang berita dan kejadiannya bisa disaksikan secara “real time” dan simultan oleh setiap warga dunia. Tidak berpengaruh seberapa jauh dan terpencilnya suatu tempat dari jantung Manhattan atau Pentagon karena adanya jaringan komunikasi yang super instan. Anda seolah ada di kejadian 11/9 tersebut seandainya saat itu gambar anda ada di layar. Dan memang, peristiwa 11/9 tidak bisa dipisahkan dari kegiatan rekam-merekam atau dokumentasi.

Front (baca: medan tempur, red.) kultural yang diinisiasi oleh serangan 11/9 terus meluas eskalasinya. Demikian juga, jangka masa konflik di front-front tersebut hampir tidak bisa diperkirakan akan berlangsung secara cepat. Pada tahun 2015, Jeff Giesea mempublikasikan tulisannya yang terkenal tentang perang memetika di jurnal NATO, Defence Strategic Communications.

Meskipun pengaruhnya besar, namun bagian inti penting dalam konten tulisan tersebut belum ditangani secara serius, seperti isu-isu: teknik disinformasi Rusia di Ukraina, Rusia, dan AS, termasuk upaya Rusia mempengaruhi sejumlah elemen di tim kampanye Trump dalam pilpres di AS lalu. Pabrik meme Rusia telah berhasil mencapai tujuan tertinggi kebijakan luar negeri negaranya, meskipun dengan biaya minimum dan tidak ditemukan adanya tindakan kekerasan secara langsung.

Tujuan tertinggi tersebut adalah jatuhnya pengaruh AS secara tajam di seluruh dunia, mendorong aliansi dan koalisi tata dunia liberal pasca PD II ke dalam sebuah resiko/bahaya, dan penghinaan terhadap ide-gagasan tentang hak asasi manusia. Ironisnya, aksi “silent” Rusia ini tidak menimbulkan respon apapun sebagai tindakan balasan dari Amerika.

Memetika (transliterasi dari “memetic”) diartikan semacam perpindahan informasi di masyarakat. Ide dasarnya adalah untuk menyamakan pertukaran informasi antara orang dengan materi genetik. Perang Memetika hanyalah merupakan elemen terkini yang menjadi bagian dari upaya perjuangan dietetikal yang terus berlangsung hingga saat ini sejak kehadiran internet. Medan pertempuran kultural ini ada dan melekat di setiap bagian jaringan: televisi, media, perfilman, musik, acara keagamaan, iklan, dan jagad medsos. Apapun yang dianggap bisa memberi arti dan pengaruh adalah medan pertempuran.

Perang Jenis Baru yang Membingungkan

Dalam konteks perang dan pertempuran, dietetik adalah pengaturan ulang cara berfikir musuh dengan pendekatan cara pandang dan cara mereka mengkonsumsi pesan/informasi. Ini adalah sebuah jenis perang terbaru dan sangat membingungkan. Kebingungan memang menjadi tujuan. Masalah assessment/penilaian menjadi hal yang substansial. Garis batas antara militer dan non-militer menjadi tidak jelas, dan front kultural ini terlihat sangat unik dan ganjil, berada di bawah gengsi militer, dan secara keseluruhan berada di luar gambaran tentang dunia tentara. Perang memetika, termasuk perang-perang budaya populer, adalah perang yang unik dan ganjil. Dan, keunikan dan keganjilannya itu tidak mengubah efektifitas perang itu sendiri. Kita bisa membayangkan bagaimana seorang bintangreality-show di televisi dengan jangkauan siaran yang luas telah mampu membantu capaian target kebijakan luar negeri Rusia.

BACA JUGA  Memutar Balikkan Fakta Suriah, Mendistorsi Narasi Khilafah

Bahkan jika kita melihat peristiwa 11/9 sebagai sebuah peristiwa kultural, signifikansinya akan banyak kita temukan ada pada peristiwa itu sendiri. Peristiwa 11/9 menjadi sedemikian keramat, demikian juga suasana khidmat yang dihadirkan di setiap tahun peringatannya sangat sesuai untuk melakukan sebuah refleksi. Ada banyak orang yang betul-betul menjadi korban tewas. Di tengah kepahitan, keanehan, dan aksi serangan yang barangkali nampak, jika anda ingin memahami betapa rentannya Amerika saat ini, anda harus melihat peristiwa 11/9 sebagai sebuah pertunjukan. Ini adalah sebuah perang di mana Amerika Serikat kalah dan terus mengalami kerugian.

Serangan WTC 1993

Mulai dari pertanyaan mendasar: Mengapa Menara Kembar? Sebelum tahun 1993, agen-agen kontraterorisme AS tidak menganggap WTC sebagai target potensial. Mereka lebih khawatir dengan ancaman terhadap sistem pengairan, jaringan transportasi, dan instalasi militer. Sementara WTC bukanlah sebuah bangunan gedung yang secara kultural dianggap penting, dan juga kurang dicintai banyak orang sebagaimana Gedung Empire State. WTC dianggap “hanya” seonggok bangunan besar dan sebuah pencakar langit yang “biasa-biasa” saja.

Ramzi Yousef, otak di balik serangan bom WTC tahun 1993, adalah orang pertama yang mengenali menara kembar WTC sebagai simbol potensial di tengah sebuah orchestra pertunjukan. Ia (Ramzi) pertama kali yang mendeteksi ketika bersama Syaikh Umar Abdurrahman, seorang ulama buta yang menjadi imam dan mengajar di sebuah masjid di New Jersey. Di tengah belantara beton pencakar langit, menara WTC ini tumbuh menjulang, menjadi sebuah ikon tanpa wajah, yang substansi masif-nya sedikit lebih luas dari objek lain di sekitarnya.

Korban tewas secara masal selalu menjadi tujuan inti Yousef dalam aksinya tersebut. Pertama kali tiba di New York, Yousef jalan-jalan menyisir area Brooklyn dan Queens dalam rangka mencari cara membunuh orang Yahudi sebanyak mungkin. Sayangnya, ia gagal menemukan target sesuai yang diinginkan. Awalnya, Yousef ingin menyerang dengan gas beracun sianida untuk mengubah menara kembar WTC menjadi sebuah kamp kematian.

Bom yang digunakan dalam serangan tahun 1993 itu terbuat dari kombinasi Amonium Nitrat dan bahan pembakar (incendiary), termasuk jenis racun tertentu yang dimasukkan Ramzi ke dalam material bom. Fakta di pengadilan menyebutkan bahwa racun Sodium Sianida gagal memberikan efek karena terbakar akibat suhu tinggi ledakan. Sementara, tidak ada bukti-bukti forensik yang menyatakan Yousef pernah berupaya mencari racun yang dimaksud. Intinya bahwa improvisasi bom yang dibuat kurang sempurna, sehingga menyebabkan sianida terbakar sebelum memberikan efek yang diinginkan.

Sangat mudah melupakan serangan tersebut sampai tahun 1993 ketika menara WTC menjadi target serangan. Terorisme, asasinasi, dan perang gerilya saat itu menjadi antitesa langsung dari pembunuhan berskala besar. Selama hampir satu milenium, pemilihan target utama berkaitan dengan pembunuhan bermotif politik. Asal mula munculnya istilah asasinasi sendiri terkait dengan seorang dari Dinasti Ismailiyah yang berhasil membunuh pemimpin/penguasa politik, bukan membunuh pasukan tentara. Kemudian para kapitalis, fasis, dan imperialis menjadikan massa orang-orang sebagai korban kematian yang sia-sia. Sifat dasar propaganda aksi teroris adalah, bahwa perang dilakukan untuk melawan mereka yang bertanggung jawab atas sistem yang ada, bukan kepada mereka yang menderita akibat berada di bawah sistem tersebut.

Para anarkhis Rusia meyakini bahwa pemberontakan melawan kelas penguasa akan memicu sebuah revolusi, namun target mereka adalah penguasa, individu penguasa. Demikian juga Carlos the Jackal menargetkan para pemimpin OPEC dan orang-orang yang berada di balik organisasi Zionis. Unit-unit pasukan dalam perang gerilya memasukkan aspek-aspek nilai strategis dan simbolis ke dalam kehidupan individu yang potensial dijadikan target. Jumlah target yang sedikit akan membuat mereka lebih efisien dalam menggunakan sumber daya, kecuali memang misi dan aksi mereka berbiaya tinggi.

Sumber: Foreign Policy
Redaktur: Yasin Muslim

Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

One comment on “Mengapa Al-Qaidah Menargetkan Menara Kembar WTC?”

  1. Darto

    Ah…itu rekayasa Amerika…amerika hanya memfitnah muslim.pemerintah sengaja menghancurkan gedung tsb…bnyak Bukti.

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Indonesia

Aksi Bela Tauhid II, Polisi Tutup Jalan Merdeka Barat Pakai Kawat Berduri

Tutup Jalan Merdeka Barat, Polisi Pasang Kawat Berduri

Jum'at, 02/11/2018 14:03 0

Afghanistan

SIGAR: Taliban Sekarang Lebih Kuat dari Sejak Tahun 2001

Penguasaan pasukan keamanan Afghanistan terhadap ibu kota Kabul telah merosot dalam beberapa bulan terakhir, selain menderita kerugian tinggi dalam perang melawan Taliban.

Jum'at, 02/11/2018 13:37 0

Palestina

Pejuang Palestina Hentikan Demonstrasi di Perbatasan Gaza-Israel

Namun Kamis petang, faksi-faksi Palestina di Gaza menyatakan setuju untuk mengurangi tingkat gesekan dalam rangka menyukseskan pembicaraan yang sedang ditengahi oleh Mesir

Jum'at, 02/11/2018 10:49 0

Turki

Bahas Manbij dan Idlib, Erdogan-Trump Bertekad Jaga Hubungan Bilateral

"Presiden kami dan Presiden Trump menegaskan kembali tekad untuk mengambil langkah-langkah konstruktif menuju penguatan hubungan bilateral AS-Turki lebih lanjut," kata pernyataan tersebut.

Jum'at, 02/11/2018 10:00 0

Indonesia

Pasca Gempa, UBN Seru Masyarakat Palu Jauhi Kesyirikan

UBN melanjutkan musuh umat Islam terbesar adalah syaithan, maka secara tegas harus kita tolak segala kesyirikan.

Jum'at, 02/11/2018 09:45 0

Opini

Mari Ketawa ala #JanganSuriahkanIndonesia

Di jagat sosial media, muncul trending topik aneh, #JanganSuriahkanIndonesia. Disebut aneh, karena jarak Garut, tempat pembakaran bendera tauhid terlalu jauh dengan Suriah; baik secara tempat apalagi peristiwa.

Jum'at, 02/11/2018 09:34 0

Pakistan

Buntut Vonis Bebas Penghina Islam, Pakistan Diambang Kekacauan

Berbagai kelompok Islam turun ke jalan memprotes vonis tersebut. Mereka akan menggelar aksi besar-besara Jumat ini

Jum'at, 02/11/2018 09:04 0

Yaman

Koalisi Saudi Klaim Hancurkan Gudang Rudal Balistik Syiah Hutsi

Ia menjelaskan, target-target tersebut ditentukan berdasarkan operasi intelijen detail untuk memantau aktivitas milisi Hutsi. Operasi intelijen ini bertujuan menghancurkan dan melemahkan kemampuan Hutsi yang mengancam keamanan regional dan internasional.

Jum'at, 02/11/2018 07:38 0

Suriah

Patroli Turki-AS di Manbij Dimulai

konvoi kendaraan lapis baja yang terdiri dari enam mobil berbendera AS dan lainnya berbendera Turki.

Jum'at, 02/11/2018 06:48 0

Ruang Publik

AQL Peduli Bangun Komplek Huntara untuk Korban Gempa Sulteng, Ini Fasilitasnya

KIBLAT.NET, Sulteng – Ar-Rahman Quranic Learning (AQL) Islamic Center menggelar program pembangunan hunian sementara (huntara)...

Kamis, 01/11/2018 19:17 0

Close