... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

Suara Pembaca

Mari Ketawa ala #JanganSuriahkanIndonesia

Foto: Bendera tauhid sepanjang 1 kilometer dibentangkan umat Islam Solo Raya dalam aksi Selasa (23-10-2018) merespons pembakaran oleh anggota Banser Garut

Penulis: Tony Syarqi

KIBLAT.NET – Hari ini, Jumat 2 Nopember 2018 rencananya akan digelar Aksi Bela Tauhid (ABT). Lagi-lagi demo dan pengerahan massa. Tapi kali ini bukan terkait Ahok. Bukan untuk menghalangi kebebasan terpidana penistaan agama itu, Januari 2019 mendatang.

Tapi, terkait pembakaran bendera tauhid oleh anggota ormas military-wannabe beberapa waktu lalu. Mungkin karena tak ada penegakan hukum yang jelas terhadap pelaku. Mungkin juga karena kubu pelaku dan penegak hukum bingung sendiri ini bendera tauhid atau lambang HTI.

Seperti perhelatan serupa sebelumnya, acara yang akan mengambil rute dari Masjid Istiqlal menuju Istana Merdeka itu, tentu saja bikin gregetan pihak yang didemo. Seharusnya, para pejabat dan tokoh hari-hari ini dijadwalkan sibuk nyinyirin ABT.

Tapi musibah Lion Air PK-LQP dengan nomor penerbangan JT 610 sungguh tragis dan membetot perhatian, publik Indonesia bahkan masyarakat internasional. Secara instink bisnis dan berita, media-media mainstream lebih tertarik menyorot wajah ganteng dan ekspresif M. Syaugi. Purnawirawan AU asal Malang yang kini menjabat Kepala Basarnas.

Tapi bukan berarti ABT bisa melenggang tanpa tekanan. Di jagat sosial media, muncul trending topik aneh, #JanganSuriahkanIndonesia. Disebut aneh, karena jarak Garut, tempat pembakaran bendera tauhid terlalu jauh dengan Suriah; baik secara tempat apalagi peristiwa.

Mereka yang mengikuti berita seputar konflik Suriah pasti tahu apa, siapa dan bagaimana yang mengakibatkan tragedi kemanusiaan parah itu terjadi. Luapan kekecewaan rakyat terhadap pemerintahnya, yang dijawab dengan tindakan kekerasan penguasa.

BACA JUGA  Hendak Dipulangkan, Pengungsi Rohingya di Bangladesh Menghilang

Sementara ABT, ada elemen masyarakat yang marah karena simbol sucinya dibakar, dinistakan. Ditambah pelaku dan organisasi yang menaungi pelaku enggan minta maaf. Ditambah lagi penegak hukum yang dinilai tidak tegas kebingungan sendiri.

Akumulasi kekecewaan itu membentuk gumpalan-gumpalan yang kemudian mengkristal dalam bentuk ABT. Itu saja. Sebuah fenomena wajar dalam dunia demokrasi. Lha kok diseret-seret hingga ke tragedi kemanusiaan di Suriah. Terlalu jauh diseret, akhirnya logika pun bengkok.

Logika itu semakin bengkok, ketika kita tahu banyak dari elemen umat Islam yang justru ingin memadamkan prahara kemanusiaan di Suriah. Sejumlah LSM kemanusiaan hingga hari ini aktif menyalurkan bantuan ke Suriah. Tentu saja di bawah pelototan Densus 88, atau elemen lain yang curiga teroris bakal menyusup.

Tambah bengkok lagi kalau kita baca cuitan Iyad El-Baghdadi, penulis dan aktivis kemanusiaan—bukan Al-Baghdadi pemimpin ISIS, lho ya. Ia mengatakan, “Kelompok sectarian pro-Asad terus mencoba menekankan sifat sektarian dalam perang Suriah, untuk membelokkan perilaku tiran yang menjadi favorit mereka.

Twit Iyad El-Baghdadi

Ucapan Iyadh di atas tadi hanya permisalan. Semoga membuat kita sedikit tertawa sejenak, menghibur diri di tengah duka JT610 yang masih lekat menyelimuti bangsa kita. Tapi kalau ada yang menyamakan motif pembuat hastag dengan tradisi-tradisi sebelumnya pro-Asad sebagaimana disinggung Iyad di atas, itu hak pembaca.

BACA JUGA  Jalan Berliku Hijrah Milenial

Menebar logika bengkok dengan hastag semacam itu hanya akan memperpanjang dialektika kebencian pasca insiden pembakaran bendera tauhid. Kalau memang tidak ingin Indonesia seperti Suriah, harusnya mereka ikut aktif memadamkan konflik di sana seperti LSM-LSM tersebut, agar apinya tidak menjalar ke negeri kita tercinta.

Pada akhirnya, krisis Suriah sering disebut sebagai perang saudara yang meluluhlantakkan sebuah bangsa dan negara. Kalau toh tetap mau dipaksakan terkait dengan maraknya aksi bela Tauhid, justru yang pembakar bendera itulah penyakitnya. Penyebab ketegangan ukhuwah umat Islam Indonesia yang sebelumnya fine-fine saja.

Jadi, adili dengan benar pelaku dan unsur-unsur terkait pembakaran bendera tersebut, agar Indonesia tetap aman tanpa ontran-ontran.

Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Pakistan

Buntut Vonis Bebas Penghina Islam, Pakistan Diambang Kekacauan

Berbagai kelompok Islam turun ke jalan memprotes vonis tersebut. Mereka akan menggelar aksi besar-besara Jumat ini

Jum'at, 02/11/2018 09:04 0

Yaman

Koalisi Saudi Klaim Hancurkan Gudang Rudal Balistik Syiah Hutsi

Ia menjelaskan, target-target tersebut ditentukan berdasarkan operasi intelijen detail untuk memantau aktivitas milisi Hutsi. Operasi intelijen ini bertujuan menghancurkan dan melemahkan kemampuan Hutsi yang mengancam keamanan regional dan internasional.

Jum'at, 02/11/2018 07:38 0

Suriah

Patroli Turki-AS di Manbij Dimulai

konvoi kendaraan lapis baja yang terdiri dari enam mobil berbendera AS dan lainnya berbendera Turki.

Jum'at, 02/11/2018 06:48 0

Ruang Publik

AQL Peduli Bangun Komplek Huntara untuk Korban Gempa Sulteng, Ini Fasilitasnya

KIBLAT.NET, Sulteng – Ar-Rahman Quranic Learning (AQL) Islamic Center menggelar program pembangunan hunian sementara (huntara)...

Kamis, 01/11/2018 19:17 0

Indonesia

Ustadz Farid Okbah: Rahmatan Lil Alamin Terwujud dengan Kalimat Tauhid

Ustadz Farid pun menyebut pentingnya umat muslim untuk menyerukan kalimat tauhid kepada manusia. Sebagaimana yang Allah perintahkan kepada Nabi Muhammad.

Kamis, 01/11/2018 18:55 0

Khutbah Jum'at

Khutbah Jumat: Kalimat Tauhid, Azas Persatuan Umat Islam

Khutbah Jumat: Kalimat Tauhid, Azas Persatuan Umat Islam

Kamis, 01/11/2018 18:44 1

Afghanistan

Laporan AS: Wilayah Kontrol Pemerintah Afghanistan Capai Titik Terendah

Laporan yang dikeluarkan oleh Inspektorat Jenderal untuk Rekonstruksi Afghanistan (SIGAR) itu melihatkan, dari sisi jumlah kontrol provinsi, pemerintah Kabul mengalami penurunan hingga 16 persen wilayah terhitung sejak November 2015.

Kamis, 01/11/2018 17:48 0

Indonesia

Ustadz Zaitun ke Pengungsi Sulteng: Jaga Akidah dari Paham Sesat

Wasekjen MUI Pusat itu pun berpesan kepada masyarakat yang menjadi korban untuk tetap bersabar atas musibah yang terjadi dan bersyukur atas kebaikan-kebaikan dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala serta menjaga akidah keluarga dan kerabatnya.

Kamis, 01/11/2018 16:14 0

Iran

Ini 12 Syarat Untuk Iran Keluar dari Sanksi Nuklir Baru!

KIBLAT.NET – Menteri luar negeri AS Mike Pompeo mengancam Iran dengan ‘sanksi terkuat dalam sejarah’...

Kamis, 01/11/2018 16:09 3

Indonesia

Soal Pembakaran Bendera Tauhid, Ketum PBNU: Banser Juga Salah

Terkait dua oknum Banser yang kini menjadi tersangka, Said Aqil menyerahkan semuanya kepada pihak penegak hukum.

Kamis, 01/11/2018 15:58 0

Close