Mursi: Saya Tidak Akan Pernah Mengakui Pemerintahan Al-Sisi

KIBLAT.NET, Kairo – Presiden Mesir yang dikudeta Muhammad Mursi mengatakan kepada keluarganya bahwa dirinya tidak akan pernah mengakui kudeta yang menggulingkannya dari kekuasaan pada 2013. Demikian diungkapkan salah satu putranya seperti dikutip Middle East Eye.

Keluarga Mursi mengunjunginya pada 19 September dalam kunjungan ketiga mereka sejak kudeta 3 Juli 2013 oleh menteri pertahanan Abdul Fattah Al-Sisi, yang sekarang menjadi presiden. Dua kunjungan lainnya pada 6 November 2013 dan 4 Juni 2017.

Pada 5 Desember, pengacara Mursi mengajukan petisi ke pengadilan administratif yang meminta kunjungan rutin untuk keluarganya.

Dalam kunjungan pertama, putra Morsi, Abdullah mengatakan dia dan dua saudara laki-laki dan perempuannya, bersama ibu mereka Najlaa, melihat ayahnya itu bulan lalu. Kunjungan itu hanya berlangsung 25 menit dan tidak ada pengacara yang hadir.

Mursi mengatakan kepada keluarganya bahwa untuk menghormati rakyat Mesir dan pilihan mereka dia tidak akan mengakui pemerintah Al-Sisi, meskipun terjadi tindakan keras terhadap dia dan pendukungnya.

Mursi menjadi presiden pertama yang terpilih secara demokratis di Mesir. Ia menjadi anggota kelompok Ikhwanul Muslimin yang sekarang ini dilarang oleh Pemerintah.

Dia dijatuhi hukuman mati dan berbagai hukuman penjara dengan total 48 tahun dalam lima kasus terpisah. Tuduhan terhadapnya termasuk spionase dengan Hamas, Hizbullah dan Qatar, dan menghina pengadilan. Dia saat ini sedang mengajukan banding atas semua hukuman terhadapnya.

Abdullah mengatakan secara kondisi ayahnya “tampak sehat”. Namun, dia mengatakan Mursi masih menderita diabetes kronis akibat kondisi penjara yang tidak sehat dan pembatasan akses obat-obatan. Dia mengalami gangguan penyakit termasuk kelemahan ekstrim pada mata kiri, bisul di mulut dan rahang, serta koma hipoglikemik.

Pembatasan atas kunjungan keluarganya dikritik oleh Human Rights Watch (HRW) tahun lalu. “Pihak berwenang Mesir tampaknya telah secara serius melanggar hak-hak proses hukum mantan Mursi dan mungkin mengganggu dalam perawatan medis yang tepat,” kata Joe Stork, yang kemudian wakil direktur Timur Tengah dan Afrika Utara di HRW.

“Perlakuan terhadap Mursi adalah jendela ke dalam kondisi mengerikan yang diderita ribuan tahanan politik di Mesir.”

Sumber: Middle East Eye
Redaktur: Ibas Fuadi

Ingin Langganan Artikel?
Daftarkan emailmu di sini untuk mendapatkan update artikel terbaru.
Anda dapat berhenti langganan kapan saja.
Anda mungkin juga berminat