... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

In Depth

Skenario Global di Balik Industri Islamofobia

Islam Nusantara?

Jika kita lihat di Indonesia, semua strategi tersebut sudah dan sedang diterapkan. Tapi, apakah masih ada strategi lain?

Ya, tentu ada. Rand juga merekomendasikan perpecahan di dunia Islam dengan menciptakan Islam versi nasionalistik negara tertentu.

“Kembangkan Islam Barat, Islam Jerman, Islam AS, dan lainnya. Hal ini membutuhkan pemahaman yang lebih baik tentang komposisi, praktek dan pemikiran yang berkembang di dalam komunitas-komunitas ini. Bantu dalam memunculkan, mengekspresikan, dan “mengkodifikasi” pandangan mereka.”

Tiga belas tahun berikutnya, tepatnya bulan Maret 2016, strategi penerapannya di Asia Tenggara kembali digodok di Semarang. Beberapa pakar diundang untuk merumuskannya. Pesertanya dari Indonesia, Australia, Singapura, Vietnam, Malaysia, Thailand, hingga Filipina. Dari Indonesia, hadir Wahid Institute dan Ma’arif Institute.

Narasi alternatif yang direkomendasikan untuk menangkal ajaran Islam yang kerap didiskreditkean sebagai ide terorisme.

Rekomendasi dari forum tersebut dituangkan dalam sebuah laporan berjudul “Counter-Narratives for Countering Violent Extremism (CVE) in South East Asia”yang dirilis oleh Hedayah Center, lembaga think tank yang berbasis di Uni Emirat Arab yang lahir atas inisiatif sebuah forum global pimpinan Inggris. Laporan tersebut merekomendasikan tiga ajaran dalam Islam yang harus dimodifikasi, yaitu khilafah, jihad, dan al-wala’ wal-bara’.

Modifikasi ajaran Islam tidak hanya dilakukan dengan mengubah definisi. AS juga menyarankan agar penggunaan beberapa istilah-istilah Islami mulai dihindari, seperti jihad, syariah, dan ummah, sebagaimana yang ditulis dalam laporan yang dirilis Dewan Penasihat Keamanan Dalam Negeri AS pada tahun 2016.

BACA JUGA  Pemimpin yang Memedulikan Sholat Kaum Muslimin

Selain itu, rekomendasi lainnya adalah dengan mengembangkan Islam dalam konteks lokal. Islam Indonesia, bukan Islam di Indonesia. Narasi yang lebih dikedepankan adalah narasi toleransi dan pluralisme, dan bahwa Islam juga sama dengan agama-agama yang lain. Untuk membangun identitas Islam lokal tersebut, antara lain dengan mengembangkan materi khutbah dengan konteks lokal yang mengedepankan tema-tema toleransi, perdamaian, hak perempuan, dan seterusnya.

Rekomendasi lebih detail dirilis pada bulan Agustus 2016 dengan judul “Undermining Violent Extremist Narratives in South East Asia: A How To Guide”.  Laporan tersebut berisi panduan yang lebih praktis dalam mengimplementasikan strategi di atas. Sasaran utama dari proyek ini adalah pemuda dan wanita.

Agar pesan-pesan dan narasi tersebar lebih efektif, mereka menyarankan penggunaan tokoh agama yang bisa digalang untuk menyebarkan Islam alternatif ini. Untuk medianya penyebarannya, dilakukan mulai dengan menggunakan media sosial, televisi, film, radio, media cetak, komik, buku, hingga kegiatan-kegiatan diskusi.

Skenario Islamofobia

Terakhir, sebagai tambahan informasi, dalam bukunya yang berjudul “Islamophobia and the Politics of Empire”, Prof. Deepa Kumar menjelaskan tentang dua skenario Islamofobia yang, menurutnya, berakar dari narasi Paus Urbanus pada saat Perang Salib. Saat itu, Paus membangun narasi yang menggambarkan Islam dan Nabi Muhammad SAW dengan begitu buruk. Hal ini dilakukan untuk memobilisir warga Eropa agar mau melakukan perang Salib dan untuk mencegah  mereka dari masuk Islam.

BACA JUGA  Hukum Menambahkan Lafadz "Sayyidina" Saat Tasyahhud, Shalawat dan Adzan

Kumar menjelaskannya dengan istilah Islamophobia konservatif dan Islamophobia liberal. Istilah Islamophobia konservatif mungkin cukup familiar bagi kita. Ialah mereka yang memandang bahwa Islam secara instrinsik adalah agama yang buruk, musuh bagi kemodernan, kebebasan, dan semacamnya. Sementara Islamophobia liberal, jelas Kumar, dilabelkan kepada mereka yang muncul dalam retorika lebih lembut. Meski sebenarnya tidak kalah jahat. Mereka membagi adanya “Good Muslims” dan “Bad Muslims”. “Good Muslims” adalah umat Islam yang mau bekerja untuk Barat. Kumar menganalogikan pendekatan Islamofobia liberal sebagai “penjajahan berbulu domba”.

Jadi, jika hari ini kita mendapati begitu banyak fenomena industri kebencian pada Islam dan ajarannya, dengan berbagai tingkatannya, tidak perlu heran. Ada sebuah skenario global yang sangat besar dengan dana milyaran dollar yang saat ini sedang dijalankan, sebagai tindak lanjut dari kebencian ratusan tahun yang bermula dari Perang Salib di masa lalu. Pertanyaannya, di posisi mana kita berada?

 

1 2
Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

One comment on “Skenario Global di Balik Industri Islamofobia”

  1. saya suka artikel ini. maaf, mungkin agar lebih kredibel saya sarankan untuk diberi footnote bagaimana?

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Artikel

Khilafah dan Ujian Negara Bangsa

Masih relevankah konsep negara bangsa di tengah gempuran globalisasi, liberalisasi ekonomi, banjir informasi bahkan mobilitas penduduk? Mampukah ia bertahan?

Sabtu, 27/10/2018 02:38 0

Indonesia

Ketua GNPF Ulama Ancam Gelar Aksi Bela Tauhid Kedua

Ketua GNPF Ulama Ancam Gelar Aksi Bela Tauhid Kedua

Sabtu, 27/10/2018 00:55 0

Indonesia

Dukung Aksi Bela Tauhid dengan Menyediakan Logistik

Dukung Aksi Bela Tauhid dengan Menyediakan Logistik

Sabtu, 27/10/2018 00:01 0

Indonesia

HTI Jadi Alasan Bakar Bendera Tauhid, KH Raodl Bahar: Kebohongan Untuk Menutupi Kebusukan

"Kalau mereka mengatakan bahwa membakar bendera HTI, ini hanya sebuah kebohongan untuk menutupi kebusukan"

Jum'at, 26/10/2018 23:35 2

Indonesia

Aksi Bela Tauhid Serukan Laailaha Illallah Muhammad Rasulullah Milik Umat Islam Sedunia

Aksi Bela Tauhid Serukan Laailaha Illallah Muhammadur Rasulullah Milik Umat Islam Sedunia

Jum'at, 26/10/2018 21:58 0

Indonesia

Aparat Lakukan Politik Sontoloyo Jika Pembakar Kalimat Tauhid Tak Dihukum

Aparat Lakukan Politik Sontoloyo Jika Pembakar Kalimat Tauhid Tak Dihukum

Jum'at, 26/10/2018 19:51 0

Indonesia

Protes Tindakan Banser, Ribuan Warga Jabar Ikuti Aksi Bela Tauhid

Protes Tindakan Banser, Ribuan Warga Jabar Ikuti Aksi Bela Tauhid

Jum'at, 26/10/2018 19:38 0

Suriah

Koalisi AS Kembali Serang Masjid di Deir Zour, 7 Warga Sipil Tewas

Pesawat-pesawat tempur koalisi pimpinan AS menyerang sebuah masjid di provinsi Deir Zour di Suriah, menewaskan sedikitnya tujuh warga sipil.

Jum'at, 26/10/2018 17:51 0

Opini

Pembakaran Bendera Tauhid Berdampak Kebencian Terhadap Islam

Pemerintah sepatutnya mengambil tindakan terhadap GP Ansor sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku

Jum'at, 26/10/2018 17:31 1

China

Serangan Pisau Targetkan Siswa TK di China, 14 Anak Luka-luka

"Para korban dibawa ke rumah sakit, sementara penjaga dan staf di taman kanak-kanak menahan penyerang," kata polisi, seraya menambahkan bahwa kasus itu sedang diselidiki.

Jum'at, 26/10/2018 16:48 0

Close