... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

Titian

Bolehkah Membakar Bendera Tauhid dengan Alasan Saddu Dzara’i?

Foto: Bendera Tauhid

KIBLAT.NET – Aksi peringatan hari santri nasional, Senin (22/10) diwarnai kegaduhan di jagad maya. Pasalnya, sebuah video yang menampilkan aksi pembakaran bendera tauhid mendadak viral di sosmed. Dalam video tersebut beberapa anggota Banser terlihat menyita bendera bertuliskan kalimat lailahaillallah muhammadar rasulullah kemudian dibakar dengan diiringi nyayian mars ya lal wathon.

Sontak saja, aksi tersebut menjelma menjadi polemik dan disorot masyarakat luas terutama dari kalangan umat Islam. Mereka memprotes keras terhadap kejadian tersebut. Sebab, bendera yang dibakar itu murni bertuliskan tauhid dan tidak ada tulisan nama atau indetitas ormas apapun.

Namun di tengah kegaduhan tersebut, muncul pula sebagian kalangan yang membela aksi pembakaran tersebut dengan beragam alasan. Ada yang menilai tidak mengapa karena dilakukan demi menjaga kalimat tauhid agar tidak tercecer di sembarang tempat. Alasan ini diungkapkan sendiri oleh ketua Banser saat dimintai keterangan terhadap kejadian itu. Selain itu, ia juga berdalih bahwa yang dibakar itu bendera ormas HTI yang keberadaannya sudah terlarang di Indonesia.

Berikutnya, di jejaring media online tersebar pula sebuah tulisan yang hendak membela aksi pembakaran tersebut dengan dalih saddu dzari’ah, yaitu sebuah metode penetapan hukum yang mempertimbangkan tindakan preventif terhadap suatu bahaya atau mafsadah yang muncul di kemudian hari.

(menolak sesuatu yang membahayakan). Bendera betuliskan kalimat tauhid dianggap bagian dari simbol kelompok yang terlarang, HTI (hizbut tahrir indonesia). Karena itu, membakarnya pun tidak masalah demi mencegah adanya ancaman stabilitas negara.

Pertanyaanya, benarkah yang dibakar itu bendera HTI? Kalaupun seandainya benar, apakah tepat jika aksi pembakaran bendera bertuliskan kalimat tauhid itu diperbolehkan dengan alasan saddu dzari’ah karena membahayakan? Nah, tulisan ini akan mencoba menjawab semua itu dengan menghadirkan beberapa pandangan para ulama fiqh dalam memandang persoalan ini.

Sekilas Tentang Istilah Saddu Dzari’ah

Kata saddu dzari’ah merupakan bentuk frase yang terdiri dari dua kata, yaitu; saddu (menutup) dan dzari’ah (jalan, sarana atau wasilah). Maka secara Bahasa, makna saddu dzari’ah adalah menutup segala macam bentuk jalan, sarana, wasilah atau sebab terjadinya sesuatu. Bentuk jamak dari dzari’ah adalah adz-dzara’i. Karena itulah, dalam beberapa kitab usul fikih, istilah yang digunakan adalah sadd adz-dzara’i.

Imam Al-Qarafi menjelaskan, “Saddu dzari’ah adalah memotong jalan kerusakan sebagai cara untuk menghindari kerusakan tersebut. Meski suatu perbuatan bebas dari unsur kerusakan (mafsadah), namun jika perbuatan itu merupakan jalan atau sarana terjadi suatu kerusakan (mafsadah), maka kita harus mencegah perbuatan tersebut.” (Al-Furuq, 2/32)

Sementara itu, dalam karyanya al-Muwafaqat, asy-Syatibi menyatakan bahwa saddu dzari’ah adalah menolak sesuatu yang boleh agar tidak mengantarkan kepada sesuatu yang dilarang.” (al-Muwafaqat fi Ushul al-Fiqh, 3/257)

Dari pengertian di atas dapat diketahui bahwa Saddu dzari’ah merupakan suatu metode penggalian hukum Islam dengan cara melarang, menutup jalan atau wasilah suatu amalan yang diduga dapat menimbulkan sesuatu hal yang merusak atau membahayakan.

Meskipun tidak ada dalil yang sharih, namun pijakan para ulama dalam menetapkan kaidah ini sebagai metode penggalian hukum sangatlah berargumen. Di antaranya dilihat dari konteks beberapa firman Allah Ta’ala ketika melarang suatu wasilah yang berpotensi terjadinya kemungkaran yang lebih besar. Misalnya Allah Ta’ala berfirman:

BACA JUGA  Jangan Salah, Inilah Karakter Bendera Rasul ﷺ yang Sebenarnya!

Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, Karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan. Demikianlah kami jadikan setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka. Kemudian kepada Tuhan merekalah kembali mereka, lalu dia memberitakan kepada mereka apa yang dahulu mereka kerjakan.” (QS. al-An’am: 108)

Ayat di atas menunjukkan bahwa mencaci maki tuhan atau sembahan agama lain adalah dzari’ah (wasilah) yang akan menimbulkan sesuatu mafsadah yang dilarang, yaitu kita mencaci tuhan mereka maka mereka pun akan membalas mencaci Tuhan yang kiya yakini. karena itu, larangan mencaci maki tuhan agama lain merupakan tindakan preventif (saddu dzari’ah).

Sementara dalam hadis juga terdapat riwayat dari Abdullah bin Amr r.a, ia berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Diantara dosa besar adalah seorang laki-laki mencela kedua orang tuanya.” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, ‘Apakah (mungkin) seorang laki-laki mencela orang tuanya? ‘Beliau menjawab: “Ya. Dia mencela bapak seseorang lalu orang tersebut (membalas) mencela bapaknya, lalu dia mencela ibunya, lalu orang tersebut (membalas) mencela ibunya.” (HR. Muslim)

Berikutnya, para ulama juga menetapkan beberapa kaidah fiqh yang erat kaitannya dengan saddu dzari’ah. Di antaranya kaidah berikut:

مَا أَدَى إِلَى الْحَرَامِ فَھُوَ حَرَام

“Apa saja yang membawa kepada perbuatan haram, maka hal tersebut juga haram hukumnya.” (Qawaid Al Ahkam fi Mashalihil Anam, 2/184)

Dari sini Ibnu Qayyim menerangkan, “Ketika Allah melarang suatu hal, maka Allah pun akan melarang dan mencegah segala jalan dan perantara yang bisa mengantarkan kepadanya. Hal itu untuk menguatkan dan menegaskan pelarangan tersebut. Namun jika Allah membolehkan segala jalan dan perantara tersebut, tentu hal ini bertolak belakang dengan pelarangan yang telah ditetapkan.” (I’lamul Muwaqi’in, 2/103)

Sebagai catatan, tidak semua ulama sepakat dengan saddu dzari‘ah sebagai metode dalam menetapkan hukum. Secara umum, mereka yang menerima sepenuhnya sebagai metode penetapan hukum adalah mazhab Maliki dan mazhab Hambali. Sementara mazhab Syafi’i dan Hanafi tidak menerima sepenuhnya. Mereka menolak metode ini sebagai dasar istinbath pada kasus tertentu, namun menggunakannya pada kasus-kasus yang lain. Dan berbeda dengan mazhab Zhahiri yang menolak sepenuhnya metode ini sebagai dasar menetapkan hukum. (Wahbah Dzuhaili, Al-wajiz fi Ushuli Fiqh, hlm. 110)

Bagaimana Seharusnya Saddu Dzari’ah Diterapkan?

Dalam menerapkan saddu dzari’ah, tentu tidak boleh lepas dari pengkajian terhadap potensi bahaya atau mafsadah (kerusakan) dibalik obyek perbuatan yang akan dihukumi. Karena itu, besar dan kecilnya potensi bahaya akan sangat berpengaruh pada hukum yang akan disimpulkan. Suatu wasilah yang jelas-jelas dapat mengatarkan kepada perbuatan haram, maka wasilah tersebut hukumnya juga haram dilakukan. Menjual anggur pada aslinya boleh, namun akan menjadi haram bila dijualkannya kepada pembuat khamer. Sebab akan digunakan untuk meciptakan barang haram.

Sehingga upaya menentukan mafsadah menjadi basis utama dalam menerapkan saddu dzari’ah. Namun satu hal yang menjadi titik tekan para ulama bahwa tolak ukur dalam penentuan maslahah atau mafsadah tidak bisa diputuskan hanya melalui akal manusia semata. Patokannya harus diukur dengan syari’at. Karena pandangan akal manusia berbeda-beda. Mungkin saja, suatu perkara dianggap maslahah, namun menurut orang lain dianggap sebagai mafsadah. Misalnya, Khamer bagi sebagian kalangan bisa saja dianggap maslahah, namun bagi sebagian yang lain menilainya mafsadah. Sebab, manusia mempunyai akal dan nafsu. Jika nafsu yang mendominasi, niscaya akan tergantung dengan kepentingan masing-masing. (Al-Ghazali, Al-Mustashfa, hal. 275)

BACA JUGA  Hendak Dipulangkan, Pengungsi Rohingya di Bangladesh Menghilang

Karena itu, para ulama menetapkan beberapa ketentuan khusus ketika menggunakan saddu dzari’ah sebagai dasar hukum. Sehingga siapa pun tidak bebas menggunakan metode ini untuk menyimpulkan sebuah hukum hanya karena potensi bahaya yang ada dalam dugaannya. Di antara ketentuan tersebut adalah:

Pertama: Wasilah atau perbuatan yang diperbolehkan tersebut sangat berpotensi terjadinya kerusakan (mafsadah). Tapi bila potensi kerusakannya hanya sebatas dugaan maka perbuatan tersebut tidak terlarang. Dia tetap dibolehkan sebagaimana hukum asalnya. (Asy-Syatibi, Al-Muwafaqat, 2/348)

kedua: Mafsadah yang ditimbulkan dari perbuatan tersebut sama nilainya dengan maslahah yang didapatkan atau bahkan lebih banyak mafsadahnya. maka perbuatan tersebut menjadi haram dilakukan. (Al-Qarafi, AlFuruq, 3/33)

ketiga: Standar penentuannya tidak disyaratkan harus sesuai dengan niat/kehendak mukallaf. Namun tetap dilhat dari potensi mafsadah yang ditimbulkan dari perbuatan tersebut menurut keumumannya. (Ibnu Qayyim, I’lamul Muwaqi’in, 3/148)

keempat: Apapun yang dilarang karena dasar saddu dzari’ah akan diperbolehkan bila ada hajat yang mendesak. Seperti seorang qadhi yang perlu melihat wanita ajnabi dalam persidangan. (Ibnu Taimiyah, Majmu’ Fatawa, 15/419)

Dari sini dapat disimpulkan bahwa penggunaan saddu dzari’ah untuk membenarkan pembakaran bendera tauhid jelas bertolak belakang dengan prinsip kaidah itu sendiri. Sebab, potensi bahaya atau kerusakan diukur bukan atas dasar nilai-nilai syar’i. Namun murni didasarkan pada akal atau kepentingan kelompoknya sendiri. Berikutnya, potensi bahaya yang disebutkan juga masih sebatas dugaan yang belum pasti. Jadi penggunaan saddu dzari’ah di sini perlu dikaji ulang.

Tidak berhenti di situ, pembolehan pembakaran bendera tauhid dengan alasan saddu dzari’ah tidak sesuai dengan kaidah maqashidu syariah. Dalam kajian maqashidu syariah, memuliakan lafadh tauhid atau syiar Islam lainnya, seperti mengagungkan al-Quran atau menjaga kesucian masjid bisa disebut bagian dari bentuk penjagaan terhadap agama (hifzuddin). Dalam pandangan maqashidu syariah menjaga agama  merupakan bagian dari dharuriyatu al-Khamsah (lima kebutuhan azasi) yang paling utama di antara yang lainnya, yaitu menjaga jiwa, keturunan, akal, dan harta. Sehingga bila ada dharuriayat (kebutahan azasi) lainnya yang bertentangan dengannya maka menjaga agama harus didahulukan. Contohnya, bila seseorang saat mempertahankan harta harus mengorbankan agama, maka harta wajib ia dikorbankan daripada harus kehilangan agama. Maknanya, penjagaan terhadap agama harus selalu diutamakan. (Al-Muwafaqat, 2/14)

Oleh karena itu, membakar bendera yang betuliskan kalimat tauhid jelas bentuk ketidakpedulian terhadap penjagaan agama (hifdhuddin). Jika demi menjaga jiwa saja tidak dibenarkan ketika harus mengorbankan agama, bagaimana dengan alasan-alasan lainnya. Apakah pantas demi menjaga negara kita rela mengorbankan kesucian agama kita? Atau atas dugaan kerusakan yang belum pasti terjadi lalu kita perbolehkan untuk membakar kemulian syiar-syiar agama? maka sangatlah keliru bila aksi pembakaran bendera tauhid dibela-bela dengan kaidah yang seharusnya dipakai untuk menolak bahaya yang menimpa norma-norma Islam. Apalagi digunakan untuk menolak bahaya yang menimpa kepentingan golongannya. Wallahu a’lam bissawab!

Penulis: Fakhruddin
Editor: Arju

Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

One comment on “Bolehkah Membakar Bendera Tauhid dengan Alasan Saddu Dzara’i?”

  1. Andriansyah

    Kalo membakar bendera ISIS bagaimana?sedangkan bendera ISIS juga bertuliskan tauhid, malah yang paling mirip dengan Panji Rasulullah….

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Indonesia

Pushami Nilai Ada Unsur Kesengajaan dalam Pembakaran Bendera Tauhid

Kepolisian menilai anggota Banser tersebut tidak bersalah karena tidak adanya niat untuk melakukan. Terkait hal ini Pushami menolak pernyataan tersebut.

Jum'at, 26/10/2018 13:38 0

Video Kajian

Khutbah Jumat: Bahaya LGBT – Ust. Muhaimin Adi Nurahman

KIBLAT.NET- LGBT telah dijelaskan oleh Allah yang termuat dalam QS. Al A’raf disebutkan bahwa LGBT...

Jum'at, 26/10/2018 13:19 0

Video Kajian

Konsekuensi di Balik Kalimat Tauhid – Ust. Muhajirin Ibrahim, Lc.

KIBLAT.NET- Kita senang bahwa bendera itu sebagai suatu simbol yang mengajak kita semuanya untuk tunduk...

Jum'at, 26/10/2018 13:12 0

Iran

Soal Sanksi Iran, Turki Lobi Amerika Untuk Dikecualikan

KIBLAT.NET – Ankara mendesak Washington untuk pengecualian dari Sanksi Iran. Pejabat meminta pengecualian dari AS...

Jum'at, 26/10/2018 12:52 0

Iran

China Stop Beli Minyak dari Iran, Saudi Ambil Kesempatan

KIBLAT.NET – China sedang menghentikan pembelian minyak dari Iran, setelah berbulan-bulan menolak ajakan Amerika Serikat....

Jum'at, 26/10/2018 12:33 0

Indonesia

DSKS Imbau Khatib Jumat Angkat Tema tentang “Memuliakan Kalimat Tauhid”

KIBLAT.NET, Solo – Kasus pembakaran bendera bertuliskan kalimat tauhid oleh anggota Banser ketika peringatan Hari...

Jum'at, 26/10/2018 11:44 0

Manhaj

Hukuman Allah kepada Para Penista Syiar Islam

Umat Islam Indonesia sedang dihebohkan dengan kejadian yang membuat marah setiap muslim. Alih-alih dimuliakan karena kalimat tauhid adalah simbol kaum muslimin dan termasuk wahyu-Nya, ada oknum yang berulah dengan membakar bendera tauhid.

Jum'at, 26/10/2018 11:40 0

Indonesia

Pushami Polisikan Yaqut dan Anggota Banser Pembakar Bendera Tauhid

Pushami menilai, pembakaran tersebut adalah pelecehan terhadap kalimat tauhid yang diakui sebagai simbol milik umat Islam di seluruh dunia. Pushami melaporkan dengan dugaan pelanggaran atas pasal 165a tentang penodaan agama.

Jum'at, 26/10/2018 11:11 0

Arab Saudi

Saudi Dalami Laporan Turki, Pembunuhan Khashoggi Terencana

“Jaksa Penuntut Umum menerima informasi dari Negara sahabat Turki melalui tim kerja bersama antara Kerajaan Arab Saudi dan Republik Turki menunjukkan bahwa tersangka dalam kejadian tersebut melakukan pembunuhan dengan niat sebelumnya,” kata Jaksa Agung Saudi, Sa’ud bin Abdullah Al-Mu’jib, seperti dinukil France24 dari kantor berita Saudi (SPA).

Jum'at, 26/10/2018 09:51 0

Iran

Sebut “Imam Husain Wafat”, Jurnalis di Iran Ditangkap

Ia ditangkap atas tuduhan pelecehan Imam Husain. Karena tidak menyebut dengan kata syahid, namun wafat.

Jum'at, 26/10/2018 09:02 0

Close