... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

In Depth

Bencana di Balik Berita Bencana

Foto: Ilustrasi korban gempa dalam berita bencana

Oleh: Beggy Rizkiansyah, kolumnis Kiblatnet

KIBLAT.NET – Wajahnya tampak emosional. Di situlah Najwa Shihab berdiri, melaporkan bencana Tsunami di Aceh pada tahun 2004. Tak begitu lama ia tak kuat menahan sedihnya. Ia melaporkan situasi pasca tsunami sembari mennguraikan air mata. Inilah salah satu contoh bagaimana emosi dapat melibatkan proses liputan, termasuk dalam meliput bencana. Apakah keterlibatan emosi dapat mengganggu objektivitas seorang jurnalis?

Pertanyaan seperti itu menjadi salah satu bahan perdebatan dalam wacana jurnalisme dalam meliput bencana. Karin Wahl-Jorgensen dan Mervi Pantti dalam The Ethics of Global Disaster Reporting: Journalistic Witessing and The Challenge to Objectivity memuat berbagai pertannyaan seputar etika dalam liputan bencana. Persoalan tersebut termasuk keterlibatan emosi dalam pemberitaan.  (Karin Wahl-Jorgensen dan Mervi Pantti: 2013)

Ahmad Arif dalam Jurnalisme Bencana, Bencana Jurnalisme (2010) juga mengangkat soal keterlambatan media dalam mengungkap bencana tsunami di Aceh pada 2004. Ahmad Arif juga menggugat bagaimana media-media bahkan tergesa-gesa dalam mewartakan bencana tanpa verifikasi yang memadai. Salah satunya disebabkan kesalahan informasi yang disampaikan oleh berbagai institusi pemerintah yang bukan saja, tak mampu memberi informasi yang memadai tetapi juga memberi informasi keliru. Sehingga pemberitaan bencana kerap terlambat diangkat.

Najwa Shihab saat meliput tsunami Aceh.

Di luar kedua kajian Arif dan Karin, ada banyak pertanyaan lain. Salah satunya yang merebak saat ini yaitu, bagaimana media Islam dalam mewartakan bencana? Bagaimana etika menilai bencana, termasuk kontroversi mengaitkan satu bencana sebagai azab dari Allah.

Amat penting untuk menarik kembali tujuan awal dari meliput bencana. Ward (2010) menyebutkan bahwa jurnalisme bencana bukan semacam perlombaan. Tetapi bertugas untuk menggugah emosi pembaca atau pemirsa. Ward menyebutnya jurnalisme humanistik yang menggabungkan emosi dan alasan. Jurnalisme humanistik untuk berempati pada korban dengan informasi yang berdasarkan fakta dan analisis kritis. (Karin Wahl-Jorgensen dan Mervi Pantti: 2013)

Pemahaman seperti ini juga mengundang kritik. Keterlibatan emosi dalam liputan dianggap akan mengacaukan objektivitas. Namun apakah mungkin seorang jurnalis menyingkirkan emosi sebagai satu ciri kemanusiaannya? Menurut Kovach dan Rosenstiel, penulis buku Elemen-Elemen Jurnalisme, akan sangat aneh, bahkan menekan, jika reporter berlaku seperti robot jurnalistik. (Karin Wahl-Jorgensen dan Mervi Pantti: 2013)

BACA JUGA  Suasana Haru Iringi Sholat Jenazah Rozian

Satu penjelasan menarik disebutkan oleh WIlls (2013). “Pembaca dan penonton akan lebih terikat dengan sebuah cerita jika mereka merasa reporter peduli pada cerita, orang-orang yang terkena dan cukup peduli agar pembaca atau penonton menulis satu cerita yang peduli dan meyakinkan.” (Karin Wahl-Jorgensen dan Mervi Pantti: 2013)

Perdebatan di atas memang berkisar dalam bingkai juralisme barat yang mengusung humanisme sekular. Kepedulian akan liputan bencana memang bermaksud untuk menggugah empati dan kepedulian sebagai sesama manusia.

Hal berbeda jika kita melihat dari perspektif jurnalisme Islami. Salah satu fungsi jurnalisme Islami adalah edukasi (tabligh). Ia tak saja mengajak pembaca atau penontonnya untuk berempati dan peduli. Tetapi juga untuk mengambil hikmah dari bencana tersebut.

Kerusakan yang terjadi di Palu, Sulawesi Tengah pascagauncangan gempa yang berpusat di Donggala (foto: Antara)

Kerusakan yang terjadi di Palu, Sulawesi Tengah pascagauncangan gempa yang berpusat di Donggala (foto: Antara)

Umat Islam diajarkan untuk memahami bahwa bencana bukan saja pewujudan dari azab atau pun ujian, tetapi juga menunjukkan kekuasaan Allah di balik sebuah bencana (al-Baqarah 155-157). (Fariq Gasim Anuz: 2017) Berbagai penjelasan ilmiah di balik terjadinya bencana tidak seharusnya membuat kita memiliki cara pandang yang sekularistik dan menyingkirkan peran Allah. Sebaliknya, berbagai penjelasan ilmiah seharusnya membawa kita semakin mempercayai bahwa Allah mampu mengatur segalanya.

Tak ada yang dapat mengetahui apakah bencana tersebut berupa azab ataupun ujian. Hanya pribadi masing-masinglah yang dapat menduga-duga makna di balik bencana tersebut dan bahan muhasabah bagi dirinya. Dalam satu hadist yang diriwayatkan Imam Bukhari, Aisyah ra bertanya pada Rasulullah SAW tentang tha’un. Rasulullah kemudian menjawab tha’un sebagai azab yang dikirim Allah kepada siapa-siapa yang dikehendakinya; dijadikannya tha’un sebagai rahmat orang yang beriman. Jika hamba tersebut terkena penyakit tha’un, dia tetap tinggal di negerinya dengan sabar dan mengharap ganjaran dari Allah, maka ia mendapat ganjaran syahid jika ia mati. (Fariq Gasim Anuz: 2017)

Jurnalis muslim berperan agar -di samping mengajak untuk peduli pada para korban-  umat dapat mengambil hikmah dari sebuah bencana. Bagi jurnalis muslim. Ia tentu tak dapat menjangkau alasan di balik terjadinya bencana tersebut.; apakah itu azab atau ujian. Namun hikmah dari bencana tersebut dapat disampaikan oleh para jurnalis muslim.

BACA JUGA  BJ Habibie dan Kontribusi ICMI di Masa Orde Baru

Satu lokasi yang menjadi sarang kemaksiatan, kemudian terkena bencana dapat diangkat sebagai satu berita (peringatan) kepada para pembaca tanpa harus memakai bahasa yang menghakimi. Kumpulan fakta yang disusun dalam satu reportase atau liputan tersebut disajikan pada pembaca atau penonton, dan membiarkan mereka yang menilai.

Bagaimana pun, pesan pemberitaan satu bencana dapat kita pilah menjadi tiga aspek. Pertama liputan atau reportase bencana berfungsi untuk mengajak para pembaca atau penonton untuk bersegera membantu para korban. Emosi yang kemudian terlibat dalam reportase adalah manusiawi. Seperti diajukan Wills (2013), cerita yang menggugah akan membuat pembaca lebih peduli. Tentu saja, keterlibatan emosi harus dimbangi dengan fakta yang kuat.

Kedua, liputan atau reportase lebih mendalam tentang bencana tersebut disajikan dengan penjelasan ilmiah yang dibingkai oleh nilai tauhid untuk memaklumi kedhaifan manusia dan betapa besarnnya kekuasaan Allah. Penjelasan ilmiah atas satu bencana disajikan sebagai satu proses bukan satu alasan terjadinya bencana tersebut. Dan bukan disajikan dengan bahasa, kata-kata, atau bingkai (framing) yang bertendensi menyingkirkan peran Allah dalam menggerakkan segala fenomena alam tersebut.

Ketiga, liputan atau reportase lebih mendalam dari lokasi bencana juga menyingkap kehidupan masyarakat tersebut. Jika satu daerah yang terkena bencana setelah dilakukan liputan adalah bekas tempat yang menjadi sarang kemaksiatan misalnya, hal tersebut bukanlah tabu untuk diangkat. Dan tidak berarti tidak berempati kepada para korban.

Liputan yang demikian adalah wajar, selama tidak menghakimi para korban, memberi penilaian akhir atau melakukan penyimpulan yang memastikan alasan di balik bencana tersebut. Sebab yang demikian adalah satu hal yang hanya diketahui oleh Allah. Poin yang lebih krusial dari liputan semacam itu adalah pesan (hikmah) kepada pembaca bahwa segala kemaksiatan membuka kemungkinan kemudharatan pada masyarakat, apa pun bentuknya.

Pada akhirnya, pemberitaan bencana alam dalam perspektif jurnalisme Islami bukanlah sekedar liputan biasa. Atau perlombaan dalam kecepatan meliput. Tetapi lebih penting, bagaimana pembaca atau penonton memahami, bahwa segala bencana adalah atas kuasa Allah dan manusia harus mengambil pelajaran atasnya.

 

Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Turki

Turki Lihatkan Bukti-bukti Pembunuhan Khashoggi ke Direktur CIA

intelijen Turki memperlihatkan dan memperdengarkan rekaman video dan audio kepada Haskel

Kamis, 25/10/2018 11:00 0

Prancis

Prancis Akan Bawa Pulang Ratusan Anak ISIS yang Ditawan Kurdi Suriah

Anak-anak itu ditawan bersama ibu mereka. Mereka ditempatkan di kamp besar dan diperlakukan seperti di penjara

Kamis, 25/10/2018 09:52 0

Afghanistan

Pakistan Bebaskan Mantan Orang Nomor Dua Taliban

Akan tetapi, sumber lain menyebutkan wakil pendiri gerakan Taliban itu sudah berada di hotel beberapa hari lalu dan dibebaskan pada Rabu.

Kamis, 25/10/2018 08:23 0

Suriah

Turki, Rusia dan Iran Sepakat Kebut Pembentukan Komisi Kontitusi Suriah

Rezim mensyaratkan tidak ada peran PBB dalam komite tersebut dan proses politik tidak boleh diawasi oleh keputusan Jenewa.

Kamis, 25/10/2018 07:43 0

Arab Saudi

Bin Salman Berjanji Hukum Pejabat yang Terlibat Pembunuhan Khashoggi

Orang-orang yang bertanggung jawab atas kejahatan tersebut akan dihukum dan keadilan pada akhirnya akan menang.

Kamis, 25/10/2018 06:33 0

Indonesia

Mensos Sebut 40% Masyarakat Indonesia Golongan Tidak Mampu

Mensos memaparkan 40% masyarakat tidak mampu atau setara 98 juta jiwa mendapat subsidi elpiji sekaligus listrik. Sementara 38% atau setara 92,4 juta jiwa menerima Penerima Bantuan Iuran (PBI)-Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).

Rabu, 24/10/2018 18:24 0

Indonesia

Komentari Parade Tauhid, Said Aqil: Bukan Bela Lambang Tauhid, Tapi Bela HTI

"Bukan lambang tauhidnya, tapi membela lambang ormas yang sudah dilarang"

Rabu, 24/10/2018 17:36 3

Indonesia

Aksi Bakar Bendera Tauhid, Fahira Idris: Memicu Konflik di Masyarakat

Ia menegaskan rasa kecewa dan marah umat Islam akibat pembakaran bendera bertuliskan kalimat tauhid adalah hal yang sangat wajar. Namun, umat muslim diharapkan tetap tenang.

Rabu, 24/10/2018 17:30 0

Indonesia

Badan Pengawas Pemberantasan Terorisme Tunggu Peraturan DPR

Badan Pengawas Pemberantasan Terorisme Tunggu Peraturan DPR

Rabu, 24/10/2018 15:46 0

Video Kajian

Muslimah Harus Digembleng Dengan Surah An-Nur? Ini Alasannya!

KIBLAT.NET – Muslimah Harus Digembleng Dengan Surah An-Nur? Ini Alasannya! Bunda Aisyah Radhiyallahu ‘Anha pernah...

Rabu, 24/10/2018 15:00 0

Close