... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

Suara Pembaca

LGBT: Presisten Namun Inkonsisten

Foto: Ilustrasi

Oleh : Dessy Fatmawati, S.T (Pengajar Kimia SMA)

 

KIBLAT.NET – Awal tahun 2018, berkembang dikalangan remaja slogan love has no limit. Cinta tidak memiliki batasan. Tanpa sadar menggiring remaja meletakan makna cinta dalam wadah kebebasan. Boleh pada siapapun, pada gender apapun, kapapun dan dengan cara apapun. Tak terbatas pasangan hetero saja.

Tak sedikit kalangan remaja yang menyambutnya gegap gempita. Lain halnya para praktisi pendidik generasi, menghajar habis-habisan ide ini. Data demi data kerusakan kebebasan cinta ini digempurkan pada pembawa ide. Tak lama setelahnya, muncul kembali slogan yang baru namun tak mengubah esensi kebebasan cinta. Love has no label. Jangan hakimi cinta kami. Baik slogan love has no limit  dan love has no label adalah pihak yang sama. Pro-LGBT.

Tidak Berdiri Sendiri

Awal gerakan massif LGBT di publik pertama kali tidak bisa dilepaskan dari gerakan feminisme saat itu. Perjuangan pokok feminisme adalah merubah cara masyarakat, agar menyamakan perlakuan tanpa memandang gender. Sebab dalam keyakinan feminisme, konstruk sosial masyarakat akan kedua gender yang menentukan. Perempuan dibentuk masyarakat untuk feminim dan pria dibentuk menjadi maskulin. Demikian pula hadirnya penyimpangan adalah sebuah konstruk, bukan bawaan lahir.

Adanya revolusi industri juga membawa revolusi masyarakat, yakni munculnya borjuis-borjuis (kapitalis) baru. Alih-alih membawa kesejahteraan bagi kaum lemah (perempuan dan anak-anak), revolusi semakin menekan perempuan yang sebelumnya telah terhimpit masyarakat feodalisme. Dan feminisme muncul sebagai respon.

Dalam buku The Myth of the Vaginal Orgasm, Anne Koedt (1970), seorang feminis radikal Amerika menggiring opini, “Jika laki-laki berhak memperoleh kepuasan seksualnya sendiri tanpa memperdulikan kepuasan wanita, maka wanita pun berhak memperoleh kepuasan seksual tanpa laki-laki”. Dan meledaklah gerakan feminis libertarian dan radikal. Setali tiga uang, demikian pula di gender adam muncul Gay Liberation Movement, yang pada tahun 1972 berubah menjadi LGBT Movement.

Yang patut dipertanyakan, mengapa kini berusaha diopinikan bahwa LGBT adalah bawaan lahir, alamiah, normal yang tidak dapat diubah? Seratus delapan puluh derajat dengan keyakinan mereka diawal perjuangan bahwa gender dan orientasi seksual adalah hasil konstruk masyarakat (bisa diubah)?

Presisten tapi inkonsisten. LGBT salah dari awal. Semakin ditelaah semakin nampak kesalahan ide LGBT. Kemunculan dan pembiarannya tak lepas dari konstruk masyarakat yang dibentuk peradaban rusak kapitalis. Materi adalah tujuan. Kebebasan adalah kebutuhan. Keegoisan adalah keniscayaan. Homo homini lupus, manusia menjadi srigala bagi manusia yang lain.

Dunia telah ‘memanen’ hasil gerakan ini, AIDS pertama kali dilaporkan pada tanggal 5 Juni 1981 pada lima laki-laki homoseksual di Los Angeles. Di Indonesia, HIV pertama kali dilaporkan di Bali pada bulan April 1987, terjadi pada pria homoseksual berkebangsaan Belanda. KPAN dan Kementerian Kesehatan memperkirakan peningkatan infeksi baru yang signifikan pada seluruh kelompok LSL (lelaki seks dengan lelaki). UNESCO tahun 2014 mendokumentasikan 95% kasus HIV baru di Asia Tenggara berasal dari LSL dan transgender. Akan tetapi tahun 2016 UNDP justru  mengucurkan dana Rp 108 Miliar sebagai bentuk dukungan program ‘Being LGBT in Asia’.

Dobrakan Solusi untuk Mengakhiri

Kusutnya solusi untuk LGBT dengan segala kerusakan yang dibawa berawal dari standar nilai yang digunakan, liberalisme (kebebasan berperilaku). Alhasil, solusi yang hadir hanya semacam ‘pemadam kebakaran’ namun enggan memusnahkan sumber api. Arogansi pelaku dan pengusung ide ini sama sekali tidak membantu meredakan kerusakan yang dibawa.

Maka penting, perombakan solusi hingga ke dasar standar. Ditransformasikan ke dalam tata kehidupan dan formalisasi sistem. Tanpa ini, tidak akan benar-benar ada solusi. Sementara korban dan generasi tidak bisa hanya menunggu masuk dalam jurang kebinasaan yang pasti.

Dibanding nilai Barat, Islam memiliki keunggulan dari sisi standar, tata kehidupan dan sistemnya. Secara nilai jelas, Islam tidak kesulitan mengidentifikasi, gender dan orientasi seksual apakah pemberian atau konstruk sosial? Apakah setiap orientasi seksual dibolehkan atau tidak?

Tanpa eksperimen sosial yang berdarah-darah dan memakan waktu lama, Islam menempatkan gender adalah qadla (ketetapan) dan hubungan seksual hanya ada dalam pernikahan pasangan hetero. Diluar itu adalah penyimpangan (kriminal). Maka default yang muncul adalah meminimalisir faktor pemicu (preventif) dan eliminasi setiap kejadian yang muncul (kuratif).

Pembinaan keimanan individu, pengasahan kepedulian masyarakat dan negara yang memfasilitasi pencegahan LGBT merupakan kombinasi ampuh. Hanya Islam yang mampu menghadirkan kombinasi tersebut. Sebab dalam Islam tata kelola negara adalah ibadah, bukan untung rugi materi. Sebab kepedulian masyarakat semata karena Allah, bukan sekedar ajang ceremony. Sebab ketakwaan individu adalah kebutuhan bukan dipandang sebagai pengekangan hak asasi.

Di tengah kombinasi apik yang terbentuk, kasus LGBT akan nyaris nol. Kalaupun ada yang nekat, sanksi tegas memberikan gambaran ngeri bagi siapa saja yang berniat mengikutinya. Rasullullah shallallahu ‘alahi wa sallam bersabda,  “Barangsiapa yang kalian dapati melakukan perbuatan kaum Luth, maka bunuhlah kedua pelakunya ” [HR Tirmidzi : 1456, Abu Dawud : 4462, Ibnu Majah : 2561 dan Ahmad : 2727]

Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

One comment on “LGBT: Presisten Namun Inkonsisten”

  1. Solusinya jika kita punya anak mari kita peduli dan didik mereka sejak dini agar mengerti tanggung jawab mereka khususnya dengan belajar agama secara kaffah.

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Suara Pembaca

Relawan KNB Blusukan Bagi-bagi Nasi Bungkus untuk Kaum Dhuafa

Sasaran pembagian nasi gratis untuk santap malam kali ini ditujukan untuk para lansia yang masih bekerja secara halal.

Ahad, 21/10/2018 06:29 0

Indonesia

Memasuki Musim Hujan, Ini Kebutuhan Mendesak Korban Bencana Sulteng

Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Sutopo Purwo Nugroho memaparkan bahwa hunian sementara (Huntara) menjadi kebutuhan mendesak bagi korban bencana Sulteng.

Ahad, 21/10/2018 00:25 0

Indonesia

Update Korban Bencana Sulteng: 2.113 orang meninggal dan 1.309 hilang

Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Sutopo Purwo Nugroho memberikan perkembangan soal korban bencana gempa dan tsunami di Sulawesi Tengah.

Ahad, 21/10/2018 00:11 0

Manhaj

Protokol Zionis di Balik Hancurnya Wibawa Ulama

Dalam Protokol Zionis disebutkan bahwa salah satu cara mereka menguasai dunia adalah dengan cara menghancurkan wibawa para tokoh agama di hadapan pemeluknya

Sabtu, 20/10/2018 20:22 0

Indonesia

KPK Sulit Temukan Kader PDIP Ali Fahmi yang Jadi Saksi Kunci Suap Bakamla

KPK Sulit Temukan Kader PDIP Ali Fahmi yang Jadi Saksi Kunci Suap Bakamla

Sabtu, 20/10/2018 16:16 0

China

Warga Taiwan Gelar Demonstrasi Tuntut Referendum Kemerdekaan dari Cina

Warga Taiwan Gelar Demonstrasi Tuntut Referendum Kemerdekaan dari Cina

Sabtu, 20/10/2018 16:15 0

Indonesia

Soal Perusakan Barang Bukti Buku Merah Basuki Hariman, Begini Kata Jubir KPK

Juru bicara Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) ditanya wartawan soal tindak lanjut kasus perusakan barang bukti buku merah basuki Hariman

Sabtu, 20/10/2018 13:27 0

Indonesia

KPK Berencana Periksa CEO Lippo Group James Riady Terkait Kasus Suap Meikarta

KPK Berencana Periksa CEO Lippo Group James Riady Terkait Kasus Suap Meikarta

Sabtu, 20/10/2018 12:46 0

Info Event

Aa Gym Resmikan Rumah Tangguh Lombok

Aa Gym Resmikan Rumah Tangguh Lombok

Sabtu, 20/10/2018 10:48 1

Arab Saudi

Penyelidikan Saudi: Jamal Khashoggi Tewas Dikeroyok di Konsulat

Masih menurut Jaksa Agung, penyelidikan terhadap orang yang terlibat pengeroyokan Khashoggi berlanjut. Jumlah mereka sebanyak 18 orang, semuanya warga Negara Saudi.

Sabtu, 20/10/2018 07:13 0

Close