... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

Suara Pembaca

Esensi Pentingnya Membaca

Foto: Ilustrasi.

Penulis: Ahmad Zacky Makarim & Zasfariza Ilyasa Suwaryo (Co-Founder & Founder Komunitas “ARCHI” IIUM Malaysia)

 

KIBLAT.NET – Membaca itu sangatlah penting. Kalimat “membaca” bagi kita sudah bukan barang asing lagi bagi telinga para pembaca. Sejak kecil kita sudah diperkenalkan dengan kalimat tersebut. Bahkan diperluas lagi dengan istilah memindai, membaca cepat atau istilah lain ala-ala modern seiring dengan berkembangnya waktu. Membaca yang terdiri dari tujuh huruf ini pada hakikatnya bertujuan mengasah akal kita, mengasuh jiwa untuk saling asih terhadap sesama. Idealnya memang begitu. Realitanya kadang sedikit meleset, di era modern membaca ini seperti mengalami shifting atau pergeseran nilai. Terbukti dari banyaknya orang-orang yang lebih rajin membaca whatsapp dibanding membaca buku yang dianggap sudah ketinggalan zaman alias jadoel.

Tetapi ke-jadoel-an sebuah buku disadari atau tidak, telah banyak memberikan kontribusi dalam menunjang peradaban hingga kini. Lembaran demi lembaran tersebut melahirkan sosok kaum intelektual yang visioner dalam melahirkan peradaban Islam. Yang telah mengalami renaissance 700 tahun lebih dulu sebelum barat. Walhasil, lahirlah seorang Ibnu Maskawaih dengan metode introspeksinya, Avicenna dengan kedokterannya, Al-Farabi yang mula-mula menulis ekonomi politik yang sampai pada Machiavelli dan Baitul Hikmah sebagai pusat peradaban ilmu kala itu. Pusaka-pusaka yang tak ternilai itu meninggalkan buah manis yang kini dinikmati para penuntut ilmu di zaman ini. Ihwal ini tidak bisa dipungkiri adalah hasil manifestasi dari wahyu pertama yang turun kepada Rasulullah yang ketika itu diperintahkan untuk iqra atau membaca. Meskipun kala itu Rasulullah adalah seorang yang ummi alias buta huruf.

BACA JUGA  Akankah Hukum Menyala Kepada La Nyalla?

Maknanya, membaca pada hakikatnya bukanlah barang remeh temeh tetapi merupakan sesuatu yang sakral dalam mencerdaskan sebuah bangsa. Sayangnya, keadaan tersebut rasanya belum berpihak pada Indonesia kini. Berdasarkan studi “Most Literred Nation in the world 2016” menunjukkan minat baca Indonesia berada di peringkat 60 dari 61 negara. Ini menunjukkan mutu pendidikan Indonesia masih jauh dari kata baik. Parahnya lagi, negara kita belum menetapkan daftar bacaan wajib di sekolah padahal di negara lain seperti Nigeria telah mewajibkan anak didiknya untuk membaca “Things Fall Apart”. Dus, para pelajar di Iran juga diwajibkan membaca puisi karya Hafiz, Ferdowsi, Rumi, Omar Khayyam dan masih banyak contoh dari negara lain

Menurut Tere Liye, membaca dapat melatih kerendahan hati seorang insan sejati karena membaca adalah sebuah proses interaksi sebuah pemikiran dengan pemikiran yang lain. Dengan kata lain, ketika bangsa jauh dari membaca maka tingkat kerendahan hati di dalam jiwa manusia akan mengikis dan tingkat keangkuhan meningkat. Bangsa yang tidak membaca merupakan bangsa yang angkuh. Kerendahan hati merupakan indikasi adanya nilai toleransi, keadilan, kejujuran, demokrasi dalam sebuah bangsa. Kerendahan hati seorang manusia juga dapat merefleksikan modernitas sebuah bangsa dan masyarakat yang madani.

Sebuah negara bernama Indonesia telah lahir tidak lepas dari para kutu buku yang melakukan perubahan besar. Sungguh, membaca dapat menjadi lentera penerang akal dan jiwa agar berpendar terang mengisi relung jiwa para manusia yang kini terlalu sibuk dengan gawainya dan asyik dengan internetnya. Dalam sehari, kita mempunyai waktu 24 Jam yang diberikan secara cuma-cuma oleh yang Maha Kuasa. Tetapi seberapa baik kita memanfaatkan waktu tersebut untuk membaca buku? Akankah kita merubahnya?.

BACA JUGA  Separatis dalam Pusaran Kapitalis

~ Sebaik-baik teman adalah Buku ~ (Pepatah)

Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Suriah

Pejabat PBB: Pendirian Zona Demiliterisasi di Idlib Akan Diperpanjang

Oposisi sendiri melihat antara Turki dan Rusia masih berbeda penafsiran dalam memahami poin-poin kesepakatan

Jum'at, 19/10/2018 12:00 0

Manhaj

Dakwah, Iqamatul Hujjah dan Jihad, Tiga Tahapan Penegakan Islam

Artinya untuk melalui tahapan pertama dan kedua itu butuh waktu yang tidak sebentar. Jadi, salah besar bila semangat menegakkan Islam diawali dengan jihad senjata sementara jihad dengan pemikiran dan menegakkan hujjah belum ditempuh dengan maksimal.

Jum'at, 19/10/2018 11:00 0

Indonesia

Hanan Attaki: Persatuan Umat Dimulai dari Bersatunya Hati

Hanan Attaki Persatuan Umat Dimulai dari Bersatunya Hati

Jum'at, 19/10/2018 09:53 0

Afghanistan

Kembali Seru Boikot Pemilu, Taliban: Pemilu Tak Sesuai Islam dan Budaya

“Pemilu adalah konspirasi Barat yang bertujuan memperpanjang pendudukan dan tidak berdasar pada Islam atau budaya Afghanistan. Kewajiban setiap warga Afghanistan yang beragama Islam harus menentangnya,” kata pernyataan Taliban, seperti dikutip Reuters pada Kamis.

Jum'at, 19/10/2018 09:10 0

Prancis

Paris Pasok Militer Mesir Senjata saat Penggulingan Muhammad Mursi

Organisasi HAM menuduh senjata-senjata itu digunakan untuk membungkam rakyat.

Jum'at, 19/10/2018 08:27 0

Rusia

Putin: Mengeluarkan Iran dari Suriah Bukan Tanggung Jawab Kami

"Membujuk Iran untuk menarik diri dari Suriah bukanlah masalah Rusia. Teheran dan Damaskus memiliki kesepakatan sendiri," kata Putin seperti dikutip oleh Russia Today, Kamis (18/10).

Jum'at, 19/10/2018 07:20 0

Afghanistan

Taliban Serang Pertemuan Jenderal AS dan Petinggi Kandahar, Gubernur Tewas

Tak hanay Gubernur, serangan itu juga menewaskan kepala polisi dan kepala intelijen provinsi Kandahar

Jum'at, 19/10/2018 06:24 0

Indonesia

INDEF: Indonesia Lucu, Harga Minyak Dunia Naik Atau Turun Selalu Ribut

"Di Indonesia ini lucu, ketika harga minyak dunia turun pemerintah dan rakyat pada ribut. Apalagi saat ini harga minyak dunia naik semua juga pada ribut"

Kamis, 18/10/2018 21:09 0

Manhaj

Dahsyatnya Dosa Pelaku LGBT

Imam Ibnul Qayyim Al-Jauziyah di dalam kitab Ad-Da’ wad Dawa’ menjelaskan bahwa dosa LGBT lebih dahsyat daripada dosa pembunuhan. Dosa liwath setingkat di bawah dosa syirik. Ibnul Qayyim Al-Jauziyah memaparkan beberapa alasan kenapa dosa liwath lebih dahsyat dibanding dosa-dosa besar yang lainnya.

Kamis, 18/10/2018 20:15 0

Indonesia

Muslim United Momentum Anak Muda Terbuka Sikapi Perbedaan

Muslim United Jadikan Anak Muda Terbuka Sikapi Perbedaan

Kamis, 18/10/2018 20:00 0

Close