... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

Suara Pembaca

Gara-gara Algoritma

Foto: Algoritma media sosial membuat kita makin pinter dan makin fanatik.

Oleh: Multazim Jamil, penikmat susu jahe

KIBLAT.NET – Internet dan media sosial, dengan berbagai platformnya, hari ini bukan lagi hal yang mewah. Kemudahan akses internet dan media sosial telah dapat dirasakan oleh mayoritas masyarakat, kecuali di daerah yang benar-benar pelosok. Masalahnya, hari ini di masyarakat terjadi polarisasi atau pengkubuan, sebagai hasil dari interaksi antara masyarakat dan informasi yang berseliweran di internet dan media sosial. Akhirnya, dalam benak masyarakat kita hanya dikenal hitam atau putih. Logika 0 atau logika 1.

Misalnya, semenjak pemilihan Presiden tahun 2014, salah satu fenomena yang hingga kini belum hilang adalah pengkubuan antara dua pendukung calon presiden saat itu. Ada kubu cebong yang punya musuh bebuyutan bernama kampret. Sekali Anda berani mengkritisi tokoh junjungan cebong, hampir 100% Anda akan dilabeli sebagai kampret. Begitu pun sebaliknya. Kini, pada pemilihan Presiden tahun 2019 nanti, kedua calon kembali dipertemukan dalam duel ulangan. Maka kisah polarisasi cebong dan kampret untuk saat ini masih terus berlanjut.

Selain polarisasi antara cebong dan kampret, ada satu fenomena polarisasi lain yang telah terserap ke dalam prototipe keduanya. Skandal penistaan agama oleh mantan Gubernur Jakarta, Ahok, turut menambah sekat kedua kubu menjadi semakin tebal dan tinggi. Kubu cebong diidentikkan dengan massa pro-Ahok, kubu Kampret (hampir) pasti pro-Aksi 212, yang anti-Ahok.

Mengapa polarisasi tersebut bisa bertahan dalam jangka waktu yang relatif lama? Adakah hubungan antara fenomena pengkubuan dengan internet dan media sosial? Ya jelas ada. Lha wong sudah dikasih kode di prolog.

Mari kita mengulang waktu, kembali ke tahun 2009. Anda tahu Google kan? Bukan, bukan Google warung nasi bungkus yang ada di bilangan kampus Undip Semarang itu. Ini soal Google si mesin pencari. Nah, sejak akhir tahun 2009, Google mulai melakukan rekayasa hasil pencarian, dengan menyesuaikan dengan riwayat penjelajahan di peramban kita. Kita mengenalnya dengan nama “algoritma”. Jadi, gara-gara algoritma Google tersebut, alih-alih memberikan hasil terpopuler, Google justru memberikan hasil yang sesuai dengan preferensi kita, termasuk, misalnya, lokasi kita.

BACA JUGA  Kasus Ratna Sarumpaet Tak Dapat Diperluas, Pelaporan Prabowo dkk Dipertanyakan

Kata kuncinya adalah: relevansi. Google ingin memberikan kita hal-hal yang memiliki relevansi dengan diri kita. Sebagai sebuah strategi bisnis, rumus perusahaan raksasa tersebut sangat sederhana: Semakin relevan secara personal penawaran informasi yang mereka berikan kepada pengguna, semakin banyak iklan yang dapat mereka jual, dan semakin besar kemungkinan Anda membeli produk yang mereka tawarkan.

Formula itu berhasil. Konon, Amazon bisa menjual barangnya senilai miliaran dolar dengan memprediksi apa yang menarik perhatian setiap pelanggan dan meletakkannya di halaman depan toko virtualnya. Fakta lainnya, 60 persen omset dari persewaan film Netflix berasal dari tebakan terkait personal penggunanya yang dapat dibuat tentang preferensi masing-masing pelanggan. Personalisasi adalah strategi inti yang digunakan oleh lima situs teratas di Internet — Yahoo, Google, Facebook, YouTube, dan Microsoft Live.

Eli Pariser, CEO dari Upworthy, sebuah situs konten viral, mengistilahkan personalisasi tersebut sebagai filter bubble (gelembung filter). Tanpa kita sadari, sebagai pengguna Google, kita telah masuk ke dalam gelembung filter kita sendiri. Begitu pun dengan orang lain, akan masuk pada gelembung filter sesuai dengan relevansi dengan diri masing-masing. Gelembung filter ini menyempitkan pandangan kita, membatasi kita dari banyak pilihan lain di luar gelembung filter yang kita tempati.

Lalu, rekayasa sosial terkait gelembung filter ini juga dimanfaatkan oleh media sosial ternama seperti Facebook. Clint Watts, seorang mantan agen FBI, menyebutnya gelembung preferensi, sebuah kelanjutan dari gelembung filter.

Informasi tersebar begitu bebas di media sosial terlepas dari valid atau tidaknya. Seorang pengguna media sosial kemudian menjadi obyek rekayasa sosial ini berdasarkan preferensi pribadinya. Jika ia seorang yang condong kepada preferensi politik tertentu, ia akan sering mendapatkan kabar berita tentang preferensi politiknya, dan tidak akan, atau jarang, melihat informasi terkait pilihan politik yang tidak ia sukai. Begitulah algoritma media sosial bekerja.

Kemudian, sebagai hasil dari gelembung preferensi ini adalah ketika pengguna melihat informasi yang menegaskan keyakinan mereka, mereka menyukainya, membagikannya, dan mendiskusikannya.

Maka muncul kecenderungan untuk mencari atau menafsirkan informasi yang menegaskan keyakinan atau preferensi mereka saja. Ketika pengguna media sosial melihat tautan informasi yang menentang keyakinan dan keinginan mereka, mereka dapat memblokir penyebar konten. Atau jika mereka ingin melawan penyebar, mereka akan mencari dan mempromosikan konten yang berisi prefensi pribadinya.

BACA JUGA  Kasus Ratna Sarumpaet Tak Dapat Diperluas, Pelaporan Prabowo dkk Dipertanyakan

Tak ada, atau miskin konfirmasi. Validnya informasi menjadi nomer ke sekian. Yang penting adalah preferensi pribadi kita mampu tersalurkan untuk menjawab pernyataan kubu lawan.

Keadaan ini menarik pengguna media sosial ke dalam sebuah kelompok, yang kita sebut saja “kesukuan virtual”. Banyak dari anggota kesukuan virtual ini mengalihkan tanggung jawab dan inisiatif individu mereka kepada kepala suku, atau dalam media sosial disebut influencer. Biasanya, seorang influenceradalah pemilik suara terkuat di kelompok kesukuan virtual tersebut. Influencer ini bukanlah pemimpin tunggal. Ada beberapa orang yang berperan sebagai influencer. Unggahan di akun media sosialnya menggambarkan isi hati anggota sukunya.

Kesukuan virtual tersebut membuat keputusan kolektif berdasarkan pemikiran kelompok, memblokir sudut pandang alternatif, informasi baru, dan ide. Suku-suku virtual yang terbentuk lalu terevolusi menjadi kantung politik, sosial, agama, etnis, dan ekonomi. Untuk mempertahankan status quo, dan mengeliminasi perubahan, semua anggota suku tersebut harus membungkam perbedaan pendapat atau terpaksa menghadapi berbagai bentuk bullying dari kelompok tersebut.

Kawan baik saya pernah mengalaminya. Ketika diundang menjadi pembicara di suatu daerah, ia terpaksa menerima bullying dalam bentuk bisik-bisik tetangga, eh peserta. Konon, awalnya kawan saya tersebut dalam sebuah unggahan Facebook, memberi wacana baru tentang suatu hal, dan menentang paradigma lama. Alhasil, bukan diskusi tentang wacana, justru bullying yang didapat. Mesakne!

Sampai di sini, paham? Tarik nafas dulu, atau ambil minum segelas air putih, jangan kopi. Ingatlah pesan Menteri Ekonomi, Bu Sri Mulyani, untuk generasi Milenial agar mengurangi ngopi. Apalagi kalau ngopinya di Starbuck.

Kita berdoa saja, agar suku cebong dan suku kampret segera mendapat hidayah, agar ummat Islam tak lagi terbelah. Toh, Pak Jokowi ataupun Pak Prabowo, mereka itu sama kok. Sama-sama belum jelas komitmen dan pembelaannya kepada Islam dan umat Islam.

 

Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

2 comments on “Gara-gara Algoritma”

  1. Lia

    Suka bgt sama kalimat terakhir! Sprtinya qta satu suku Pak..haha

  2. deedee

    kita memang cenderung menduplikasi sekitar, sifat sosial dasar manusia deh itu kayaknya. Jadi gampang banget kalo urusan menggiring opini ya, arahkan aja sesuai dengan sekitarnya, cuma ada dua opsi aja kan : kalo gak kiri ya kanan, kalo gak hitam ya putih. Simple!

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Indonesia

KPAI Minta Pemerintah Siapkan Kurikulum Sekolah Darurat

KPAI Minta Pemerintah Siapkan Kurikulum Sekolah Darurat

Selasa, 09/10/2018 14:34 0

Indonesia

Rumah Sakit Lapangan BSMI di Sigi Mulai Diserbu Pasien

Rumah Sakit Lapangan BSMI di Sigi Mulai Diserbu Pasien

Selasa, 09/10/2018 14:28 0

Indonesia

Rizal Ramli: Krisis 1998 karena Indonesia Mengundang IMF

Ekonom senior, Rizal Ramli memaparkan bahwa krisis yang terjadi pada tahun 1998 silam karena Indonesia mengundang IMF.

Selasa, 09/10/2018 14:27 0

Indonesia

Cegah Kenakalan, Orang Tua Harus Menjadi Sahabat Bagi Anaknya

Cegah Kenakalan, Orang Tua Harus Menjadi Sahabat Bagi Anaknya

Selasa, 09/10/2018 14:20 0

Indonesia

Tengku Zulkarnain: Diskualifikasi Atlet Judo Indonesia karena Berhijab Tunjukkan Kebencian ke Islam

dengan adanya diskualifikasi yang diterima Miftahul Jannah, kompetisi ini justru menjadi 'cacat'.

Selasa, 09/10/2018 13:57 0

Indonesia

Tiga Pemuda Nabire Papua Bawa Bantuan 159 Koli untuk Korban Gempa Palu

Tiga Pemuda Nabire Papua Bawa Bantuan 159 Koli untuk Korban Gempa Palu

Selasa, 09/10/2018 11:45 0

Indonesia

Warga di Sigi Berebut Untuk Dapatkan Bantuan

Warga di Gumbsa, Sigi berebut untuk dapatkan bantuan, sampai-sampai ada yang tak kebagian

Selasa, 09/10/2018 11:23 0

Afghanistan

Taliban Seru Warga Afghanistan Boikot Pemilu Parlemen

Juru bicara Taliban, Zabihullah Mujahid, mengatakan bahwa Amerika Serikat menggunakan pemilu untuk tujuan tunggal, yaitu melegitimasi kehadiran dan otoritasnya di Afghanistan.

Selasa, 09/10/2018 07:30 0

Suriah

Anadolu: Oposisi Tarik Seluruh Senjata Berat dari Zona Demiliterisasi Idlib

Berdasarkan video dan foto yang ditampilkan, truk-truk yang mengangkut senjata tersebut berbendera Jabhah Wathaniyah lit Tahrir (JWT) atau Front Nasional Pembebasan. Sebagian tank dan senjata tertempel logo faksi Faylaq Al-Syam, member JWT.

Selasa, 09/10/2018 06:47 0

Indonesia

Nama Kapolri Tito Disebut di Rilis IndonesiaLeaks

Indonesialeaks menyatakan, tertulis dalam dokumen itu ada nama Tito Karnavian," tambahnya.

Selasa, 09/10/2018 06:19 0

Close