... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

In Depth

Umat Islam Pernah Berjaya: Sebuah Strategi Memimpin Peradaban

Foto: Kejayaan Islam (Ilustrasi)

Oleh: Nur Zakiyah Mukarromah, mahasiswi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Artikel ini adalah salah satu dari artikel yang ikut dalam Lomba Artikel Islami Nasional yang diadakan oleh Muslimah MPI Lampung

KIBLAT.NET – “We in the West owe a debt to the Muslim world that can be never fully repaid.’’ Itulah yang dikatakan Tim Wallace Murphy dalam bukunya “What Islam Did For Us: Understanding Islam’s Contribution to Western Civilization” (London: Watkins Publishing, 2006). 

Melalui karyanya ini, Tim Wallace Murphy menyatakan bahwa selamanya Barat tidak akan mampu melunasi hutangnya pada Islam. Bagaimana tidak? Islamlah yang memberikan titik cahaya kepada Barat sehingga Barat mampu mengalamai masa yang mereka sebut sebagai Rennaisance. Pada abad ke-7 M sejarah telah menulis bahwa Islam menjadi peradaban gemilang dengan menyumbang berbagai karya ilmu pengetahuan, sehingga Islam menjadi sumber peradaban negeri adidaya pada masa itu.

Islam memanglah agama yang telah sempurna sejak ia diturunkan. Islam memiliki syariat dengan pedoman yang jelas. Al-Qur’an dan hadits menhadi sumber hukum dan ilmu pengetahuan absolut. Tentu saja, hal ini merupakan bonus bagi umat islam karena, mereka tidak perlu mendebatkan hukum-hukum yang telah jelas ditetapkan dalam Al-Qur’an. Al-Qur’an pun menjadi sumber ilmu pengetahuan yang kredibel. Banyak pernyataan sains dalam Al-Qur’an yang baru terbukti kebenarannya beberapa abad setelah turunnya Al-Qur’an itu sendiri. Hal ini membuktikan, bahwa Allah dan Rosul-Nya telah memberikan kunci ilmu, sains, bahkan kunci peradaban yang gemilang kepada umat Islam.

Islam pernah menjadi “pemilik peradaban” selama lebih dari ratusan tahun, melalui kepemimpinan Islam di Baghdad dan Andalusia pada abad ke-7 hingga abad ke-12 M. Saat itu, seluruh agama hidup damai dibawah kekuasaan Islam. Namun, kepemimpinan Islam mulai runtuh dikarenakan adanya kondisi pemerintahan yang tidak stabil, utamanya karena pejabat-pejabat dan putra mahkota memiliki  akhlak yang rusak. Mereka menjadi serakah terhadap harta dan acuh terhadap kesejahteraan masyarakat. Hingga, ujung dari kekacauan ini ialah kehancuran kerajaan Islam terakhir di Andalusia, Al-Hambra. Dengan begitu, berakhir pulalah kegemilangan peradaban Islam. Sungguh disayangkan peradaban yang begitu gemilang, menjadi hancur karena keserakan pemerintah terhadap harta pemerintahannya sendiri. Namun, cukuplah sejrah ini menjadi bukti bahwa umat islam sebenarnya mampu menjadi pemimpin dunia.

Tentu saja sejarah mengenai kegemilangan peradaban islam bukanlah skenario iseng Allah untuk menghabiskan masa aktif bumi. Sejarah ini merupakan pelajaran bagi umat-umat setelahnya untuk menjadi khalifah yang lebih baik di bumi (Q.S Hud : 120).  Saat ini, umat Islam menjadi peran terbawah di hierarki Peradaban Barat.Umat Islam ada dibawah hegemoni peradaban Barat yang mencengkram. Berbeda dengan karakteristik umat islam saat memimpin peradaban, Peradaban Barat cenderung memiliki budaya mengikis moral yang tentu saja hal ini berlawanan dengan syariat Islam.

Untuk itu, umat Islam harus bangkit dan menyadari betapa berbahayanya kondisi sekarang untuk kelangsungan generasi islam. “Umat Islam memimpin dunia”, Inilah proyek yang harus disukseskan jika umat Islam ingin menegakkan dinullah dengankaffah. Pernyataan ini tidak berlebihan, karena nyatanya Peradaban Barat tiada kompromi untuk menghegemoni budayanya kepada seluruh elemen, meskipun itu bertentangan dengan syariat Islam. Menjadi pemimpin dunia memanglah bukan langkah yang mudah. Banyak PR yang harus dibereskan umat islam terlebih dahulu. Namun begitu, juga bukanlah hal yang mustahil untuk mampu dicapai umat Islam.

BACA JUGA  Mengenal Ulama Bersama KH. Hasyim Asy’ari

Shalahudin Al Ayyubi. Siapa sejarawan islam yang tak kenal dengan sosok heroik ini? Beliau adalah pemimpin besar kemenangan Perang Salib atas umat islam. Sungguh, kemanangan yang diperoleh beliau atas Perang Salib bukanlah sesuatu yang dicapai hanya dengan do’a dan belas kasihan. Dalam buku “Hakadza Zhabara Jil Sbahlhiddin wa Hakadza ‘Adet al Quds”,yang ditulis oleh Dr. Majid ‘Irsan AI Kilani menuturkan bahwa kemenangan perang Salib, bukanlah kemenangan tunggal Shalahudin Al-Ayyubi. Saat itu, kondisi umat Islam sangat memprihatinkan. Banyak umat islam yang mengidap penyakit fanatisme madzhab, hubbuddunya, kerusakan moral,  takut mati.

Para ulama’ dibalik Perang Salib, selanjutnya sangat gigih beraliansi untuk mengembalikan fitroh keumatan. Sehingga, umat menyadari akan pentingnya persatuan dan bertaqwa kepada Allah. Dari sekian upaya-upaya yang dilakukan, gong besarnya ialah kemenangan pasukan Shalahudin Al-Ayyubi atas Perang Salib pada 1154 M. Jadi,  Shalahudin Al-Ayyubi hanyalah pemecah batu terakhir, dari sekian banyak usaha pemecahan batu oleh sebelumnya. Maka dari itu, ketaqwaan dan persatuan umat islam menjadi hal yang primer jika umat islam ingin kembali memimpin dunia.

Sultan Muhammad Al-Fatih. Siapa pula yang tidak mengenal sultan muda yang legendaris ini? Diumur yang ke 21 tahun beliau berhasil menaklukan sebuah imperium besar umat kristiani, Konstantinopel. Tentu saja, sebagaimana Shalahudin Al-Ayyubi, kemenangan Al-Fatih bukanlah kemenangan yang kebetulan dan instan. Telah banyak umat islam sebelumnya yang mencoba menaklukan imperium besar ini. Bahkan, makam Abu Ayyub Al-Anshari yang telah berada disisi benteng Kontantinopel sejak masa sahabat, menunjukkan betapa gigih pasukan-pasukan terdahulu telah berupaya menaklukan Konstantinopel.

Upaya-upaya umat muslim untuk menaklukan Konstantinopel pada periode sebelumnya, memudahkan jalan Al-Fatih untuk mengambil alih tahta Konstantinopel. Al-Fatih memang telah disiapkan sejak kecil oleh ayahnya untuk menjadi penakluk Konstantinopel. Oleh sang ayah, Al-Fatih dititipkan kepada guru yang mendidiknya hingga menguasai berbagai ilmu, diantaranya strategi perang, matematika, astronomi, fiqh, bahasa, dsb. Terbukti bahwa kemenangan besar Al-Fatih bukanlah kemenangan instan. Telah ada proses dan strategi yang matang dari kemenangan tersebut.

Al-Fatih juga selalu diberi pemahaman oleh guru dan ayahnya bahwa, beliaulah pemimpin yang diwartakan Rosulullah SAW berabad-abad lalu.”Sungguh Konstantinopel akan ditaklukan, yang menjadi pemimpin dalam penaklukan itu, ialah sebaik-baik pemimpin dan pasukan dalam penaklukan itu ialah sebaik-baik pasukan”. Ini adalah hadis yang sangat “meragukan” pada masanya. Mana mungkin umat islam yang saat itu masih sangat minim, mampu menaklukan imperium besar sekelas Kontantinopel? Namun, Rasulullah SAW memanglah seorang visioner yang hebat, 9 abad setelahnya pernyataan Rosulullah tersebut benar-benar terjawab oleh kemenangan sultan muda Al-Fatih atas Konstantinopel.

BACA JUGA  Raja Gila dan Kita Yang Gila Raja

Umat Islam sangat beruntung karena memiliki seorang panutan seperti Rasulullah SAW yang cerdas, ahli strategi, visioner, dan sangat humanis. Kemenangan-kemenangan besar umat islam dalam berdakwah selalu didasari dengan strategi yang termaktub dalam Al-Qur’an dan Al-Hadits. Al-Qur’an telah menjelaskan berbagai macam ilmu pengetahuan, strategi dakwah, sejarah, hukum, syariat, dan sebagainya. Rasulullah SAW pun juga membekali umatnya dengan sunnah beliau yang lengkap dan selalu relevan dengan zaman. Umat Islam sangat beruntung karena telah dibekali Al-Qur’an dan Al-Hadits yang kebenaran dan kesahihanya absolut. Lalu mengapa umat Islam terpuruk?

Tentu hal ini dikarenakan umat islam sendirilah yang lari dari Al-Qur’an dan Al-Hadits. Umat Islam memiliki penyakit hubbuddunya, kerusakan moral, dan fanatisme madzhab sebagaimana yang terjadi pada masa Shalahudin Al-Ayyubi. Umat islam hanya perlu memahami Al-Qur’an dan Al-Hadits nya kembali untuk bisa bangkit dari keterpurukan. Umat islam harus menyadari betapa pentingnya memahami sains, syariat islam, ‘ulumul qur’an wal hadits, dan cabang-cabang keilmuan yang lain.

Dengan apa yang telah Allah turunkan dan apa yang telah Rasulullah SAW bekalkan, umat Islam akan sangat mudah untuk menjadi pemimpin dunia. Pertanyaannya akan menjadi sangat sederhana, “Maukah umat islam mempelajari Al-Qur’an dan Hadits dengan implementasi dan totalitas?” Sungguh di masa ini bukanlah hal yang mudah untuk untuk memahami pedoman islam secara kaffah. Hegemoni Peradaban Barat yang bobrok telah menyandera dunia. Umat islam saat ini perlu berupaya keras, bahkan melebihi kerasnya upaya tim sukses Shalahudin Al-Ayyubi dan tim sukses Sultan Muhammad Al-Fatih. Memahami pedoman islam, Persatuan umat, menghargai antar madzhab, menyadari pentingnya sains,  dan reformasi moral ialah PR besar intern umat islam yang harus dituntaskan terlebih dahulu sebelum siap memimpin dunia.

Masing-masing muslim haruslah memiliki kontribusi dalam tim sukses proyek “Umat muslim memimpin dunia” . Entah menyumbang pemahaman ulumuddin, keturunan yang salih-salihah, ilmu pengetahuan, hasil penelitian, harta benda, atau yang lain. Namun, garis besarnya ialah, tiada kemenangan besar tanpa ada proses dan strategi yang matang. Ketika umat Islam menyadari betapa pentingnya kontribusi dari mereka untuk menyukseskan proyek “Umat muslim memimpin dunia” maka, proyek ini akan menjadi sangat mungkin untuk terealisasi.

Percayalah bahwa Shalahudin Al-Ayyubi dan Muhammad Al-Fatih juga mengalami proses panjang hingga akhirnya berhasil menyumbang kemenangan besar bagi Islam. Sekali lagi, pertanyaannya akan menjadi sangat sederhana, “Maukah umat Islam mempelajari Al-Qur’an dan Hadits dengan implementasi dan totalitas?” Biarlah nurani kecil kita masing-masing yang menjawab.

Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Indonesia

BNPB: Listrik di Sulawesi Tengah Pulih 75%

Kepala Pusat Data, Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho mengatakan H+8 gempa dan tsunami Sulteng terus mengalami perkembangan.

Sabtu, 06/10/2018 18:10 0

Indonesia

Kabar Mayat Belum Dikubur Pasca Bencana Sulteng, Ini Kata Wiranto

hari keenam dan ketujuh, progress penanganan telah sampai pada pemakaman korban meninggal.

Sabtu, 06/10/2018 17:46 0

Indonesia

Keran Bantuan Asing Dibuka, Sumbangan Rp220 Miliar Akan Mengalir Ke Sulteng

Sebanyak 25 negara dan 4 organisasi internasional siap memberikan bantuannya ke wilayah terdampak gempa dan tsunami di Sulawesi Tengah

Sabtu, 06/10/2018 17:11 0

Indonesia

MUKISI Targetkan 50 RS Syariah Berdiri di Akhir Tahun 2018

Asosiasi Rumah Sakit (RS) Islam se-Indonesia yang menamakan Majelis Syuro Upaya Kesehatan Islami (MUKISI) yang berusaha keras mewujudkan pelayanan kesehatan berbasis syariah.

Sabtu, 06/10/2018 17:07 0

News

Karakter Pemuda Islam Sebagai Modal Kepemimpinan

Pemuda memiliki andil besar dalam sejarah kebangkitan bangsa. Maju mundurnya bangsa tergantung pada kondisi para pemudanya.

Sabtu, 06/10/2018 17:06 0

Indonesia

Ratusan Anak Yatim Piatu Diberi Santunan di Acara YIFest

Dimodali lebih dari 30 donatur, YiFest menyantuni 100 anak yatim piatu Jakarta.

Sabtu, 06/10/2018 16:46 0

Afrika

AQIM Tunisia Bertanggung Jawab Serang Patroli Tentara di Chaambi

AQIM Bertanggung Jawab Serang Patroli Tentara Tunisia di Chaambi

Sabtu, 06/10/2018 16:32 0

Indonesia

INDEF: Defisit Kembar Jadi Faktor Fundamental Pelemahan Rupiah

"Neraca perdangangan kita defisit, juga neraca pembiayaan pemerintah juga mengalami defisit"

Sabtu, 06/10/2018 14:35 0

Info Event

Ayo Ikutan!!! Dauroh Kader Bersama Mahasiswa Pencinta Islam Jakarta

Mahasiswa Pencinta Islam (MPI) adalah organisasi dakwah dan pergerakan mahasiswa yang didirikan dalam rangka berpartisipasi dalam upaya penegakan Islam bersama elemen umat lainnya, sesuai kompetensi mahasiswa. 

Sabtu, 06/10/2018 14:17 0

Indonesia

Youth Islamic Festival 2018 Resmi Dibuka

Youth Islamic Festival 2018 berlangsung di Masjid Istiqlal Jakarta pada 6-7 Oktober 2018

Sabtu, 06/10/2018 13:45 0

Close