... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

Titian

Gempa Bumi, Peringatan dari Allah Agar Tak Cinta Materi

Foto: Balaroa pasca gempa (liputan6)

KIBLAT.NET – Masih ingat kisah kaum Aad? Sebuah kaum yang dianugerahi Allah dengan kemakmuran, badan yang perkasa, tanah yang subur, mendiami bangunan-bangunan yang menjulang tinggi di atas perbukitan, mempunyai banyak keturunan, hewan ternak, kebun-kebun dan mata air. Semua kelebihan ini disebutkan dalam Al-Quran surat Al-Fushilat ayat 15, Asy-Syua’ra ayat 128-130 dan ayat 133-134.

Bisa dibilang kaum Aad adalah kaum yang dipenuhi dengan kelebihan secara materi. Mereka mengagung-agungkan apa yang mereka punya dan setiap hari hanya dunia yang mereka pikirkan. Pikiran mereka teracuni dengan materialisme yang memandang bahwa apa yang terlihat secara kasat mata adalah segalanya.

Maka, ketika Nabi Hud datang dengan risalah dari Allah, mereka pun menolak mentah-mentah. Kaum durhaka ini lebih memilih menyembah sesembahan yang kasat mata menurut mereka, yaitu Sadd, Samud dan Hera. Tiga sesembahan ini berbentuk berhala dan kaum Aad menjadi kaum pertama kali yang menyembah berhala setelah diturunkannya bencana banjir di seluruh muka bumi.

Sesuatu yang kasat mata ini membuat kaum Aad jumawa dan merasa tidak butuh dengan seruan Nabi Hud. Bagaimana tidak, badan perkasa, besar lagi kuat, tanaman subur makmur, tinggal di bangunan yang megah dan tinggi. Semua anugerah itu mereka dapatkan ketika mereka menyekutukan Allah. Jadi, buat apa mengikuti dakwah Nabi Hud jika tanpanya sudah hidup makmur?

Kaum Aad mengagungkan materi dan apa yang mereka miliki. Ujung dari kepongahan adalah ketika kaum durhaka ini menantang Nabi Hud untuk mendatangkan azab dari Allah.

 قَالُوا أَجِئْتَنَا لِنَعْبُدَ اللَّهَ وَحْدَهُ وَنَذَرَ مَا كَانَ يَعْبُدُ آبَاؤُنَا فَأْتِنَا بِمَا تَعِدُنَا إِنْ كُنْتَ مِنَ الصَّادِقِينَ

Mereka berkata: “Apakah kamu datang kepada kami, agar kami hanya menyembah Allah saja dan meninggalkan apa yang biasa disembah oleh bapak-bapak kami? Maka datangkanlah azab yang kamu ancamkan kepada kami jika kamu termasuk orang-orang yang benar”. (QS. Al-A’raf : 70)

Maka, Allah pun membinasakan mereka dengan angin yang berhembus selama tujuh malam delapan hari secara terus menerus sebagaimana yang disebutkan dalam Al-Haqqah ayat 7.

BACA JUGA  Imam Nawawi, Potret Wara' yang Terlupakan

Virus Materialisme

Kisah kaum Aad hanyalah segelintir kisah masa lalu yang berhikmah. Banyak kisah lain kaum durhaka yang berakhir dengan kebinasaan. Rerata kaum yang dibinasakan adalah mereka yang mengagungkan materi dan apa yang mereka punyai. Virus materialisme menjangkiti hati dan membuat lupa bahwa dunia itu sementara.

Sungguh mudah bagi Allah menghilangkan dan menghancurkan segala sesuatu. Maka, apa yang patut dibanggakan dari dunia dan isinya jika semua itu hanyalah fana. Kaum Tsamud, Ashabul Aikah adalah contoh lain kaum durhaka yang harusnya membuat mata kita terbelalak akan ruginya orang yang hanya mementingkan materi dan mengesampingkan ukhrawi.

Cinta dunia dan materi adalah penyakit yang tidak hanya menjangkiti kaum durhaka terdahulu. Manusia-manusia modern saat ini pun tidak sedikit yang terjangkiti penyakit ini. Sebuah penyakit yang akan berdampak pada kehidupan dunia dan akhirat tentunya. Orang-orang ini ketika di dunia akan menutup telinganya dari kebenaran Islam, bersifat egois dan segala hal hanya diukur dengan standar dunia. Di akhirat, azab Allah siap menanti karena kesempatan hidup yang diberikan hanya untuk mengejar hal yang sia-sia.

Apa bedanya manusia modern dengan umat yang terdahulu jika sama-sama terjerumus dalam penyakit sama cinta materi dan duniawi? Padahal Allah telah menyebutkan dalam firman-Nya kisah-kisah umat terdahulu dan kebinasaannya. Bencana-bencana yang menimpa umat masa lalu hendaknya diambil pelajaran bahwa sesuatu yang megah dan dibanggakan itu mudah musnah dan tidak kekal.

Jika kita menilik nusantara saat ini juga telah diguncang bencana dahsyat. Setelah Lombok diguncang gempa 6,4 SR pada 29 Juli 2018 menyusul Palu pun diguncang 7,4 SR pada 28 Semptember 2018. Kisah-kisah memilukan kita dengar bersama dari para korban yang selamat. Kedahsyatan gempa dan tsunami pun membuat kita ngeri dari beberapa yang terucap dari bibir mereka.

Bisa kita bayangkan, segala keteraturan hidup yang kita banggakan lenyap dalam hitungan menit saja. Harta benda dan bangunan infrastruktur yang kokoh segalanya hancur atas izin Allah. Apa lagi yang akan disombongkan jika sebelumnya kita di atas kemudian terjerembab di bawah dengan mudahnya hanya dengan satu peristiwa.

BACA JUGA  Amanah Terhadap Harta Umat

Maka, salah satu pelajaran yang dapat diambil adalah bencana yang menimpa ini hendaknya menyadarkan kita akan ketidakberdayaan manusia di hadapan Allah. Segalanya sangat mudah dihancurkan oleh-Nya. Jika hati belum bisa terbetik dengan kisah masa lalu, kini bencana yang memporak-porandakan itu hadir di depan kita. Dengan mudah kita mengakses segala yang terjadi di sana.

Maka dari itu, jangan sampai kita masuk pada lubang yang sama untuk kedua kalinya. Bencana-bencana yang telah terjadi seharusnya segera menyadarkan kita tentang betapa sepelenya dunia beserta seisinya. Jika pembangunan fisik dan infrastruktur yang fana tidak dibarengi dengan pembangunan keimanan itu sendiri, maka sangatlah rugi

Pembangunan iman sangat dibutuhkan dan mulai kentara manfaatnya di saat musibah melanda. Lihatlah seseorang yang hanya mementingkan materi akan merasa terpukul karena hilangnya harta seraya bersu’udzon kepada Allah. Dan apalah guna gedung tinggi yang menjulang jika tanpa dibarengi pembangunan jiwa yang berakhlak karimah, beradab dan beriman kepada Allah Ta’ala.

Sekali lagi, lewat kisah masa lalu dan kisah masa kini yang terjadi di atas mengajarkan kita beberapa hal. Jangan sampai seorang muslim hanya melulu membangun sesuatu yang kasat mata dan membangga-banggakannya. Atau bahkan pembangunan materi itu dijadikan satu-satunya standart kemajuan. Apa bedanya kita dengan kaum Aad jika masih membanggakan yang mudah hancur dan binasa?

Oleh karena itu, hal paling pokok dan elementer untuk dibangun adalah membangun keimanan. Lihatlah Rasulullah SAW beliau wafat tidak meninggalkan bangunan megah dan kekayaan. Akan tetapi beliau mewariskan sebuah generasi yang denganya Islam berjaya, sebuah generasi yang memiliki ketundukan dan penghormatan terhadap wahyu. Dengan begitu, tidak masalah bangunan hancur karena suatu hal, tetapi iman di dalam jiwa manusia tetap terjaga dan tetap beriman kepada Rabb Sang Pencipta. Berbeda dengan kaum Aad yang hancur sehancurnya karena kemurkaan-Nya. Wallahu a’lam bi shawab.

Penulis : Dhani El_Ashim
Editor: Arju

Sumber Qashash Al-Anbiya’ karya Ibnu Katsir

 

Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Artikel

Umat Islam Pernah Berjaya: Sebuah Strategi Memimpin Peradaban

Upaya-upaya umat muslim untuk menaklukan Konstantinopel pada periode sebelumnya, memudahkan jalan Al-Fatih untuk mengambil alih tahta Konstantinopel. Al-Fatih memang telah disiapkan sejak kecil oleh ayahnya untuk menjadi penakluk Konstantinopel.

Sabtu, 06/10/2018 20:00 0

Artikel

Membangun Jiwa Kepemimpinan

Sepertinya, pemuda muslim harus kembali melihat para teladan mereka bagaimana ketika mereka berjalan di atas jalan pengembalian kemuliaan agama ini.

Sabtu, 06/10/2018 18:23 0

Indonesia

BNPB: Listrik di Sulawesi Tengah Pulih 75%

Kepala Pusat Data, Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho mengatakan H+8 gempa dan tsunami Sulteng terus mengalami perkembangan.

Sabtu, 06/10/2018 18:10 0

Artikel

Pencetak Generasi Tunas Pemimpin Pejuang Masa Depan

Dalam menghadapi sistem kufur yang sedang eksis, tidak bisa tidak pemuda Islam harus tergabung ke dalam jamaah perjuangan Islam guna menciptakan semangat juang yang luar biasa.

Sabtu, 06/10/2018 18:00 0

Indonesia

Kabar Mayat Belum Dikubur Pasca Bencana Sulteng, Ini Kata Wiranto

hari keenam dan ketujuh, progress penanganan telah sampai pada pemakaman korban meninggal.

Sabtu, 06/10/2018 17:46 0

Indonesia

Keran Bantuan Asing Dibuka, Sumbangan Rp220 Miliar Akan Mengalir Ke Sulteng

Sebanyak 25 negara dan 4 organisasi internasional siap memberikan bantuannya ke wilayah terdampak gempa dan tsunami di Sulawesi Tengah

Sabtu, 06/10/2018 17:11 0

Indonesia

MUKISI Targetkan 50 RS Syariah Berdiri di Akhir Tahun 2018

Asosiasi Rumah Sakit (RS) Islam se-Indonesia yang menamakan Majelis Syuro Upaya Kesehatan Islami (MUKISI) yang berusaha keras mewujudkan pelayanan kesehatan berbasis syariah.

Sabtu, 06/10/2018 17:07 0

News

Karakter Pemuda Islam Sebagai Modal Kepemimpinan

Pemuda memiliki andil besar dalam sejarah kebangkitan bangsa. Maju mundurnya bangsa tergantung pada kondisi para pemudanya.

Sabtu, 06/10/2018 17:06 0

Indonesia

Ratusan Anak Yatim Piatu Diberi Santunan di Acara YIFest

Dimodali lebih dari 30 donatur, YiFest menyantuni 100 anak yatim piatu Jakarta.

Sabtu, 06/10/2018 16:46 0

Tunisia

AQIM Tunisia Bertanggung Jawab Serang Patroli Tentara di Chaambi

AQIM Bertanggung Jawab Serang Patroli Tentara Tunisia di Chaambi

Sabtu, 06/10/2018 16:32 0

Close