... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

In Depth

Bangga Menjadi Pemuda Muslim

Foto: Namun ada satu hal yang menarik, pada masa keemasan Islam dua faktor di atas sudah menggerogoti jiwa pemuda muslim.

Oleh: Winda Efanur FS

Artikel ini adalah salah satu dari artikel yang ikut dalam Lomba Artikel Islami Nasional yang diadakan oleh Muslimah MPI Lampung

“Ya Rabb kami, hanya kepada Engkaulah kami bertawakkal dan hanya kepada Engkaulah kami bertaubat dan hanya kepada Engkaulah kami kembali. Ya Rabb kami, janganlah Engkau jadikan kami (sasaran) fitnah bagi orang-orang kafir. Dan ampunilah kami ya Rabb kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (Al-Mumtahanah:6)

KIBLAT.NET – Jika kita medengar ceramah para ustad, kiai dan ulama di media-media atau pun kajian secara langsung, kerap kali tema pemuda menjadi sorotan. Mereka mengupas betapa gagah beraninya pemuda masa lalu sebut saja Shalahuddin Al- Ayyubi atau Sultan Muhammad II Al Fatih. Para pahlawan Perang Salib itu ikon terbaik pemuda pada zamannya. Memiliki semangat jihad yang luar biasa, namun akan berbanding terbalik dengan kondisi pemuda muslim saat ini. Pemuda muslim saat ini cenderung loyo, mengapa demikian?

Penulis sempat membaca salah satu artikel di media daring berbasis Islam, yang menyebutkan perbedaan dasar antara pemuda muslim masa lalu dengan pemuda muslim masa kini. Secara garis besar perbedaannya adalah hedonisme dan lunturnya kecintaan kepada ajaran Islam (persoalan akidah).

Namun ada satu hal yang menarik, pada masa keemasan Islam dua faktor di atas sudah menggerogoti jiwa pemuda muslim. Hanya keganasannya lebih parah sekarang. Kondisi pemuda muslim saat ini semakin kerdil dalam kehidupan umat.

Suatu studi menyebutkan kekalahan pasukan Islam pada Perang Salib dikarenakan “cinta dunia” cikal bakal hedonism di masa sekarang. Gairah jihad itu lemah, namun di sisi lain kondisi umat zaman itu memiliki pijakan akidah yang kuat. Mereka tidak tercerai-berai masih berpihak pada satu komando kekhilafan. Gonjang-ganjingnya kehidupan umat kala itu tidak menghapuskan reputasi Islam di muka bumi.

Sebagai contoh pada zaman keemasan Islam Dinasti Turki Usmani pun meski “sakit” tetap terlihat garang di mata para musuhnya. Faktor lain dikarenakan spiritual Islam telah mendarah daging. Mereka mampu mengimplementasikan Al-Quran dan As-Sunnah secara nyata dan konsisten. Islam tidak terhenti pada tataran simbol. Wujud Islam ruhaniah secara sempurna termanisfestasikan ke dalam akhlak. Misalnya sikap ta’awwun (tolong-menolong) sesama muslim atau kebiasaan salat berjamaah. Dua sampel ini di masa sekarang sudah mulai luntur. Penerapan lebih jauh mereka mampu menjadikan Al-Quran dan As-Sunnah sebagai landasan kehidupan bernegara. Di mana peraturan dan legitimasi hukum legal tertinggi adalah sunnatullah.

BACA JUGA  Kemajuan Taliban, Kemunduran Amerika

Faktor lain adanya arus perang pemikiran Barat. Pemikiran orientalis dari filsuf Yunani dapat ditangkal oleh para sarjana dan ilmuwan muslim zaman dahulu. Para intelektual muslim dapat “menyaring” pemikiran orientaslis ke dalam bentuk konsep pemikiran Islam yang bersifat moderat dan aplikatif. Sementara saat ini produk-produk pemikiran barat seperti Hedonisme, Feminisme, Pluralisme dan Gender justru menjadi diskursus baru pemikiran Islam.

Para intelektual muslim masa kini cenderung latah bermain dengan pemikiran-pemikiran itu. Bahkan metode analisis produk pemikiran itu “berani” membedah teks (ayat Al-Quran dan As-Sunnah) secara vulgar. Hingga munculah aliran baru dalam Islam sebut saja JIL (Jaringan Islam Liberal). Produk pemikiran ini sedikit banyak meracuni para mahasiswa/pemuda muslim, yang mempengaruhi kelurusan akidahnya.

Virus Hedonisme

Penulis membahas Hedonisme secara detil dalam poin ini. Seperti yang sudah disinggung dalam paragraf pertama.  Hedonisme erat kaitan dengan cinta dunia. Hedonisme peyakit berbahaya jauh 14 abad silam Rasul telah memperingatkan dalam Hadits. Di akhir zaman umat Islam bagai buih di lautan banyak secara kualitas namun tercerai berai. Faktor penyebabnya cinta dunia.

Sabda Rasul telah terbukti, dalam prakteknya perilaku hedonisme telah menjadi budaya pemuda muslim. Mereka larut dalam budaya pop yang glamor. Praktek budaya Islam akar dari identitas muslim mulai luntur- bahkan para pemuda muslim mulai enggan menampakan simbol keislamannya. Sampel banyak para remaja putri menanggalkan jilbab dan maraknya budaya pacaran. Para pemuda muslim terjerembab dalam praktek kebudayaan seperti ini karena mereka kehilangan jati diri keislamannya. Memunculkan identitas muslim takut dan malu dianggap sok alim, gak gaul, sok soleh dan lain sebagainya.

Kembali pada Al-Quran

Sebelum mengupas poin ini kita mengingat kembali satu penggalan surat Al-Ahzab:21 Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut nama Allah.” (QS. Al-Ahzab : 21). Urgensi keteladanan dan akhlak dikuatkan oleh Hadits dari Aishah RA “Aklak beliau (Rasullullah) adalah Al-Quran.” ( HR. Dawud dan Muslim).

BACA JUGA  212 dan Ketidakadilan Media

Paparan ayat dan hadits di atas dapat diambil kesimpulan, dari segi hakikat adalah Al-Quran. Sedangkan segi subtansi role modelnya akhlak Rasullah. Sederhananya pertanyaan Pemuda muslim saat ini cenderung loyo, mengapa demian? Jawaban sekaligus solusi itu adalah Al-Quran.

Al-Quran adalah kalam ilahi. Firman Allah SWT kepada umatNya. Kitab suci sebagai pedoman hidup di dunia ini untuk mencapai kesuksesan dunia dan akherat. Pekerjaan Rumah kita saat ini bagaimana caranya mendekatkan pemuda muslim dengan Al-Quran dan membuat mereka mencintainya. Dada muslim yang berkobar kecintaan pada Al-Quran otomatis akan mencetak pribadi-pribadi muslim yang tangguh, bangga akan keislamannya dan menjadikannya pejuang dakwah yang militan.

Ada pun cara agar pemuda mencintai Al-Quran. Pertama-tama mereka harus dikenalkan dan diakrabkan dengan Al-Quran. Disarikan dari laman www.liputanalquran.com dengan sedikit modifikasi, ada empat langkah menumbuhkan kecintaan pada Al-Quran.

Pertama, niat. Niat dan berazzam yang sungguh-sungguh dalam hati mendekatkan diri kepada Allah swt melalui Al-Quran.

Kedua, membiasakan diri mendegarkan murottal dan membaca Al-Quran setiap hari. Tanamkan tekad dalam hati untuk membaca Al-Quran setiap hari. untuk mendisiplinkan diri bisa dengan program satu hari satu halaman, satu juz dll. Lambat laun kedisiplinan itu akan membentuk kebiasaan membaca Al-Quran.

Ketiga,  mentadaburi dan menghafal Al-Quran. Internalisasi pemahaman ayat Al-Quran dengan membaca, menghafal, menghayati ayat per ayat. Dengan rajin menghadiri majlis-majlis ilmu memperkaya ilmu agama.

Keempat, mengamalkan isi Al-Quran. Wajib hukumnya setiap muslim mentaati hukum Al-Quran. Implementasi ayat Al-Quran dengan merujuk pada tafsir ulama pada konteks pemaknaan ayat yang mutasyabihat. Namun kalau makna ayat jelas muhkamat bisa dilaksankan isi kandungannya.

Melalui empat langkah tersebut akan menuntun mencintai Al-Quran, terbentuklah kepribadian Al-Quran. Ghirah semangat jihadnya pun sudah terbentuk. Ketika melihat kemungkaran yang menyimpang dari Al-Quran, pemuda muslim mampu membedakan yang haq dan batil. Mereka maju digarda depan membela kehormatan Islam. Dari tangan merelah perlahan kejayaan Islam dapat tergapai kembali. Aamiin.

Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Tarbiyah Jihadiyah

Gempa Bumi, Peringatan dari Allah Agar Tak Cinta Materi

Gempa Lombok dan Palu mengingatkan kita bahwa kehidupan materi bisa sirna dengan begitu cepatnya. Bangunan runtuh, kendaraan remuk, dunia yang kita banggakan hilang dengan sekali hentakan.

Sabtu, 06/10/2018 20:32 0

Indonesia

BNPB: Listrik di Sulawesi Tengah Pulih 75%

Kepala Pusat Data, Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho mengatakan H+8 gempa dan tsunami Sulteng terus mengalami perkembangan.

Sabtu, 06/10/2018 18:10 0

Indonesia

Kabar Mayat Belum Dikubur Pasca Bencana Sulteng, Ini Kata Wiranto

hari keenam dan ketujuh, progress penanganan telah sampai pada pemakaman korban meninggal.

Sabtu, 06/10/2018 17:46 0

Indonesia

Keran Bantuan Asing Dibuka, Sumbangan Rp220 Miliar Akan Mengalir Ke Sulteng

Sebanyak 25 negara dan 4 organisasi internasional siap memberikan bantuannya ke wilayah terdampak gempa dan tsunami di Sulawesi Tengah

Sabtu, 06/10/2018 17:11 0

Indonesia

MUKISI Targetkan 50 RS Syariah Berdiri di Akhir Tahun 2018

Asosiasi Rumah Sakit (RS) Islam se-Indonesia yang menamakan Majelis Syuro Upaya Kesehatan Islami (MUKISI) yang berusaha keras mewujudkan pelayanan kesehatan berbasis syariah.

Sabtu, 06/10/2018 17:07 0

News

Karakter Pemuda Islam Sebagai Modal Kepemimpinan

Pemuda memiliki andil besar dalam sejarah kebangkitan bangsa. Maju mundurnya bangsa tergantung pada kondisi para pemudanya.

Sabtu, 06/10/2018 17:06 0

Indonesia

Ratusan Anak Yatim Piatu Diberi Santunan di Acara YIFest

Dimodali lebih dari 30 donatur, YiFest menyantuni 100 anak yatim piatu Jakarta.

Sabtu, 06/10/2018 16:46 0

Tunisia

AQIM Tunisia Bertanggung Jawab Serang Patroli Tentara di Chaambi

AQIM Bertanggung Jawab Serang Patroli Tentara Tunisia di Chaambi

Sabtu, 06/10/2018 16:32 0

Indonesia

INDEF: Defisit Kembar Jadi Faktor Fundamental Pelemahan Rupiah

"Neraca perdangangan kita defisit, juga neraca pembiayaan pemerintah juga mengalami defisit"

Sabtu, 06/10/2018 14:35 0

Info Event

Ayo Ikutan!!! Dauroh Kader Bersama Mahasiswa Pencinta Islam Jakarta

Mahasiswa Pencinta Islam (MPI) adalah organisasi dakwah dan pergerakan mahasiswa yang didirikan dalam rangka berpartisipasi dalam upaya penegakan Islam bersama elemen umat lainnya, sesuai kompetensi mahasiswa. 

Sabtu, 06/10/2018 14:17 0

Close