Fanatisme Buta Suporter Sepakbola

KIBLAT.NET – Minggu ini media di tanah air dijejali dengan berita yang memilukan. Sebenarya kejadian ini bukanlah barang baru, sebab sebelumnya sudah berkali kali terjadi atau tepatnya 49 kasus dalam 10 tahun terakhir menurut rilisan dari BOPI (Badan Olahraga Profesional Indonesia).

Kejadian ini biasanya berawal dari saling ejek-mengejek, menghina antara supporter sepak bola yang terlahir dari fanatisme yang berlebihan. Hanya karena perbedaan pilihan klub yang didukung berakibat hilangnya nyawa.

Sebenarnya itu adalah hal yang semu, kecintaan berlebihan pada suatu hal yang sia-sia dan tidak berdampak sedikitpun pada kehidupan setelah kematian. Karena tolok ukur seorang mukmin adalah segala hal yang bermanfaat bagi kehidupan di akhirat nantinya. Buat apa menyibukkan hati pada kecintaan yang tidak pada tempatnya? Sedangkan Rasulullah telah jelas mencontohkan dengan menyerahkan hidupnya untuk Allah dan Izzatul Islam wa muslimin.

Fanatisme Buta = Ashobiyah Jahiliyahan

Fanatisme berlebihan terhadap klub sepakbola membahaykan. Karena dari fanatisme akan muncul prilaku-prilaku yang menyimpang dari agama. Sebut saja rela mati demi klub sepakbola, mencintainya melebihi cinta kepada Allah dan serangkaian dampak negatif lainnya. Sebenarnya bukan hanya pada sepakbola saja, apapun itu kalau membuat seseorang muslim terlenakan dari tujuan hidup sebenarnya maka itu bukanlah hal yang baik. baik fanatisme terhadap penyanyi idola, suku, bangsa dan lain-lain.

Sekali lagi, kericuhan bahkan berujung pada hilangnya nyawa itu berawal dari rasa marah jika team kesayangannya dicela. Apa bedanya dengan umat masa lalu yang mereka tersulut kemarahannya karena kesukuan? Bahkan bahasa di antara mereka hanyalah bahasa pedang, terkadang hanya karena masalah sepele saja, ribuan nyawa menjadi korban.

BACA JUGA  Jejak Dakwah Habib untuk Bangsa

Dalam Al-Kamil fi At-Tarikh, Ibnu Al-Atsir mengisahkan banyaknya peperangan yang terjadi di masa jahiliyah. Salah satunya adalah perang Dahis dan Ghubara yang mengakibatkan perang antara dua kabilah dan jatuh ribuan korban. Pemicunya adalah olahraga pacuan kuda, salah seorang dari mereka memukul kuda kompetitornya agar tidak lebih dulu memasuki garis finis.

Masyhur diketahui bersama adalah perselisihan kabilah Aus dan Khazraj di Yastrib (Madinah) sebelum datangnya Islam. Sentimen kesukuan membuat dua kabilah besar ini berseteru selama 30 tahun sebagaimana disebutkan Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari.

Fanatisme buta yang terjadi saat ini dalam hal apapun khususnya sepakbola, tidak jauh berbeda dengan apa yang terjadi dengan masyarakat sebelum datangnya Islam. Kemarahan tersulut bukan karena ghirah keislaman,tetapi karena kecintaan kepada sesuatu yang tidak bisa menyelamatkan di padang mahsyar nanti.

Salah satu tokoh pendidikan Islam modern asal Suriah, Dr Abdullah Nashih Ulwan menyebutkan masalah ini dalam karyanya yang berjudul “Asy-Syabab Al-Muslimu fii Muwaajahati At-Tahaddiyati”. Secara garis besar beliau menyebutkan bahwa fenomena fanatisme yang terjadi itu adalah termasuk tantangan yang perlu dihadapi umat Islam saat ini. Syaikh Nashih Ulwan ingin menyadarkan lewat tulisannya bahwa itu semua adalah sesuatu yang memang disengaja untuk melemahkan ghirah umat Islam akan agamanya sendiri.

Sehingga umat Islam yang besar ini akan membela mati-matian jika klub idamannya dihina, tetapi diam saja kita agamanya menjadi bahan candaan. Ketika agama dihina, ada yang berkilah itu adalah kebebasan berfikir jadi bukan masalah, ada pula celetukan toleransi harus dikedepankan karena Islam adalah agama rahmatan lil alamin. Tapi ketika apa yang mereka idolakan dalam olahraga dihina, tidak ada kata toleransi, sumpah serapah, ejekan, hinaan dan berakhir pada bentrokan. Ini adalah rahasia umum.

BACA JUGA  Membaca Langkah Biden di Afghanistan

Kembali pada Islam

Jika kita menilik fanatisme yang telah dibahas di atas, selain berdampak pada hubungan yang tidak sehat antara manusia, juga yang paling penting melalaikan seorang mukmin dari apa yang seharusnya ia utamakan dalam hidupnya.

Islam datang kepada masyarakat Arab untuk menghapuskan kejahiliyahan dan permusuhan. Islam menyatukan mereka atas dasar keimanan. Alangkah indahnya jika kita mampu melihat apa yang terjadi di masa itu. Persatuan atas dasar keimanan dan terlahir tingkah laku yang berbudi luhur karena keimanan.

Jangan sampai dakwah Islam yang telah menyeruak di hati menjadi rusak karena fanatisme semu yang sebenarnya kembali pada masa kejahiliyahan. Apalagi energi seorang pemuda yang meledak-ledak akan sangat efektif jika digunakan dalam dakwah bukan hanya untuk hura-hura dan mengumbar kecintaan pada sesuatu yang sia-sia.

Tidak akan pernah rugi seseorang yang mendedikasikan diri untuk Allah dan Rasul-Nya. Janji-janji-Nya jelas dan pasti akan ditepati, panduan untuk menuju kebahagiaan di dunia dan akhirat sudah diturunkan lewat Rasul-Nya. Maka, seharusnya inilah yang patut kita perjuangkan dan “fanatik” didalamnya. Karena tujuannya jelas untuk kebaikan diri di dunia dan demi masa depan setelah kematian. Wallahu a’lam bi shawab.

Penulis: Dhani El_Ashim
Editor: Arju

 

Ingin Langganan Artikel?
Daftarkan emailmu di sini untuk mendapatkan update artikel terbaru.
Anda dapat berhenti langganan kapan saja.
Anda mungkin juga berminat