... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

In Depth

Menanti Takdir Idlib Setelah Kesepakatan Erdogan-Putin

Foto: Bendera DSA dan Turki tampak dalam demonstrasi warga Saraqeb, pinggiran Idlib 21 September 2018, menanggapi rencana bumi hangus Rusia terhadap Idlib.

KIBLAT.NET – Pertemuan pekan lalu di Sochi antara Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan dan Rusia Vladimir Putin menghasilkan kesepakatan Demiliterisasi Idlib.

Poin perjanjian Turki-Rusia itu menegaskan untuk membentuk zona aman di “benteng terakhir” oposisi Suriah itu.

“Kami telah sepakat untuk membuat zona demiliterisasi antara pasukan pemerintah dan militan sebelum 15 Oktober. Zona ini sejauh 15-20 kilometer, dengan penarikan penuh militan garis keras dari sana, termasuk Jabhat al-Nusra,” kata Putin (PBS).

“Wilayah yang dikendalikan oleh oposisi Suriah harus didemiliterisasi dan oposisi Suriah yang memegang wilayah ini akan tetap di sana. Tetapi bersama dengan Rusia kami akan melakukan upaya untuk menghapus wilayah-wilayah elemen radikal ini, ” Erdogan menekankan.(Anadolu)

Turki-Rusia telah menyetujui penarikan semua persenjataan berat, termasuk tank dan artileri, dari zona tersebut sebelum 10 Oktober, menurut proposal yang dibuat oleh pihak Turki. Nantinya, zona ini akan dipatroli oleh unit militer Turki dan Rusia. (RT)

Beberapa aktivis mengilustrasikan Idlib benar-benar terkepung seperti Gaza Palestina, dengan adanya zona demiliterisasi kesepakatan Turki-Rusia itu

Ilustrasi Zona Demiliterisasi Idlib.

Kelompok-kelompok oposisi berbeda sikap menanggapi perjanjian Turki-Rusia itu. Front Nasional untuk Pembebasan Suriah (Jabhah Wathaniyah lit Tahrir [JWT]) memuji upaya diplomatik Turki. Namun mereka tidak akan menyerahkan senjata atau Idlib kepada rezim.

Sementara itu, Haiah Tahrir Syam (HTS) belum mengeluarkan sikapnya. Dan hanya Huras Al-Din yang menyatakan penolakan perjanjian itu secara keseluruhan.

Peta kontrol oposisi di Idlib

Al Muhaisini, ulama Saudi yang telah lama berada di Suriah, juga merekomendasikan agar oposisi tidak menyerahkan senjatanya. Menyerah senjata sama dengan menyerah, menurut banyak pemerhati konflik Suriah yang pro-oposisi. Pendapat yang sama juga diungkapkan oleh Syaikh Abdul Razzaq Al-Mahdi, di Telegramnya.

BACA JUGA  Hendak Dipulangkan, Pengungsi Rohingya di Bangladesh Menghilang

Mengacu kepada kekalahan oposisi di Aleppo akhir 2016 dan yang terbaru di Dar’a awal Juli 2018, apa yang dikhawatirkan Al-Muhaisini cukup beralasan. Kesepakatan zona demiliterisasi, deeskalasi, gencatan senjata dan nama-nama lain yang pernah dibuat, sejauh ini berakhir pada jatuhnya wilayah oposisi kepada rezim Suriah.

Demiliterisasi maupun deeskalasi di wilayah-wilayah yang telah bertahun-tahun berada dalam kontrol oposisi Suriah berarti penghentian kontak senjata.

Poin krusial dalam kesepakatan di Aleppo, Dar’a, maupun Idlib adalah keharusan menyerahkan senjata berat kepada negosiator. Ini dipandang beberapa pihak prooposisi, sebagai pelucutan senjata yang berarti menyerah kepada lawan.

Kesepakatan para perunding dari Rusia dan oposisi telah mengakibatkan lepasnya sekitar 50 kilometer bentangan perbatasan Suriah-Yordania (Naseeb Border) dari pasukan oposisi di barat daya negara itu.

Naseeb Border merupakan kawasan strategis penting, yang telah dikontrol selama bertahun-tahun oleh oposisi, sekarang di bawah kendali rezim Suriah.

Isi kesepakatan tidak berbeda dengan kesepakatan Sochi Turki-Rusia hari ini. Oposisi diminta (dan setuju) untuk menyerahkan senjata berat mereka.

Sebagai gantinya, tentara Suriah setuju untuk menghentikan serangan terhadap oposisi. Setelah senjata dilucuti, pasukan oposisi diberi jalur aman ke Idlib di Suriah utara.

Berdasarkan perjanjian itu, pasukan Suriah tidak akan diizinkan untuk tetap berada di wilayah yang diambil kembali oleh pemerintah.

Tetapi, polisi militer Rusialah yang dikerahkan di sepanjang perbatasan dengan Yordania untuk mengamankan kota-kota dan desa-desa yang tercakup oleh kesepakatan itu.

Dapat disimpulkan, proses kekalahan itu dimulai dari deeskalasi, lalu pelucutan senjata, lalu Rusia masuk, dan finalnya rezim ambil alih kontrol. Lihat juga grafis penarikan oposisi di Aleppo untuk mendapatkan gambaran lebih jelas.


Apa Penyebab Kekalahan?

Ulangan kekalahan oposisi di Dar’a menimbulkan banyak pertanyaan tentang apa faktor-faktor yang menyebabkannya. Hadi Al-Abdullah, seorang wartawan pro-oposisi, dalam investigasinya terhadap jatuhnya Aleppo, menemukan masalah yang komplek.

BACA JUGA  Pemimpin yang Mempermainkan Urusan Agama


Pertama, strategi bumi hangus yang diadopsi oleh rezim dan sekutu-sekutunya, terutama serangan udara Rusia telah membuat oposisi tidak memiliki pilihan selain bernegosiasi.

Faktor lain adalah lemahnya koordinasi lapangan antara faksi-faksi, pengkhianatan dan pertempuran internal yang terjadi antara kekuatan revolusi militer.

Butir-butir perjanjian “damai” antara oposisi dan rezim yang membawa kekalahan oposisi di Aleppo pada akhir 2016

Pada akhirnya, apakah Idlib akan bernasib sama dengan Aleppo dan Dar’a? Pada kubu rezim, mengambil alih kontrol Idlib dari oposisi adalah suatu keharusan, cepat atau lambat. Kremlin sebagai mitra Damaskus tidak peduli dengan kejahatan kemanusiaan yang dikampanyekan Amerika.

Sementara pada kubu oposisi, para pejuang sampai saat ini tetap dalam pandangan tidak ada transisi politik yang efektif sebelum Basyar diganti. Demonstrasi besar-besaran di Idlib dan sekitarnya sampai hari ini tetap menyerukan slogan yang sama, “Kami tidak akan mundur dari tuntutan kami,” untuk melengserkan Assad.

Spirit oposisi tersebut akan diuji dalam menghadapi kemungkinan strategi brutal Rusia dari udara dan Assad dibantu milisi Iran dari darat. Sebuah strategi yang diterapkan oleh rezim di Aleppo dan Dar’a.

Rencana Rusia untuk melakukan hal yang sama di Idlib tertunda oleh kesepakatan Erdogan dan Putin, seperti disebutkan di awal. Maka dengan penolakan oposisi untuk menyerahkan senjatanya, nasib oposisi kemungkinan akan ditentukan pertengahan bulan depan.

Nasib mereka tampaknya akan berakhir seperti di Aleppo dan Dar’a bila bergantung pada negosiasia Turki dan Rusia. Sebab, Turki bagaimana pun tidak memiliki daya tolak yang kuat bila Rusia benar-benar menerapkan strategi bumi hangus di Idlib.

Seperti Astana Talk mengulang kegagalan,Demiliterisasi Sochi kemungkinan juga berakibat buruk bagi oposisi.

Penulis: Agus Abdullah

Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Tazkiyah

Ketika Khalifah Umar bin Khattab Tidak Didengarkan Rakyatnya

Pada suatu hari, Amirul Mukminin Umar bin Khattab naik ke mimbar dengan mengenakan pakaian rangkap dua. Ia berkata,"Wahai segenap manusia, tidakkah kalian mendengarkan?".

Senin, 24/09/2018 15:01 0

Afghanistan

513 Tentara Afghanistan Tewas dalam Sebulan

"Pertempuran (dengan gerilyawan) menyala, yang mengakibatkan kerugian besar di kedua pihak," kata Menteri Pertahanan Afghanistan, Tariq Shah Behrami, dalam pernyataan parlemen kepada Senat pada Ahad.

Senin, 24/09/2018 14:24 0

Suriah

Komandan Tandzim Hurrasuddin Dibunuh Orang Tak Dikenal

Pembunuhan itu terjadi setelah organisasi jihadis di Suriah itu mengeluarkan pernyataan menolak kesepakatan Turki-Rusia

Senin, 24/09/2018 13:32 0

Malaysia

Komnas HAM Malaysia Bantah Dukung Pernikahan Sejenis

Suhakam membantah telah mendukung pernikahan sesama jenis

Senin, 24/09/2018 10:26 0

Indonesia

Tengku Zulkarnain: Polri Bukan Alat untuk Gebuk Mahasiswa

Wasekjen Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Tengku Zulkarnain menyayangkan tindakan kekerasan aparat kepolisian terhadap mahasiswa di Medan.

Senin, 24/09/2018 09:57 0

Indonesia

GTA Serahkan Bangunan Masjid dan Sekolah untuk Korban Gempa Lombok

Lembaga kemanusiaan Griya Tabungan Akhirat (GTA) menyerahkan bangunan masjid dan sekolah semi permanen kepada warga korban gempa

Senin, 24/09/2018 09:39 0

Mesir

Lagi, Rezim Mesir Vonis Mursyid Tinggi IM Hukuman Seumur Hidup

Ini merupakan vonis seumur hidup ketiga yang dialaminya

Senin, 24/09/2018 09:37 0

Indonesia

GTA Salurkan Bantuan ke Dusun Terisolir di Lombok Utara

Dusun Serui adalah kawasan terpencil yang berjarak kurang lebih 15 km dari Tanjung, Kabupaten Lombok Utara.

Senin, 24/09/2018 09:08 0

Afrika

Diduga Sebar Paham Syiah, Diplomat Iran Akhirnya Tinggalkan Aljazair

selamat tinggal Kekasihku Aljazair .. Setelah empat tahun, kami mengucapkan selamat tinggal ke Aljazair tercinta dan hati kita dipenuhi dengan cinta dan kasih sayang dan menghormati orang yang mulia ini".

Senin, 24/09/2018 08:32 0

Suriah

Aliansi FSA Terima Kesepakatan Turki-Rusia Namun Tolak Serahkan Senjata

"Kami menghargai upaya besar ini dan kemenangan jelas diplomasi Turki, yang telah membela urusan kami dan membuat keamanan nasional, di saat masyarakat internasional mengabaikan untuk mendukung rakyat Suriah," kata pernyataan JWT seperti dilansir Al-Jazeera.

Senin, 24/09/2018 07:28 0

Close