... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

In Depth

Peran Kunci Turki Untuk Menyelesaikan Konflik Suriah

Foto: Bala bantuan Turki baru-baru ini dikerahkan di dekat Perbatasan Suriah, termasuk artileri berat (T-155 howitzer).

KIBLAT.NET – Rezim Suriah telah merencanakan serangan besar-besaran ke Idlib, didukung Rusia dan Iran. Banyak analis melihat, pertempuran ini akan menjadi the last battle bagi revolusi Suriah.

Menanggapi serangan tersebut, masyarakat kota yang berbatasan dengan Turki ini memilih untuk melawan. Mengadopsi slogan perlawanan sipil Gaza “Perlawanan adalah pilihan kami”, mereka turun ke jalan menuntut Assad lengser.

Namun, serangan yang direncanakan Jumat lalu itu ditunda. Gagalnya kesepakatan dalam pertemuan trilateral Turki, Iran dan Rusia di Teheran diperkirakan menjadi sebab penundaan itu.

Rusia belum mampu membujuk Turki. Penambahan senjata berat di perbatasan menandakan Turki masih dalam dukungan terhadap oposisi. Lalu apa sejatinya keinginan Ankara dan peran kuncinya di Suriah?

Turki hingga hari ini telah menampung 3,5 juta pengungsi Suriah. Erdogan mengkhawatirkan arus besar eksodus warga Suriah jika pasukan Suriah benar-benar melakukan serangan ke Idlib.

Selain menjadi pekerjaan rumah Turki, Ankara telah lama mengawatirkan masuknya militan bersama pengungsi. Kewaspadaan lain dari efek konflik Suriah bagi Turki adalah keberadaan Kurdi di perbatasan panjang Turki dan Suriah Barat.

Masalah Kurdi (PYD) di perbatasan membuat hubungan Turki dengan Amerika sedikit renggang. Amerika mendukung Kurdi untuk mengusir ISIS. Sementara Turki menganggap mereka sama dengan militan Kurdi (PKK) di Turki.

Di sisi lain, Turki memanfaatkan pasukan oposisi untuk membersihkan Kurdi di Afrin. Sementara, Rusia dan Iran berhasrat mengembalikan Idlib ke pangkuan Assad.

BACA JUGA  PBB: 130 Ribu Warga di Suriah Ngungsi Akibat Pertempuran Militer Turki VS YPG

Persimpangan kepentingan regional dan global tersebut membuat krisis Suriah sulit untuk diprediksi kapan berakhir.

Sejak meletusnya revolusi Suriah 2011, upaya damai telah dilakukan, baik oleh PBB maupun Rusia, Turki dan Iran. Namun hasilnya nol.

Faktor utama yang selalu diabaikan adalah tuntutan oposisi. Rakyat Suriah menolak tawaran apa pun kecuali Assad turun dari kursinya.

Amerika Serikat, melalui PBB telah mengupayakan puluhan kali upaya damai antara kedua pihak (lihat infografi). Tidak ada kemajuan apa pun sejak awal negosiasi sampai hari ini. Kabar terbaru, oposisi telah menuding Utusan Khusus PBB Staffan de Mistura telah berpihak kepada Assad.

Upaya damai juga disponsori oleh Rusia, Iran dan Turki (lihat infografi). Namun perbincangan sejak awal 2017 sampai yang terbaru di Teheran, Jumat pekan lalu, tidak ada hasil yang menandakan konflik akan berakhir.

Turki tampak memainkan peran kunci dalam setiap konferensi untuk menciptakan zona de-eskalasi di Idlib. Dengan ini, militer Turki dapat masuk ke Idlib mendukung pasukan oposisi untuk mengusir Kurdi.

Di sisi lain, Rezim, Rusia, dan Iran jelas ingin menghabisi kekuatan oposisi terakhir di Idlib. Beberapa kali Rusia membombardir zona deeskalasi, yang mengundang kritik Ankara.

Bagaimana pun Turki sulit untuk menghindari tudingan keberpihakannya kepada oposisi. Telah lama, Ankara disebut-sebut melatih Free Syrian Army (FSA).

Apa yang dilakukan Turki ini mirip dengan strategi Pakistan dalam perang Afghanistan, yang menentukan kemenangan revolusi rakyat.

BACA JUGA  Selain Suriah, Turki Juga Gelar Operasi Militer di Irak

Pakistan layaknya Turki hari ini di Suriah, menjadi tempat ribuan pengungsi Afghanistan yang dilatih menjadi calon mujahidin Afghan dan pusat politik anti-Komunis.

Sang Diktator Ziaul Haq, presiden Pakistan saat itu, jelas mengambil keuntungan dari kekhawatiran terhadap kemungkinan ekspansi Soviet ke wilayahnya. Belum lagi masalahnya dengan India dan trauma pemisahan Bangladesh 1971. Dengan membantu perlawanan anti-komunis, Ziaul Hag berharap bisa membentuk rezim pro-Pakistan di Kabul.

Dukungan dari wilayah tetangga ini sangat membantu revolusi rakyat Afghanistan. Rezim Najibullah akhirnya runtuh, seiring dengan berhentinya pasokan senjata dan pendanaan, akibat keruntuhan Uni Soviet Desember 1991.

Suriah sampai hari ini, oposisi ogah tunduk di bawah tekanan diplomasi. Oposisi telah teruji. Maka kini tinggal Turki. Rusia terus membujuknya agar berubah. Bila mempan rayuan, pertahanan terakhir oposisi di Idlib mungkin akan jatuh ke rezim lebih cepat. Meskipun itu tidak berarti akan mengakhiri perang.

Penulis: Agus Abdullah

Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Indonesia

Pesan Tengku Zulkarnain ke Prabowo: Hapuskan Persekusi Ulama

Tengku menekankan, jangan sampai ada tebang pilih dan pandang bulu dalam penegakan hukum.

Selasa, 18/09/2018 13:33 0

Suara Pembaca

RSIA Jombang Segera Adopsi Konsep Pelayanan Syariah 

Layanan lain yang ingin segera diterapkan di RSIA Muslimat adalah tayamum bagi pasien yang ingin mengerjakan shalat.

Selasa, 18/09/2018 12:41 0

Suriah

Rezim Assad Gelar Pemilu, Partisipasi Pemilih Rendah

Banyak  calon dari Partai Baath yang berkuasa dan yang lainnya adalah mereka yang memiliki hubungan dekat dengan rezim Assad.

Selasa, 18/09/2018 12:32 0

Lebanon

Otak Pembunuh Mantan PM Lebanon Jadi Nama Jalan Picu Kemarahan

Menteri Dalam Negeri Lebanon, Nihad Al-Mansyuq, mengatakan bahwa pihaknya tidak pernah menandatangani keputusan apapun penamaan atau penggantian nama jalan dengan nama Mushtafa Badaruddin, yang tewas di Suriah pada 2016 lalu.

Selasa, 18/09/2018 09:42 0

Amerika

PBB Seru Rezim dan Oposisi Suriah Patuhi Kesepakatan Putin-Erdogan

"Turki dan Rusia telah sepakat tentang rencana yang dapat mencegah perang yang mengerikan dan gelombang pengungsi," tulisnya.

Selasa, 18/09/2018 08:18 0

Suriah

Erdogan dan Putin Sepakati Skenario Baru di Idlib, Begini Isinya

Skenario itu membentuk zona aman baru di mana di dalamnya tak boleh ada oposisi bersenjata

Selasa, 18/09/2018 07:25 0

Belanda

Masjid Bakal Ditutup Jika Imam Katakan Homoseksual adalah Kejahatan

Walikota Amsterdam, Femke Halsema mengatakan kepada stasiun televisi lokal AT5 bahwa pihaknya akan menutup masjid jika para imam menyebarkan "pesan kebencian".

Senin, 17/09/2018 15:38 0

Indonesia

Habib Rizieq: Politik Identitas Umat Islam Bukan Rasis dan Fasis

"Indonesia merdeka karena politik identitas. Perlawanan yang dilakukan Pangeran Diponegoro adalah politik identitas," tutur Habib Rizieq.

Senin, 17/09/2018 15:04 0

China

Meski Bersitegang, China dan AS Lanjutkan Kerja Sama Bidang Militer

Seorang jenderal papan atas China menghadiri pembukaan sebuah forum kesehatan angkatan bersenjata regional yang diselenggarakan oleh militer China dan AS pada Senin (17/09/2018).

Senin, 17/09/2018 14:16 0

Afrika

Polisi dan Tentara Somalia Baku Tembak di Ibukota Mogadishu

“Anggota tentara di tempatkan di daerah tersebut untuk memerangi komplotan penjahat. Namun justeru mereka mengambil upeti dari truk-truk, mobil dan pejalan kaki yang melintas,” kata sumber keamanan kepada Al-Ain.

Senin, 17/09/2018 09:42 0

Close