Rusia Terus Tekan Turki Pisahkan Oposisi “Moderat” dan “Ekstremis” di Idlib

KIBLAT.NET, Idlib – Rusia kembali menekan Turki untuk memisahkan antara faksi oposisi yang dianggap “moderat” dan faksi “ekstremis” di Idlib. Moskow mengklaim pihaknya berharap solusi damai di basis terakhir oposisi itu namun dengan cara oposisi menyerah ke rezim.

“Kami mengatakan lebih baik untuk menyelesaikan situasi di Idlib dengan cara damai. Dan mungkin dapat untuk menghindari penggunaan kekuatan bersenjata,” kata Utusan khusus Rusia ke Suriah, Alecander Laverntiv, Selasa (11/09), kepada wartawan setelah pembicaraan di Jenewa dengan utusan PBB Stephane de Mistura.

Provinsi Idlib, lanjutnya, merupakan bagian wilayah di bawah tanggung jawab Turki. Tanggung jawabnya adalah memisahkan oposisi “moderat” dari “ekstremis”, dari Jabhah Nusrah dan kelompok lain, dan kelompok-kelompok “teroris” lainnya.

Idlib merupakan benteng pertahanan terakhir para pejuang oposisi. Perserikatan Bangsa-Bangsa menggambar Idlib sebagai tanah di mana para pengungsi dari berbagai daerah lain di Suriah dikumpulkan setelah rezim mengusir mereka melalui kespeakatan selama perang tujuh tahun.

Presiden Bashar Al-Assad dan sekutu Rusia dan Irannya berjanji merebut kembali Idlib melalui militer. Akan tetapi PBB telah memperingatkan bahwa segala agresi ke Idlib dapat menyebabkan bencana kemanusiaan dan mengusir 800.000 orang.

Lavrintev mengatakan jumlah gerilyawan “esktremis” di daerah itu masih sangat tinggi. Dia juga menuduh pejuang yang dianggapnya ekstremis itu menggunakan warga sipil sebagai tameng manusia. Ia mengklaim pihaknya dan rezim akan berupaya meminimalkan korban sipil, namun banyak pihak tidak percaya.

Menurutnya, Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan bekerja keras untuk mencari solusi. Dia mengatakan Rusia dan Turki tahu di mana posisi militan esktremis berada.

“Sangat sulit bagi Turki untuk menyelesaikan peran mereka dalam misi ini. Kami mencoba mencari solusi untuk masalah ini, tetapi seperti yang kita lihat itu adalah satu-satunya cara. Harus dipisahkan,” ujarnya.

Dia mengatakan tidak mungkin membayangkan meninggalkan wilayah itu di tangan apa yang dia gambarkan sebagai kelompok teroris dengan sebuah kantong di bawah kendali mereka, yang akan menjadi ancaman bagi kawasan dan dunia.

“Karena mereka ada di sini hari ini, mereka besok akan berada di negara lain, di Eropa juga, atau mungkin di Amerika Serikat. Inilah mengapa mereka harus dihilangkan sebagai sebuah fenomena,” katanya.

Ketika ditanya apa maksudnya untuk menyingkirkan, dia berkata: “Jika mereka menyerah, itu akan menjadi keputusan terbaik.”

Sumber: Reuters
Redaktur: Sulhi El-Izzi

Ingin Langganan Artikel?
Daftarkan emailmu di sini untuk mendapatkan update artikel terbaru.
Anda dapat berhenti langganan kapan saja.
Anda mungkin juga berminat