... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

In Depth

Musuh Amerika Hanyalah Sebuah Ide

Foto: Serangan 11 September di gedung World Trade Center (WTC)

Oleh: Multazim Jamil

KIBLAT.NET – Tanggal 11 September 2001 menjadi tanggal yang akan selalu melekat dalam ingatan publik AS, bahkan dunia internasional. Pada tanggal tersebut, empat pesawat penerbangan sipil dibajak oleh sembilan belas orang, yang diduga anggota Al-Qaidah, lalu ditabrakkan ke gedung World Trade Center (WTC). Gedung simbol kedigdayaan ekonomi kapitalisme AS itupun runtuh, ribuan orang tewas.

AS berang. Semua jari telunjuk mengarah kepada Al-Qaidah, dan tokoh sentralnya, Osama Bin Laden. Tanpa menunggu lama, sang Presiden, George W. Bush junior, mendeklarasikan Global War on Terrorism. Tak main-main, ia meminta semua negara dengan tegas membuat satu pilihan: “either with us, or with terrorists.”

Bush juga bersumpah untuk “menghabisi semua pendanaan teroris, berupaya mengubah mereka agar berkonflik sesamanya, mengusir mereka dari satu tempat ke tempat lain, sampai tidak ada perlindungan atau tidak ada waktu untuk istirahat.” Saat itu, istilah teroris merujuk pada satu kelompok: Al-Qaidah. Operasi militer untuk memburu Al-Qaidah dan seluruh anggotanya pun dimulai.

Afghanistan disasar. Saat itu, Afghanistan diperintah oleh Taliban. Ibarat pepatah, sekali dayung dua-tiga pulau terlampaui. Selain memburu Al-Qaidah dan Osama bin Laden, Amerika juga berniat melengserkan pemerintahan Taliban, dan memaksakan demokrasi di negeri para Mullah tersebut.

Cerita di atas hanya sepenggal permulaan dari perang terlama dalam sejarah AS. Tujuh belas tahun telah berlalu. Mungkin hanya sedikit yang memperkirakan bahwa perang melawan terorisme ini akan berlanjut selama hampir dua dekade, dan melibatkan penyebaran tentara AS di seluruh dunia dalam tiga bentuk: berperang secara langsung (dengan kekuatan tempur darat, laut dan udara), kekuatan tempur udara saja (drone dan pesawat tempur) atau tanpa kekuatan tempur (menjadi penasehat dan konsultan militer).

BACA JUGA  Peran Kunci Turki Untuk Menyelesaikan Konflik Suriah

Alih-alih digulung habis dan punah, oleh para pengamat, Al-Qaidah justru disebut menjadi lebih kuat dari sebelumnya. Kelompok ini telah mengumpulkan kekuatan tempur terbesar dalam keberadaannya. Salah satu buktinya adalah kelompok-kelompok afiliasi Al-Qaidah yang bertambah eksis di beberapa negara, seperti Jabhah Nusrah di Suriah (sudah melebur dengan faksi lain di Suriah), AQAP di Yaman, AQIM di Afrika Utara, dan afiliasi terbaru mereka yaitu AQIS. Basis Al-Qaidah pun masih kuat di sekitar perbatasan Afghanistan-Pakistan.

Al-Qaidah juga telah mengubah taktik. Alih-alih melakukan serangan sadis dengan cara menyembelih leher musuh, atau bersegera mendirikan negara Islam, seperti yang dilakukan IS (Islamic State), Al-Qaeda sekarang melakukan pendekatan yang lebih lunak. Barak Mendelsohn, seorang profesor ilmu politik, menyebutkan bahwa salah satu kelebihan Al-Qaidah saat ini adalah mereka mampu meyakinkan seluruh afiliasinya di berbagai negara supaya tidak gegabah untuk mendirikan negara Islam. Saat menguasai wilayah, menurut Mendelsohn, Al-Qaidah memilih untuk tidak menjadi aktor tunggal yang menguasai pemerintahan. Mereka mengakomodasi pemimpin dan tokoh lokal, sembari memberi layanan kepada penduduk setempat.

Lalu mengapa Al-Qaidah tak lagi membuat serangan sebesar peristiwa 11 September, baik di AS maupun di Eropa?

Ada banyak spekulasi tentang hal tersebut. Seth G Jones, seorang peneliti dari CSIS, menyebut bahwa Al-Qaidah pusat hari ini lebih berfokus pada upaya untuk membantu Taliban. Mantan direktur RAND Corporation itu menyebut bahwa hal tersebut adalah langkah strategis saat ini bagi Al-Qaidah.

BACA JUGA  “War on Terror” dan Politik Rasa Takut

Berbeda dengan Jones, ada satu jawaban yang menarik dari Jason Burke. Tahun 2005, jauh sebelum bin Laden disergap dalam sebuah operasi di Waziristan, Burke menyebut bahwa esensi Al-Qaidah adalah ide. Ia menyebut bahwa Bin Laden atau Zawahiri tidak perlu mengatur serangan secara langsung. Mereka hanya perlu menunggu pesan yang telah mereka sebar di seluruh dunia untuk menginspirasi orang lain.

Ya! Al-Qaidah telah berevolusi menjadi ide. Mereka menyesuaikan diri, beradaptasi di tengah serangan yang tak pernah henti, di tengah sulitnya pergerakan kelompok mereka.

Senada dengan Burke, Rita Katz, direktur kelompok peneliti SITE Intelligence, mengatakan hal yang senada. Apa yang tidak dipahami pejabat AS, kata Rita Katz, adalah bahwa Al-Qaidah lebih dari sekelompok individu. “Al-Qaidah adalah ide, dan sebuah ide tidak dapat dihancurkan menggunakan senjata canggih dan membunuh pemimpin dan membom kamp pelatihan,” katanya.

Sebagaimana dikatakan oleh Fred Iklé, seorang sosiolog, setiap perang harus berakhir, entah dengan cara apapun. Perang tidak boleh berlanjut selamanya. Publik AS juga nampaknya telah lelah untuk mengerahkan pasukan militer ke luar negeri untuk terus bertempur dalam Perang Global Melawan Terorisme.

Fred Ikle keliru. Sejak manusia diciptakan, hingga hari kiamat nanti, dua hal yang selalu berperang adalah kebenaran dan kejahatan. Dalam waktu dekat, belum terlihat fase akhir dari Perang Global Melawan Terorisme ini. Jika ternyata perang ini adalah representasi dari perang abadi antara kebenaran dan kejahatan, sudah seharusnya Fred Ikle perlu merevisi perkataannya.

Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Amerika

AS Resmi Tutup Kantor PLO di Washington

Dalam perjuangan membebaskan Palestina, PLO menembuh jalur meminta bantuan Barat dan PBB. Hal ini menjadi perselisihan mendasar dengan gerakan Hamas yang menganggap meminta bantuan Barat dalam menyelesaikan persoalan Palestina hanya sia-sia.

Selasa, 11/09/2018 10:49 0

China

HRW: Cina Praktikkan Pelanggaran HAM Sistematis terhadap Muslim Uighur

sebanyak 13 juta Muslim di wilayah Xinjiang menjadi sasaran indoktrinasi politik, hukuman massal, pembatasan gerakan dan komunikasi, peningkatan pembatasan agama dan pengawasan kolektif.

Selasa, 11/09/2018 08:58 0

Arab Saudi

Saudi Larang Imam Masjidil Haram Syaikh Khalid Al-Ghamidi Berdakwah

“Terkonfirmasi oleh kami Imam dan Khatib Masjidil Haram Syaikh Khalid bin Ali Al-Ghamidi dilarang khotbah dan melakukan seluruh aktivitas dakwah,” tulis akun tersebut.

Selasa, 11/09/2018 07:52 0

Afghanistan

Taliban Serbu Pos-pos Keamanan di Afghanistan Utara

Serangan itu membuat pasukan pemerintah kabur dan membiarkan lokasi yang mereka jaga dikuasai pejuang.

Selasa, 11/09/2018 07:12 0

Video News

Kiblat Review: Gempa Iman di Lombok

KIBLAT.NET – Datangnya musibah selalu menyisakan korban. Kebutuhan untuk melangsungkan hidup menjadi faktor yang penting....

Senin, 10/09/2018 19:41 0

Indonesia

Kejaksaan Diminta Cepat Proses Berkas Kasus Bos PT. Indaco Tabrak Pemotor

LBH Mega Bintang mendatangi Kejaksaan Negeri Surakarta untuk meminta kepastian proses hukum kasus tabrak lari dengan tersangka Presiden Direktur PT. Indaco Warna Dunia Iwan Andranicus.

Senin, 10/09/2018 19:39 0

Amerika

AS Ancam Sanksi ICC Jika Usut Kejahatan Perang di Afghanistan

Penasihat keamanan nasional AS, John Bolton, mengancam akan memberikan sanksi terhadap hakim dan jaksa pengadilan pidana internasional (ICC) jika berani menyelidiki dugaan kejahatan perang militer AS di Afghanistan.

Senin, 10/09/2018 18:03 0

Rusia

Imam Uzbekistan Dipecat Setelah Protes Larangan Jilbab dan Jenggot

Parpiyev (32) mengatakan dalam video, bahwa umat Islam masih mengalami penindasan meskipun di  era reformasi, terkait dengan pelarangan jilbab dan jenggot.

Senin, 10/09/2018 17:41 0

Indonesia

Warga Jepang Donasikan Laba Dagangan untuk Korban Gempa Lombok

KIBLAT.NET, Jakarta – Dukungan dan bantuan untuk korban gempa di Lombok NTB terus mengalir. Tak...

Senin, 10/09/2018 16:11 0

Opini

HTI yang Selalu Salah

Sebenarnya, apa yang mereka takutkan dari eks-HTI bila keterlibatan anasir eks-HTI dalam tagar tersebut adalah sebuah kebenaran?

Senin, 10/09/2018 15:40 0

Close