HRW: Cina Praktikkan Pelanggaran HAM Sistematis terhadap Muslim Uighur

KIBLAT.NET, Xinjiang – Organisasi pemantau HAM PBB, Human Rights Watch (HRW), Senin (10/09), mengatakan bahwa pemerintah Cina mempraktikkan pelanggaran hak asasi manusia massal dan sistematis terhadap Muslim Uighur di provinsi Xinjiang di barat laut negara itu.

HRW mengatakan dalam sebuah laporannya, pihaknya telah memiliki bukti baru penahanan sewenang-wenang dan kolektif terhadap etnis minoritas Muslim Uighur oleh pemerintah Cina. Bukti-bukti itu juga menunjukkan adanya penyiksaan, perlakukan buruk dan pembatasan kehidupan di seluruh wilayah yang dihuni warga Muslim.

Lembaga itu melanjutkan, sebanyak 13 juta Muslim di wilayah Xinjiang menjadi sasaran indoktrinasi politik, hukuman massal, pembatasan gerakan dan komunikasi, peningkatan pembatasan agama dan pengawasan kolektif.

Pelanggaran tersebut, imbuh HRW, tak berpengaruh banyak pada perpolitikan Cina di internasional. Pasalnya, Beijing memiliki pengaruh kuat di dalam PBB untuk menghadapi bukti-bukti pelanggaran HAM di Xinjiang.

Organisasi tersebut menyeru pemerintah-pemerintah internasional mengambil tindakan bersama di Dewan Hak Asasi Manusia PBB. Kemudian membentukan koalisi untuk mengumpulkan dan menilai bukti-bukti pelanggaran di wilayah tersebut. Selanjutnya penjatuhan sanksi terhadap Sekretaris Partai Komunis Chen Cuango dan pejabat senior lainnya.

Direktur HRW kantor Cina, Sophie Richardson, mengatakan bahwa kampanye pemerintah Cina itu merupakan ujian besar apakah PBB dan pemerintah yang bersangkutan akan mengisolasi Cina. Sementara pelanggaran yang dilakukan Cina terus meningkat.

Dia menambahkan bahwa laporan terbaru menunjukkan pihak berwenang Cina memenjara sebanyak satu juta muslim Uinghur di kamp-kamp. Warga muslim keturuanan Turkmenistan dan berbahasa Turki dipaksa belajar bahasa Mandarin. Mereka juga dipaksa membayar upeti kepada Partai Komunis Cina. Jika menolak melakukan itu semua, mereka dihukum.

Berdasarkan laporan HRW, ratusan ribu muslim Uighur itu ditahan di kamp-kamp pendidikan politik tanpa hak proses hokum yang adil. Mereka tidak diadili dan tidak diizinkan bertemu keluarga dan pengacara.

Laporan HRW setebal 117 halaman itu disusun berdasarkan wawancara dengan 58 warga yang pernah tinggal di Turkestan Timur, termasuk lima mantan tahanan dan 38 kerabat tahanan.

Sejak 1949, Beijing telah menguasai wilayah “Turkistan Timur”, rumah dari minoritas Muslim Uighur, yang disebut Xinjiang.

Sumber: Anadolu Agency
Redaktur: Sulhi El-Izzi

Ingin Langganan Artikel?
Daftarkan emailmu di sini untuk mendapatkan update artikel terbaru.
Anda dapat berhenti langganan kapan saja.
Anda mungkin juga berminat