... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

Suara Pembaca

HTI yang Selalu Salah

Foto: Sebenarnya, apa yang mereka takutkan dari eks-HTI bila keterlibatan anasir eks-HTI dalam tagar tersebut adalah sebuah kebenaran?

Oleh: Multazim Jamil 

 

KIBLAT.NET – Tagar #2019GantiPresiden telah membuat keramaian di seantero negeri. Para penggerak tagar tersebut adalah kubu oposisi, yang konon tak menghendaki lagi Joko Widodo untuk menjadi presiden di masa jabatan berikutnya. Sah atau tidak, konstitusional atau tidak, kita tidak akan membahasnya di sini. Tapi saya yakin mayoritas pembaca kiblat.net adalah pendukung tagar tersebut. Gak percaya? Silakan disurvey.

Di kala nilai tukar rupiah yang semakin melemah terhadap dolar, tagar tersebut semakin berada di atas angin. Titik tembak yang disasar kubu ini adalah perekonomian yang lesu, harga-harga kebutuhan pokok yang naik, utang negara yang bertambah, dan seabrek indikator materialisme lainnya.

Beragam respon pun keluar dari kubu lawan, yang notabene adalah pendukung calon presiden incumbent, Joko Widodo. Semua isu yang dilontarkan oleh kelompok pendukung tagar #2019GantiPresiden seolah ada jawabannya. Kedua kubu saling serang dengan pernyataan masing-masing.

Sayangnya, kubu lawan dari tagar #2019GantiPresiden berada dalam posisi yang lebih menguntungkan. Bagaimana tidak, posisi petahana memang rawan menyalahgunakan kekuasaan yang sedang dipegang untuk membungkam setiap gerak-gerik oposisi. Saya bilang rawan lho ya, tolong dicetak tebal dan digarisbawahi. Hehehe.

Dari sekian isu yang dilemparkan kepada kubu pendukung tagar #2019GantiPresiden, hal yang cukup menarik bagi saya adalah tuduhan bahwa massa dan tokoh eks-HTI berada di balik kelompok tersebut.

BACA JUGA  Wiranto yang Ditusuk, Umat Islam yang Kesakitan

Saya belum menelusuri lebih jauh tentang keterlibatan tokoh HTI dalam aktivitas tagar tersebut. Hanya saja, pertama kali tuduhan tersebut keluar berdasarkan rekam citra dua dimensi (baca: foto) Mardani Ali Sera, salah satu inisiator tagar #2019GantiPresiden, bersama Ismail Yusanto, juru bicara HTI. Selain itu, ada pula spanduk yang terpasang di beberapa kota, yang berisi dukungan terhadap tagar #2019GantiPresiden, disertai dengan tagar baru: #2019GantiSistem. Konon di spanduk tersebut tercantum lambang HTI.

Sebenarnya, apa yang mereka takutkan dari eks-HTI bila keterlibatan anasir eks-HTI dalam tagar tersebut adalah sebuah kebenaran? Publik telah menisbatkan HTI sebagai pengusung ide-ide syariah dan khilafah dalam bernegara.
Ketakutan bahwa para anasir eks-HTI ini akan menunggangi gerakan tagar #2019GantiPresiden untuk mencapai misi penegakan ideologi mereka inilah yang berusaha disebarkan kepada publik sebagai common enemy yang patut dihabisi.

Apa iya HTI benar-benar menunggangi? Meminjam pantun tuan guru Ustadz Abdul Shomad (UAS), “Entah buaya, entah cicak. Entah iya, entah tidak.” Jikalau meminjam perspektif para ahli kontra terorisme-radikalisme-fundamentalisme-dll-dll, jika benar massa eks-HTI ikut masuk dalam kontestasi pemilu, pihak yang selama ini membenci HTI seharusnya mengadakan syukuran selametan tujuh hari tujuh malam. (Eh maaf, ini bid’ah katanya).

Apa sebab? Pasalnya, sekali lagi, jika benar, keterlibatan dalam kontestasi pemilu adalah simbol keruntuhan ide-ide “radikal” yang diusung HTI, yang selama ini gigih menentang demokrasi. Saya selalu ingat dengan buletin Al Islam yang rutin nangkring di dekat kotak infaq masjid tiap sholat jumat, dengan topik yang sangat mudah ditebak: “apapun masalahnya, khilafah solusinya”, atau “demokrasi no, khilafah yes”.

BACA JUGA  Merenda Nalar di Balik Cadar

Demokrasi memang dianggap oleh pemilik tunggal definisi demokrasi (baca: Amerika Serikat) sebagai solusi untuk melawan ide-ide islamis, eh maaf, radikal. (Soalnya masih memakai sudut pandang kontra-islam, eh, kontraterorisme-radikalisme-fundamentalisme-dll.) Itu ucapan George W Bush di tahun 2007, saat membuka konferensi di Ceko. Ia bilang, “Senjata yang paling kuat dalam peperangan melawan ekstrimisme bukanlah peluru atau bom, namun adalah daya tarik universal kebebasan… Amerika Serikat berkomitmen akan memajukan kebebasan dan demokrasi sebagai alternatif yang baik untuk represi dan radikalisme.”

Nyatanya, bukan diterima dengan baik untuk masuk dalam ranah demokrasi, HTI justru kembali menjadi bahan bulan-bulanan sejumlah pihak. Apa ya pihak tersebut nggak mikir, kalau eks-HTI justru bikin organisasi baru, HTI Perjuangan misalnya, dengan manhaj yang lebih garang (anggap saja jihadi), apa nggak ya tambah repot itu bapak-bapak di BNPT?

Lalu, kalau tokoh-tokoh eks-HTI ditolak dalam aktivitas demokrasi, kira-kira apa saluran yang tepat untuk mereka? Bikin organisasi menyerukan anti-demokrasi, dibubarkan. Mendekat ke demokrasi, dirisak kubu lawan.

Kudune piye?

Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Artikel

Di Bawah Bayang-bayang Tragedi Utang Turki Usmani

Indonesia dan Turki yang kini beberapa langkah dari bibir jurang semoga tak terperosok ke dalam jurang yang sama. Jangan sampai persoalan utang membuat Indonesia dan Turki menjadi korban berikutnya dari malapetaka buruknya pengelolaan ekonomi dan jeratan utang.

Senin, 10/09/2018 15:29 0

Video Kajian

Membangun Negara dengan Tauhid – Ust. Farid A. Okbah, MA.

KIBLAT.NET – Politik dalam kenegaraan Islam itu jauh lebih dari sekadar mensejahterahkan rakyat. Politik dalam...

Senin, 10/09/2018 12:00 0

Amerika

Media: Pemerintah AS Sesatkan Opini Publik Soal Perang Afghanistan

Namun fakta di lapangan yang digali New York Times menunjukkan fakta bahwa sepertiga dari total pasukan Afghanistan disersi namun nama-nama mereka tidak dihapus dari daftar tentara penerima gaji.

Senin, 10/09/2018 09:33 0

Suriah

Pesawat Tempur Mulai Serangan Intensif ke Idlib

Setidaknya 15 helikopter bergantian menjatuhkan bom barel desa Habit

Senin, 10/09/2018 08:07 0

Iran

Menlu Iran: Selamat Tahun Baru Ibrani

"Saya berharap semua warga Yahudi di negara saya dan di seluruh dunia sangat bahagia dan dipenuhi perdamian serta harmoni di tahun baru ini. Selamat Tahun Baru untuk Anda di tahun baru Ibrahim," tulis Zarif di akun resmi Twitternya seperti dilansir Reuters, Ahad.

Senin, 10/09/2018 06:45 0

Indonesia

Penuh Haru, Tiga Peserta Jalan Sehat Solo Ini Dapat Hadiah Umrah Gratis

"Alhamdulillah, saya belum pernah ke Makkah dan mendapatkan umroh, insyallah saya akan berangkat. Dan terima kasih kepada panitia yang telah menyelenggarakan jalan sehat umat Islam pada hari ini," katanya saat ditemui Kiblat.net pada Ahad (09/09/2018) di Solo.

Senin, 10/09/2018 06:13 0

Suriah

Rusia dan Amerika Bisa Gigit Jari di Suriah

Rusia dan Amerika Bisa Gigit Jari di Suriah. Rusia dan Amerika adalah negara kuat. Namun keduanya keok di Afghanistan melawan Taliban. Aktor lemah bisa mengalahkan aktor kuat, bagaimana itu mungkin terjadi di Suriah?

Senin, 10/09/2018 05:12 0

Lebanon

Pengungsi Suriah Dianiaya Hanya Karena Memiliki Nama “Abu Muawiyah”

Seorang pengungsi Suriah dari distrik selatan Damaskus bernama Ahmed alias Abu Muawiyah harus mengalami kesakitan lantaran dianiaya oleh sekelompok orang di Lebanon.

Ahad, 09/09/2018 14:32 0

Irak

Demonstran Iraq Bakar Kantor Konsulat Iran di Basra

Ratusan demonstran menyerbu dan membakar kantor kedutaan Iran di kota Basra Iraq selatan pada Jumat (07/09/2018). Para demonstran melampiaskan kemarahan mereka atas layanan publik yang buruk.

Ahad, 09/09/2018 13:51 0

Suriah

Tak Ada Solusi Pasti untuk Idlib dalam KTT Turki-Iran-Rusia

"Ketiga negara ini tidak pernah mencapai sudut pandang strategis mengenai perang Suriah karena mereka bertentangan pendapat," kata Ismayil

Ahad, 09/09/2018 13:38 0

Close