... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

In Depth

Di Bawah Bayang-bayang Tragedi Utang Turki Usmani

Foto: Presiden Turki Recep Tayip Erdogan dan Amir Qatar Syaikh Tamim Al-Thani.

Oleh: Beggy Rizkiyansyah – Pegiat Jejak Islam untuk Bangsa

KIBLAT.NET – Senyum Syeikh Tamim bin Hamad Al-Thani merekah. Emir Qatar tersebut terlihat sumringah. Jabat tangannya dengan Recep Tayyip Erdogan mampu memberi nafas bagi mata uang Turki, Lira untuk sementara.

Gelontoran uang 15 milyar dollar menyelamatkan Lira Turki (untuk sementara) dari jurang lebih dalam, setelah nilai Lira terhadap dollar AS tergerus hingga hampir 50% selama hampir setahun ini. Mata uang Lira menyusut hingga 15% dalam pertengahan Agustus 2018. Nasib Lira semakin terpuruk ketika Presiden AS menekan Turki karena menahan salah seorang warga AS yang diduga terlibat aksi subversi. Trump kemudian memberlakukan kebijakan tarif terhadap baja dari Turki.

Banyak yang memprediksi krisis akan menghampiri Turki. Beberapa media barat memperkirakan (atau berharap?) Turki segera menjadi pasien International Monetary Fund (IMF). Badan penghisap darah yang telah menjungkirbalikkan keadaan masyarakat dengan segala resep kebijakan pengetatan ekonominya saat Indonesia mengalami krisis 1998.

Presiden Recep Tayyip Erdogan menolak tunduk dengan situasi tersebut, ketimbang mengikuti banyak resep ekonom untuk menaikkan suku bunga bank di Turki, ia tetap bertahan dengan suku bunga bank rendah. Erdogan saat bulan Mei 2018 mengatakan bunga bank adalah induk segala setan.

Alih-alih, mengikuti resep yang konvensional, Erdogan mulai menoleh pada investasi Cina dan menolak hegemoni Turki.

Persoalan yang membeli Turki memang bukan sepele. Erdogan menjalankan resep kredit domestik dengan pinjaman luar negeri. Masyarakat Turki mengonsumsi barang-barang asing. Perusahaan Turki telah meminjam mata uang asing sebesar 300 miliar dollar AS dan sekarang harus membayar dalam Lira Turki yang anjlok nilainya.

Sebagian besar utang perusahaan Turki dikeluarkan saat kurs lira bernilai 2 dollar AS. Dengan nilai 6 dollar As saat ini, utang Turki meloncak tiga kali lipat. Utang Turki yang jatuh tempo tahun ini hingga Juli 2019 diperkirakan sebesar 179 miliar dollar AS. 146 milliar dollar AS diantaranya merupakan hutang sektor swasta, terutama perbankan.

Pembangunan konstruksi besar-besaran di Turki, terutama di Istanbul memang mencengangkan. Gedung-gedung pencakar langit, mal raksasa, hingga megaproyek bandara baru di Istanbul yang mampu melayani hingga 200 juta penumpang per tahun. Sayangnya proyek-proyek raksasa ini didanai dari hutang dalam bentuk dollar AS. Gedung Istanbul Shapphire misalnya, salah satu gedung tertinggi di Eropa yang selesai tahun 2011 ini, didanai dengan pinjaman 164 miliar lira dan kini membengkak menjadi 539 miliar lira.

BACA JUGA  Dulu Bengis, Kini Mudah Menangis: Kisah Hijrah Mantan Preman

Booming konstruksi berporoskan hutang ini mencapai puncaknya pada tahun 2013 dan 2014 dengan pinjaman bunga bank yang rendah. 69 pencakar langit dibangun sejak 2008. Mega proyek Jembatan suspensi yang terbentang di atas selat Bosphorus, terowongan di bawah selat Bosphorus dan bandara raksasa diperkirakan menelan lebih dari 10 triliun euro. 5.7 triliun euro untuk bandara yang dipakai pada tahun 2015 seharga 18 triliun lira, kini membengkak menjadi 40 triliun lira akibat terperosoknya nilai lira. (Pesha Magid & Umar Farooq: 2018)

Nyatanya bukan hanya Turki saja yang dicemaskan kerontokan ekonominya. Indonesia bersama Turki, dan Brazil, dianggap major emerging market yang menerima limpahan dana asing. Negara-negara ini menjadi negara berkembang yang ekonomi sangat tergantung pada kelimpahan dana asing untuk mengisi pundi-pundi mereka.

Di Indonesia situasinya mungkin berbeda, tetapi sama-sama dinaungi hutang sebagai tulang punggung ekonomi. Infrastruktur yang digadang-gadang oleh pemerintah dibangun di atas tumpukan utang.

Total Utang pemerintah menurut Kemenkeu dalam ABPN 2018 menyebutkan utag pemerintah mencapai 4.772 triliun Rupiah. Jika melihat data Surat Berharga Negara (SBN), sudah mencapai 3.128 triliun Rupiah dan utang luar negeri sebesar 2.389 triliun Rupiah Sedangkan utang swasta tahun 2017 sebesar 2.322 triliun (dengan kurs rupiah 13.500). (INDEF: 2018)

Sejak pemerintahan era Joko Widodo, utang pemerintah melonjak dari 3.165,13 triluin (2015), menjadi 3.466, 96 triliun Rupiah (2017). Angka ini terus meningkat hingga ABPN 2018 mencapai angka 4.772 triliun Rupiah. (INDEF: 2018)

Di APBN 2015 porsi belanja infrastruktur memang menaik tajam, sebesar 18,21%. Namun pada tahun berikutnya, sudah kembali ke angka 14-15 %. Sementara porsi belanja untuk pembayaran kewajiban utang telah mencapai 16,81%. (INDEF: 2018)

Pada 2017, utang luar negeri pemerintah sebesar 177.318, 21 juta USD. Sementara utang luar negeri swasta sebesar 171.624,9 juta USD. Baik pemerintah maupun swasta telah mengerem pemakaian utang luar negeri. Utang pemerintah sekarang menggeser dominasi utang luar negeri menjadi utang dalam negeri lewat penerbitan SBN. Persoalannya, 39,5% SBN dimiliki asing. Hal ini rentan terhadap perekonomian nasional karena berpotensi terjadinya keluarnya arus modal (capital outflow). (INDEF: 2018)

Rasio pembayaran utang dalam negeri Indonesia.

Menurut Institute Development for Economics and Fincance (INDEF) dalam Menggugat Produktivitas Utang (2018), rasio utang pemerintah dalam status waspada. Rasio utang terhadap PDB tahun 2017 memang masih sebesar 28,9% dan dalam batas yang wajar. Sebab menurut UU pasal 12 ayat 3 No. 17 tahun 2003 tentang Tata Keuangan, rasio utang maksimal 60% dari PDB. Persoalannya terletak pada suku bunga utang pemerintah yang sudah lebih tinggi dari pertumbuhan ekonomi dan dampak utang tersebut. Rasio beban kewajiban utang terhadap Total Pendapatan Pemerintah telah mencapai 29,5%. Hal ini menunjukkan beban kewajiban utang sudah sangat tinggi.

BACA JUGA  Beramal Sholeh untuk Tujuan Duniawi

Produktivitas yang diharapkan dari penarikan utang ternyata tak terjadi dan belum mampu mengakselerasi pertumbuhan ekonomi. Meski utang yang dipakai untuk pembangunan infrastruktur tidak akan terjadi dampaknya dalam jangka pendek, namun seharusnya optimisme perekonomian lewat investasi dapat terlihat. nyatanya menurut INDEF tidak demikian. Output perekonomian/pertumbuhan ekonomi tdiak beranjak dari sekitar 5%.

Gembar-gembor pembangunan infrastruktur ternyata tidak mampu menyerap tenaga kerja secara signifikan, baik jangka pendek maupun jangka panjang. Penyerapan tenaga kerja hanya terjadi disektor angkutan kereta api dan sektor angkutan darat. Itu pun hanya mampu menyerap dengan nilai 0,5% dalam jangka pendek. (INDEF: 2018)

Terlebih utang pemerintah yang sebagian besar berupa penerbitan obligasi (81%) didominasi sekitar 40% oleh kepemilikan asing. Kepemilikan asing ini membuka ruang terjadinya volatilitas nilai tukar Rupiah. Saat perekonomian global mengalami tekanan, maka potensi arus modal keluar (capital outflow) akan meningkat dan membuat Rupiah semakin berfluktuasi. Di sektor-sektor yang terkait langsung proyek-proyek infrastruktur tidak serta merta meingkat penyerapannya. (INDEF: 2018)

Studi INDEF (2018) justru menyimpulkan keadaan yang tak menyenangkan. Menurut studi tersebut,

“Pembangunan infrastruktur belum bisa memberikan dampak terhadap GDP riil secara cepat, justru malah akan menurun jika terhenti pembangnannya. Kalaulah akan meningkat karena infrastruktur secara stabul terjadi, justru pada saat jangka panjang.”

Hal ini semakin rentan ketika Indonesia hingga sepanjang awal 2018 nilai impornya meingkat 26, 58%, sementara ekspor hanya meningkat 10,13 %. 44,30 % impor tersebut merupakan barang konsumsi. (INDEF: 2018)

Bukan rahasia, beberapa bahan kebutuan mendasar seperti beras, bawang, bahkan garam merupakan produk impor. Maka ketika rupiah gonjang-ganjung, harga pangan ikut terkerek naik. Dampaknya langsung mencekik rakyat kecil.

Bukan rahasia lagi, kedaulatan pangan Indonesia telah tergadai akibat ketergantungan kita akan produk pangan impor. Baik Indonesia maupun Turki saat ini sedang dalam kubangan lumpur utang yang semakin menyulitkan gerak ekonominya. Persoalan utang harus disikapi kedua pemerintahan secara seksama. Keduanya harus berhati-hati terhadap politk pembangunan yang sebagian besar didanai oleh utang.

Baca halaman selanjutnya: Belitan Utang Turki Utsmani...

Halaman Selanjutnya 1 2 3
Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Video Kajian

Membangun Negara dengan Tauhid – Ust. Farid A. Okbah, MA.

KIBLAT.NET – Politik dalam kenegaraan Islam itu jauh lebih dari sekadar mensejahterahkan rakyat. Politik dalam...

Senin, 10/09/2018 12:00 0

Amerika

Media: Pemerintah AS Sesatkan Opini Publik Soal Perang Afghanistan

Namun fakta di lapangan yang digali New York Times menunjukkan fakta bahwa sepertiga dari total pasukan Afghanistan disersi namun nama-nama mereka tidak dihapus dari daftar tentara penerima gaji.

Senin, 10/09/2018 09:33 0

Suriah

Pesawat Tempur Mulai Serangan Intensif ke Idlib

Setidaknya 15 helikopter bergantian menjatuhkan bom barel desa Habit

Senin, 10/09/2018 08:07 0

Iran

Menlu Iran: Selamat Tahun Baru Ibrani

"Saya berharap semua warga Yahudi di negara saya dan di seluruh dunia sangat bahagia dan dipenuhi perdamian serta harmoni di tahun baru ini. Selamat Tahun Baru untuk Anda di tahun baru Ibrahim," tulis Zarif di akun resmi Twitternya seperti dilansir Reuters, Ahad.

Senin, 10/09/2018 06:45 0

Indonesia

Penuh Haru, Tiga Peserta Jalan Sehat Solo Ini Dapat Hadiah Umrah Gratis

"Alhamdulillah, saya belum pernah ke Makkah dan mendapatkan umroh, insyallah saya akan berangkat. Dan terima kasih kepada panitia yang telah menyelenggarakan jalan sehat umat Islam pada hari ini," katanya saat ditemui Kiblat.net pada Ahad (09/09/2018) di Solo.

Senin, 10/09/2018 06:13 0

Suriah

Rusia dan Amerika Bisa Gigit Jari di Suriah

Rusia dan Amerika Bisa Gigit Jari di Suriah. Rusia dan Amerika adalah negara kuat. Namun keduanya keok di Afghanistan melawan Taliban. Aktor lemah bisa mengalahkan aktor kuat, bagaimana itu mungkin terjadi di Suriah?

Senin, 10/09/2018 05:12 0

Lebanon

Pengungsi Suriah Dianiaya Hanya Karena Memiliki Nama “Abu Muawiyah”

Seorang pengungsi Suriah dari distrik selatan Damaskus bernama Ahmed alias Abu Muawiyah harus mengalami kesakitan lantaran dianiaya oleh sekelompok orang di Lebanon.

Ahad, 09/09/2018 14:32 0

Irak

Demonstran Iraq Bakar Kantor Konsulat Iran di Basra

Ratusan demonstran menyerbu dan membakar kantor kedutaan Iran di kota Basra Iraq selatan pada Jumat (07/09/2018). Para demonstran melampiaskan kemarahan mereka atas layanan publik yang buruk.

Ahad, 09/09/2018 13:51 0

Suriah

Tak Ada Solusi Pasti untuk Idlib dalam KTT Turki-Iran-Rusia

"Ketiga negara ini tidak pernah mencapai sudut pandang strategis mengenai perang Suriah karena mereka bertentangan pendapat," kata Ismayil

Ahad, 09/09/2018 13:38 0

Indonesia

Jalan Sehat Umat Islam Solo: Datang Bersih Pulang Juga Bersih

“Alhamdulillah luar biasa, umat Islam se-Solo Raya bersatu padu dalam kegiatan nasional. Tidak ada unsur politik, jadi ini hanya untuk mempersatukan umat Islam,” tambahnya.

Ahad, 09/09/2018 12:41 1

Close