... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

Khazanah

Memahami Hukum Vaksin Rubella dengan Pendekatan Fikih Klasik

Foto: Vaksin mengandung babi (detik.com)

Vaksin Rubella beberapa waktu yang menjadi pembicaraan banyak pihak. MUI sendiri dalam hal ini berpendapat bahwa vaksin Rubella yang digunakan saat ini hukumnya haram, karena dalam prosesnya melibatkan unsur babi yang jelas keharamannya. Namun MUI memperbolehkan pemerintah untuk menggunakan vaksin tersebut karena alasan darurat.

Sebuah artikel yang dimuat di situs www.alukah.net mengkaji hal yang mirip dengan persoalan di atas. Artikel tersebut berjudul “Hukmu Tanawulil Adwiyah Al Musytamilah Ala Musytaqqotil Khinazir” (Hukum Mengkonsumsi Obat yang Mengandung Zat Turunan dari Babi) yang ditulis oleh Ali bin Ahmad Al-Mutho’. Redaksi mencoba mengambil poin-poin yang kami anggap penting dalam mendudukkan polemik ini.

Hukum Berobat dengan Zat yang Haram dan Najis

Hal yang sudah maklum di agama Islam bahwa Allah SWT mengharamkan babi di dalam Al-Quran. Allah SWT berfirman:

حُرِّمَتْ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةُ وَالدَّمُ وَلَحْمُ الْخِنْزِيرِ

Artinya, “Diharamkan atas kalian bangkai, darah dan daging babi.” (QS Al-Maidah : 3)

Allah SWT jika mengharamkan sesuatu pastinya memiliki hikmah di dalam ilmu Allah. Begitu juga ketika Allah menghalalkan hal-hal yang baik dan mengharamkan hal-hal yang menjijikkan (Khubuts), Nabi-Nya menjelaskan kepada kita bahwa Allah SWT tidak menjadikan obat bagi manusia pada hal-hal yang menjijikkan. Rasulullah SAW bersabda:

إنَّ الله لم يجعل شفاءكم فيما حرَّم عليكم

Sesungguhnya Allah tidak menjadikan obat bagi kalian pada hal-hal yang diharamkan atas kalian.” (HR Bukhori)

Atas dasar ini, maka setiap hal yang menjijikkan adalah haram dan sebaliknya. Dari sini muncul pertanyaan, jika diketahui bahwa suatu yang haram dapat memberikan kesembuhan, apakah maslahat kesembuhan itu lebih didahulukan dari madharat keharaman? Apakah status darurat dalam masalah obat sama statusnya dengan hukum makan bangkai karena darurat?

Dalam kasus ini, kami kemukakan permasalahan yang sejenis dengan tema kali ini. Yaitu hukum berobat dengan bangkai. Babi dan bangkai sama-sama haram dan menimbulkan bahaya. Para ulama berbeda pendapat tentang hukum berobat dengan bangkai, jika seorang muslim mengetahui bahwa terdapat di dalamya kesembuhan dan tidak ada obat selainnya. Baik bangkainya dikonsumsi sendiri atau dicampur dengan bahan obat-obat lainnya.

Pendapat pertama : Boleh

Ini adalah pendapat Hanafiyah dan pendapat yang shahih dari Syafiiyah, karena Rasululah SAW mmbolehkan kepada Uroniyin untuk meminum kencing dan susu unta untuk berobat. Izz bin Abdussalam berkata, “Karena maslahah kesehatan dan keselamatan lebih sempurna dari kemaslahatan menjauhi najis.” (Qowaidul Ahkam Fi Masholihil Anam 1/180)

Hanafiyah memberikan syarat bolehnya berobat dengan najis dan hal yang haram. Pertama, harus terbukti bahwa jika dikonsumsi memberikan kesembuhan. Kedua, tidak ada obat lain yang halal. Mereka berkata. “Apa yang dikatakan bahwa hukum asal berobat dengan yang haram adalah haram tidak mutlak adanya. Sesungguhnya berobat dengan menggunakan yang haram tidak diperbolehkan jika diketahui bahwa hal yang haram tidak menjadi sebab kesembuhan, namun jika diketahui (secara ilmu) memberikan kesembuhan dan tidak ada obat lain, maka diperbolehkan.”

Sedangkan Syafiiyah membatasi hukum haramnya berobat dengan najis dan sesuatu yang haram, jika keduanya berdiri sendiri, maka tidak boleh berobat dengan keduanya. Namun jika keduanya bercampur dengan obat lain, maka diperbolehkan berobat dengan zat najis atau haram dengan dua syarat. Pertama, obat tersebut diberikan (diresepkan) oleh orang yang paham dunia pengobatan (kedokteran), meskipun dokter yang memberi seorang fasiq atau melalui kesaksian seorang dokter muslim yang adil. Kedua, hanya zat yang haram atau najis tadi yang menjadi sebab kesembuhan dan tidak didapati obat dari zat yang halal. (Al-Mausu’ah Kuwaitiyah 11/119)

Pendapat kedua : Tidak boleh

Ini adalah pendapat Malikiyah dan Hanabilah. Karena hadits Nabi Muhammad SAW. beliau bersabda :

BACA JUGA  Agar Hijrahmu Tidak Hanya Sekedar Tren

إنَّ الله لم يجعل شفاء أمتي فيما حرَّم عليها

Artinya, “Sesungguhnya Allah tidak menjadikan kesembuhan umatku terdapat pada hal yang haram.”

Ibnul Qayyim berkata, “Berobat dengan hal yang haram tidak baik secara akal maupun dalil. Secara syar’i terlarang karena dalil di atas. (Ibnul Qayyim menyebutkan sejumlah dalil) adapun secara akal, sesungguhnya Allah SWT mengharamkan sesuatu karena kotor (khubts). Sesungguhnya Allah tidak mengharamkan kepada umat ini hal-hal yang baik (thayyib) sebagai hukuman, tidak seperti Bani Israil. Allah SWT berfirman :

Artinya, “Karena kezaliman dari sebagian orang Yahudi, maka kami haramkan kepada mereka hal-hal yang baik (Thayyibat) yang sebelumnya dihalalkan bagi mereka.” (QS An-Nisa : 160)

Sesungguhnya Allah mengharamkan sesuatu atas umat ini karena sifatnya yang kotor (khubts) dan Allah mengharamkannya sebagai bentuk kebanggaan bagi orang-orang beriman dan bentuk penjagaan agar tidak dikonsumsi. Maka secara logika tidak tepat jika Allah menjadikan pada hal yangnajis dan haram kesembuhan dari penyakit.

Meskipun yang najis dan haram tadi dapat menghilangkan penyakit, namun dia meninggalkan racun di hati yang lebih besar dari kesembuhan itu sendiri, karena sifat kotor (khubts) yang ada pada najis dan hal yang haram. Sehingga orang yang berobat dengannya telah berupaya menghilangkan penyakit badan, namun menggantinya dengan penyakit hati.

Pengharaman najis dan yang mengharamkan, juga memiliki konsekuensi untuk menjauhi dan menghindarinya dengan segala cara. Menjadikannya sebagai obat justru mengandung motivasi untuk mengkonsumsinya dan menggunakannya, hal ini tentu bertentangan dengan maksud pembuat syariat. Hal yang najis dan haram adalah penyakit berdasarkan nash syariat, maka tidak boleh menjadikannya obat. (Zadul Ma’ad 4/141)

Syaikh Abdurrahman As-Sa’di berkata, “Obat-obatan tidaklah termasuk dalam perkara ini (Kedaruratan yang mengharuskan memakan yang haram). Sesungguhnya Allah SWT menyembuhkan orang yang diuji dengan penyakit dengan berbagai macam cara, tidak terbatas pada obat tertentu. Jika pada obat tertentu besar kemungkinan mendapat kesembuhan, tapi tidak boleh berobat dengan hal-hal yang haram seperti khomr, susu kedelai adan hal haram lainnya. Berbeda dengan orang yang mudhtor (terdesak) harus memakan bangkai, karena dia yakin betul, jika dia tidak makan bangkai maka dia akan meninggal.” (Bahjatu Qulubil Abror, hal 261)

Setelah pemaparan singkat di atas tentang hukum berobat dengan najis, kita bisa melihat gambaran umum terkait mengkonsumsi obat yang mengandung babi. Melihat tingginya kebutuhan kepada obat-obat tersebut dan tidak adanya obat alternatif (yang halal) sebagai pengganti pada kondisi-kondisi tertentu dan faktor lain adalah sulitnya setiap orang bahkan negara mengenali istilah-istilah yang ada dalam kandungan obat.

Dalam perkara ini ada permasalahan penting yang perlu digarisbawahi yaitu bagaimana jika zat najis tersebut menghilang entah itu dengan istihalah ataupun istihlak. Ditambah, terkadang zat najis tersebut persentasenya kecil sekali dan tidak dominan. Baik rasa, warna dan bau najisnya sudah tidak membekas karena proses istihalah.

Para ulama telah menyinggung persoalan yang mirip dengan persoalan di atas. Yaitu jika kotoran tikus jatuh ke dalam gandum, kemudian gandumnya digiling sedangkan kotoran tikus masih di sana. Atau kotoran tikus jatuh ke dalam minyak, maka baik tepung atau minyak (yang kejatuhan kotoran tikus) tidaklah rusak, selama rasanya tidak berubah. Abu Laits berkata, “Kami mengambil pendapat tersebut. Di dalam kitab Al-Masail milik Sirajuddin Abu Hafs disebutkan jika kotoran tikus jatuh ke Rubb (Air perasan dari kurma yang dimasak) atau cuka, maka kotoran tadi tidak merusak.” (Al-Fatawa Al Hindiyah 1/48)

Para ulama juga menyebutkan bahwa becampurnya zat yang haram dengan zat yang mubah (suci) yang menyebabkan hilangnya sifat dan ciri khas zat yang haram sehingga hilang rasa, warna dan bau dari zat haram (ulama menyebut proses ini dengan istihlak), seperti jatuhnya beberapa tetes khomr atau darah ke dalam air yang banyak. Sesungguhnya zat najis yang jatuh tidak ada wujudnya, baik rasa, warna an bau karena secara otomatis dia telah hilang.

BACA JUGA  Khutbah Jumat: Kalimat Tauhid dan Barometer Akhlaqul Karimah

Para ulama juga telah membahas percampuran antara zat yang mubah dengan yang haram. Perkara ini mirip dengan percampuran antara air dan najis. Mereka sepakat bahwa air yang banyak atau sedikit jika terkena najis dan mengubah rasa, warna dan bau, maka airnya menjadi najis. Ulama juga sepakat bahwa air yang banyak seperti Nil dan lautan jika terkena najis dan tidak merubah warna, rasa dan bau maka air tersebut tetap pada hukum asalnya dan boleh digunakan untuk bersuci. (At-Tathbiqot Al Fiqhiyah li Qoidati “Al Yasir Mughtafarun fil Buyu’ 3/8)

Mengenal Istihlak dan Istihalah

Istihalah adalah berubahnya materi najis atau hal yang haram dikonsumsi menjadi materi (zat) baru yang berbeda nama, ciri khas dan sifat. Dalam istilah ilmiah yang sering tersebar yaitu proses kimiawi yang mengubah materi menjadi materi lain. Seperti berubahnya minyak dan lemak (dari berbagai sumber) menjadi sabun.

Adapun Istihlak adalah bercampurnya materi haram atau najis dengan materi lain yang suci dan dominan. Sehingga percampuran tersebut menghilangkan sifat-sifat zat yang najis dan haram. Jika sifat-sifat zat najis yang tercampur tadi hilang, baik rasa, warna dan bau, maka yan dijadikan hukum adalah zat suci dan halal yang dominan tadi.

Apakah dengan Istihalah Zat Najis dan Haram Bisa Menjadi Suci?

Di dalam Al-Mausu’ah Al Kuwaitiyah 30/25 disebutkan bahwa para ulama mazhab berbeda pendapat terkait istihalah.

Ulama Hanafiyah, Malikiyah dan riwayat dari Imam Ahmad berpendapat bahwa zat yang najis bisa menjadi suci  jika dia telah menjadi zat lain. Jika babi berubah menjadi garam, garamnya suci. Sebagaimana kotoran yang dibakar menjadi abu, bagi kelompok pertama, abu dari kotoran suci karena sudah menjadi zat baru.

Kelompok ini berdalil dengan hadits khomr yang berubah menjadi cuka dan boleh dikonsumsi setelah menjadi cuka. Kemudian keumuman hadits tentang bangkai yang kulitnya menjadi suci bila disamak. Argumentasi lainnya adalah bahwa hukum asal suatu zat adalah halal dan boleh dimanfaatkan.

Sedangkan Syafiiyah dan Hanabilah berpendapat bahwa sesuatu yang zatnya najis tidak bisa disucikan meskipun sudah menjadi zat baru. Kecuali khomr dan kulit bangkai yang telah disamak.

Kelompok ini memiliki argumentasi bahwa pada anjing dan babi keharaman terletak pada materinya, sehingga mau diproses seperti apapun, materi najis dan haram itu tetap ada, meskipun berubah bentuknya.

Kesimpulan

Permasalahan ini bermuara kepada dua pondasi fikih yang telah dikaji oleh para ulama klasik. pondasi pertama adalah hukum berobat menggunakan zat yang najis dan haram, jika diketahui bahwa hal tersebut memberi kesembuhan. Pondasi kedua adalah apabila terjadi istihalah atau istihlak pada suatu najis, apakah benda tersebut tetap najis dan haram sehingga tidak boleh dikonsumsi, atau berubah menjadi halal? Gambaran global tentang pendapat ulama sudah dipaparkan di atas.

Polemik tentang vaksin Rubella menandakan kewaspadaan umat akan apa yang mereka konsusmsi, ini adalah suatu hal yang positif. oleh karenanya perlu juga permasalahan ini didudukkan secara fikih, dan perbedaan-perbedaan ulama di dalam masalah ini. Sehingga setiap pilihan yang diambil berdasarkan atas ilmu dan pendapat para ulama yang muktabar. Wallahu a’lam bissowab

Penulis: Miftahul Ihsan
Editor: Arju

Sumber : www.alukah.net

 

Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Mesir

Foto Bekas Diktator Mesir Husni Mubarak Hebohkan Media Sosial

Foto Bekas Diktator Mesir Husni Mubarak Hebohkan Media Sosial

Sabtu, 01/09/2018 14:41 0

Indonesia

Lulus Pendidikan Dokter Spesialis di UNS, Warga Gaza Ini Segera Pulang Kampung

Lulus Pendidikan Dokter Spesialis di UNS, Warga Gaza Kembali Ke Kampung Halaman

Sabtu, 01/09/2018 13:18 0

Indonesia

Pengacara Keluarga Eko Prasetio Minta Bos PT Indaco Dijerat Pasal Pembunuhan Berencana

Pengacara Keluarga Eko Prasetio Minta Bos PT Indaco Dijerat Pasal Pembunuhan Berencana

Sabtu, 01/09/2018 12:57 0

Foto

Rakyat Idlib Bersama Pejuang Bersenjata

KIBLAT.NET, Idlib — Jumat, 31/08/2018 menyaksikan hari bersejarah bagi pejuang Suriah. Warga di sedikitnya 60...

Sabtu, 01/09/2018 11:00 0

Suriah

Semua Lapisan Warga Suriah Utara Turun ke Jalan Dukung Pejuang

semua lapisan masyarakat berpartisipasi dalam aksi tersebut. Mulai dari pria, wanita anak-anak, orang jompo bahkan yang memiliki kebutuhan khusus.

Sabtu, 01/09/2018 10:08 0

Suriah

Warga Idlib Kutuk Utusan Khusus PBB untuk Suriah

“Jangan mundur, jangan menyerah hingga rezim jatuh dan masih ada sisa-sisa zaitun. Kepada Negara penjamin, apakah kalian menjadi penjamin untuk membunuh kami?” kata massa dalam orasinya.

Sabtu, 01/09/2018 09:10 0

Indonesia

Dompet Dhuafa Bangun Ribuan Huntara untuk Korban Gempa Lombok

“Sudah dua malam kami huni Huntara ini. Enak, Nyaman, tidak seperti berada di tenda dan kandang kambing yang kami tempati sebelumnya. Apalagi sebelumnya kandang kambing ini bau sekali, berukuran 3x3 meter berisi 3 keluarga. Belum lagi ditempat pengungsian juga sangat terbatas baik fasilitas listrik, air maupun sanitasi,” ujarHarimuni.

Sabtu, 01/09/2018 08:23 1

Indonesia

Rupiah Anjlok Rp 14.725 per USD, HIPMI: Pemerintah Seperti Tak Ada Daya

Rupiah Anjlok Rp 14.725 per USD, HIPMI: Pemerintah Seperti Tak Ada Daya

Jum'at, 31/08/2018 20:59 0

Indonesia

Dewi Handayani Diperiksa Polda NTB Sebagai Saksi

Dewi Handayani Diperiksa Polda NTB Sebagai Saksi

Jum'at, 31/08/2018 19:58 0

Indonesia

KPAI Dukung Pembatasan Anak Gunakan Gawai di Satuan Pendidikan

KPAI Dukung Pembatasan Penggunaan Gawai oleh Anak di Satuan Pendidikan

Jum'at, 31/08/2018 18:26 0

Close