... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

News

Mirip Era Uni Soviet, Upaya Rusia untuk Menghapus Muslim Tatar

Foto: Muslim tatar di masjid Qolsarif di Kazan pada 15 Juni 2018 (AFP)

KIBLAT.NET – Jika Anda belum pernah mendengar tentang Muslim Tatar, maka Anda tidak terbiasa juga mendengar kampanye teror Uni Soviet terhadap minoritas berbahasa Turki ini. Sekalipun jika Anda tahu tentang Joseph Stalin yang menggunakan milisi ateis untuk memberantas penduduk asli Krimea ini, Anda mungkin tidak menyadari upaya Rusia yang lebih baru dan berkelanjutan untuk membersihkan minoritas Muslim yang kurang dikenal ini.

“Sangat mungkin bahwa besok, Tatar Krimea akan dinyatakan sebagai penjahat paling mengerikan, dan ini akan menjadi dalih untuk genosida baru,” kata pemimpin Mejlis Zair Smedlyaev dalam wawancara baru-baru ini dengan Al-Jazeera.

Mejlis didirikan pada tahun 1991, setelah runtuhnya Uni Soviet, sebagai badan perwakilan untuk menyampaikan masalah Tatar dan mengatasi keluhan mereka kepada pemerintah pusat Ukraina, pemerintah provinsi Krimea, dan lembaga internasional.

Pendudukan Ilegal

Ketika Rusia meresmikan pendudukan ilegal Krimea pada 2014, Mejlis memilih tidak ikut andil dalam referendum Kremlin karena takut bahwa kengerian Uni Soviet di bawah Stalin -yang mengakibatkan kelaparan setengah dari populasi Muslim Tatar selama periode pascaperang- akan terulang.

Ketika Tatar Muslim menolak untuk bekerja sama dengan otoritas Rusia-Krimea, Kremlin menuduh Mejlis sebagai organisasi “ekstremis Islam” dan menyebut mereka sebagai “separatis” dan “teroris”. Kremlim kemudian menerapkan banyak undang-undang yang mencakup larangan untuk pertemuan publik Muslim Tatar dan melarang buku-buku agama mereka.

Para politisi Rusia tidak merahasiakan niat jahat mereka untuk membersihkan Krimea dari 250.000 Muslim Tatar. Kampanye itu disebut sebagai “de-Turkification” dengan beberapa mendesak Krimea untuk diberi nama “Tavrida” atau “Tavriya” untuk memisahkan Tatar Krimea dari “tanah di mana mereka bangkit dan berevolusi.”

BACA JUGA  Rusuh di Natuna, Buntut Ketidakterbukaan Informasi Pemerintah Pusat

Pada tahun 2017, Misi Pemantau Hak Asasi Manusia Perserikatan Bangsa-Bangsa di Ukraina merilis laporan pertama tentang situasi hak asasi manusia di Krimea. Laporan menyimpulkan bahwa kondisi bagi Muslim Tatar telah memburuk secara signifikan di bawah pendudukan Rusia.

Serangan Malam

Menurut Human Rights Watch, Dinas Keamanan Federal Rusia (FSB) sedang melakukan penggerebekan di malam hari secara teratur terhadap Muslim Tatar yang mengekspresikan kritik mereka terhadap pendudukan Rusia; baik di depan umum maupun online. Banyak dari mereka yang telah ditangkap, disiksa dan dipenjara karena hanya membahas penafsiran tentang Al-Quran atau teks-teks Islam lainnya.

Seorang Muslim Tatar Krimea yang bekerja sebagai pedagang kelontong di pasar lokal di kota asalnya, Nizhnegorskiy, ditahan pada 13 September 2017 karena dicurigai terlibat dengan kelompok “ekstremis”. Setelah menendang pintu depan rumahnya, agen FSB mengikat Renat Paralamov dan menyeretnya ke van di hadapan istri dan anak-anaknya. Selama lebih dari 24 jam, keluarganya tidak memiliki akses informasi apapun tentangnya.

Dalam tahanan, FSB meletakkan tas di atas kepalanya dan menyiksanya dengan kejutan listrik. Mereka juga meninjunya di dada dan memukulnya di belakang kepalanya. Hingga akhirnya para agen mendesaknya untuk bekerja sebagai informan FSB dengan menghadiri pertemuan Tatar Muslim.

Paralamov melarikan diri bersama keluarganya ke Ukraina, bergabung dengan lebih dari 40.000 Muslim Tatar lainnya yang telah melakukan hal yang sama sejak pendudukan Rusia dimulai pada tahun 2014.

Seorang Muslim Tatar yang melarikan diri ke Turki pada bulan Februari dan mencari suaka telah ditangkap dan dipukuli setelah mengekspresikan penentangannya terhadap pendudukan Rusia kepada seorang teman di kedai kopi setempat.

BACA JUGA  Gus Sholah di Antara Islam dan Negara

“Saya bukan anggota kelompok separatis atau ekstremis,” katanya. “Apa yang dilakukan Rusia tidak benar, dan saya pikir lebih banyak lagi [Muslim Tatar] akan berusaha meninggalkan rumah mereka segera,” katanya.

Melanggar Hukum Internasional

Sebagai pasukan pendudukan, Rusia dimandatkan oleh hukum internasional terhadap praktik aktivitas kriminalisasi yang sebelumnya tidak dikriminalisasi di Krimea. Rusia juga terikat untuk “menghormati hak-hak warga Krimea, termasuk kebebasan beragama, ekspresi, berkumpul dan berserikat, dan agama, kebebasan dari penahanan sewenang-wenang dan penganiayaan termasuk penyiksaan, dan hak atas pengadilan yang adil, proses hukum, dan privasi.”

Tindakan Rusia yang menganiaya Muslim Tatar Muslim merupakan pelanggaran langsung terhadap hukum dan norma hak asasi manusia internasional. Baik itu menahan dan memenjarakan banyak orang dengan menyamakan protes dan pidato tanpa kekerasan dengan tindakan terorisme dan ekstremisme.

Tujuan dari Rusia jelas, yakni untuk melanjutkan pendudukan ilegal dan aneksasi Krimea dengan berusaha untuk menghilangkan penduduk asli wilayah itu. Tujuan dan metodenya tidak berbeda dengan yang digunakan oleh Israel terhadap orang Palestina; Myanmar melawan Muslim Rohingya; China melawan Muslim Uyghur di Turkestan Timur; dan India melawan pengungsi Bengali di Assam.

Pada 1920, Rusia Vladimir Lenin dilaporkan menulis tentang niatnya untuk memusnahkan Muslim Tatar Krimea. “Kami akan mengambil mereka, membaginya, menundukkan mereka, mencernanya,” sumpahnya.

Satu abad kemudian, Tatar Muslim menghadapi krisis eksistensial yang sama dari musuh yang sama: Rusia.

Sumber: Middle East Eye
Redaktur: Ibas Fuadi

Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Indonesia

Rumah Rusak Akibat Gempa Lombok Akan Diganti Pemerintah, Ini Nilainya

BNPB dapat mengusulkan alokasi anggaran kepada Menteri Keuangan untuk pendanaan rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana gempa bumi

Ahad, 26/08/2018 10:35 0

Indonesia

Sahabat Syam Salurkan Hewan Kurban untuk Pengungsi di Kaki Gunung Rinjani

Di hari tasyrik terakhir, Sahabat Syam menyembelihkan 12 ekor kambing untuk korban gempa di kaki gunung Rinjani

Sabtu, 25/08/2018 21:09 0

Indonesia

Presiden Jokowi Keluarkan Inpres Sikapi Gempa Lombok

Presiden Joko Widodo mengeluarkan Intruksi Presiden (Inpres) Republik Indonesia No 5 Tahun 2018, tentang penanganan gempa Lombok.

Sabtu, 25/08/2018 20:54 0

Profil

Perjalanan Hidup Sang Pengarang Minhajul Muslim

Tokoh pendidikan kelahiran Al-Jazair ini mendedikasikan 50 tahun hidupnya untuk menjadi pengajar tetap di Masjid Nabawi. Kini ia telah menghadap Allah dengan tenang dan karya-karyanya terus mengalirkan pahala yang tidak terputus bagi dirinya.

Sabtu, 25/08/2018 20:45 0

Indonesia

Fadli Zon: Pemerintah Amatiran Tangani Gempa Lombok

Wakil Ketua DPR RI, Fadli Zon mengkritik lambatnya pemerintah menangani gempa Lombok.

Sabtu, 25/08/2018 18:37 0

Indonesia

Tak Jadikan Bencana Nasional, Pemerintah Abaikan Aspirasi Masyarakat Lombok

Ia menilai, masyarakat yang mendesak Presiden segera menetapkan bencana di Lombok dan daerah lain di NTB sebagai bencana nasional.

Sabtu, 25/08/2018 18:10 0

Manhaj

Karakteristik Umat Pilihan: Komitmen Kepada Allah dan Rasul-Nya

Komitmen tersebut dijalankan betul oleh Abu Ubaidah bin Jarrah, dia mengintruksikan kepada pasukannya untuk mengembalikan jizyah yang diambil dari Ahlul Kitab, karena tidak mampu menjaga keamanan mereka. Instruksi itu pun dilaksanakan dengan baik oleh para pemimpin Syam, dan mereka berkata kepada Ahlul Kitab, “Kami hanya ingin mengembalikan harta-harta kalian. Karena sesungguhnya, pasukan Romawi telah melebihi jumlah kami. Dan sekarang, kami harus segera pergi. Sebab, kami tak mampu lagi melindungi kalian.”

Sabtu, 25/08/2018 14:50 0

Indonesia

Jemaah Haji Mancanegara Mulai Tinggalkan Arab Saudi

Jemaah Haji Mancanegara Mulai Tinggalkan Arab Saudi

Sabtu, 25/08/2018 14:08 0

Indonesia

GTA Salurkan Hewan Kurban untuk Korban Gempa Lombok

GTA Salurkan Hewan Kurban untuk Korban Gempa Lombok

Sabtu, 25/08/2018 10:52 0

Indonesia

ISAC: Polresta Solo Harus Konsisten Tangani Kasus Bos PT Indaco

Sekertaris Islamic Study and Action Center (ISAC), Endro Sudarsono menilai bahwa pembunuhan yang dilakukan bos PT Indaco kepada warga Solo ada unsur kesengajaan.

Sabtu, 25/08/2018 07:02 0

Close