... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

Titian

Karakteristik Umat Pilihan: Komitmen Kepada Allah dan Rasul-Nya

Foto: Komitmen terhadap Allah dan Rasul-Nya (ilustrasi)

وَأَوْفُوا بِعَهْدِ اللَّهِ إِذَا عَاهَدْتُمْ وَلَا تَنْقُضُوا الْأَيْمَانَ بَعْدَ تَوْكِيدِهَا وَقَدْ جَعَلْتُمُ اللَّهَ عَلَيْكُمْ كَفِيلًا ۚ إِنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا تَفْعَلُونَ *وَلَا تَكُونُوا كَالَّتِي نَقَضَتْ غَزْلَهَا مِنْ بَعْدِ قُوَّةٍ أَنْكَاثًا تَتَّخِذُونَ أَيْمَانَكُمْ دَخَلًا بَيْنَكُمْ أَنْ تَكُونَ أُمَّةٌ هِيَ أَرْبَىٰ مِنْ أُمَّةٍ ۚ إِنَّمَا يَبْلُوكُمُ اللَّهُ بِهِ ۚ

 “Dan tepatilah perjanjian dengan Allah apabila kamu berjanji dan janganlah kamu membatalkan sumpah-sumpah(mu) itu, sesudah meneguhkannya, sedang kamu telah menjadikan Allah sebagai saksimu (terhadap sumpah-sumpahmu itu). Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang kamu perbuat. Dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat, menjadi cerai berai kembali, kamu menjadikan sumpah (perjanjian)mu sebagai alat penipu di antaramu, disebabkan adanya satu golongan yang lebih banyak jumlahnya dari golongan yang lain. Sesungguhnya Allah hanya menguji kamu dengan hal itu…” (QS. An-Nahl; 91-92)

KIBLAT.NET – Dalam ayat di atas, Allah hendak mengistimewakan umat ini sebagai umat yang tidak pernah berkhianat. Selalu menempati janji dengan siapa pun juga. Sifat ini telah dibuktikan secara nyata oleh generasi para sahabat. Mereka berhasil menunjukkan dirinya sebagai pribadi yang berpegang teguh dengan janji yang mereka ucapkan, baik janjinya dengan Allah sebagai Sang Pencipta maupun dengan sesama manusia.

Rasulullah SAW menjadi sosok teladan yang selalu menginspirasi hidup mereka. Lewat Perjanjian Hudaibiyah, beliau mencontohkan bagaimana seorang muslim harus berkomitmen terhadap perjanjian. Meskipun membawa resiko yang amat berat, Rasulullah tetap setia dengan kesepakatan yang dijalin.

Ketika Perjanjian Hudaibiyah ditandatangani oleh Nabi SAW, banyak para sahabat yang protes. Sebab, kesepakatan tersebut tidak berimbang dan terlihat merugikan kaum muslimin. Di antara hasil kesepakatannya adalah orang-orang kafir yang telah masuk Islam dan berhijrah, harus dikembalikan ke Makkah dan orang Islam yang murtad dari Islam lalu lari ke Makkah tidak dikembalikan ke kaum Muslimin.

Duka dan tekanan yang mendalam efek dari perjanjian tersebut dialami langsung oleh Abu Bashir dan Abu Jandal, dua sahabat Nabi SAW yang kemudian kisahnya menjadi perhatian. Sebelum perjanjian itu disahkan, seorang Abu Jandal ra yang telah ditahan, disiksa, dan dirantai oleh kaum kafir karena keislamannya, berulangkali dia mencoba hijrah bertemu dengan Nabi SAW. Ia berharap dapat bergabung dengan kaum muslimin dan terbebas dari siksaan yang dialaminya.

Namun atas dasar perjanjian tersebut, Abu Jandal terpaksa harus kembali ke Makkah. Saat itu, dalam keadaan yang cukup sedih, ia berkata kepada kaum Muslimin, “Aku datang untuk masuk Islam, banyak penderitaan yang aku alami. Sayang, aku akan dikembalikan lagi.” Nabi SAW hanya mampu menghibur hatinya dan menyuruhnya tetap bersabar. Beliau bersabda, “Dalam waktu dekat, Allah akan membukakan jalan bagimu.”

Berikutnya, setelah selesai perjanjian Hudaibiyah disahkan, Abu Bashir melarikan diri ke Madinah setelah keislamannya. Orang-orang kafir mengutus dua orang untuk membawanya kembali ke Makkah. Sesuai dengan perjanjian, Nabi SAW mengembalikan Abu Bashir ra kepada mereka.

BACA JUGA  Hendak Dipulangkan, Pengungsi Rohingya di Bangladesh Menghilang

Abu Bashir berkata, “Ya Rasulullah, aku datang setelah menjadi Muslim, dan engkau kembalikan aku kepada kaum kafir?” Nabi SAW menasehatinya agar bersabar, “Insya Allah, sebentar lagi Allah akan membukakan jalan bagimu.” Akhirnya, dengan terpaksa Abu Bashir dikembalikan ke Makkah.

Demikianlah cara Nabi saw menanamkan karakter kepada para sahabatnya. Apapun kesepakatannya, kaum muslimin harus menepatinya dengan baik. Baik membawa kemaslahatan baginya ataupun tidak, perjanjian tidak boleh diingkari. Sebab, karakter muslim yang disifati Allah Ta’ala adalah, “(yaitu) orang-orang yang memenuhi janji Allah dan tidak merusak perjanjian,” (QS. Ar-Ra’d: 20)

Demikianlah karakter Umat Islam, mereka memenuhi janji bukan semata-mata karena keuntungan yang didapatkan. Namun janji tersebut mereka tunaikan demi mengharapkan ridha dari Allah semata. Sebab, dalam Al-Quran, Allah Ta’ala tegaskan kepada Nabi Muhammad SAW serta umatnya dengan berfirman:

وَإِمَّا تَخَافَنَّ مِنْ قَوْمٍ خِيَانَةً فَانْبِذْ إِلَيْهِمْ عَلَىٰ سَوَاءٍ ۚ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْخَائِنِينَ

“Dan jika kamu khawatir akan (terjadinya) pengkhianatan dari suatu golongan, maka kembalikanlah perjanjian itu kepada mereka dengan cara yang jujur. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berkhianat.” (QS. Al-Anfal: 58)

Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa makna, “Maka kembalikanlah perjanjian itu kepada mereka dengan cara yang jujur” ialah dengan cara yang hati-hati. “Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berkhianat,” Yakni sekalipun berkhianat terhadap orang-orang kafir, Allah juga tidak menyukainya. (Tarsir Ibnu Katsir, 4/80)

Komitmen Kuat Generasi Sahabat

Komitmen dalam menepati janji adalah karakter yang harus dimiliki oleh setiap muslim. Sebab, berkhianat merupakan sifat munafik yang bertentangan dengan iman seorang muslim. Dalam hal ini, lagi-lagi para sahabat menjadi profil teladan yang harus kita tiru. Contoh yang pernah ditunjukkan oleh Nabi SAW, berhasil menjiwai karakter mereka. Bagaimana pun kesepakatan yang terjalin, dengan siapa pun itu, bila kesepakatan tersebut tidak melanggar hak-hak Allah Ta’ala maka wajib ditepati.

BACA JUGA  PPP: Sikap PSI Tolak UU Bernuansa Agama Lebih Ekstrem dari Politik Era Kolonial

Contoh komitmen para salaf dalam memegang janji atau kesepakatan, terlihat jelas dalam hubungan muamalah yang mereka bangun. Jika sudah membangun komitmen, maka mereka akan memenuhinya tidak memandang perbedaan etnis, ras, golongan atau bahkan agama sekali pun. Komitmen dalam memegang kesepakatan harus selalu dijaga. Di antara bentuk komitmen tersebut pernah dicontohkan oleh salah satu sahabat agung Abu Ubaidah bin Jarrah saat memimpin perang melawan Romawi.

Sejarawan Islam mencatat, Ketika Abu Ubaidah bin Jarrah berhasil membebaskan Syam, sebagian penduduknya masih tetap berpegang teguh dengan agama Nasrani. Sebagai konsekuensinya, mereka harus membayar jizyah (upeti) sebagai jaminan keamanan hidup di bawah pemerintahan Islam. Namun ketika keamanan itu mulai terancam, Abu Ubaidah segera memerintahkan pasukannya untuk mengembalikan jizyah yang telah mereka pungut.

Dalam kitab Al-Kharaj, Qadhi Abu Yusuf mengisahkan bahwa suatu ketika Abu Ubaidah bin Jarrah mendapat informasi bahwa Romawi telah menyatukan para tentara untuk menyerang umat Islam dengan jumlah yang sangat besar dan belum pernah terlihat sebelumnya. Kemudian, beliau memerintahkan para pemimpin di daerah Syam untuk mengembalikan jizyah serta apa saja yang mereka ambil dari Ahlul Kitab.

Instruksi itu pun dilaksanakan dengan baik oleh para pemimpin Syam, dan mereka berkata kepada Ahlul Kitab, “Kami hanya ingin mengembalikan harta-harta kalian. Karena sesungguhnya, pasukan Romawi telah melebihi jumlah kami. Dan sekarang, kami harus segera pergi. Sebab, kami tak mampu lagi melindungi kalian.”

Merasa takjub dengan kata-kata yang sangat mengharukan ini, orang-orang Ahlul Kitab berseru, “Semoga Allah mengembalikan kalian kepada kami. Dan semoga Allah menolong kalian atas mereka. Sekiranya Romawi yang memimpin kami, tidak ada satupun yang dapat mereka kembalikan setelah mereka mengambilnya dari kami. Bahkan, mereka justru mengambil semua yang kami miliki, sampai-sampai mereka tidak meninggalkan apa-apa untuk kami.”

Beginilah salah satu bentuk komitmen kuat yang dicontohkan oleh para sahabat. Persoalan janji harus ditepati dengan baik. Tidak hanya janji yang diikat dengan sesama manusia, namun janji yang pernah terucapkan dengan Allah Ta’ala—melalui kalimat syahadat—juga mereka tunaikan dengan sempurna. Sebab, demikianlah konsekuensi iman yang harus dijalani oleh setiap muslim. Karena itu, sudah selayaknya bagi umat Islam hari ini untuk terus menjiwai karakter tersebut. Agar kejayaan Islam yang pernah ditunjukkan oleh para sahabat mampu terwujudkan kembali di muka bumi ini. Wallahu a’lam bissowab

Penulis: Fakhruddin
Editor: Arju

Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Indonesia

Jemaah Haji Mancanegara Mulai Tinggalkan Arab Saudi

Jemaah Haji Mancanegara Mulai Tinggalkan Arab Saudi

Sabtu, 25/08/2018 14:08 0

Indonesia

GTA Salurkan Hewan Kurban untuk Korban Gempa Lombok

GTA Salurkan Hewan Kurban untuk Korban Gempa Lombok

Sabtu, 25/08/2018 10:52 0

Indonesia

ISAC: Polresta Solo Harus Konsisten Tangani Kasus Bos PT Indaco

Sekertaris Islamic Study and Action Center (ISAC), Endro Sudarsono menilai bahwa pembunuhan yang dilakukan bos PT Indaco kepada warga Solo ada unsur kesengajaan.

Sabtu, 25/08/2018 07:02 0

Indonesia

Tangani Kasus Bos PT Indaco, Bang Japar Solo Minta Polisi Transparan

Kepada pihak kepolisian ia meminta untuk menuntaskan perkara tersebut hingga tuntas, bersih dan transparansi.

Sabtu, 25/08/2018 06:00 0

Tarbiyah Jihadiyah

Belajar Memaksimalkan Peran dalam Perjuangan dari Ibnu Ummi Maktum

"Tapi, tubuhku cacat.", "Tapi kemampuan finansialku kurang.", "Tapi diriku lemah.", dan beribu-ribu tapi lainnya. Nah, terkadang seorang muslim terbelenggu dengan anugerah yang Allah berikan berupa kekurangan, sehingga membuatnya tidak maksimal dalam berjuang

Sabtu, 25/08/2018 05:00 0

Indonesia

DSKS Berharap Penanganan Kasus Bos PT Indaco Tetap di Solo

Warga Solo mendukung Polresta Surakarta dalam menangani kasus tabrak mati yang dilakukan bos pabrik cat PT Indaco, dan meminta agar kasus itu tak dilimpahkan ke kesatuan lain.

Jum'at, 24/08/2018 22:46 0

Indonesia

Jika Dibiarkan, Kasus Meiliana Jadi Preseden Buruk

Ketua Bidang Kerukunan Antar Umat Beragama MUI, Dr Yusnar Yusuf mengatakan bahwa pihaknya tidak mempermasalahkan vonis 1,5 tahun yang ditimpakan ke Meiliana

Jum'at, 24/08/2018 21:12 0

Indonesia

Kasus Meiliana Tidak Sesederhana Minta Suara Azan Dikecilkan

Ketua Bidang Kerukunan Antar Umat Beragama MUI, Dr Yusnar Yusuf menegaskan bahwa permasalahan Meiliana tidak sesederhana pada permintaan untuk mengecilkan suara azan.

Jum'at, 24/08/2018 20:43 0

Indonesia

MUI: Vonis Untuk Meiliana Sudah Tepat

"Vonis itu sudah tepat. Vonis supaya tidak terjadi bentrok antara masyarakat Melayu dengan orang Cina, khususnya Meiliana"

Jum'at, 24/08/2018 20:27 0

Artikel

Hapus Saja UU Penodaan Agama!

Saat ini pihak-pihak berideologi sekular-liberal terus mendesak dihapuskannya UU Penodaan Agama. Padahal UU tersebut amat penting untuk menjaga kerukunan umat beragama di Indonesia.

Jum'at, 24/08/2018 20:16 0

Close