... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

Suara Pembaca

Merindu Pemimpin Sejati dan Kemerdekaan Hakiki

Foto: Ilustrasi.

Oleh: Mukhy Ummu Ibrahim (Member Akademi Menulis Kreatif)

 

KIBLAT.NET – Matahari bersinar dengan terik di atas kota Mekkah. Tidak tampak segumpal awan pun yang menghiasi langit. Hawa panas menyelimuti seluruh kota. Tanam-tanaman pun mulai banyak mengering dan tidak menghasilkan buah. Tahun itu adalah tahun kekeringan atau ‘Am ar-Rimadah di semenanjung Arab.

Akibat banyak tanaman yang mati, bahan pangan pun sulit untuk didapat. Paceklik melanda. Seluruh semenanjung Arab prihatin dengan kondisi tersebut. Tidak terkecuali dengan Khalifah Umar bin Khatab yang ketika itu menduduki posisi Amirul Mukminin.

Khalifah Umar bahkan memutuskan untuk menahan diri dari makan makanan yang enak hingga musim paceklik berlalu. Yaitu saat hujan mulai turun kembali. Beliau mengutamakan terpenuhinya kebutuhan rakyatnya dibandingkan kebutuhan beliau sendiri. Beliau tidak mau makan roti ataupun daging dan justru memilih untuk makan minyak dan cuka saja. Semua itu dilakukan demi berhemat bahan makanan.

Sungguh beliau adalah pemimpin yang rela berkorban untuk rakyatnya. Wajah beliau yang sebelumnya putih pun berubah menghitam akibat hanya mengkonsumsi minyak dan  cuka saja. Badan beliau pun sangat kurus hingga membuat iba setiap yang melihatnya.

Padahal Umar bin Khatab adalah seorang Khalifah, seorang yang memiliki kedudukan tinggi. Bahkan beliau lah yang memegang wewenang penuh atas harta baitul mal ketika itu. Namun, sedikit pun beliau tidak berani mengambil lebih dari yang menjadi hak beliau.  Bahkan dalam kondisi sulit saat paceklik, beliau memutuskan untuk mengurangi jatah beliau dan lebih mengutamakan terpenuhinya kebutuhan rakyatnya.

Tidak hanya di saat paceklik, pada hari-hari biasa pun Khalifah Umar senantiasa  bersikap penuh kesederhanaan. Pakaian yang beliau pakai pun tak pernah mewah bahkan dipenuhi tambalan di sana sini.

Pernah suatu ketika ada serombongan utusan dari Yaman yang hendak menemui beliau. Setelah mencari beliau di beberapa tempat, rombongan itu pun akhirnya menjumpai Khalifah Umar. Beliau sedang tidur beralaskan tanah dan berbantalkan tangan. Tidak ada setitik kemewahan pun yang terlihat pada diri beliau. Bahkan sebagai orang dengan kedudukan paling penting, beliau tidak dikawal oleh pengawal barang seorang pun.

BACA JUGA  Saat Kampus Terpenjara Isu Radikalisme

Sungguh Khalifah Umar bin Khatab adalah sosok seorang pemimpin yang dirindu penduduk langit dan bumi. Sosok pemimpin yang sangat amat jarang kita jumpai pada saat ini. Saat dimana para pemimpin, penguasa, lebih mementingkan kepentingannya sendiri daripada kepentingan rakyatnya.

Mereka akan merasa enak saja berpesta meskipun banyak rakyatnya yang sedang kelaparan. Mereka menginginkan fasilitas ini itu meski harus dengan memeras rakyat sendiri lewat pajak. Alih-alih berpihak pada kepentingan rakyat, mereka justru berpihak pada para kapital (pengusaha). Para kapital  ini adalah pemilik modal yang hendak menguasai perekonomian dan meminggirkan rakyat kecil. Tidak segan-segan, peraturan apapun bisa dibuat demi melanggengkan hegemoni para kapital ini. Lagi-lagi, rakyat yang jadi tumbalnya.

Kekayaan alam yang telah diserahkan pengelolaannya pada asing adalah contoh nyata. Kekayaan alam yang seharusnya dikelola sebaik-baiknya demi kemakmuran rakyat, malah dijual demi keuntungan segelintir orang. Rakyat hanya dijadikan objek pasar yang harus membeli dengan harga mahal.

Masih banyak lagi tindakan-tindakan para penguasa pada saat ini yang memcerminkan sikap mereka yang abai terhadap kepentingan rakyat. Misalnya saja pengelolaan kesehatan yang  berbasis asuransi melalui BPJS, otonomi kampus dan sistem zonasi, pajak yang semakin  banyak jenisnya juga semakin  besar nominalnya, pencabutan subsidi BBM dan gas, kenaikan Tarif Daftar Listrik serta lambannya pemerintah dalam merespon bencana yang menimpa rakyatnya.

Seperti yang baru-baru ini terjadi dan masih berlangsung hingga saat ini. Yaitu terjadinya bencana gempa yang menimpa pulau Lombok dan sekitarnya. Ribuan rumah hancur, lebih dari 500 jiwa meninggal dan ratusan ribu lainnya terpaksa tinggal di pengungsian. Dengan jumlah korban yang begitu banyak, pemerintah masih saja enggan menyatakan bencana gempa lombok sebagai bencana nasional. Pemerintah justru memilih lebih fokus pada berlangsungnya kompetisi olahraga se-Asia, Asean Games.

Perhelatan prestisius di kalangan negara Asia itu menyedot dana hingga hingga trilyunan. Dana yang terkesan mubadzir di saat ada kebutuhan dana yang seharusnya jauh lebih penting. Yaitu dana untuk rehabilitasi Lombok pasca gempa. Akan tetapi, lagi-lagi pemerintah abai dengan kepentingan rakyatnya.

BACA JUGA  Baru! Tradisi Ngambek dalam Dunia Literasi Indonesia

Negara Indonesia telah merdeka selama 73 tahun. Namun, gambaran yang terlihat hanya ketimpangan sosial di sana sini. Rakyat hanya dijadikan komoditi, hanya sebagai objek pasar juga objek pajak. Pemerintah tidak pernah benar-benar mengurusi urusan rakyat. Hal ini dikarenakan pemerintah hanya berperan sebagai pengatur. Sedangkan sisanya diserahkan pada mekanisme pasar, atau bisa juga dikatakan hukum rimba. Sebab, pada faktanya memang terjadi siapa yang kuat dia yang akan menang. Siapa lagi kalau bukan para kapital. Mereka yang kaya pun semakin kaya. Sebaliknya rakyat yang sudah miskin pun semakin miskin.

Mengapa hal ini bisa terjadi? Sebab pemerintah yang seharusnya mengayomi rakyatnya, telah berubah menjadi abdi para pengusaha atau kapital. Semua bermula dari sistem demokrasi yang dipakai di negeri ini.

Demokrasi adalah sistem pemerintahan yang membutuhkan banyak dana. Mau tidak mau para politisi pun mengandeng para pengusaha sebagai pihak yang bisa menyediakan dana. Tentu saja dengan sebuah timbal balik. Mereka menginginkan peraturan dan iklim ekonomi yang pro pengusaha sehingga mereka bisa meraup keuntungan sebanyak-banyaknya.

Dari sinilah demokrasi yang tadinya dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat kini telah berubah menjadi dari uang, oleh uang dan untuk uang. Maka rakyat pun tidak lagi menjadi prioritas. Semua tergantikan oleh kepentingan para kapital.

Di tahun yang ke-73 kemerdekaan Indonesia, sungguh sangat miris melihat kondisi negeri kita saat ini. Bahkan patut kita renungi, apakah kemerdekaan ini benar-benar sejati. Bisa jadi kita telah merdeka dari penjajah yang bersenjata. Akan tetapi, saat ini sesungguhnya kita pun telah terjajah dalam politik, ekonomi bahkan budaya.

Sebuah keniscayaan ketika pemimpin yang memimpin rakyat adalah orang-orang yang tidak amanah dan tidak berpihak kepada rakyat maka kesejahteraan rakyat pun seolah jauh panggang dari api. Sungguh kita merindukan pemimpin yang amanah yang memimpin berdasarkan aturan-Nya dan bukan berdasarkan aturan para pengusaha. Semoga akan segera lahir pemimpin selayaknya Khalifah Umar bin Khatab yang akan memimpin dengan penuh keadilan. Pemimpin yang memerdekakan kita dari penjajahan era kapitalis.

Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Indonesia

Rata dengan Tanah, Dusun Kebun Kunyit Tak Tersentuh Bantuan Pusat

Kepala Dusun Kebun Kunyit, Asrudin (37 th) mengungkapkan, seluruh Dusun Kebun Kunyit rata dengan tanah. Semua rumah-rumah penduduk roboh akibat guncangan gempa kecuali hanya dua rumah yang terbuat dari anyaman bambu.

Kamis, 23/08/2018 11:51 0

Indonesia

Bermula Protes Suara Keras Adzan, Meiliana Divonis 1,5 Tahun Penjara

Majelis Hakim akhirnya menjatuhkan vonis 18 bulan penjara atau 1,5 tahun kepada perempuan itu karena melanggar Pasal 156A KUHP tentang penistaan agama.

Kamis, 23/08/2018 11:07 0

Wilayah Lain

Proyek Baru Israel: Pengibar Bendera Palestina Dipenjara Minimal Setahun

Baraco sudah berdialog dengan para pejabat senior pemerintah. Para pejabat Israel berjanji mendukung proposal RUU tersebut dan mempercepat proses persetujuan.

Kamis, 23/08/2018 10:07 0

Indonesia

Pemerintah Memulai Program Rehabilitasi Rumah Pasca Gempa

Pemerintah memberikan bantuan warga untuk rumah kategori rusak berat sebesar Rp 50 juta, rusak sedang Rp 25 juta, dan rusak ringan Rp 10 juta. "Kita mau membangun rumah yang baik, rumah yang tahan gempa," kata Wapres JK.

Kamis, 23/08/2018 09:34 0

Suriah

Jaulani: Tak Akan Ada Rekonsiliasi dengan Rezim di Idlib

“Fase yang dilalui jihad di Syam hari ini membutuhkan faksi-faksi bersungguh-sungguh dan berjanji di hadapan Allah kemudian di hadapan rakyat yang sabar bahwa senjata revolusi dan jihad merupakan garis merah yang tidak menerima rekonsiliasi selamanya yang akhirnya pada suatu hari berakhir di atas meja negosiasi,” kata Jaulani dalam rekaman audio yang dirilis HTS melalui Channel Telegram seperti dilansir Al-Jazeera.

Kamis, 23/08/2018 09:00 0

Lebanon

Pemberontak Hutsi Kunjungi Elit Syiah Hizbullah Lebanon

Dalam pertemuan ini, delegasi Hutsi dipimpin oleh Muhammad Abdul Salam yang dikenal juga sebagai juru bicara kelompok militan Yaman pro-Teheran tersebut.

Kamis, 23/08/2018 08:15 0

Yaman

AS Klaim Ahli Bom Canggih AQAP Terbunuh

Usairy diyakini pengatur operasi peledakkan pesawat yang menuju AS awal 2009 lalu. Seorang warga Nigeria, yang melakukan operasi itu, divonis seumur hidup.

Kamis, 23/08/2018 07:50 0

Indonesia

Ahli Pidana: Pemotong Vidio Murid TK Bercadar Bisa Dijerat UU ITE

Nasrullah juga menyebutkan bahwa orang yang memotong vidio dan yang menyebarkan dapat dikenakan pidana.

Rabu, 22/08/2018 16:51 1

Indonesia

Rabithah Alam Islami Serahkan Bantuan untuk Korban Gempa Lombok

Rabithah Alam Islami Serahkan Bantuan untuk Korban Gempa Lombok

Rabu, 22/08/2018 15:16 0

Video Kajian

Khutbah Idul Adha : Pesan Penting Rasul Saat Khutbah Wada’

KIBLET.NET – Khutbah Idul Adha : Pesan Penting Rasul Di Khutbah Wada’. Tepat pada tanggal...

Rabu, 22/08/2018 12:59 0

Close