... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

News

73 Tahun Merdeka, Indonesia Negara Hukum Hanya Teori

Foto: Ilustrasi

KIBLAT.NET, Jakarta – Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) menilai meski 73 tahun merdeka, penegakan hukum di Indonesia masih jauh dari yang diharapkan. Status negara hukum pun hanya sebatas teori.

Terkait praktik penegakan hukum, Deputi Koordinator KontraS Feri Kusuma menyoroti penggunaan kekerasan oleh aparat. “Kalau kita bicara dari penegakan hukum, kita belum beranjak dari kondisi yang tidak sesuai dengan aturan-aturan hukum yang berlaku di negara kita, dalam praktiknya aparat kepolisian menggunakan cara-cara kekerasan dalam penegakan hukum,” katanya saat dihubungi Kiblat.net pada Kamis (15/08/2018).

Menurutnya, proses penegakan hukum mensyaratkan kesesuaian dengan aturan hukum yang berlaku. Prinsip hak asasi manusia harus selalu dikedepankan, baik terhadap orang yang berstatus terduga atau tersangka.

Feri menilai instrumen hukum di Indonesia sudah banyak kemajuan. Hal itu salah satunya bisa dilihat dari banyak peraturan Kapolri yang memberikan petunjuk bagi aparat kepolisan dalam melakukan penegakan hukum. Tapi peraturan ini belum terlaksana di kalangan kepolisian.

“Jadi hampir setiap tahun, KontraS mencatat kekerasan yang dilakukan aparat kepolisian dalam proses penegakan hukum sangat tinggi,” ucapnya.

Tingginya angka pelanggaran meski telah banyak instrumen hukum disebabkan oleh kurangnya pemahaman di kalangan kepolisian. Atas dasar itu, Feri menyebutkan status Indonesia negara hukum hanya secara teori.

“Aparat kita belum menunjukkan perilaku-perilaku beradab yang menghargai hak warga negara. Kita negara hukum hanya secara teori, tapi dalam praktiknya masih jauh dari hukum,” tegasnya.

Penegakan hukum, kata Feri, masih seperti dulu, tajam ke bawah tumpul ke atas. Hal itu menyebabkan asyarakat jadi tidak percaya pada aparat hukum. Kredibilitas penegak hukum tercemar ketika metode penegakan hukum masih seperti dulu.
Dia menambahkan metode penegakan hukum tajam ke bawah tumpul ke atas adalah metode penegakan hukum jaman kolonial. Penjajah Belanda, saat itu merasa punya kuasa sehingga lebih menerapkan hukum untuk orang pribumi.
“Seharusnya metode ini sudah berubah, semua orang sama di depan hukum. Itu tertulis secara eksplisit di dalam aturan hukum kita. Tapi praktiknya tidak demikian,” terangnya.
“Banyak kita temukan di masyarakat kenapa yang melakukan tindakan-tindakan pidana masyarakat kecil, cepat sekali responnya. Bahkan berlebihan, berlebihan dalam arti melakuan penyiksaan,” tutur Feri.
Feri menekankan bahwa jika penegakan hukum semacam ini masih terus berlanjut, akan menimbulkan gejolak di masyarakat. Masyarakat, menurut dia, berpotensi melampiaskan dalam bentuk kekerasan.
“Yang paling berbahaya ketika masyarakat melakukan tindakan anarki, ketika hukum itu dia tidak lagi bisa dipercaya. Jika warga merasa kecewa, hal itu (tindakan anarki) berpotensi terjadi,” tukasnya.

Reporter: Taufiq Ishaq
Editor: Imam S.

Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Suara Pembaca

Rumah Anak Yatim Korban Gempa Lombok Hampir Ambruk

KIBLAT.NET, Lombok – Gempa bumi yang mengguncang Lombok masih menyisakan perih bagi para korban. Di...

Kamis, 16/08/2018 16:42 0

Amerika

Konflik dengan AS Tak Pengaruhi Hubungan Turki dan Koalisi

Perselisihan yang sedang berlangsung antara Ankara dan Washington tidak akan mengubah status hubungan militer Turki dengan koalisi anti-ISIS pimpinan AS.

Kamis, 16/08/2018 15:00 0

Suara Pembaca

Korps PII Wati Jabar Bikin Gerakan ‘Brotherhood: Pelajar Subject Perubahan’

PII Wati Jawa Barat mensosialisasikan kegiatan untuk memperingati Hari Lahir Korps PII Wati yang ke-54 dan peluncuran gerakan eksternal yang bernama 'Brotherhood: Pelajar Subject Perubahan'.

Kamis, 16/08/2018 14:00 0

Arab Saudi

Jenazah Syaikh Abu Bakar Jabir Al-Jazairi Disalatkan di Masjid Nabawi

Syaikh Al-Jazairi menghembuskan nafas terakhir pada Rabu pagi diusia ke-97 tahun. Sakit menahun yang dideritanya menghantarkannya memisahkan dunia ini.

Kamis, 16/08/2018 10:25 0

Suriah

Kumpulkan Pemuka Hama, Turki Yakinkan Agresi Assad Tak Terjadi

Pihak Turki menjelaskan bahwa pernyataan itu ditafsirkan dengan cara salah

Kamis, 16/08/2018 09:42 0

Qatar

Qatar Suntik Turki Dana $15 Miliar

Setelah pengumuman Emir Qatar untuk berinvestasi di Turki, mata uang Turki naik sedikit terhadap dolar AS.

Kamis, 16/08/2018 08:24 0

Palestina

Israel Kembali Izinkan Barang Komersial Masuk Gaza

Israel menggunakan perlitasan Israel-Gaza sebagai senjata untuk menekan pejuang. Larangan ini diberlakukan sejak 9 Juli lalu.

Kamis, 16/08/2018 07:33 0

Feature

Gempa Lombok: Apakah Engkau Benar-benar Murka, Ya Allah? Ampunilah Kami

Tetapi  bagaimana pun, gempa yang berulang itu berdampak psikologis bagi para korban. Seorang ibu terbaring lemas di posko kedua akibat gempa ketiga itu. Keluarganya berusaha menenangkannya.

Rabu, 15/08/2018 17:08 0

Arab Saudi

Innaalillah, Penulis Kitab “Minhajul Muslim” Abu Bakar Al-Jazairi Tutup Usia

Menurut surat kabar "Sabaq" Arab Saudi, shalat jenazah akan dilakukan pada sore hari di Masjid Nabawi. Jenazahnya akan dimakamkan di kuburan Baqi. 

Rabu, 15/08/2018 14:57 0

Video News

Gempa Lombok: Kesaksian Korban Selamatkan Cucunya di Shaf Kedua Shalat Isya’

Gempa Lombok: Kesaksian Korban Selamatkan Cucunya di Shaf Kedua Shalat Isya'. Dengan berkaca-kaca, ia menuturkan upaya menyelamatkan cucunya.

Rabu, 15/08/2018 14:24 0

Close