Relawan di Kayangan: Evakuasi Korban Gempa di Pinggir Tebing

KIBLAT.NET, Lombok – Gempa susulan di Lombok masih menjadi hantu bagi tim SAR dalam mengevakuasi korban tertimbun di wilayah longsoran. Pagi menjelang siang, Kamis (09/08/2018) saya turut serta dalam apel siaga tim SAR gabungan di posko pusat gempa Lombok di Kecamatan Tanjung, Lombok Utara.

Demi menghayati perjuangan tim SAR dan memudahkan akses peliputan di lokasi evakuasi, saya disarankan untuk menggunakan baju SAR. Mudah saja, Kiblat.net terjun meliput bencana gempa Lombok bekerjasama dengan Tim SAR Baitulmal Forum Komunikasi Aktivis Masjid (FKAM). Kaos tim SAR pun didapat.

Berat rasa memakai kaos SAR yang terkenal gerah bila dipakai, awalnya ingin merangkapnya dengan kaos biasa. Tetapi terasa lebih sumpek dan akhirnya saya lepaskan. Belum sepenuhnya percaya diri memakai baju SAR berwarna oranye itu, saya coba menutupnya dengan jaket. Sedihnya jaket hanya menambah panas dan berakhir menjadi barang yang hanya memenuhi tas slempang saja.

Fokus Tim SAR gabungan hingga kini masih pada evakuasi korban hilang tertimbun dampak gempa. Tim disebar di beberapa titik berdasarkan laporan warga adanya korban. Saya bersama tim SAR FKAM memilih lokasi evakuasi di Dusun Dompu Indah, Desa Selengan, Kecamatan Kayangan, Lombok Utara.

Truk BASARNAS menjadi transportasi saya dan tim. Di dalam truk berisikan 18 orang, terdiri dari SAR BASARNAS, relawan, TNI dan Polri. Jarak perjalanan cukup jauh 40 km. Sesuai namanya, Kayangan, kecamatan itu berada di paling atas pulau Lombok jika dilihat di peta.

Saya mencoba berbincang dengan beberapa tim SAR saat perjalanan menuju Kecamatan Kayangan. Arif, relawan SAR FKAM mengatakan dirinya rela meninggalkan istri dan anaknya untuk memenuhi panggilan jiwa menolong korban gempa Lombok. “Awalnya istri suka cemas dan selalu menanyakan kabar. Tapi saya mulai mencoba untuk tidak menjawab pasan-pesan cemasnya, hingga akhirnya istri pun menjadi pengertian. Dengan tidak menjawab pesan istri, saya dapat fokus dalam tugas,” tuturnya.

Relawan SAR lainnya, Siddik mengatakan proses evakuasi harus memenuhi standar keselamatan. Evakuasi juga tidak bisa bermodal nekat saja, bila kondisi tidak memungkinkan lebih baik menundanya hingga alat lengkap dan kondisi aman.

Perjalanan menuju Kayangan cukup melelahkan, membuat saya dan kawan-kawan tertidur hingga tiba di lokasi. Seturunnya saya dari truk, saya kaget melihat banyaknya personel SAR yang diturunkan ke lokasi di Kecamatan Kayangan ini. Setidaknya ada 3 (tiga) truk, 1 (satu) mobil ambulance dan beberapa mobil BNPB serta mobil relawan ACT.

 

 

Tak salah pilih spot menantang, lokasi evakuasi titik korban hilang tepat berada di longsoran jurang yang menyeret dua rumah dan menelan empat korban jiwa. Medan jurang cukup terjal dan rawan, melihat konstruksi tanah yang lembur seperti pasir. Seperti nama kecamatannya, Kayangan di mana kita berada di atas bukit kaki Gunung Rinjani yang dikelilingi jurang-jurang yang rawan longsor. Dampak longsor juga menimbun aliran sungai dan meretakkan jalan serta jembatan. Sayangnya di lokasi sulit mendapatkan sinyal jaringan.

Wajar saja menjadi lokasi yang membutuhkan banyak personel dan menjadi daya tarik sendiri bagi wartawan media-media nasional.

Reporter: Hafidz Syarif
Editor: M. Rudy

Ingin Langganan Artikel?
Daftarkan emailmu di sini untuk mendapatkan update artikel terbaru.
Anda dapat berhenti langganan kapan saja.
Anda mungkin juga berminat