Teguran dari Lombok

Oleh: Chusnatul Jannah – Lingkar Studi Perempuan dan Peradaban

 

Musibah tiada henti menghampiri Indonesia. Kita cukup berduka dengan apa yang terjadi pada saudara-saudara kita di Lombok. Gempa bumi berkekuatan 7 skala richter memporak-porandakan bangunan hingga jatuh korban. Sebagai bagian dari gejala alam tentu kejadian ini tak terhindarkan. BMKG pun menyebutkan bahwa gempa tersebut berpotensi tsunami dan akan ada gempa susulan 1 – 2 pekan ke depan. Kita patut bersyukur karena yang terjadi gempa bumi saja. Luka 14 tahun  pasca tsunami Aceh yang lalu saja masih menyisakan derita. Nampaknya alam sedang tak ingin bersahabat dengan kita.

Menurut Menteri ESDM, Ignasius Jonan pusat gempa berada di laut. Sebagian daerah tersebut tersusun oleh endapan gunung api berumur tersier hingga kuarter. Endapan yang berumur jutaan tahun itu rawan gempa karena mengalami pelapukan. Sekalipun gempa berasal dari pergerakan alam, tapi pergerakan itu tentu ada yang mengatur dan menggerakkan. Dialah Sang Pemilik Sejati Alam Semesta, Allah SWT. Dari gempa bumi pasti Allah selipkan pesan hikmah atas kejadian ini.

Dalam hadits shahih yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari Anas bin Malik, dia berkata: “Nabi naik ke Uhud bersamanya Abu Bakar, Umar dan Utsman. Tiba-tiba gunung berguncang. Maka Nabi menghentakkan kakinya dan berkata: Tenanglah Uhud! Yang ada di atasmu tiada lain kecuali Nabi, Shiddiq dan dua orang syahid.” Dalam riwayat mursal yang disebutkan oleh Ibnu Abid Dunya, setelah Rasulullah menenangkan guncangan beliau berkata kepada para shahabat, “Sesungguhnya Tuhan kalian sedang menegur kalian, maka ambillah pelajaran!” Dalam hadits tersebut tersimpan hikmah bertutur yang patut untuk direnung. Yaitu, selama bumi ini dipijak oleh orang – orang shalih gempa tak terjadi. Itu artinya keimanan dan keshaliha menjadikan  alam ramah dan Allah pun ridha atas kita. Akan tetapi, yang terjadi sekarang justru banyak orang beriman tapi banyak pula yang ingkar dan gemar bermaksiat.

Di masa kekhalifahan Umar ra pernah terjadi gempa. Madinah sebagai pusat pemerintahan kembali berguncang. Umar menempelkan tangannya ke tanah dan berkata kepada bumi, “Ada apa denganmu?” Dan inilah pernyataan sang pemimpin tertinggi negeri muslim itu kepada masyarakat pasca gempa, “Wahai masyarakat, tidaklah gempa ini terjadi kecuali karena ada sesuatu yang kalian lakukan. Alangkah cepatnya kalian melakukan dosa. Demi yang jiwaku ada di tangan-Nya, jika terjadi gempa susulan, aku tidak akan mau tinggal bersama kalian selamanya!”

Petikan kisah kembali menjadi perenungan. Bila sosok seshalih Umar saja pernah terjadi gempa, apatah lagi di akhir zaman yang banyak dihuni kaum mungkar dan meninggalkan SyariahNya. Menjadi hal wajar bila gempa terjadi berkali-kali. Kita bukanlah Nabi ataupun sahabat, tak ada jaminan surga pula. Oleh karenanya, kembalilah menjadi manusia beriman dan bertakwa. Taat kepada aturan Allah SWT dan menerapkan seluruh bagian Syariah-Nya yang mulia dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Agar alam kembali ramah, pijakan tanah ini tak lagi mematah, dan Allah pun ridha atas ketaatan kita.

Ingin Langganan Artikel?
Daftarkan emailmu di sini untuk mendapatkan update artikel terbaru.
Anda dapat berhenti langganan kapan saja.
Anda mungkin juga berminat