... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

News

Jutaan Muslim India Terancam Tak Miliki Kewarganegaraan

Foto: Warga Muslim di India/ilustrasi

KIBLAT.NET, New Delhi – Keputusan pemerintah India mengeluarkan National Register of Citizens (NRC) mengancam nasib jutaan warga Muslim di provinsi Assam. Mereka terancam tak memiliki Negara di tengah sikap pemerintah Banghladesh yang enggan menampung mereka.

Pemerintah India dibawah perdana menteri nasionalis Hindu, Narenda Modi, akhir bulan lalu mengeluarkan daftar NRC. Daftar tersebut merupakan data jumlah warga India yang tinggal di Assam sebelum 24 Maret 1971 atau sebelum hari kemerdekaan Bangladesh. Warga yang tak dapat menunjukkan dokumen tinggal di Assam sejak sebelum 24 Maret 1971, akan diusir.

Sebanyak empat juta warga mayoritas Muslim berbahasa Bengali tinggal di Assam, India timur laut. Bengali merupakan etnis yang berasal dari Bangladesh. Mayoritas mereka beragama Islam.

Ketegangan sosial dan sektarian selama beberapa dekade kerap terjadi di Assam. Pemerintah India hanya mengakui 28,9 dari 32,9 persen daftar total populasi Assam sebagai warga negaranya. New Dehli mengacu pada daftar NRC.

Daftar itu merujuk pada tahun 1951, empat tahun setelah kemerdekaan India dari Inggris (1947). India berpatokan pada daftar tersebut untuk membedakan antara warga negara India warga yang dianggap imigran gelap dari perbatasan Bangladesh, yang merupakan bagian dari Pakistan.

Di sisi lain, pemerintah Bangladesh menyebut masalah daftar itu sebagai “masalah internal” India. Dhaka mengatakan pihaknya tidak ada hubungannya dengan masalah ini.

BACA JUGA  Pertama Kali, Muslim Sri Lanka Siapkan Kandidat untuk Pilpres

“Segala sesuatu yang terjadi di Assam adalah urusan internal India,” kata Hassan al-Haq Inou, Menteri Informasi Bangladesh, kepada stasiun televisi India Woon, pekan lalu.

“Negara bagian Assam adalah konflik etnis murni,” katanya, seraya menambahkan bahwa pemerintah New Delhi “tidak mengangkat masalah ini dengan kami.”

Dengan kepastian India untuk maju dengan langkah ini dan sikap Bangladesh tak mau tahu, muncul kekhawatiran nasib jutaan warga Muslim Assam, yang terancam tak memiliki Negara. Terlebih, muncul pembicaraan pemerintah India akan menempuh langkah mengusir orang yang tak diakui sebagai warga India.

Mantan gubernur Assam, Tarun Jogwi, dari Partai Kongres Nasional India, menunjukkan ada celah dalam daftar tersebut.

“Kami mengharapkan draft itu bebas dari kesalahan, tapi saya pikir ada kekurangan dalam daftar yang diumumkan pada 30 Juli itu,” tambahnya, tanpa merinci.

Mereka yang dikecualikan dari daftar NRC dengan rincian yang dibuat pejabat, di antaranya Pratik Hagila, koordinator draf, yang mengatakan bahwa mereka yang tidak terdaftar seharusnya tidak perlu “khawatir”.

“Ini bukan daftar final. Ini hanya sebuah konsep. Orang-orang akan diberi peluang besar. Mereka dapat mengisi formulir dan mengklaim nama mereka, keberatan dan bahkan klarifikasi jika perlu, ” kata Jogwi.

Menurut pejabat India, proses banding akan dimulai pada 30 Agustus dan akan berlangsung hingga 30 September.

Untuk bagiannya, Mahkamah Agung India, yang memantau proses ini, mengatakan dalam sebuah surat perintah yang dikeluarkan pada hari Selasa bahwa tidak akan ada tindakan yang diambil atas dasar rancangan tersebut.

BACA JUGA  Tanah Longsor Hancurkan Kamp-kamp Pengungsi Rohingya di Bangladesh

“Dalam hal ini, Pengadilan ingin menunjukkan bahwa apa yang telah diterbitkan adalah rancangan lengkap, dan tidak dapat menjadi dasar untuk tindakan apa pun oleh otoritas apa pun,” kata pernyataan Mahkamah Agung India.

Sumber: Anadolu Agency
Redaktur: Sulhi El-Izzi

Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Indonesia

Ingin Bantu Korban Gempa Lombok? Ini Kebutuhan Mendesak Mereka

"Korban luka-luka banyak yang dirawat di luar puskesmas dan rumah sakit karena kondisi bangunan yang rusak," ungkapnya.

Selasa, 07/08/2018 10:59 0

Indonesia

For Humanity Kirim Relawan Tambahan ke Lombok

Jika dalam tim awal mengirimkan relawan untuk melakukan evakuasi dan pendataan, kini For Humanity mengirimkan tim medis.

Selasa, 07/08/2018 08:02 0

Indonesia

Semalam, Dua Gempa Susulan Kembali Guncang Lombok

Gempa itu cukup kuat itu dirasakan langsung oleh reporter Kiblat.net yang dijemput oleh relawan SAR FKAM (Forum Komunikasi Aktivis Masjid).

Selasa, 07/08/2018 03:14 0

Indonesia

Gempa Lombok, LAZIS Amanatul Ummah Poso Galang Dana Kemanusiaan di Jalanan

LAZIS Amanatul Ummah Poso Galang Dana Kemanusiaan di Jalanan

Senin, 06/08/2018 22:44 0

Indonesia

KH. Nonop Hanafi Ungkap Cara Jihad di Hadapan Pemimpin Zalim

Ia pun mengimbau agar para ulama terus mewacanakan jihad secara syumul atau lengkap. Jihad politik, ekonomi, tarbiyah, jihad pendidikan.

Senin, 06/08/2018 21:07 0

Indonesia

Deklarasi 2019 Ganti Presiden di Makassar, FUIB: Tak Ada Pesanan Politik

Ketua Forum Ummat Islam Bersatu (FUIB) Sulawesi Selatan, ustadz Mukhtar Daeng Lau, menyatakan acara deklarasi '2019 Ganti Presiden' bukan atas pesanan tokoh atau partai politik tertentu.

Senin, 06/08/2018 18:59 0

Indonesia

Gus Nur: Presiden Menyampaikan Ujaran Kebencian

Pidato Presiden Joko Widodo dalam Rapat Umum Relawan Jokowi di kawasan Sentul, Bogor, Jawa Barat mengundang komentar Gus Nur. Menurutnya, pidato tersebut mengandung unsur kebencian dan adu domba. 

Senin, 06/08/2018 14:27 0

Indonesia

Gempa Lombok 7.0 SR: 91 Orang Meninggal, 209 Luka-luka

KIBLAT.NET, Lombok- Tim SAR gabungan terus menyisir daerah-daerah terdampak gempa untuk melakukan evakuasi, penyelamatan dan...

Senin, 06/08/2018 14:08 0

Indonesia

#PrayForLombok Menggema di Indonesia

Dukungan dan doa terus mengalir dari netizen untuk korban, usai gempa berkekuatan 7 Skala Richter (SR) yang menguncang Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB) dan sekitarnya, Ahad malam (05/08/2018).

Senin, 06/08/2018 13:44 0

Opini

 Radikalisme Mengancam Mahasiswa ?

Kata “radikalisme” sudah tak asing lagi di telinga para akademisi, khususnya di kalangan mahasiswa. Isu radikalisme digiring menyasar kaum intelektual kampus yang dianggap sebagai sarangnya gerakan radikal.

Senin, 06/08/2018 13:13 0

Close