... Waktu Shalat
...
Shubuh
...
Dzuhur
...
Ashar
...
Maghrib
...
Isya
...

In Depth

Ijtima Ulama dan Peran Politik Umat

Foto: Ijtima Ulama I di Hotel Peninsula Slipi, 26-29 Juli 2018.

Oleh: Beggy Rizkiyansyah – Pegiat Jejak Islam untuk Bangsa (JIB)

“….masjarakat umat Islam Indonesia mempunjai sipat tersendiri.Ia berada di bawah pengaruh Ulama dan Kiai. Dalam hal ini ada bedanja keadaan Ulama-Ulama di India. Diambil garis umumnja Ulama-Ulama di Indonesia lebih dapat menjesuaikan diri dengan perkembangan keadaan. Oleh karena itu pengaruh mereka ini pada masjarakat Umat Islam tetap besar.” – KH Wahid Hasyim

Alhamdulillah. Itu kata yang dapat kita ucapkan ketika melihat selesainya perhelatan Ijtima Ulama di Jakarta beberapa waktu yang lalu. Ijtima Ulama tersebut tentu bukan yang sempurna dan memuaskan semua pihak. Namun banyak hal yang patut disyukuri.

Terlepas dari momentum politik yang mendorongnya, InsyaAllah ke depannya Ijtima tersebut tak berdiri mengorbit di seputar politik saja. Berkumpulnya para ulama adalah satu hal penting yang dapat menjadi tonggak untuk menentukan langkah umat Islam ke depannya. Sepanjang sejarah Indonesia, ulama senantiasa mengiringi langkah negeri ini.

Ketika Ijtima ini berupaya mengarahkan kembali langkah Indonesia, maka banyak hal yang patut didukung. Pernyataan populer dari dunia sekular semacam ulama tak pantas terlibat politik sudah nyata dimentahkan oleh fakta sejarah itu sendiri. Sejak masuknya Islam, ulama tak berdiri jauh dari pergerakan bangsa. Mulai dari perjuangan melawan kolonialisme, perumusan dasar negara, revolusi Indonesia hingga kini ada peran ulama di sana-sini.

KH Wahid Hasyim, tokoh Nadhlatul Ulama pernah mengibaratkan peran ulama di Indonesia. Menurutnya “Ulama di Indonesia di dalam perumpamaan seperti anak-gunung tadi, dengan puntjaknja terdiri dari para ulama dan bentuk anak-gunung jang terdiri dari para Ulama’ dan bentuk anak gunung jang terdiri dari pada daerah pengaruh sekeliling itu, maka segala benda jang meluntjur dari puntjak gunung jang besar (induk gunung) tidak dapat meratai seluruh kaki gunung itu, tetapi hanja mengalir disela-sela antara sebuah anak gunung dengan anak gunung lainnja jang merupakan seperti kali tadi.

“Dalam keadaan demikian, maka pengaruh dari atas dari pada pembesar-pembesar dan pemegang kekuasaan negara, tidak dapat meliputi rakjat seluruhnja, ketjuali dikota-kota; dan itupun hanja pada golongan jang agak djauh dan puntjak (Ulama’).” (KH Wahid Hasyim: 1954)

KH Wahid Hasyim menjelaskan bahwa betapapun berkuasanya para penguasa, tetap saja ia tak dapat mempengaruhi seluruh rakyat. Hanya ulama-ulama-lah yang dapat mempengaruhi rakyatnya. Artinya demikian besar pengaruh ulama sehingga para penguasa tak mungkin dapat meninggalkan para ulama di negeri ini.

BACA JUGA  Menelisik Hilangnya Jamal Khashoggi dari Tunangannya

Tak salah KH Wahid Hasyim mengibaratkan demikian. Para ulama adalah kompas umat. Meski demikian bukan tak ada ujian menghadang para ulama di Indonesia ini. Ujian fisik, teror, penindasan adalah ujian yang menjadi makanan sehari-hari para ulama di masa kolonial atau masa represif. Namun ujian perpecahanlah yang seringkali membebani langkah ulama dinegeri ini. Ujian kepentingan kelompok, dan ashabiyah seringkali membelah para ulama. Membelah para ulama hingga timbul pertikaian tajam. Perkara khilafiyah yang disikapi menjadi pokok menyita para ulama. Merunjing di akar rumput.

KH Mas Mansur dari Muhamadiyah mengingat masa-masa kelam perpecahan di masa lalu. “Ummat Islam di Indonesia yang sudah lemah ini, diperlemah pula disebabkan pertikaian yang kecil-kecil, disebabkan Ulama dan pemimpinnya. Pertengkaran sekecil sudah diperbesar-besarkan, lebih-lebih setelah pertengkaran di kampung dan dusun, hingga mengujudkan tindakan yang tiada kita harapkan.Tenaga kita habis. Lemah perekonomian kita, luluhlah serba-serbi Ummat Indonesia.” (KH Mas Mansur: 1992)

Ijtima Ulama adalah momentum menyambung tali silaturahmi para ulama di negeri ini. Mengikat ulama dalam ikatan yang kuat untuk bersama memandu langkah umat. Tentu saja banyak yang perlu diselesaikan dan tidak tuntas dalam pertemuan beberapa hari. Tetapi setidaknya Ijtima ini adalah langkah awal untuk membuka pintu-pintu persatuan tersebut.

Satu peristiwa persatuan umat yang dapat kita pelajari kembali adalah bersatunya umat dalam Majelis Islam A’la Indonesia (MIAI). Titik tolak ikhtiar bersatunya umat kala itu dimulai dari para ulamanya. Para ulama sudah lelah untuk berselisih, bertengkar, dan berpecah-belah.

MIAI cikal bakal Masyumi.

“…kita sudah bosan, kita sudah payah bermusuh-musuhan. Sedih kita rasakan kalau perbuatan itu timbul dari para ulama, padahal ulama itu mestinya lebih halus budinya, berhati-hati lakunya. Karena ulama itu sudah ditentukan menurut firman Allah: ‘Ulama itu lebih takut pada Allah.’ Karena ulama tentunya lebih paham dan lebih mengerti kepada dosa dan bahayanya bermusuh-musuhan.”(KH Mas Mansur: 1992)

Ketika ulama sudah mengambil satu langkah untuk bersatu, maka umat akan mengikuti satu langkah besar untuk maju. Segala persoalan yang membelit umat mulai dari ekonomi, politik hingga budaya dapat diatasi jika telah ada rasa hendak bersatu. Mengatasi satu dengan lainnya.

Lantas bagaimana mengatasi perpecahan dan menemui persatuan itu? Marilah sejenak kita renungkan pendapat dua ulama, ayah dan anak, KH Hasyim Asy’ari dan KH Wahid Hasyim. KH Hasyim Asy’ari meningatkan akan bahaya perpecahan yang harus kita hempaskan. Hadratussyaikh mengatakan dalam satu kesempatan di tahun 1935, di Banjarmasin;

BACA JUGA  Menelisik Hilangnya Jamal Khashoggi dari Tunangannya

….Wahai ulama-ulama  yang telah ta’ashshub kepada setengah madzhab atau setengah qaul (pendapat)! Tinggalkanlah ta’ashshubmu dalam soal-soal ‘furu’ (ranting-ranting) itu! Yang ulama sendiri dalam hal demikian mempunyai dua pendapat. Satu pendapat ialah bahwa setiap orang yang berijitihad adalah benar! Dan satu pendapat lagi: Yang benar hanyalah satu, dan yang salah dapat pahala juga!

Tinggalkanlah ta’ashshub itu dan lepaskanlah diri daripada hawa-nafsu yang merusak itu. Dan belalah agama Islam, berijtihadlah menolak orang-orang yang menghina Al-Qur’an dan sifat-sifat Tuhan. Berjuanglah menolak orang yang mendakwahi ilmu yang sesat dan kepercayaan yang merusak. Dan berjihadlah menghadapi orang-orang yang demikian adalah wajib! Alangkah baiknya jika tenagamu engkau sediakan buat itu.

Wahai seluruh insan! Dihadapanmu sekarang berdirilah orang-orang kafir yang mengingkari Tuhan. Mereka telah memenuhi segala pelosok negeri ini. Siapakah diantara kamu yang bersedia tampil kemuka untuk berbahas dengan mereka dan berusaha menuntun mereka kepada jalan yang benar?

Wahai sekalian ulama! Kejurusan inilah pergunakan ijtihadmu dan dalam lapangan inilah kalau kamu hendak berta’ashshub!

Adapun ta’ashshub kamu pada ranting-ranting agama, dan mendorongkan orang supaya memegang satu madzhab atau satu qaul, tidaklah disukai Allah Ta’ala! Dan tidaklah diridhai oleh Rasulullah SAW. Apatah lagi jika yang mendorongmu berlaku demikian, hanyalah semata-mata ta’ashshub, berebut-rebutan, dan berdengki-dengkian. Sekiranya Imam Syafii, Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Ahmad, Ibnu Hadjar, dan Ramli masih hidup, niscaya mereka akan sangat menolak perbuatanmu ini.

….Bagaimana perasaanmu! Kamu berkeras membicarakan furu’, jang dipertikaikan olehh ulama, tetapi tidak engkau engkari perbuatan haram yang dilakukan orang, yang ijma’ sekalian ulama atas haramnya, sebagai zina (pelacuran), riba (rente), minum-minuman keras dan lain-lain. Tideak ada cemburumu melihat yang demikian itu. Kamu hanya cemburu pada Syafii dan Ibnu Hajar. Sehingga yang demikian itu menyebabkan pecahnya persatuan kalimahmu dan terputusnya hubungan kasih sayang diantara kamu, sehingga orang bodohlah yang menguasai kamu, sehingga jatuhlah haibah kebesaranmu di hdapan orang awan orang yang rendah budi, yang membicarakan cacat-cela kehormatanmu dengan tiada patut. Sehingga binasalah orang-orang itu karena perkataan mereka membicarakan kamu. Karena dagingmu telah bercampur racun, sebab kamu ulama. Dan kamu telah rusak binasa karena berbuat dosa yang besar!”(Kholili Hasib: 2015)

Baca halaman selanjutnya: Setelah Sang Ayah menyeru...

Halaman Selanjutnya 1 2
Share on Facebook Share on Twitter

Apa Reaksi Anda Tentang Artikel Ini?

Ikuti Topik:

Berikan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

Berita Lainnya

Rusia

Di Bawah Kekuasaan Rusia, Penindasan terhadap Muslim Tatar Krimea Meningkat

Sumber Daya Tatar Krimea selama paruh pertama tahun 2018, pihak berwenang Rusia melakukan 66 penggerebekan ilegal di rumah-rumah, 89 interogasi dan 98 penangkapan di Krimea yang diduduki.

Jum'at, 03/08/2018 16:40 0

Eropa

10 Negara Eropa yang Melarang Busana Muslimah

Sejak April 2011, Perancis telah melarang pakain muslimah yang menutupi wajah, termasuk burqa dan niqab. Wanita yang ditemukan melanggar larangan didenda 150 euro (Rp 2,5 juta).

Jum'at, 03/08/2018 15:05 0

Asia

Dipicu Lakalantas Mematikan, Puluhan Ribu Siswa Bangladesh Turun ke Jalan

"Kami belum pernah melihat jumlah siswa yang belum pernah terjadi sebelumnya (di jalanan)," kata Tanvir Chowdhury dari Al Jazeera, melaporkan dari Dhaka.

Jum'at, 03/08/2018 11:37 0

Indonesia

Pendiri PKS Yusuf Supendi Meninggal Dunia

Pendiri Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang menjadi Caleg PDI-P, Yusuf Supendi meninggal dunia.

Jum'at, 03/08/2018 11:08 0

Video Kajian

Hati-hati! Poligami, Tapi Salah Motivasi

Hati-hati! Poligami, Tapi Salah Motivasi. Saudara ingin menikah lagi? Menikahi janda atau perawan? Alasanmu ingin menegakkan sunnah, menolong janda?

Jum'at, 03/08/2018 10:55 0

Suriah

Rombongan Pertama Jamaah Haji Suriah Bertolak ke Tanah Suci

Mereka berangkat melalui perlintasan Bab Al-Hawa menuju Turki, kemudian melanjutkan perjalanan ke Saudi

Jum'at, 03/08/2018 10:48 0

Palestina

Menhan Israel Lega Rezim Assad Kuasai Perbatasan Golan

"Dari sudut pandang kami, situasi kembali ke seperti sebelum perang saudara, yang berarti bahwa ada pihak yang dapat ajak bicara dan orang yang bertanggung jawab serta kekuasaan terpusat,” kata Lieberman.

Jum'at, 03/08/2018 10:10 1

Video News

Haikal Hassan: 2019 Ganti Presiden! Ini Kriteria Menurutnya

KIBLAT.NET – Haikal Hassan: 2019 Ganti Presiden! Ini Kriteria Menurutnya. Haikal Hasan, Wasekjen MIUMI, antusias...

Jum'at, 03/08/2018 09:37 0

Yordania

Yordania Bombardir Pasukan ISIS yang Dekati Perbatasannya

“Tidak ada satupun dari mereka (ISIS) yang berhasil menembus perbatasan Yordania. Mereka berhasil dipaksa kembali masuk ke wilayah Suriah dan sebagian mereka tewas,” kata sumber seperti dilansir dari Al-Sarq Al-Ausath.

Jum'at, 03/08/2018 08:59 0

Suriah

Rusia Tempatkan Polisi Militer di Dataran Tinggi Golan

"Hari ini, pasukan penjaga perdamaian PBB, disertai oleh polisi militer Rusia, melakukan patroli pertama sejak enam tahun lalu di wilayah pemisah itu," kata Rudskoy dalam sebuah penjelasan di Moskow.

Jum'at, 03/08/2018 07:35 0

Close